Wednesday, March 11, 2009

TIRTHAYATRA LAPORAN PERJALANAN SUCI NAPAK TILAS JEJAK LELUHUR

Oleh : JM Astono

Secara harfiah kata tirthayatra terdiri dari kata tirtha yang berarti air suci dan yatra yang bermakna perjalanan suci, sehingga secara keseluruhan tirthayatra berarti perjalanan suci ke tempat-tempat suci atau ke petirthan.

Dalam kitab sarasamusccaya 279 disebutkan : “Apan mangke kottamaning tirthayatra, atyanta pawitra, lwih sangkeng kapawananing yajnya, wenang ulahakena ring daridra”.
Yang terjemahan bebasnya sebagai berikut : Sebab keutamaan tirthayatra itu sangatlah suci, sama bahkan melampaui keutamaan dari melaksanakan pensucian dengan yajnya, karena dapat dilakukan oleh simiskin sekalipun.

Berkenaan dengan hal tersebut, penulis pada kesempatan ini mencoba untuk berbagi cerita dan pengalaman dalam melaksanakan tirthayatra dibeberapa tempat suci, khususnya yang ada di pulau Bali dan pulau Jawa, dengan suatu pengharapan semoga apa yang penulis kisahkan bisa menjadikan inspirasi buat pembaca yang budiman untuk melaksanakan kegiatan tirthayatra.

“Om anho badrah, kratavo, yanthu viswatah”; Semoga dan semoga dengan kuasa Ida Sang Hyang Widdhi segala pikiran yang baik datang dari segenap penjuru.


Om awighnam asthu namo sidham.

Pada medio tahun 2000, penulis mempunyai rencana akan melaksanakan tirthayatra di sekitar bulan Agustus dengan perhitungan agar tidak terkena dampak dari musim hujan yang biasanya datang dibulan Oktober – April. Dan kebetulan juga di bulan Agustus tahun itu ada dua perayaan Hari Besar agama Hindu yakni Hari Raya Galungan dan Kuningan, jadi penulis bisa mengambil waktu diantara kedua hari raya tersebut.

Niat penulis untuk melaksanakan tirthayatra bagaikan gayung bersambut ketika disampaikan kepada saudara-saudara dan keluarga baik yang ada di Jakarta maupun di Bali. Penulispun mulai mendata siapa-siapa saja saudara atau keluarga yang mau ikut serta untuk persiapan kendaraan dan akomodasinya.

Perencanaan dan persiapan penulis sudah hampir matang ketika seminggu menjelang hari raya Galungan penulis menerima telephone dari kakak di Bali yang mengabarkan tentang kedatangan utusan yang mengatas namakan Panitia Pembangunan Pura Majapahit kerumah keluarga di Bali. Adapun maksud dan tujuannya adalah bahwa mereka/sebagian panitia pembangunan pura tersebut hendak berkunjung kerumah di desa Bubunan, Seririt – Singaraja Bali dan akan melaksanakan persembahyangan di sanggah merajan dadya serta disanggah merajan kawitan penulis. Hal tersebut hendak mereka laksanakan sebab konon katanya mereka telah mendapatkan penuwus/pewisik bahwa untuk lancarnya dan keberhasilan pembangunan Pura Majapahit maka mereka/panitia tersebut haruslah menghaturkan bakti mapiuning dan mohon pangestu kepura/sanggah Dadya dan sanggah merajan Kawitan dari Prati Sentana Ida Bathara Hyang Sinuhun Gadjah Mada yang ada di Bali.

Entah dapat informasi dari mana mereka kemudian datang kerumah keluarga besar penulis yang ada di desa Bubunan, Seririt, Singaraja Bali. Dan menurut kakak, mereka akan datang bersama rombongan nanti pada hari raya Galungan seminggu lagi.

Hari Kemis pagi, manis Galungan kembali kakak menelpon penulis dan memberitahukan bahwa rombongan Panitia Pembangunan Pura Majapahit tersebut jadi datang pada sore/malam pas dihari raya Galungan kemarinnya. Disaat acara sembahyangan di sanggah merajan Dadya katanya ada salah satu dari rombongan tersebut yang seperti orang kerawuhan dan mengatakan agar keluarga penulis sebagai prati sentana / warih Ida Bathara Hyang Sinuhun Gadjah Mada melaksanakan upacara yadnya Ngaturang Guru Piduka kepada Ida Hyang Patih Kebo Iwa di pura tempat penyungsungan Beliau yang ada di daerah Blah Batuh Gianyar. Namun sebelum nangkil kesana keluarga penulis diharuskan mapiuning terlebih dahulu di Pendopo Ida Bathara Hyang Sinuhun yang ada di Pulau Menjangan. Setelah melalui paruman keluarga kemudian diputuskan bahwa upacara ngaturang Guru Piduka tersebut akan dilaksanakan pada hari Minggu, bertepatan dengan hari manis Kuningan.

Mengetahui hal tersebut, penulis kemudian menghubungi saudara-saudara yang ada di Jakarta yang menurut rencana akan ikut serta melaksanakan kegiatan tirthayatra yang hendak penulis laksanakan dan menyampaikan kepada mereka semua tentang berita yang penulis terima dari kakak di Bali. Akhirnya kami sepakat untuk menunda waktu perjalanan agar kami semua bisa mengikuti terlebih dahulu prosesi upacara ngaturang Guru Piduka kepada Ida Hyang Patih Kebo Iwa yang akan dilaksanakan pada hari manis Kuningan yang akan datang. Rencananya kami semua akan berangkat ke Bali pada hari Jumat bertepatan dengan hari penampahan Kuningan dan akan mengikuti acara tersebut, setelah itu barulah kami semua akan melanjutkan melaksanakan perjalanan Tirthayatra di pulau Jawa.

Pagi-pagi sekali sekitar pukul 04.30 wib, pada hari Jumat Wage Kuningan penulis bersama saudara-saudara berangkat ke Bali dengan mengendarai dua buah kendaraan minibus dimana satu kendaraan kijang dikemudikan oleh Kak Made dan satu kendaraan Panther dikemudikan oleh penulis sendiri. Rombongan kami dari Jakarta semua berjumlah 11 orang, 6 orang dimobil kak Made dan 5 orang lagi dimobil penulis. Kami semua berangkat melalui jalur Pantai Utara pulau Jawa, karena kami lebih familiar melewati jalur tersebut.
Sekitar jam 5.30 wita besok paginya rombongan penulis sudah sampai dirumah di desa Bubunan, Seririt, Singaraja Bali. Dirumah keluarga sudah pada bersiap-siap hendak membawa banten sesajian ke sanggah merajan dadya dan merajan kawitan yang lokasinya agak berjauhan, yakni sekitar 100 meter jaraknya. Menurut informasi persembahyangan akan dimulai sekitar pukul 07.00 wita, sehingga penulis bisa mandi-mandi dan istirahat sejenak melepaskan penat badan akibat nyetir mobil selama 24 jam, meskipun bergantian dengan kakak ipar yang juga ikut serta.

Persembahyangan hari raya Kuningan tepat dimulai pada jam 07.00 wita, kami semua mengikuti upacara dengan hikmat, diawali dengan puja mantram Tri Sandya kemudian dilanjutkan dengan kramaning sembah dan ditutup dengan nunas tirtha wangsuh pada ida ratu. Seusai acara persembahyangan pengelingsir dadya menyampaikan kepada kami semua perihal kedatangan tamu panitia pembangunan pura Majapahit yang ada di Trowulan Mojokerto Jawa Timur serta rencana mapiuning ke pulau Menjangan dan ngaturang Guru Piduka di Blah Batuh keesokan harinya. Jadi kami semua akan berangkat sore hari itu juga kepulau Menjangan untuk mapiuning kepada Ida Bathara Hyang Sinuhun Gadjah Mada di pendopo beliau disana.

Kira-kira jam 14.00 kami keluarga besar penulis berangkat dari desa Bubunan ke pulau Menjangan melalui Labuhan Lalang Teluk Terima Taman Nasional Buleleng Barat. Sekitar pukul 17.00 wita perahu-perahu yang kami tumpangi dari Labuhan Lalang telah mendarat dipulau Menjangan. Kebetulan disaat kami tiba, Jro Mangku Pengemong Puranya telah ada disana menunggu pemedek-pemedek yang akan tangkil kesana. Oleh karenanya maka keluarga besar penulispun langsung saja melaksanakan persembahyangan untuk mapiuning di Pendopo Ida Hyang Sinuhun yang baru beberapa tahun belakangan ini selesai dibangun. Persembahyangan ini diater langsung oleh Jro Mangkunya. Selesai sembahyang waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wita, sebagian besar keluarga memutuskan segera mepamit untuk kembali ke Bubunan, hanya penulis dan rombongan dari Jakarta serta ibu, kakak dan keponakan-keponakan penulis, ditambah dua orang paman penulis yang juga sekaligus pengelingsir dadya yang memutuskan untuk mekemit.

Waktu terus berlalu, detik demi detik, menit demi menit bergulir tanpa terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 00.00 wita kurang 5 menit, penulis bergegas membangunkan keluarga dan rombongan yang tertidur untuk bersama-sama mencakupkan tangan mengahturkan sembah kehadapan Ida Bathara Hyang Sinuhun dipendopo beliau. Jro Mangku saat itu tidak ikut serta bersembahyang bersama oleh karena masih beristirahat ditempat istirahatnya yang ada dibangunan sebelah kanan pendopo. Kali ini persembahyangan dipimpin oleh kakak ipar penulis, beliau juga adalah seorang pinandita (bersama-sama dengan penulis ngaturang ayah di Pura Kertha Jaya Tangerang). Selagi kami sembahyang tiba-tiba badan penulis bergetar hebat, penulis merasakan kehadiran Ida Bathara Hyang Sinuhun, kepala terasa berat, pikiran tiba-tiba serasa kosong/blank. Ada dorongan kuat untuk berbicara, namun penulis masih merasa sadar sesadar-sadarnya atas apa yang terjadi. Penulis mencoba untuk menahan dorongan kuat tersebut tapi makin keras penulis menahannya dorongan itu serasa semakin keras. Akhirnya penulis pasrahkan semua itu kepada Beliau Yang Maha Bijaksana, kalaupun harus terjadi maka terjadilah apa kehendak Beliau. Namun sekali lagi penulis sadar sepenuhnya dengan keadaan tersebut, apapun yang terucap dari bibir penulis, penulis masih mampu untuk mengingatnya.

Keluarga semua mulai mendekati penulis termasuk Jro Mangku yang baru datang ke Pendopo setelah beristirahat. Tuntunan-tuntunan Beliau kepada kami sebagai prati sentana, pada intinya adalah sebagai berikut : “bahwa untuk acara ngaturang Guru Piduka kepada Ida Hyang Patih Kebo Iwa, Beliau memberikan pangestuNya bahkan Beliau juga memerintahkan Jro Mangku Pengemong disitu untuk ikut serta dalam pelaksanaan acara me-Guru Piduka yang akan dilaksanakan besoknya”.

Ketika salah satu kakak penulis menanyakan tentang rencana kami melaksanakan Tirthayatra, “Beliau menyarankan agar kami semua memulainya dari Pura Agung Mandara Giri dilereng gunung Semeru – Senduro – Lumajang – Jawa Timur namun sebelum menghaturkan bakti agar terlebih dahulu ke Pura Batu Klosot untuk mebersih, dilanjutkan melukat di air terjun Madakari Pura yang ada dikaki gunung Bromo - Tongas – Probolinggo, terus lanjut ke Trowulan Mojokerto yakni di Waringin Lawang yang merupakan pintu gerbang kerajaan Mojopahit, di Petilasan Hyang Prabu Rajasa Negara (Raden Widjaya), diteruskan ke Pura Sekartaji dan Goa Selomangleng di Kediri, lanjut ziarah ke makam Bapak Soekarno atau yang akrab dipanggil Bung Karno mantan Presiden RI ke I di Blitar, dari sana kami disarankan melanjutkan perjalanan ke Candi Ceto di lereng Gunung Lawu, diteruskan ke Candi Prambanan di Klaten Jawa Tengah, lanjut ke Luhur Panjalu di Ciamis Jawa Barat dan berakhir di Pura Gunung Salak – Bogor – Jawa Barat”.

Demikianlah petuah-petuah dan tuntunan-tuntunan Ida Bathara Hyang Sinuhun Gadjah Mada kepada kami semua sebagai prati sentana beliau.

Pagipun menjelang ketika semburat merah diufuk timur terpancar dari balik daratan Pulau Dewata, kami semua bersiap-siap untuk kembali ke rumah. Setelah sembahyang mepamit, dengan mengendarai perahu boat yang mengantar kemarin kamipun balik ke Bali daratan. Perjalanan dari Labuan Lalang ke desa Bubunan kami tempuh sekitar 1 jam sehingga tepat pukul 08.00 wita kami telah tiba dirumah.

Rencana keberangkatan keluarga besar kepura Hyang Patih Kebo Iwa di desa Blah Batuh Gianyar akan dilaksanakan pada sore harinya sekitar pukul 14.00 wita sehingga penulis masih sempat beristirahat melepaskan rasa kantuk berat akibat mekemit semalam.

Tepat jam 14.00 wita, penulis bersama keluarga besar di Bali meluncur menuju desa Blah Batuh Gianyar. Mengingat petunjuk Ida Bathara Hyang Sinuhun Gadjah Mada agar Jro Mangku di Pulau Menjangan ikut serta kesana, maka kami memutuskan untuk lewat jalan Singaraja - Bedugul - Denpasar, sehingga kami bisa menjemput beliaunya. Dirumahnya Jro Mangku kami tidak berlama-lama sebab Jro Mangku sendiri sudah siap berangkat dengan kendaraannya sendiri, akhirnya kami konvoi berangkat menuju desa Blah Batul via Bedugul – Denpasar. Rombongan kami tiba di Blah Batuh ketika hari sudah menjelang malam, penulis singgah di rumahnya Jro Mangku Pura Penataran Tupeng yang berada di samping kiri pura Penataran Tupeng sedangkan rombongan lainnya langsung menuju kepura tempat melinggihnya Ida Hyang Patih Kebo Iwa dimaksud. Penulis pada kesempatan ini memohon kesediaannya Jro Mangku untuk mendampingi dan sekaligus sebagai saksi atas diselenggarakannya upacara “meguru piduka” dipura tersebut. (Kenapa penulis mengajak serta dane Jro Mangku Pura Penataran Tupeng yang sekaligus penulis minta sebagai saksi????, sejarah dan ceriteranya akan penulis ungkap dalam bagian cerita tersendiri).

Akhirnya kami berangkat bersama-sama dalam satu kendaraan menuju lokasi dimaksud yang nota bena tempatnya tidak terlalu jauh dari Pura Penataran Tupeng. Pura ini letaknya persis dipinggir jalan desa sehingga penulis bisa memarkirkan kendaraan disisi jalan didepan sebelah kanan pintu gerbang/candi bentar. Pura ini menurut pengamatan penulis tidak terlalu berbeda dengan pura-pura umumnya yang ada di Bali. Memakai konsep Dwi Mandala, begitu kita memasuki Candi Bentar pura maka akan kita temui Candi Kurung sebagai Lawangan Agung untuk menuju jeroan/utama mandala pura. Dengan mengucapkan salam panganjali ‘Om Suastyasthu’ penulis mulai menjejakkan kaki di utamaning mandala. Disitu pandangan penulis langsung tertuju pada sebuah bangunan Candi Gedong yang tingginya sekitar 4 – 5 meter dari permukaan tanah, untuk sampai kepintunya harus menaiki undakan tangga sekitar 2 meteran didepan candi gedong tersebut tersedia altar tempat menaruh banten sesajian. Didalam Candi Gedong itulah dilinggihkan arca Ida Hyang Patih Kebo Iwa. Keluarga besar penulis yang sudah datang duluan tampak telah menyiapkan banten sesajian dialtar pemujaan yang ada didepan candi gedong tersebut.

Rombongan Panitia Pembangunan Pura Majapahit meskipun berangkatnya dari Denpasar ternyata tibanya belakangan sekitar pukul 20.30 wita, sehingga begitu mereka tiba, maka dimulailah prosesi upacara persembahyangan ngaturang Guru Piduka dengan saksi-saksi dane Jro Mangku Pura Pingit Klenting Sari pulau Menjangan, dane Jro Mangku Pura Penataran Tupeng serta Jro Mangku Pura Merajan Kawitan keluarga besar kami di Bubunan. Acara dimanggalai langsung oleh dane Jro Mangku Pura setempat.

Disaat upacara sedang berlangsung, tiba-tiba salah seorang dari rombongan Panitia Pembangunan Pura Majapahit tersebut berdiri dan menuju samping altar pemujaan, dengan suaranya yang cukup keras yang bersangkutan seakan-akan ikut “mepuja” namun terus terang penulis sendiri merasa asing dengan mantram pujaan yang diucapkannya. Kemudian beliau itu memanggil Bapa Putu salah seorang pengelingsir Dadya untuk maju kedepan altar untuk ikut “ngayabang” aturan, namun tanpa diduga penulispun dipanggil kedepan altar untuk turut serta ngayab aturan. Tentu saja penulis cukup kaget sebab penulis duduknya jauh di sisi sebelah kiri altar, selain itu menurut anggapan penulis masih banyak bapa-bapa pengelingsir dadya lainnya yang sangat pantas untuk ikut prosesi ngayab banten aturan, sehingga sebelum penulis bangkit dari duduk, penulis sempat menegaskan kembali apakah benar penulis yang diminta kedepan ataukah bapa-bapa yang ada disamping penulis duduknya. Tapi ternyata memang penulis yang ditunjuk, sehingga akhirnya penulis bangkit menuju kedepan altar. Dengan mengambil sekuntum kembang dari salah satu banten sesajian yang ada didepan penulis, bersama Bapa Putu, penulis ikut ngayabang Banten ngelungsurang panugrahan Ida semoga Beliau berkenan menerima aturan Guru Piduka dan mengampuni serta memaafkan segala kekhilafan dan kesalahan dari keluarga besar serta para leluhur/kawitan penulis dimasa “nyenengnya” beliau dahulu.

Selesai pelaksanaan upacara tersebut, penulis bersama sebagian keluarga serta rombongan dari Jakarta langsung mepamit pulang ke Bubunan oleh karena keesokan paginya penulis akan melanjutkan perjalanan me Tirthayatra ring Tanah Jawi. Sedangkan sebagian lagi keluarga ikut melanjutkan persembahyangan bersama rombongan Panitia Pembangunan Pura Majapahit tersebut ke pura Penataran Sasih di Pejeng – Gianyar.

Sampai dirumah penulis waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 wita sehingga penulis hanya sempat mandi membersihkan badan karena akan langsung berangkat memulai acara me Tirthayatra dipulau Jawa.

Usai persembahyangan mepamit dan memohon izin serta restu Ida Sesuhunan, bersama rombongan dari Jakarta yang akan ikut metirthayatra penulis berangkat dengan 2 (dua) kendaraan yang kami bawa dari Jakarta. Dari keluarga di Bali, kakak yang semula berencana mau ikut ternyata berhalangan karena kakinya keseleo terkilir dirumah. Akhirnya rombongan kami benar-benar hanya rombongan yang penulis ajak dari Jakarta saja. Mungkin ini semua sudah diatur oleh Beliau Yang Maha Bijaksana.

Selamat tinggal pulau Dewata, begitu ucap penulis dalam hati ketika kapal veri yang membawa rombongan kami meninggalkan pelabuhan Gilimanuk menuju Ketapang – Banyuwangi. Sekitar pukul 10.00 wib rombongan sudah merapat dipelabuhan Ketapang dan langsung lewat Banyuwangi – Jember menuju Pura Mandara Giri Gunung Semeru Lumajang. Kami harus menempuh medan perjalanan yang berliku dengan tanjakan dan tikungan yang tajam dimana disisi kiri kami adalah jurang curam yang menganga sangat-sangat membutuhkan keterampilan dan kehati-hatian dalam mengemudi. Namun demikian dengan penuh kepasrahan dan kemantapan hati bakti kepada Ida Sang Hyang Widdhi Wasa, Om Awighnam Asthu Namo Sidham akhirnya rombongan penulis memasuki kota Lumajang, berarti 30 – 45 menit lagi kami sudah akan sampai ditujuan yakni Pura Agung Mandara Giri yang terletak dikecamatan Senduro.

Masuk kota Lumajang kami langsung mencari Tugu Adipura, sebab kalau sudah ketemu tugu tersebut maka gampanglah mencari arah puranya. Tugu Adipura terletak persis dipertigaan diujung Jalan Utama Kota Lumajang. Begitu sampai dipertigaan dimaksud penulis dan rombongan langsung mengambil arah kekanan lalu lurus, terus lurus dan lurus sampai akhirnya tepat pukul 17.30 wib sampailah kami didepan Pura yang sangat megah dimana penulis kira untuk saat itu pura inilah yang terbesar dan termegah yang ada di luar pulau Bali.

Kami menapaki undakan tangga melalui pintu samping yang terletak disebelah kanan dari arah kami menghadap pura. Saat itu kami bertemu dengan salah seorang pinandita pura Mandara Giri yang baru keluar dari utama mandala, karena ingat petunjuk Ida Sesuhunan bahwa sebelum sembahyang di Mandara Giri terlebih dahulu kami harus mohon tirta pebersihan di Batu Klosot maka kamipun menanyakan keberadaan lokasi Batu Klosot kepada pinandita tersebut. Namun oleh pinandita tersebut kami disarankan agar tidak pergi kesana karena selain lokasinya cukup jauh juga medannya berat dan sewaktu-waktu bisa diterjang banjir bandang.

Tentu saja informasi ini membuat kekhawatiran yang mendalam bagi kami semua, terlebih-lebih Kak Made yang langsung mau membatalkan kepergian kesana. Penulis awalnya juga ragu-ragu, namun kemudian penulis ingat bahwa rencana kepergian ke Batu Klosot adalah karena tuntunan dan petunjuk dari Ida Bathara Hyang Sinuhun sehingga penulis sangat-sangat yakin bahwa kami semua pasti bisa mencapai lokasi tersebut dengan aman, dan penulis meyakini bahwa semua ini adalah cobaan dan ujian yang diberikan Ida Bathara untuk menguji keteguhan dan kemantapan hati kami semua untuk melaksanakan amanat Beliau. Kesimpulan itu penulis ungkapkan kepada semua rombongan, dan rombonganpun akhirnya setuju untuk tetap berangkat ke Petirthan Batu Klosot yang sebenarnya masih berada diwilayah kecamatan Senduro Lumajang.

Dengan dipandu oleh salah seorang penduduk setempat yang kebetulan kami temui dipelataran Pura Mandara Giri, kami berangkat ke Batu Klosot. Memang benar apa yang disampaikan bapak pinandita tersebut, perjalanan yang harus kami lalui ternyata medannya sangat berat dan berliku. Kami harus melewati jalanan desa yang rusak berat dan penuh lobang yang hanya bisa dilalui oleh satu mobil, untungnya selama perjalanan kesana kami tidak berpapasan dengan mobil satupun dari arah berlawanan.

Menurut pemandu yang mendampingi kami bahwa dipethirtan Batu Klosot sudah dibangun sebuah pura, dimana pemangkunya tinggal didesa yang sedang kami lalui saat itu, sehingga kami putuskan untuk singgah kerumah Bapak Mangku dahulu sebelum lanjut. Dirumahnya Bapak Mangku, kami tidak terlalu lama karena kebetulan Bapak Mangkunya pas sedang berada dirumah sehingga ketika kami sampaikan maksud kunjungan kerumahnya, beliau langsung bersiap dan mengajak salah seorang kerabatnya untuk menyertai rombongan kami menuju pura Batu Klosot yang masih sekitar 5 Km perjalanan lagi.

Akhirnya kami tiba dipinggir sebuah kali/sungai yang cukup lebar dimana airnya sedang kering. Jadi pemandangan yang kami lihat dibawah sinar bulan yang saat itu sedang tersaput awan dilangit, adalah sebuah hamparan pasir berbatu yang sangat luas. Dari tempat ini kami harus berjalan kaki lagi ke lokasi pura dengan menyusuri aliran sungai yang sedang kering tersebut sepanjang 2 (dua) km lagi. Dibawah temaram sinar rembulan kami menyusuri aliran sungai yang mengering tersebut untuk sampai dilokasi dimaksud. Kami harus melewati lautan pasir yang penuh batu-batu kerikil, sehingga kami harus bisa mencari jalan yang tidak terlalu menyakitkan kaki.

Sekitar pukul 20.00 wib sampailah kami dipethirtan Batu Klosot, ada sebuah pancuran kecil dari sebuah mata air yang berada disana, sedangkan lokasi puranya ada sekitar 2 – 3 meter diatasnya, yakni dipinggir kali/sungai tersebut. Kami semua benar-benar menikmati sejuknya air pancuran, apalagi saat itu kami sedang kehausan dan kelelahan akibat berjalan kaki sejauh lebih kurang 2 km. Kami semua sempat beristirahat sejenak disana, dan mengambil air suci tersebut dengan jirigen yang memang kami bawa untuk memohon thirta wangsuh pada disetiap pura/tempat suci yang kami datangi. Kemudian kami bergegas naik kea real pura Batu Klosot karena Bapak Mangku sudah siap untuk memulai persembahyangan disana. Kami semua bersembahyang menghaturkan sembah bakti dan puji syukur karena berkat karuniaNyalah kami bisa sampai disana.

Seusai persembahayangan kami semua kembali ketempat kami memarkirkan kendaraan untuk segera berangkat menuju Pura Agung Mandara Giri, namun sebelumnya terlebih dahulu kami mengantarkan Bapak Mangku Pura Batu Klosot kembali kerumahnya.

Sekitar jam 22.30 wib kami tiba kembali dipura Agung Mandara Giri. Kamipun segera menurunkan banten pejatian yang kami bawa dari Bali untuk dihaturkan di Pura tersebut. Karena kebetulan ada dane Jro Mangku di utama mandala, maka kami semua langsung melaksanakan persembahyangan dipelataran utamaning mandala Pura Agung Mandara Giri yang dipimpin langsung oleh Jro Mangku.

Kami memutuskan untuk mekemit disana. Semula penulis ingin ikut bergabung dengan rombongan yang beristirahat di Bale Panitia (tempat pengempon pura mencatat setiap pemedek yang nangkil) namun suasana malam yang semakin dingin membuat penulis tidak bisa beristirahat, padahal selain memakai pakaian sembahyang, penulis juga sudah memakai jaket diluarnya. Tapi suhu udara malam itu benar-benar tidak bisa diajak kompromi, dinginnya serasa sampai ketulang. Terpaksa penulis bangkit dari tempat istirahat, berjalan berkeliling di utama mandala sambil menggerak-gerakkan tangan dan kaki agar suhu badan ini bisa menjadi normal seperti sedia kala. Tat kala jam tangan menunjukkan pukul 00.00 wib, penulis membangunkan kakak-kakak untuk sembahyang tengah malam. Usai sembahyang mereka kembali beristirahat, penulispun kembali mencoba untuk beristirahat bersama mereka, tapi lagi-lagi suhu dingin malam tersebut membuat penulis harus terus bergerak dan bergerak.

Suasana pura yang semakin malam semakin sepi dan senyap dimana hanya beberapa kali terdengar suara cicak berdecak serta jengkrik disebelah kiri luar utama mandala, penulis masih terus berjalan dan berjalan mengelilingi setiap sudut utama mandala sambil mengucapkan puja mantram Gayatri. Sambil terus berjalan penulis mengamati setiap detail bangunan, bangunan Padmasana yang ada ternyata mempunyai 3 rong yang masing-masing diisi kain panjang yang menjuntai kebawah dengan warna yang berbeda yakni merah, putih dan hitam. Didepan bangunan Padmasana ada sebuah patung/arca wanita cantik yang membawa bokor tirtha, sedangkan dikiri kanan depan padmasana terdapat Bale Pepelik, altar persembahan diletakkan didepan bawah Bale Pepelik, Bale Pawedan berada disamping sebelah kanan Bale Panitia.

Waktu terus berlalu, tiada terasa jam telah menunjukkan waktu pukul 02.00 pagi, disaat penulis sedang berjalan disamping Padmasana, penulis merasakan adanya semacam ajakan halus agar penulis duduk didepan Padmasana dan melakukan puja samadi. Penulispun segera mengikuti ajakan tersebut, penulis duduk tepat didepan Padmasana mencoba berkontemplasi menyerahkan seluruh jiwa raga kepada Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dalam manifestasi Ista Dewata Beliau sebagai Ida Sang Hyang Pasupathi yang bersthana di Pura Agung Mandara Giri itu. Keheningan suasana malam itu, sunyi, sepi, mengantarkan penulis pada suasana ketenangan batin yang teramat sangat. “Duh gusti kang maha agung, Ingkang murbeng awisesa, Insun putra wayah sowan ingarsa paduka sinuhun, Insun nyuwun izin saha restu bade anglaksananing tirthayatra ing tanah jawi”. Penulis merasakan ada bisikan halus yang menyuruh penulis menengadahkan tangan, mendongakkan kepala sambil membuka mulut. Dengan mata terpejam serta kepasrahan total kepada Sang Maha Pencipta, penulis melaksanakan seluruh amanatNya, dingin dan sejuk penulis rasakan tatkala ada sesuatu yang masuk melalui rongga bibir yang terbuka. “Om Anugraha mannoharam Dewa dattham Nugrahakam hyarcanam sarwa pudjanam namo sarwa nugrahakam, Om Ksama sampurna ya namah swaha, Om Sidhirastu karyane, Om Awighnam asthu namo sidham, Om Dewa suksma parama acintya ya namah, Om sukha sryam sidhi bawantu ya namah swaha”.

Suara azhan subuh terdengar dari masjid yang berada sekitar 200 meter dari Pura, penulis terjaga dari kekhusukan dan kepasrahan total kepada Ida Sesuhunan. Segera penulis bangkit dan beranjak mendekati rombongan untuk membangunkan mereka karena kami harus mempersiapkan diri meneruskan perjalanan menuju air terjun Madakaripura dilereng Gunung Bromo Tongas Probolinggo. Setelah melaksanan persembahyangan bersama untuk mepamit kamipun bergegas menuju kendaraan yang kami parkirkan dipinggir jalan didepan pura.

Semburat cahaya sang fajar mengiring perjalanan kami meninggalkan Pura Agung Mandara Giri menuju ke air terjun Madakaripura di Tongas Probolinggo, perjalanan kesana memakan waktu sekitar 2 jam dan penulis benar-benar memanfaatkan waktu untuk tidur beristirahat dimobil.

Sekitar jam 07.00 wib kami sampai dipelataran parkir air terjun, dari areal parkir ini untuk menuju lokasi kami masih harus meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar 3 km lagi, dimana kami harus melalui jalan setapak yang baru selesai dibeton oleh pemerintah daerah setempat karena air terjun Madakaripura dijadikan lokasi obyek pariwisata daerah. Banyak pemberitahuan-pemberitahuan yang ditulis pada selembar kayu triplek ukuran 20 x 40 cm yang isinya berupa himbauan-himbauan seperti misalnya agar jangan buang sampah sembarangan, tidak boleh berbicara sembarangan/yang tidak senonoh dll. Jalan setapak yang kami lalui mengikuti aliran air terjun dilembah yang diapit oleh tebing-tebing tinggi dikanan kirinya.

Akhirnya sampai jugalah kami dilokasi air terjun utama, dimana terdapat dua air terjun yakni yang besar dan kecil yang dibawahnya ditampung oleh sebuah telaga yang terbentuk secara alami. Air telaga ini cukup dalam dan mungkin sekitar 5 -10 meteran karena ketika penulis tanyakan pada pemandu setempat merekapun tidak bisa memberikan data yang akurat, selain airnya yang dingin juga karena terkena luncuran air terjun yang cukup besar dari ketinggian 50 meter secara terus menerus. Jadi kemungkinan besar airnya cukup dalam.


Bersambung……………………………….

5 comments:

  1. pak Mangku lanjutannya mana neh...

    ReplyDelete
  2. semoga bisa bermanfaat buat pencerahan umat dinusantar

    ReplyDelete
    Replies
    1. PENGAKUAN SAYA BERSAMA KELUARGAKU INI BUKAN CERITA ATAU PUN REKAYASA BENER-BENER TERBUKTI SAMA SAYA.

      Terima kasih sebesar-besarnya yang kami ucapkan kepada aki sahro yang telah memberikan keberhasilan dan keberuntungan bagi keluarga saya.berkat bantuan beliau saya sekarang sudah hidup tenang karena suamiku sudah punya usaha tambak yang luasnya sekitar 3 hektar kurang lebih. begitupun juga saya dirumah buka warung sembakau dan sekarang pun saya sekeluarga tidak di kejar-kejar hutang lagi. mulanya keluarga Kami di berikan angka gaib hasil ritual dari aki sahro yang sangat Jitu 100% dijamin tembus.sehingga keluarga saya sekarang merasa tenang lagi.sekali lagi terima kasih aki jasamu dikeluarga saya tidak akan terlupakan.Jika anda butuh angka gaib hasil ritual aki sahro silahkan Tanyakan aja Pada aki dinomer hp beliau di(_085_340_951_457_)) ATAU *KLIK DISINI *➡ KHUSUS ANGKA JITU 4D*
      *
      Angka GHOIB: singapur 2D/3D/4D/

      Angka GHOIB: hongkong 2D/3D/4D/

      Angka GHOIB; malaysia 4D/6D/5D/

      Angka GHOIB; toto magnum 4D/5D/6D/

      Angka GHOIB; laos 4D/6D/8D/

      Angka GHOIB; thailan 2D/3D/

      Angka GHOIB; macau 2D/3D/4D/

      Angka GHOIB; sidney 2D/3D/4D/

      DEMI ALLAH INI ADALAH KISAH NYATA SAYA
      INI ASLI, BUKAN REKAYASAH !!! ….

      W.salam

      ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★ ★

      Di jamin anda pasti menang seperti saya>>>>>>
      .(`’•.¸(` ‘•. ¸* ¸.•’´)¸.•’´)..
      «´ Thanks sOb rOoMnyA ¨`»
      ..(¸. •’´(¸.•’´ * `’•.¸)`’•.¸ )..
      SELAM KOMPAK SELALU….dan selamat buat yg JUPE hari ini.

      Delete
  3. seperti hanya sebuah cerita,,, kurang penjelasan yang nyata.... suksma

    ReplyDelete
  4. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    ReplyDelete