Showing posts with label Article. Show all posts
Showing posts with label Article. Show all posts

Tuesday, November 22, 2011

PAGERWESI, Sebuah Kajian Filosofis

Om Swastyastu-Salam Kasih

Ya Tuhan Yang Maha Esa, Engkau adalah Brahma, Visnu dan Śiva,dalam wujud-Mu sebagai guru yang Maha Agung, kami mempersembahkan pūjā dan bhakti kami. Gurupūjā, 2.

Pada hari Budha Kliwon Pagerwesi, hari untuk memuja Tuhan Yang Maha Esa dalam wujudnya sebagai Parameṣṭi Guru, Guru yang Maha Tinggi atau Maha Agung. Hari yang dirangkaikan pemujaannya dengan Sarasvatī, Śrī Lakṣmī, yang dirayakan berturut-turut selama lima hari, mulai hari sabtu Umanis Watugung.

Bila kita memperhatikan hari-hari raya keagamaan Hindu di India dan di Indonesia sesungguhnya tidak terdapat perbedaan makna dari hari-hari raya keagamaan dimaksud. Umat Hindu di India merayakan upacara Śrāddha Vijaya Dasami atau Durgapūjā, di Indonesia kita merayakan hari raya Galungan dan Kuningan. Demikian pula Sarasvatī, Śivaratri dan lain-lain. Beberapa hari raya namanya sama, tetapi ada juga yang maknanya sama namun namanya berbeda, juga terdapat perbedaan dalam merayakan hari-hari raya keagamaan itu. Di India hari-hari raya keagamaan itu hanya berdasarkan Tahun Surya dan Bulan (Solar dan Lunar System), di Indonesia mempergunakan kedua sistim itu dan juga sistem Pawukon. Sistim Pawukon ini rupanya sistem kalender asli Nusantara dan ketika agama Hindu masuk ke Nusantara, di kepulauan ini penggunaan sistim Pawukon rupanya telah sangat memasyarakat, oleh karena itu, sistim yang merupakan warisan leluhur bangsa ini tetap dilestarikan dengan cara menempatkan hari-hari raya keagamaan Hindu yang datang dari India dalam sistim Pawukon itu. Beberapa hari raya keagamaan Hindu yang dimasukan dalam sistem Pawukon antara lain: Pagerwesi (di India disebut Guru Purnima)ditempatkan pada hari Budha Kliwon Sinta ( hari ketiga dari wuku pertama ), Durgapūjā, Śrāddha Vijaya Dasami atau Navaratri di Bali disebut Galungan-Kuningan pada hari Budha Kliwon Dungulan hingga Saniscara Umanis Kuningan (dirayakan selama 10 hari), hari-hari seperti Ayudhapūjā (pada Saniscara Kliwon atau Tumpek wuku Landep), Sankarapūjā (Tumpek Wariga) dan Sarasvatī pada hari terakhir, Wuku terakhir, yakni Sabtu (Saniscara) Umanis, wuku Watugunung.

Baik di India maupun di Indonesia dalam memperingati hari-hari raya keagamaan umat Hindu melakukan hal yang sama, yakni mempersembahkan sesajen dan melakukan sembahyang baik pada tempat persembahyangan keluarga (biasa berupa altar dengan beberapa arca pada kamar suci), pada mandir, yakni pura terdekat, atau pura-pura yang besar yang sangat terkenal. Bila mereka melakukan persembahyangan pada pura-pura yang letaknya jauh dari rumah, biasanya umat Hindu sekaligus melakukan Tirthayatra yang pada umumnya bermalam di pura dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan seperti Japa, meditasi dan Bhajan atau menyanyikan lagu-lagu keagamaan (kidung).

Di Indonesia, Pagerwesi yang mempunyai makna sama dengan Guru Purnima dirangkaikan perayaannya dengan Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (pemujaan kepada Sarasvatī), jatuh pada hari terakhir wuku terakhir, yakni Saniscara Umanis wuku Watugunung dan hari pertama dari wuku pertama, yakni Redite Pahing wuku Sinta, dengan Some Ribek dan Sabuhmas, yang jatuh pada hari Soma Pon dan Anggara Wage wuku Sinta.Hari Sarasvatī dan Banyu Pinaruh (Air Ilmu Pengetahuan) adalah hari untuk memuja dewi Sarasvatī sebagai dewi ilmu pengetahuan, maka pada hari Somaribek dan Sabuhmas adalah hari untuk memuja dewi Śrī Lakṣmī dan Pagerwesi adalah untuk memuja Tuhan Yang Mahaesa dalam wujud-Nya sebagai Śiva Parameṣṭi Guru, yakni guru tertinggi di jagat raya ini. Makna pemujaan kepada Śiva Parameṣṭi Guru ini adalah sama dengan makna hari raya Guru Purnima yang jatuh pada bulan Purnama Sravana (di Indonesia disebut Purnama Kasa) yang jatuh pada bulan Juli-Agustus. Pada hari Guru Purnima di samping memuja Tuhan Yang Mahaesa, juga memuja para ṛṣi dan ṛṣi yang paling agung mendapat penghormatan adalah mahaṛṣi Vyasa yang menghimpun dan mengkodifikasikan kitab suci Veda bersama para siswanya, seperti : Sumantu, Pulaha, Jaimini dan Vaisampayana.

Bila di Indonesia bentuk perayaan berupa persembahyangan terhadap Sang Hyang Parameṣṭi Guru atau guru tertinggi, yang dimaksud tidak lain adalah Sang Hyang Śiva atau Sang Hyang Guru (Mahaguru). Dalam seni arca digambarkan sebagai laki-laki berjanggut dan berkumis lebat (berewok), perutnya gendut, memegang kendi Amrta serta membawa tongkat dengan ujung bercabang tiga (Trisula). Mahaṛṣi Agastya, seorang tokoh penyebar Hindu dari India Utara ke Selatan, bahkan juga sampai Asia Tenggara dan Indonesia, digambarkan juga sebagai Sang Hyang Guru (Mahaguru) oleh karena itu Agastya diidentikan dengan Isadevatanya ini.

Di samping dalam seni arca, mahaṛṣi Agastya disebut-sebut juga sebagai saksi agung perbuatan umat manusia dan dinyatakan dalam sumpah di Pengadilan yang terkenal dengan sumpah Sang Hyang Hari Chandani. Di Bali dan juga di daerah Sulawesi Selatan disebut Bhattara Guru, yakni guru agung umat manusia.

Untuk memahami lebih lanjut tentang makna pemujaan pada hari Guru Purnima di India dan membandingkannya dengan pemujaan hari Pagerwesi di Indonesia, kiranya perlu diinformasikan tentang tata cara pemujaan hari Guru Purnima yang berlangsung di Śivananda Ashram, Rishikesh, Uttar Pradesh, sebagai berikut :
1. Semua siswa dan Sanyasin di ashram telah bangun pagi-pagi benar(saat Brahmuhurta,sekitar jam 04.00).Mereka bermeditasi kepada Guru (Parameṣṭi Guru) dan mengucapkan mantra-mantra Gurupūjā.

2. Selanjutnya mempersembahkan sesaji di kaki Guru dan diiringi mantra Gurugita.
3. Selanjutnya pada siang harinya, para Sadhu dan Sanyasin menerima persembahan sajianberupa hidangan (prasadam di Bali disebut lungsuran).

4. Kemudiandiselenggarakan Satsang atau Dharmatula membahas makna spiritual Gurupūjā khususnya dan topik-topik menarik lainnya.

5. Para siswa yang telah siap untuk diinisiasi (di-Diksa) menjadi Sanyasin dilakasanakanpada hari ini juga.

6. Para siswa umumnya melaksanakan Brata dan Upavasa sepanjang hari untuk kemajuan spiritual.Bagi yang mampu sangat baik melakukan Monabrata(tidak berbicara) dan tidak menikmati makanan danminuman,namun bagi siswa tertentu hanya minum susu segar saja atau hanya buah-buahan sepanjang hari.

Pada malam hari kembali berkumpul di Aula dan melakukan Bhajan (kidung)bersama memuja keagungan-Nya.Bentuk pemujaan yang paling baik adalah dengan mengikuti semua ajarannya, mampu memancarkan dan mewujudkan ajarannya dan senantiasa memajukan dan menjunjung pesan-pesan-Nya.

Demikian antara lain bentuk pemujaan kepada Guru di India, di Indonesia kita mengenal ajaran Tri Guru dan Catur Guru. Yang dimaksud dengan Tri Guru adalah :
1. Guru Rupaka atau Rekha,yakni orang tua,ibu-bapa yang melahirkandanmemelihara kita.
2. Guru Vidya atau Pangajian,yakni para guru yangmemberikan pendidikandan pengajaran.
3. Guru Visesa yakni pemerintah yang bertanggung jawa mensejahtrakan masyarakat.

Sedang yang dimasud dengan Catur Guru adalah Tri Guru tersebut digabungkan dengan Guru yang tertinggi, yakni Parameṣṭi Guru. Guru yang keempat ini disebut Guru Svadhyaya. Di dalam masyarakat Guru Svadhyaya juga diartikan belajar sendiri dan menjadikan Tuhan Yang Mahaesa Esa sebagai pembimbing untuk kemajuan kehidupan spiritual.

Bila di India terutama dalam tradisi Ashram, dilakukan upacara pemujaan kepada Guru sedemikian rupa dipimpin oleh Sanyasi, Swamiji, Sadhu atau Pandit, di Indonesia (Bali) rupanya karena tradisi ashram telah putus digantikan oleh sistem Pasiwan di geria- geria para pandita secara tradisional, maka hari raya Pagerwesi hanya dirayakan dengan persembahan sesajen terutama di pura keluarga seperti pamarajan, panti, paibon dan sejenisnya, sedang makna pemujaan ini tidaklah demikian memasyarakat.

Memperhatikan bentuk-bentuk pemujaan, baik di India maupun di Indonesia (Bali), kiranya makna yang terkandung dalam merayakan hari Pagerwesi adalah untuk mengingatkan kita terhadap keagungan Tuhan Yang Mahaesa serta peranan para mahaṛṣi atau guru-guru agung terutama di bidang spiritual. Pagerwesi juga mengingatkan kita bahwa bahwa proses belajar mengajar berlangsung terus menerus hingga ajal memanggil. Terlebih lagi bila dikaitkan dengan pemujaan sebelumnya, yaitu Sarasvatī dan Śrī Lakṣmī. Di sini aspek kemahakuasaan-Nya didambakan oleh umat manusia untuk pengetahuan, kesejahtraan dan kebahagiaan. Sarasvatī memberikan inspirasi dan membimbing manusia untuk belajar dan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, Śrī Lakṣmī menganugrahkan kesejahtraan dan kemamuran dan Sang Hyang Parameṣṭi Guru menganugrahkan kebahagiaan yang sejati.

Makna Pagerwesi bila dikaitkan dengan perkembangan dunia modern, terlebih lagi dalam usaha meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang dalam era globalisasi kualitas perorangan dan masyarakat sangat diperlukan. Persaingan untuk hidup dan mencari kehidupan akan semakin sulit dan untuk itu peranan pendidikan teristimewa pendidikan mental, moral dan spiritual sangatlah mutlak. Perkembangan dunia menunjukan bahwa manusia yang tidak memiliki kualitas, kemampuan dan kreativitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi akan sangat sulit bersaing dan selalu ketinggalan dalam meningkatkan kesejahtraan masyarakatnya.

Pengembangan sumber daya manusia tidak hanya beṛṣifat jasmaniah tetapi juga rohaniah. Untuk itu dalam mengembangkan pendidikan modern dewasa ini, kita tidak dapat melepaskan diri dengan konsepsi pendidikan Ashram yang sangat memperhatikan kualitas pribadi setiap siswa dan kecendrungan manusia untuk bekerja dan bermain ataupun bernyanyi, oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pendidikan yang memadukan kecendrungan itu. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah membiasakan diri (Abhyasa), dapat mensyukuri nikmat yang merupakan anugrah-Nya (Santosa) dan mampu melepaskan diri dari keterikatan yang beṛṣifat duniawi (Vairagya/Tyaga) serta hidup berkeseimbangan lahir dan batin (Sthitaprajna).

Demikian antara lain makna yang terkandung dari pemujaan yang dilangsungkan pada hari Pagerwesi, semoga melalui pemujaan kehadapan Sang Hyang Parameṣṭi Gurtu, kita senantiasa dibimbing di jalan yang benar.

Oṁ Asato mā sad gamaya Tāmaso mā jyotir gamaya mṛtyor mā amṛtam gamaya - Ya Tuhan Yang Mahaesa, bimbinglah kami dari yang tidak benar menuju yang benar,dari kegelapan pikiran menuju pikiran yang terang. Jauhkanlah kami dari kematian menuju kehidupan yang abadi.
Salam Rahayu

I Wayan Sudharma (Mangku Shri Dhanu)

Tuesday, May 3, 2011

TUMPEK LANDEP

Oleh : Jro Mangku Made Sudiada (Serang)


SAKING TUHU MANAH GURU
MITUTURIN CENING JANI
KEWRUHAN LWIR SANJATA
NE DADIPRABOTANG SAI
KE ANGGEN NGERURUH AMRETE
SE-ENUN CENINGE MAURIF

Dari hati seorang Guru yang paling dalam
Sekarang ini Guru Memberikan nasehat tuk mu
Pengetahuan adalah senjata yang paling ampuh
Yang bisa dipakai keseharianmu
Sebagai senjata tuk menjalankan profesimu
Engkau gunakan selama hayat masih dikandung badan

Rasanya tembang sederhana dipedesaan seperti ini begitu menyentuh, ketika kakek kelawan I Nenek, mengusap-usap rambut cucunya dengan tangannya yang sudah penuh keriput, sambil membelitkan kain batik yang sudah lusuh untuk mengurangi berat beban cucunya karena tangannya sudah terlalu rapuh untuk menyangga beban yang berat.

Dari sudut matanya yang sudah keliatan lamur, namun masih tetap bergulir
airmatanya memanjatkan doa kepada Hyang Moho Suci, diakhir dari tembangnya ditujukan kepada cucu kesayangannya agar kelak tumbuh menjadi anak yang berguna, sanggup untuk menyinari “KULAWANDU MANAWA” sambil berharap. “TEHERANG RAGAN I-DEWA SAMPUNANG OBAH” ajegkanlah Hindu, karena lewat engkaulah kakek dan Nenek untuk mewali punarbawa nunas penglugrahan penebusan dosa, mewali
manumadi untuk mempebaiki tugas kami yang belum tuntas dalam kehidupan sekarang.

Sane mangkin minabang kakek lan dan nenkmu masih menempuh jalan Daksina yana kelahiran yang berulang, sampai akhirnya pencerahan itu datang pada Pekak & nenek mendapatkan pencerahan yang cuckup dumogi mresidayang menempuh jalan Utarayana mewali menunggal Kaula kelawan Igusti, ( Sang Sangkan Paraning Dumadi).

Agak aneh setelah usai gending gending itu dilantunkan mendadak senyum kedamaian menghias bibir Kakek, dan nenek, entah rasa kepuasan apa yang dirasakan setelah menciumi kening cucu cucu kesayanganya tertidur pulas ……Hemm…sebening embun pagi, sebersih salju, bila kuusap rambutmu …permata hatiku.

Seni membuat hidup ini demikian indah sehingga bergairah, IPTEK membuat hidup kita semakin mudah dan…Agama menjadikan hidup kita lebih terarah.

Tumpek Landep Memuja Sang Hyang Pasupati, Pertajam IdepUMAT Hindu kembali merayakan rerahinan Tumpek Landep, Sabtu Kliwon Wuku Landep (7 Mei 2011) hari ini Sanicara Kliwon uku landep. Pada Tumpek Landep, umat Hindu memuja Ida Sang Hyang Widhi dalam prebawa-nya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kecerdasan atau ketajaman pikiran sehingga mampu menciptakan teknologi atau benda-benda yang dapat mempermudah dan memperlancar hidup, seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer (laptop) dan sebagainya.
Tetapi dalam konteks itu umat bukanlah menyembah mobil, komputer, tetapi memohon kepada Sang Hyang Pasupati agar benda-benda tersebut betul-betul dapat berguna bagi kehidupan manusia.

Landep dalam Tumpek Landep memiliki pengertian lancip. Secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Secara sekala, benda-benda tersebut diupacarai dalam Tumpek Landep.

Tumpek Landep dalam konsept kekinian, senjata lancip itu sudah meluas. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda hasil cipta karsa manusia yang dapat mempermudah hidup seperti sepeda motor, mobil, mesin, komputer dan sebagainya.

Benda-benda itulah yang diupacarai. Namun harus disadari, dalam konteks itu umat bukanlah menyembah benda-benda teknologi, tetapi umat memohon kepada Sang Hyang Widdhi dalam prebawa-nya sebagai Sang Hyang Pasupati yang telah menganugerahkan kekuatan pada benda tersebut sehingga betul-betul mempermudah hidup.

Dalam pengertian, bahwa umat patut bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan kemampuan atau ketajaman pikiran sehingga mampu enciptakan aneka benda atau teknologi yang dapat mempermudah hidup.

Sementara dalam kaitan dengan buana alit (diri manusia), Tumpek Landep itu sesungguhnya momentum untuk selalu menajamkan pikiran (landeping idep), menajamkan perkataan (landeping wak) dan menajamkan perbuatan (landeping kaya).

Ketiga unsur Tri Kaya Parisuda tersebut perlu lebih dipertajam agar berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Buah pikiran perlu dipertajam untuk kepentingan umat manusia, demikian pula perbuatan dan perkataan yang dapat menenteramkan pikiran atau batin orang lain.

Pikiran kita mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran. Komputer yang diciptakan untuk mempertajam pikiran, hendaknya dimanfaatkan dengan baik. Internet mesti digunakan untuk mengakses informasi sehingga wawasan dan kecerdasan bertambah, bukan untuk mengunduh yang lain-lain.

Tumpek Landep memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran.
Setiap enam bulan sekali umat diingatkan melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih melakukan analisa, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.

Sunday, February 20, 2011

TABUNGAN PUNIA

Oleh :Pinandita Astono Chandra Dana (Sekum Pinandita Sanggraha Nusantara Pusat)

Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) dengan 3 program yang menyentuh keumatan yakni Program Peningkatan Mutu SDM Hindu dengan program Beasiswanya, Program Kesehatan Masyarakat (program Asuransi Pinandita dan Pandita), serta Program Pemberdayaan Ekonomi Umat, ternyata dari semenjak berdirinya sampai dengan saat ini belum mampu secara maksimal menjaring partisipasi aktif dari warga masyarakat Hindu yang memiliki potensi dan kemampuan untuk berdana punia.

Dalam laporan terakhir dari Ketua BDDN dalam Pasamuhan Agung PHDI di Bali pada awal bulan Desember tahun lalu disebutkan bahwa partisipan umat baru mencapai sekitar + 500 orang dari sekitar 10 jutaan warga Hindu penduduk Indonesia. Padahal pengurus BDDN sudah sangat aktif melakukan sosialisasi keberbagai lembaga-lembaga pemerintahan, lembaga-lembaga BUMN, lembaga-lembaga swasta, banjar-banjar dan pura-pura dalam setiap kesempatan yang ada.

Demikian pula dengan adanya kerjasama lembaga antara BDDN dengan Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) Pusat dalam hal program peng-Asuransi-an para Pinandita dan Pandita sejak tahun 2009 yang lalu, maka seluruh jajaran PSN pun telah memberikan kontribusi dalam penyebaran informasi dan sosialisasi mengenai program BDDN diberbagai daerah yang dikunjungi dan dalam berbagai kesempatan yang ada.

Dan penulis juga sangat yakin bahwa program-program BDDN inipun sudah pasti selalu menjadi bahan yang harus disampaikan dan disosialisasikan oleh para Pengurus Parisada baik ditingkat Pusat maupun di daerah.

Namun yang menjadi pertanyaan dan “QUESTION MARK” yang besar, mengapa program-program luhur BDDN tersebut belum mampu menstimulan partisipasi aktif umat dalam berdana punia melalui wadah BDDN?????

Dalam beberapa kali Pasamuhan Agung PHDI belakangan ini dan yang terakhir yang dilaksanakan di Bali beberapa waktu yang lalu, muncul wacana/gagasan/ide kreatif dari Ketua Dharma Adyaksa yang mendapat respon dan dukungan dari beberapa pengurus harian Parisada dan juga dari sejumlah Pandita anggota Sabha Pandita, dalam rangka penggalian Dana Punia umat melalui sebuah program yang disebut PROGRAM NYOLASIN.

Program yang diwacanakan ini mengambil acuan atau model Multi Level Marketing (MLM) dimana “sebelas orang pertama” berdana punia sehingga terkumpul sejumlah dana sebagai dana awal, kemudian masing-masing dari ke “sebelas orang pertama” tersebut mencari Down Line minimal 11 orang dan terus berjenjang kebawah (seperti halnya pernah diterapkan oleh subak dibali), sehingga diharapkan bisa terkumpul dana yang cukup besar yang akan dijadikan sebagai DANA ABADI Umat dan peruntukannya direncanakan (kalau berjalan lancar), sebesar-besarnya demi kepentingan umat Hindu Indonesia.

Sungguh mulia sekali tujuan yang direncanakan dari wacana program tersebut, namun pertanyaannya mampukah diimplementasikan diwarga masyarakat kita (khususnya umat Hindu) dengan berbagai latar belakang, strata kehidupan yang berbeda-beda tersebut???????

Apa yang terjadi pada program BDDN tersebut diatas, serta apa yang menjadi “concern” dari ide kreatif Program Nyolasin yang kemungkinannya juga akan sulit untuk diimplementasikan pada umat kita, ini menjadi bahan renungan dan pengkajian yang mendalam bagi penulis dan mungkin juga bagi semua pemerhati umat Hindu.

Ada beberapa pertanyaan yang muncul dalam benak ini, :
1. Mengapa Program-program yang memiliki tujuan baik dan luhur seperti diatas sering tidak mendapatkan apresiasi positif dari umat kita???
2. Sejauh manakah pemahaman umat tentang dana punia tersebut????
3. Mengapa program-program sejenis diumat lain (agama tetangga) kok bisa berjalan dan mampu mengumpulkan dana yang sangat besar????
4. Adakah langkah-langkah keliru yang pernah dilakukan yang dampaknya pernah dirasakan oleh umat kita sehingga menjadikannya seolah-olah “masa bodoh”?????
5. Sejauh mana program pendidikan formal dan non formal membahas dan mengajarkan tentang Dana Punia????

Sejauh pengamatan penulis, bila kita coba perbandingkan dengan program sejenis di komunitas yang lain maka terlihat suatu upaya yang sangat sistematis, mulai usia dini sampai usia dewasa dalam berbagai kesempatan terus disampaikan (didoktrinasi) bahwa dana punia (dengan istilah mereka sendiri) adalah suatu kewajiban suci yang harus dilaksanakan oleh komunitas mereka, sebab kalau tidak dilaksanakan akan menjadi DOSA BESAR bagi mereka sebab secara tidak langsung mereka akan dicap sebagai pemakan (perampok) hak orang lain. Dan hal tersebut ditanamkan secara terus menerus sejak usia dini sehingga dialam bawah sadar mereka sudah terpatri bahwa kalau saya tidak melakukan kewajiban tersebut maka saya akan berdosa besar dan PINTU NERAKA sudah menanti dialam akhirat nantinya.

Wow…..sungguh indoktrinasi yang sangat luarbiasa, namun hal tersebut sangat efektif dirasakan dalam penggalangan dana umat untuk tujuan-tujuan keumatan mereka juga.

Apakah langkah-langkah atau cara-cara seperti itu bisa ditiru diumat kita??? Mengapa Tidak??????? Sepanjang tujuannya positif demi kepentingan umat kita juga, maka langkah atau cara seperti itupun kiranya layak untuk dipertimbangkan.

Parisada bersama segenap komponen Hindu lainnya bekerjasama dengan Kementerian Agama cq. Dirjen Bimas Hindu hendaknya melakukan koordinasi dengan Kementrian Pendidikan Nasional agar pengertian dan pemahaman tentang apa dan bagaimana dana punia itu serta implikasinya dalam kehidupan umat bisa mulai diajarkan, dibahas dan ditanamkan kepada generasi Hindu sejak usia dini, sehingga masuk kealam bawah sadar dari generasi Hindu mendatang bahwa berdana punia adalah sebuah kewajiban yang harus dan patut dilaksanakan oleh setiap individu Hindu, demi sebesar-besarnya kepentingan pembangunan dan pembinaan umat Hindu kedepan.

Memang proses ini akan butuh waktu, mungkin 10 – 15 tahun mendatang baru akan terlihat hasilnya. Namun kalau kita tidak mulai melangkah dari sekarang maka 10 -15 tahun kedepan hal yang sama seperti kondisi saat ini akan terulang dan terulang kembali.

Pertanyaan kemudian adalah : Bila kita perlu/butuh dana itu sekarang atau dalam jangka pendek ini, maka kira-kira apa dan bagaimana langkah-langkah yang harus diambil??????????

Penulis ada suatu pemikiran yang mudah-mudahan bisa menjadikan solusi untuk mengatasi permasalahan diatas (Pemikiran penulis ini sudah pernah penulis paparkan dan sampaikan kepada salah satu pengurus harian Parisada Pusat ketika beliaunya berkunjung ke kantor tempat kerja penulis).

Seperti kita ketahui saat ini dengan kondisi perekonomian masyarakat, khususnya umat Hindu di Indonesia, yang secara nasional kurang menggembirakan, maka himbauan untuk mengeluarkan dan melepaskan sejumlah uang untuk berdana punia akan dirasakan cukup berat mengingat beban hidup yang makin meningkat. Akan berbeda halnya bila kita menghimbau untuk menabung, pastilah akan mendapatkan respon lebih positif sebab dalam pikiran mereka uang yang dikeluarkan tersebut masih tetap milik mereka dan bisa sekali waktu dipakai untuk pemenuhan kebutuhan mereka.

Bila sidang pembaca ingat, bahwa sejak kecil kita sering diajarkan oleh para orang tua kita bahwa dalam hidup ini tidak boleh boros, harus bisa berhemat dan menabung. Kemudian kita dibelikan tempat menyimpan uang dari tembikar yang berupa “celengan atau ayam jago”. Saat itu kita sangat gembira menerima “celengan atau ayam jago” tersebut, dan kitapun dengan senang hati menyisihkan sebagian uang jajan kita untuk dimasukkan kedalam celengan atau ayam jago tersebut. Pas mendekati hari raya, kemudian kita bersama saudara-saudara yang lain membuka celengan atau ayam jago tersebut dengan melubangi bagian bawahnya atau terkadang malah dipecahkan/dihancurkan. Kitapun dengan riangnya menghitung satu demi satu koin atau lembaran uang yang kita sisihkan tersebut untuk bekal hari raya atau beli baju baru.

Ada juga sebagian yang lain, malah menyimpan uangnya di lemari pakaian atau dibawah bantal atau di tiang bambu atau dimanapun sebagai media penyimpanannya. Yang penting tersimpan aman dan sekali waktu bisa diambil.

Nah model menabung yang seperti ini yang mendasari ide/pemikiran penulis untuk mencoba mencari terobosan dan solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga keumatan Hindu dalam penggalangan dananya, salah satunya seperti BDDN diatas.
Dalam upaya penggalangan dana dari umat Hindu, penulis menawarkan dengan pendekatan mengajak umat dalam program yang diberi judul “MENABUNG SAMBIL BERDANA PUNIA”.

Mengutip kitab Sarasamuscaya 261-262 bahwa : Dalam berusaha memperoleh sesuatu hendaknya senantiasa didasarkan atas Dharma. Dana yang diperoleh hendaklah dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, bagian pertama untuk pemenuhan kebutuhan DHARMA yakni kebutuhan hidup rohani dan spiritual kita, bagian kedua untuk pemenuhan kebutuhan KAMA yakni kebutuhan hidup badan jasmani kita (sandang, pangan, papan), sedangkan bagian yang ketiga adalah untuk pemenuhan kebutuhan ARTHA yakni kebutuhan untuk kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang dengan cara mengembangkan usaha atau menabung, agar bisa diperoleh kebahagiaan lahir dan batin (jasmani dan rohani).

Bersumber pada hal tersebut kita akan coba padu-padankan pemenuhan kebutuhan DHARMA dan pemenuhan kebutuhan ARTHA tersebut, dengan menghimbau masyarakat umat Hindu untuk giat dan gemar kembali menabung. Menabung dengan jangka waktu tertentu. Tabungan ini bentuknya mengambil model seperti waktu kecil kita dahulu yakni seolah-olah menyimpan di “celengan” (seberapa jumlah uang yang dimasukkan sebegitu juga hasil yang didapat).

Artinya meskipun tabungan tersebut nantinya disetorkan/ditabungkan kesuatu/kesebuah lembaga keuangan (bank), yang mana nantinya akan ada keuntungan (profit) berupa bunga yang diberikan, namun kepada umat tersebut, hak atas bunganya tersebut tidak diserahkan kepada yang bersangkutan, melainkan kepada lembaga keumatan yang ditunjuk untuk itu, sebagai dana punia.

Jadi umat masih mempunyai hak atas dananya tersebut dan dalam jangka waktu tertentu bisa diambil dan dimanfaatkan, hanya saja keuntungan bunganya yang tidak didapatkan karena dipakai sebagai dana punia.

Dan atas dana punia yang diberikan oleh umat tersebut, lembaga keumatan yang bersangkutan bisa memberikan kompensasi berupa misalnya : kartu pengobatan gratis, atau berupa tanggungan asuransi baik untuk kesehatan, kecelakaan maupun kematiannya.
Dengan cara-cara tersebut maka niscaya umat akan senang hati, karena seakan-akan tanpa mereka sadari bahwa mereka telah berdana punia hanya dengan jalan menabung.

Namun satu hal yang mesti disosialisaikan bahwa untuk tabungan tersebut umat diikat dalam suatu perjanjian tertulis dimana umat yang bersangkutan baru boleh mengambil tabungannya paling cepat setelah kurun waktu 5 (lima) tahun. Adapun besaran dana tabungannya itu diserahkan sepenuhnya kepada kemampuan umat, namun disarankan rutinitasnya minimal setiap bulan sekali.

Apabila langkah-langkah ini bisa dijalankan maka penulis meyakini permasalahan-permasalahan dalam penggalangan dana umat yang seperti diatas dapat diatasi.
Adapun langkah-langkah yang mesti disiapkan adalah sbb :

Pertama, harus diciptakan/dibikin agar lembaga keumatan yang ada menjadi kredibel dimata umat, dengan menampilkan tokoh-tokoh umat yang sudah tidak diragukan lagi dedikasi dan kredibilitasnya serta dijalankan secara professional dengan tata kelola/manajemen dan kontrol yang memadai.

Kedua, lembaga tersebut hendaknya mengadakan kerjasama sama dengan sebuah lembaga keuangan (lebih baiknya lagi lembaga perbankan dan kalau bisa adalah sebuah bank pemerintah yang telah memiliki jaringan national dan internasional seperti BRI, BNI, bank Mandiri), dimana bank tersebut nantinya akan menampung dan menerima tabungan dana dari umat kita dengan membuka sebuah rekening baru dengan nama tertentu (misalnya ”TABUNGAN PUNIA BRI/ BNI/ Mandiri”) yang semata-mata diperuntukkan hanya untuk menampung dana-dana dari umat kita saja diseluruh Indonesia.

Dalam kerjasama tersebut secara jelas dan tegas dimuat bahwa tabungan yang dibuka adalah atas nama umat yang bersangkutan, sedangkan hak bunga dari tabungan tersebut seluruhnya disisihkan dan dimasukkan kedalam sebuah rekening penampungan (Escrow Account) atas nama lembaga keumatan tersebut untuk dipergunakan dalam berbagai kepentingan keumatan kita.

Setiap umat yang akan menabung diwajibkan mengisi formulir yang menyatakan persetujuan untuk menyerahkan sepenuhnya hak atas bunga yang semestinya mereka dapatkan kepada lembaga keumatan yang ditunjuk, serta memberikan persetujuan untuk tidak mengambil dana tabungannya sampai jangka waktu tertentu (dalam hal ini disarankan minimal 5 tahun atau maksimal 10 tahun), dan setelah itu baru bisa diambil sejumlah nilai atau keseluruhan nilai dari yang telah disetorkan/ditabungkan tersebut.

Penulis menyadari bahwa ide ini mungkin tidak bisa langsung diterapkan, untuk itu perlu pertimbangan dan pengkajian yang lebih mendalam oleh para pengurus lembaga keumatan dimaksud, kemudian dilakukan uji coba disuatu daerah tertentu sebagai “pilot project”, dan bila hasilnya bagus barulah diterapkan secara nasional.

Demikian semoga bermanfaat untuk kita semua. “Om Ano Badrah Kratavo Yan tu Visvatah” Atas asung kertha wara nugraha dari Hyang Widhi, semoga pikiran-pikiran yang baik datang dari segala penjuru.

Kesamaswamam...... R a h a y u ..............

Thursday, January 6, 2011

KARMAPHALA DAN PUNARBHAVA (HUKUM SEBAB AKIBAT DAN KELAHIRAN KEMBALI)

Oleh : Damar Shashangka

--------------------Catatan yang berisi dialog sederhana agar mudah dipahami oleh siapa saja ini sengaja saya posting ulang sebagai bahan perenungan bagi kita semua dalam menyikapi makna takdir dan tujuan hakiki manusia hidup didunia.-----------------------

Maya : Lebih spesifik lagi, mas. Tentang PURUSHA. Jelaskan…..

Damar : Banyak yang akan tidak setuju dengan apa yang mas uraikan nanti. Tapi biarlah, toh ini juga hasil ‘peningkatan kesadaran’ mas, pengalaman mas…
Kalau ada yang tidak setuju, ya kita diam saja. Biarkanlah. Yang penting kita punya pedoman. Tidak bingung. Terlalu muluk teori, tapi membingungkan dan tidak bisa di-implementasi-kan, buat apa? Jangan membingungkan orang lain. Itu saja intinya. Dan ‘KEBENARAN SEJATI’ tidak bisa dibahas, tidak bisa diwacanakan. Bisanya ‘DIALAMI’, Bisanya ‘DILAKONI’. Dan apa yang mas uraikan ini, hanyalah ‘SERPIHAN-SERPIHAN KECIL SEKALIGUS KASAR’ dari ‘KEBENARAN SEJATI’ itu. Yang mudah dipahami dan mudah dilakoni. Selebihnya biar ‘BERKEMBANG DENGAN SENDIRINYA’….

Maya : Seperti rasa gula ya, mas. Bisanya dirasakan sendiri. Ga bisa diungkapkan dengan kata-kata dan uraian…

Damar : Yup. Kita bahas saja yang bisa kita bahas. Tujuannya adalah ‘PONDASI UNTUK PENINGKATAN KESADARAN’. Tanpa ‘PONDASI’, akan limbung, tak akan terbentuk, roboh ditengah jalan…

Maya : Ok, mas…

Damar : Mungkin dengan sebuah cerita, aku bisa sedikit menjelaskannya kepadamu dan kepadaku sendiri, dengarkan… Setelah dunia ini PRALAYA (Kiamat), entah PRALAYA yang keberapa kali, dunia dipenuhi unsur Air. Samudera luas. Seluruh unsur materi, terserap kedalam PRAKRTI, sedangkan seluruh ATMA yang belum ‘MENGGAPAI KESADARAN SEJATI-NYA’ belum ‘MENYATU DENGAN -ITU- LAGI’, sementara ‘beristirahat’ panjang dalam proses evolusinya. Vacum total.

Siklus semesta tercipta (PRABHAVA) sampai kehancurannya (PRALAYA), dinamakan KALPA. Dan semesta yang sudah PRALAYA sebelumnynya, dinamakan PADMA KALPA. Semesta kita sekarang, semesta yang dalam cerita ini hendak diciptakan lagi, disebut VARAHA KALPA ( Ada kisah tersendiri mengapa dinamakan VARAHA yang artinya BABI HUTAN).
Ada satu ATMA yang hampir mencapai ‘PUNCAK KESADARANNYA’. Hampir sempurna evolusi-nya. Seorang ATMA pilihan. Walau belum menggapai ‘KESADARAN PURNA’, ATMA ini sudah sedemikian luar biasanya.

ATMA inilah yang mula pertama bangun dari istirahat panjangnya. Begitu terjaga, dia tertegun didapatinya seluruh penjuru digenangi oleh Air. ATMA ini sadar, dia menyadari, hanya ada dia satu-satunya yang terjaga. Dia sadar, dia punya kuasa, kekuatan, power yang hebat. Dalam ketercenungannya, dia menyimpulkan bahwa dirinyalah BRAHMAN, TUHAN YANG SESUNGGUHNYA.

Ditengah perasaan meluap-luap itu, tak disangka, dia melihat ‘sesuatu’. Sosok makhluk lain selain dirinya. Yang tengah tidur dengan kepala tertopang oleh tangan kanan-Nya. Dengan damainya, Dia tertidur diatas samudera luas tanpa batas itu.
ATMA ini beringsut mendekat. Dengan serta merta, ATMA ini bertanya :
“Siapakah Engkau ?”.

Yang tengah tertidur, terjaga. Dia tersenyum, penuh kedamaian, dan menjawab, “Aku adalah NARAYANA (NARA = Air, AYANA= Tempat tidur. DIA YANG TIDUR, YANG BERTAHTA, DIATAS AIR. Bandingkan dengan ayat-ayat Bible tentang Roh Allah yang melayang-layang diatas air, juga ayat Al-Qur’an yang menyebutkan Dia sebelumnya bertahta diatas air, kemudian Dia menuju keatas Arsy). Aku adalah VISHNU (YANG ADA DIMANA-MANA). Aku adalah AVATARA BRAHMAN. PERWUJUDAN TUHAN YANG SESUNGGUHNYA. Aku adalah Pencipta, Pemelihara dan Pelebur semesta. Lantas, siapakah kamu ?”.

ATMA ini bingung, namun menjawab juga,”Aku adalah BRAHMAA ( SANG PENCIPTA. Mohon dibedakan dengan BRAHMA. Tanpa vocal ‘a’ double. BRAHMA adalah BRAHMAN. Sedangkan BRAHMAA hanyalah Deva Utama). Akulah BRAHMAN itu, Akukah TUHAN itu. Akulah Pencipta, Pemelihara dan Pelebur itu.”

“Benarkah?”, kata VISHNU.

“Kalau tidak percaya, masuklah kedalam tubuhku. Engkau akan melihat seluruh semesta ini ada didalam tubuhku dan siap terciptakan.”

VISHNU tersenyum, lantas Dia masuk kedalam tubuh BRAHMAA. Didapati-Nya berbagai semesta yang hendak ter-manifestasi-kan, ada disana. Dan, VISHNU-pun keluar.

“Bagaimana?”, tanya BRAHMAA.

“Benar,” VISHNU menjawab,”Tapi, maukah giliranmu sekarang memasuki tubuh-Ku?”

BRAHMAA penasaran, cepat ia memasuki tubuh VISHNU. Disana, BRAHMAA tercengang, karena banyak semesta yang lebih sempurna ada disana. Bahkan banyak pula bentuk-bentuk yang tidak ia ketahui, apa itu. Karena sangat tak terbatas, BRAHMAA kesulitan mencari jalan keluar. Dia tersesat. Dia berteriak,” Aku tidak menemukan jalan keluar. Tolong aku..”

VISHNU tersenyum, Dia berkata,”Sekarang keluarlah! Lewatlah pusar-Ku.”

BRAHMAA akhirnya bisa keluar melalui pusar VISHNU. Begitu keluar, sujudlah dia.

“Engkau benar-benar AVATARA BRAHMAN. Aku percaya sekarang. Dan aku mohon anugerah-Mu. Karena aku keluar lewat pusar-Mu, berilah aku anugerah disebut sebagai putra-Mu.”

“Thathastu (Terjadilah).” Ucap VISHNU.

Karena ‘lahir’ lewat pusar VISHNU, BRAHMAA dikenal juga dengan nama PADMAYONI ( Dia yang lahir dari rahim bunga teratai ).

“Oh, VISHNU. Tiada lagi entitas lain yang berkuasa disemesta ini sekarang selain Engkau dan aku. Apa yang harus aku lakukan?”.

VISHNU berkata,”Jangan salah. Aku mewujud juga dalam perwujudan lain. Dalam AVATARA lain.”

BRAHMAA tercengang. Belum selesai ketercengangan dia, muncullah sosok makhluk yang penuh perbawa. Dahsyat dan menggentarkan. Semburat kesucian merebak. BRAHMAA takjub.
“Siapakah Dia?”.

“Dia-lah perwujudan-Ku yang lain. Dia-lah SHIVA,” jawab VISHNU.

BRAHMAA benar-benar takjub akan permainan Illahi ini. Serta merta ia bersujud kepada SHIVA dan memohon.”Wahai SHIVA, anugerahilah aku, bahwasanya kelak, Engkau akan dikenal sebagai puteraku.”

SHIVA tersenyum dan berkata,”Thathastu (Terjadilah).”

BRAHMAA lantas diangkat sederajat dengan VISHNU dan SHIVA. Ketiganya dikenal sebagai TRIMURTI. BRAHMAA, Sang Pencipta. VISHNU, Sang Pemelihara dan SHIVA, Sang Pelebur. Inilah permainan illahi. BRAHMAN, TUHAN YANG SESUNGGUHNYA ikut bermain dalam sandiwara kehidupan. Mengecoh mereka-mereka yang tidak teliti. Bahkan tidak cukup hanya itu, POWER BRAHMAN, SHAKTI BRAHMAN, ikut Mewujud dalam bentuk fisik. Mewujud dalam bentuk Ibu, dalam bentuk Wanita yang sangat cantik. Dia mewujud sebagai SARASVATI, LAKSMI dan DURGHA.

SARASVATI, adalah Shakti segala Ilmu Pengetahuan. LAKSMI adalah Shakti segala kemakmuran dan kesejahteraan sedangkan DURGHA adalah Shakti segala penghancur, keadilan dan hukum.

SARASVATI mendampingi BRAHMAA. Membimbing BRAHMAA. LAKSMI menyatu dengan VISHNU. Sedangkan DURGHA menyatu dengan SHIVA.
Lengkap sudah permainan indah ini.

Maya : Wah, betapa beruntungnya Brahmaa. Karma baik apa hingga dia bisa mencapai kedudukan sedemikian ‘dekat’ dengan AVATARA BRAHMAN seperti itu? Hebat.

Damar : Dengarkan selanjutnya. DEVA BRAHMAA, dititahkan untuk menciptakan benda-benda fisik, jasad-jasad fisik dan semesta sebagai tempat para ATMA yang tengah ‘beristirahat’ untuk melanjutkan evolusi-Nya. Semua atas petunjuk SARASVATI. AVATARA BRAHMAN sendiri.

Namun suatu ketika, dia menemui kesulitan. Dia benar-benar kesulitan. Ditengah kebingungannya, tiba-tiba dipangkuannya muncul seorang putra, penuh cahaya. BRAHMAA terkejut. Anak ini meraung, menangis. Tangisannya menggetarkan segenap penjuru. Tangisannya terdengar menggemuruh, terdengar dengan suara AUM.

Dia meraung terus. BRAHMAA memberikan-Nya Nama RUDRAA (YANG MERAUNG). Anak ini masih tetap menangis, maka BRAHMAA memberikan-Nya Nama lain, yaitu SARVA, BHAVA, UGRA, BHIMA, PASUPATI, MAHADEVA dan ISHA. Setelah mendapatkan delapan Nama, anak ini berhenti menangis dan menghilang. BRAHMAA sadar, anak tadi adalah SHIVA. SHIVA telah menepati janji-Nya akan lahir sebagai putranya. Dan SHIVA ingin mengajar BRAHMAA, bahwa untuk mencipta semesta, sebuah ‘getaran’, sebuah ‘gelombang’ juga diperlukan. Dan SHIVA mengajarkan satu suku kata yang menggetarkan ‘AUM’.

Maka dari itu, SHIVA juga dikenal dengan Nama AUMKARANATA (PENGUASA KALIMAT AUMKARA).

Dengan getaran inilah BRAHMAA mencipta semesta. Dia membuat seluruh materi fisik PRAKRTI terkumpul dalam satu bulatan oval, bulatan telur. Karena bentuknya bulat telur, mirip telur, cikal bakal semesta ini disebut BRAHMAANDA (TELUR BRAHMAA). Setelah itu, BRAHMAA memasuki telur tersebut. Telur yang bersinar keemasan, rahim alam semesta ini dikenal juga dengan nama HIRANYAGARBHA (RAHIM KEEMASAN SEMESTA).

Disanalah BRAHMAA memutar telur dari dalam, bermilyard-milyard tahun. Ketika sudah siap, maka BRAHMAA menyentak Telur Semesta ini dengan getaran AUM. Meledaklah telur ini. Suaranya membahana. Pecah menyemburan kesegala penjuru. Maka terciptalah semesta raya ini dengan diiringi suara suci…. AUMMMMMMMMMMMMMMMMMM!.

Maya : Wah, mirip teori sains modern tentang Penciptaan Semesta yang dinamakan TEORI BIG BANG (Teori Ledakan Besar). Ya Tuhan…..

Damar : Veda telah menceritakannya jauh-jauh hari…Lantas setelah semesta tercipta. BRAHMAA pertama-tama menciptakan lima orang putra. Yaitu SANATANA, SANANDA, SANAKA, SANATKUMARA dan SANGKALPA. Namun kelima ATMA ini kurang ‘tenggelam kesadaran-Nya’. Sehingga menolak menjadi Leluhur seluruh makhluk penghuni semesta.

Oleh karena itulah, BRAHMAA menciptakan lagi putra-putra yang lain, yaitu MARICI, ATRI, ANGGIRA, PULASTYA, PULAHA, KRATU, BRGU, VASISTHA, NARADDHA dan DAKSHA.

Kesepuluh makhluk suci inilah yang melahirkan jasad-jasad fisik beribu-ribu spesies yang lahir dari sel atau SVEDAJA, beribu-ribu jasad fisik spesies yang lahir dari biji atau UDBHIJJA, beribu-ribu jasad fisik spesies yang lahir dari telur atau ANDAJA serta beribu-ribu jasad fisik spesies yang lahir dari kandungan (mamalia) atau JARAAYUJA. Termasuk wujud fisik spesies Deva dan Asura.

Dan putra yang kesebelas dan kedua belas, yaitu SVAYAMBHUVA MANU dan SATARUPA akan melahirkan wujud fisik spesies yang disebut Manushya. Inilah ADAM dan HAWA….

Maya : Ya Tuhan…

Damar : Sudah jelas, kan? PURUSHA bagi mas adalah VISHNU dan SHIVA. AVATARA DARI DIA YANG TAK TERBAYANGKAN.

Maya : Jarang yang menguraikan hal ini, mas. Kebanyakan membingungkan dan tidak sistematis. Rancau. Dari mas, saya baru paham. Terima kasih. Dan lagi, saya jadi tertawa bila menyadari, ajaran Gnostik dari Yunani yang terkenal itu ternyata mengambil oper ajaran Veda, hahahahaaaaa….

Oh, ya mas. Ada satu lagi. Mengapa Asura punya kelebihan bisa menginjakkan kaki di Surga? Dan mengapa Raja Para Deva, Indra, sering diceritakan suka melakukan perbuatan yang tak sepantasnya?

Damar : Aku akan menjelaskannya setelah selesai pembahasan Karmaphala dan Punarbhava ini, sabar, ya?
Nah, tanpa mengerti perihal diatas, konsep Karmaphala dan Punarbhava jadi kabur, ngambang dan rancau. Kini kita kembali ke pokok bahasan kita.

Maya : Yup..

Damar : Apapun yang kita PIKIRKAN, UCAPKAN dan LAKUKAN DENGAN BADAN INI, semuanya akan direkam oleh PRAKRTI.
PIKIRAN, PERKATAAN dan PERBUATAN atau MANASIKA, VACIKA dan KAYIKA. Baik itu yang Positif maupun Negatif. Semua akan menjadi ‘benih’ bagi TAKDIR KITA. Yang Positif akan berbuah Positif dan Yang Negatif akan berbuah Negatif pula..

Maya : Jelaskan lagi, mas. Aku sudah paham kalau itu..

Damar : Coba lihat sekelilingmu. Ambil satu contoh seorang anak manusia. Dia lahir dari keluarga kaya, berarti ada buah karma positif-nya yang tumbuh sehingga dia patut lahir dalam keluarga kaya. Dia punya fisik sehat, berarti ada buah karma positif-nya yang tumbuh sehingga dia memiliki fisik prima. Dia tampan, berarti ada buah karma positif-nya yang tumbuh sehingga dia terlahir tampan, tapi dia bodoh, berarti ada karma negatif-nya yang tumbuh sehingga menghalangi kecerdasannya. Dia tidak disukai wanita sehingga sulit jodoh, berarti ada karma negatif-nya sehingga dia sangkal jodoh. Nah, lahir dari keluarga kaya, sehat, tampan, tapi bodoh dan sangkal jodoh adalah buah karma positif dan negative yang tumbuh bersamaan. Ini membentuk NASIB DIA.

Maya : TAKDIR, kita sendiri yang membuat. Intinya itu ya, mas.

Damar : TAKDIR adalah akumulasi dari karma-karma positif maupun karma-karma negatif kita masa lalu. Takdir mengkondisikan kita. Mendorong kita kearah tertentu. Kearah yang menyenangkan atau yang tidak. Tapi buah karma positif yang sangat-sangat utama adalah berbuah ‘KESADARAN’. Dengan bertemunya kita dengan seorang guru spiritual, teman yang membimbing atau menyertai kita dalam ‘peningkatan kesadaran’. Kekayaan, ketampanan, tidaklah bisa mengalahkan keutamaan hal ini.

Maya : Wow..

Damar : Ibarat seorang anak mendapat warisan sebidang sawah dari orang tuanya. Luas dan kondisi kesuburan sawah sudah ditentukan. Ada yang mendapat sawah luas, sedang dan sempit. Ada yang kondisi tanahnya subur, cukupan dan gersang. Semua sudah kita warisi. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, itulah warisan kita. Takdir kita. Selanjutnya, kita sendiri yang menentukan sawah itu, mau diapakan. Jangan mencari kambing hitam. Sebab warisan itu juga adalah hasil perbuatan kita dimasa lalu. Yang berbuat harus berani bertanggung jawab.

Maya : Lantas bisakah kita mengubahnya ?

Damar : Nanti saja aku jawab tentang hal itu..

Maya : Dan Pikiran, Perkataan serta Perbuatan kita sekarang adalah benih-benih takdir kita dimasa mendatang, masa kelahiran selanjutnya. Nah, apakah bisa kita mengubahnya sebelum tumbuh?

Damar : Aku menjawabnya nanti…

Maya : Dan apabila kita berbuat sesuatu, positif maupun negatif pada masa kehidupan kita yang lalu, lantas pada kehidupan sekarang ini berbalas, semisal kita pada masa kehidupan lampau telah berbuat jahat pada orang lain, dan pada kehidupan sekarang ini, apakah buah perbuatan jahat kita bisa berupa dijahatin orang lain juga?

Damar : Yup. Dan biasanya, orang yang kamu jahati pada masa lalu itu jugalah, pada kelahiran sekarang, didorong oleh PRAKRTI, oleh Alam, akan berbuat jahat padamu. Banyak toh tiba-tiba kamu dijahati orang tanpa sebab yang jelas? Itu berarti, kamu punya ‘hutang’ karma negatif padanya, dan harus dibalaskan.

Maya : Wah, balas dendam nih namanya. Lantas, kalau kita balas jahati dia, kan impas?
Damar : Tidak! Kamu akan menanam karma negatif lagi pada dia. Kalau pada kesempatan dalam kehidupan ini, dia tidak punya kesempatan membalas, maka pada kehidupan selanjutnya, pasti, dibimbing oleh PRAKRTI, dia akan bertemu kamu lagi, untuk membalasnya.

Maya : Waduh, terus gimana dong?

Damar : Bila kamu dijahati, sadarkan dia, tegur dia, nasehati dia. Bila teguran kita tak digubris, ya biarkan saja. JANGAN MEMBALAS. Sebab jika kamu membalas, kamu sekarang malah yang punya hutang karma. JANGAN MEMBALAS DAN MAAFKAN! Bila kamu bisa memaafkan dan tak membalas, maka PRAKRTI sendiri yang akan membalasnya. Bisa berupa penyakit, musibah, sial dll. So, jangan membalas dan maafkan. Begitu kamu tidak membalas, kamu tidak punya hutang karma, dan ALAM YANG AKAN MENGAMBIL ALIH PROSES PEMBALASAN ITU!

Maya : Gitu ya, mas. Dan bila sebaliknya, tiba-tiba kita mendapat bantuan dari orang lain yang tidak kita kenal, berarti buah karma positif kita tumbuh, berarti orang lain ini, dulu, pada kehidupan yang lampau, punya hutang budi sama kita. Begitu kan?
Sekarang yang jadi masalah, kadang kita melakukan suatu kejahatan yang tidak kita sengaja. Misal, kita nabrak orang tanpa sengaja dan berakibat kematiannya. Nah, kita punya hutang tidak?

Damar : Tidak! Itu adalah proses pembalasan Alam kepada orang tersebut, mungkin karma negatif-nya pada masa lalu tak jauh-jauh juga dari urusan nyawa. Kita hanya sebagai perantara saja. Kita melakukannya tanpa didasari kepentingan pribadi. Tanpa didasari dendam dan keuntungan tertentu. Dan benar-benar tak disengaja. Jika ini terjadi, kita tidak punya hutang karma negatif apapun.

Maya : Berarti, keluarga korban yang tidak terima dan berusaha menjahati saya, telah menanam karma buruk ‘baru’ . Saya harus mengingatkan dan memaafkannya, begitu?

Damar : Yup. Sebab apabila kita melakukan ‘kekerasan’, bukan demi ‘keuntungan ego kita’, kita tidak punya hutang karma apapun.

Maya : Termasuk aparat penegak hukum. Mereka yang sekedar menjalankan tugas menegakkan kebenaran. Menyakiti bukan demi keuntungan pribadi, tapi demi keselamatan masyarakat banyak, maka akan lepas dari hutang karma, begitu?

Damar : Yup. Bisa iya bisa tidak.

Maya : Lho, kok?

Damar :Tergantung individunya. Sebab banyak juga yang dengan alasan melakukan kekerasan demi menegakkan hukum, tapi tidak murni. Mereka berharap dan punya maksud lain demi keuntungan dirinya sendiri. Nah, kamu pikir sendiri.

Maya : Iya, ya mas. Lantas bagaimana, dong ?

Damar : Demi menegakkan kebenaran, bukan demi kepentingan pribadinya sendiri, bukan demi dendam pribadinya sendiri, tapi demi keselamatan masyarakat, seorang KSATRIA tidak berdosa melakukan kekerasan. Itu adalah DHARMA-nya. DHARMA KSATRIA. Malahan dia menanam karma baik. Disebutkan dalam Kitab Manavadharmasastra, seorang ksatria yang telah mendapat upah dari masyarakat untuk keberlangsungan hidup rumah tangganya, tapi tidak mau melindungi keselamatan masyarakat yang mengupahnya, ini dinamakan dosha besar! Seorang Ksatria, yang gugur saat menunaikan Dharma-nya, pintu svarga terbuka lebar baginya. Darahnya yang menetes dibumi, akan menyuburkan tanah itu sendiri.

Maya : Wah! Hebat! Heroik…Dan apabila pada kehidupan sekarang, kita, aku dan mas bertemu, bahkan jadi sedemikian dekatnya, apakah berarti pada masa lalu, kita punya hutang karma?

Damar : Yup, kita pernah bertemu pada masa lalu. Kita punya hutang budi satu sama lain, kita punya hutang emosi, satu sama lain. Dan hutang itu, harus terbalaskan dalam kehidupan sekarang.

Maya : Dan apabila saat ini kita berinteraksi dan terjalin hutang-hutang karma baru, berarti pada kehidupan mendatang, bisa dipastikan kita bakalan ketemu lagi. Berjodoh lagi, dong? Hehehehe…

Damar : Yap, begitulah. Renungkan, berapa banyak manusia di bumi ini, mengapa aku dan kamu tidak berjodoh untuk bertemu dan mengenal seluruhnya? Karena kita tidak punya hutang karma, baik karma positif maupun negatif dengan mereka. Siapapun, yang dekat dengan kita, ayah, ibu, paman, bibi, adik, istri, suami, keponakan, semuanya ini pasti pada kehidupan lalu telah terjalin hutang berhutang karma, sehingga harus berjodoh untuk dipertemukan dalam satu tempat.
Bila punya hutang karma, walaupun kita masing-masing lahir diujung dunia yang berbeda, Alam akan mempertemukan kita, dalam suatu ‘kebetulan’ yang tak terduga. Semuanya adalah hasil dari karma kita sendiri juga…

Maya : Indah banget..

Damar : Makanya, jangan kaget kalau ada satu saudara kandung yang hobinya bertengkar melulu. Itu bisa disimpulkan, bahwa pada masa kelahiran yang lalu, mereka memang sudah saling kenal dan punya dendam yang belum tuntas…
Dan pada kelahiran sekarang, karena terlalu melekatnya dendam itu, dendam diantara keduanya, maka mereka terlahir sebagai saudara kandung.
Alhasil, selama mereka tidak disadarkan, tidak mengerti hukum Karmaphala dan Punarbhava ini, mereka akan terus terhayut dalam dendam masa silam. Hal-hal yang seharusnya tidak patut menjadi bahan pertengkaran, hal sepele, akan meledak jadi pertengkaran hebat bagi mereka. Nah, hanya dengan ‘kesadaran’ mereka berdua. Saling menyudahi, saling memaafkan, maka hutang karma mereka lunas.

Maya : Hehehehehehe…

Damar : Cukup itu aja, deh. Selanjutnya kamu bisa menganalisa sendiri. Lihat sekeliling kamu, lihat, amati, renungkan. Dan kamu akan semakin melihat kebenaran adanya hukum sebab akibat serta kelahiran kembali ini.

Maya : Iya, deh. Sebenarnya masih banyak, malah semakin banyak yang ingin ku ketahui. Tapi lanjut entar aja, deh. Makasih, mas…

Damar : Makasih juga telah rela menyingkapkan ego-mu untuk mendengar celotehanku…

Maya : Hehehehe…,namaste..

Damar : Namaste.

Thursday, September 23, 2010

AGAMA ADALAH PRAKTEK bagian keempat

Oleh : JM Gusti Ngurah Made Suyadnya (Ketua Umum PSN)


LANGKAH 5 ; HITUNG ANUGRAH ANDA

Ambillah secarik kertas dan tulislah semua pemberian Tuhan yang anda syukuri. Tahukah anda apa yang harus anda syukuri? Tahukah anda nilai mata anda, telinga anda. Tangan anda dsb? Dan bukan hanya itu, Dia telah memberikan kita orang-orang yang menyayangi kita; keluaraga, kakak, adik, teman-teman dan orang orang yang berniat baik. Hitunglah berkahmu, bukan kesialanmu, hitunglah pendapatanmu, bukan kehilanganmu, hitunglah kebahagiaanmu, bukan kesedihanmu dsb.

LANGKAH 6 ; TERIMALAH KEHENDAK TUHAN

Orang orang yang percaya pada kekuatan Yang Maha Esa, orang-orang yang belajar untuk menerima kemauanNya, tidak akan pernah jatuh dalam kemalasan dan pesimisme. Mereka akan berbuat seperti apa yang diperintahkan Tuhan dalam Bhagawadgita, mereka tidak bermalas-malasan, mereka melakukan yang terbaik yang mereka mampu untuk mencapai hasil yang mereka inginkan. Tetapi bila mereka tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkan, mereka tidak menjadi putus asa dan frustasi, mereka tidak jatuh dalam kekecewaan. Panggilan hidup adalah maju kedepan menuju Tuhan.

Tahukah anda siapa santo terbesar dunia? Tanya William Law, “Bukan dia yang berdoa atau berpuasa paling sering; bukan ia yang memberikan persembahan paling banyak atau yang paling dikenal untuk kesabaran,kemurahan hati dan keadilannya, melainkan dia yang selalu bersyukur pada Tuhan; yang menghendaki segala sesuatu yang dikehendaki Tuhan, yang menerima segala sesuatu sebagai bukti dari kebaikan Tuhan dan memiliki hati yang selalu siap untuk memuji Tuhan untuk hal-hal ini.

Penerimaan dengan semangat bersyukur membuka jalan bagi keutuhan dalam hidup kita. Penerimaan bisa mengubah keputusasaan menjadi kepercayaan, perselisihan menjadi kerukunan, kekacauan menjadi ketertiban, dan kebingungan menjadi pengertian penuh. Penerimaan melepaskan kedamaian ke dalam hati kita dan membantu kita untuk percaya bahwa Tuhan selalu beserta kita. Menyerahkan kehendak kita dan menerima kehendak Tuhan bisa mengakibatkan hilangnya rasa yang menyakitkan

LANGKAH 7; LAKUKAN YANG TERBAIK. SERAHKAN HASILNYA PADA TUHAN.

Kerja adalah ibadah dan karma, atau tindakan, tidak dapat dihindari oleh mereka yang hidup di bumi ini. Tetapi rasa dari kedamaian di dalam diri adalah untuk bekerja tanpa terpaku pada hasilnya. Hukum alam semuanya mengarahkan kita untuk bertindak, karena kita tak mungkin hidup tanpa kegiatan. Tetapi mereka yang bijak betindak tanpa keterkaitan, tanpa mencari hasil. Sukses maupun kegagalan tidak mempengaruhi sikap mereka terhadap kewajiban mereka. Cukup dengan menyerahkan hasil dari tindakan kita kepada Tuhan, jadikan pekerjaan kita sebagai persembahan kepadaNya. Lakukan yang terbaik yang anda bisa, tetapi serahkan hasilnya kepada Tuhan. Ketika anda mengijinkan diri anda sebagai sarana Tuhan, anda akan menemukan bahwa anda bisa bekerja lebih baik, dan mencapai kesuksesan yang lebih besar, karena akan terbebas dari keerbatasan pribadi anda. Dengan cara begini benar-benar anda mempraktekkan kepercayaan bahwa kerja itu ibadah, pekerjaan anda menjadi bentuk persembahan.

LANGKAH 8; BERDOALAH TANPA HENTI

Jika anda menginginkan kedamaian dalam diri, berdoalah tanpa henti. Ini adalah satu hukum spiritual yang akan berlangsung selamanya. Anda tidak bisa duduk dan bermeditasi terus menerus, anda tidak bisa berpuasa lebih dari beberapa hari. Setiap hukum spiritual lainnya memiliki keterbatasan sebatas kemampuan orang tersebut, tetapi doa bisa berlangsung selamanya.

Jangan khawatir atas apapun, tetapi berdoa dan bersyukurlah untuk segala sesuatu, dan panjatkan keinginanmu kepada Tuhan. Dan kedamaian dari Tuhan, yang melampaui segala pengertian, akan menjaga hati dan pikiranmu.

Kita diperintahkan, diharuskan agar jangan khawatir, jangan takut, tapi agar berdoa untuk permohonan kita; berdoa dengan penuh rasa syukur. Dan dengan cara ini Tuhan akan menjaga hati kita. Doa adalah sesuatu yang sangat sederhana, doa adalah berbicara dengan Tuhan. Dia bersama anda selalu. Anda tidak akan menemukan Dia sibuk, atau berhalangan. Mencapainya melalui doa lebih cepat daripada sambungan cepat telpon anda. Yang anda harus lakukan adalah memikirkanNya, menutup diri dari dunia untuk sesaat, dan memulai pembicaraan yang penuh kasih sayang denganNya.

Umumnya kita banyak menghabiskan waktu kita untuk kegiatan yang tidak penting. Pikiran kita demikian sibuknya, terus menerus berlari dari satu titik ke titik yang lainnya. Mengapa tidak kita alihkan pikiran kita yang sibuk ini dalam sebuah pembicaraan yang penuh kasih sayang Tuhan? Doa tidak perlu menjadi urusan yang rumit. Seperti halnya jarum kompas selalu mengarah kearah utara, hati dan pikiran kita juga harus selalu tertuju pada Tuhan

“Datanglah kepada-Ku”, Sri Krishna bersabda, “dan engkau akan menjadi tanggunganKu dan kebahagianmu akan menjadi kebahagianKU”. Karena itu, jangan meragukan keberadaan Tuhan atau bahkan kebesaranNya. Dia ada selalu untuk Anda, yang harus Anda lakukan adalah memanggilNya, dan Dia akan ada untuk membantu Anda. Anda juga harus menyadari bahwa segala apa yang tak mungkin bagi manusia sangat mungkin bagi Tuhan. Kapanpun Anda menemukan diri Anda terjebak dalam sitruasi sulit , melalui masa-masa yang gelap, ada Yang Maha Kuasa yang selalu ada bersama Anda.

Seseorang yang Anda sayangi mungkin terserang penyakit yang tak tersembuhkan, dan para dokter sudah putus asa. Anda sudah hampir bangkrut, dan tidak ada yang bisa Anda mintai pertolongan. Anda berada dalam krisis hubungan pribadi, dan ikatan ini nyaris putus. Anda telah melakukan yang terbaik, tapi nampaknya Anda tak mampu menyelesaikan masalah ini. Serahkan saja kepada Tuhan! Bagaimana Anda bisa menyerahkan kepada Tuhan? Berdoalah kepadaNya. Dalam doa anda serahkan masalah ini kepadaNya. Katakan kepadaNya, “Tuhan, hamba tidak bisa melakukan apa-apa dalam masalah ini tanpa bantuanMu. Saatnya bagiMu untuk datang dan menolong hamba.”

Tetapi ingatlah untuk bersyukur kepada Tuhan sebelum Anda menutup doa Anda. Berdoalah dan bersyukurlah. Bersyukurlah kepada Tuhan sreolah Dia telah menjawab doa Anda. Namun ingatlah bahwa jawabanNya mungkin membutuhkan waktu untuk mencapainya. Rasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam diri anda, dan Anda akan menemukan bahwa kedamaian mengisi pikiran Anda seketika. Apa yang tidak mungkin bagi manusia menjadi sangat mungkin bagi Tuhan. Berdoalah terus menerus! Pemecahan bagi semua masalah adalah berhubungan dengan Tuhan, biasakan diri berdoa, biasakan diri berhubungan dengan Tuhan.

Sekali Anda memulai kebiasaan ini, hal ini akan menjadi usaha yang spontan, sampai akan terjadi secara otomatis, Anda tidak perlu melakukan usaha secara berlebihan. Anda akan selalu memikirkan Tuhan di saat Anda berjalan, disaat bicara, di saat Anda bekerja, Dia akan selalu hadir dalam diri Anda dan Anda akan merindukan saat saat di mana Anda bisa sendiri bersamaNya, di saat anda bisa membuka hati Anda terhadapNya. Rasa rindu inilah yang harus kita kembangkan melalui doa secara terus menerus. Tanpa kerinduan ini, tanpa penantian kita, doa kita hanya akan menjadi dangkal dan kosong, doa kita tidak bisa dibawa ke tahap yang lebih dalam dan di kedalaman inilah Tuhan menanti kita.

Ketika kita telah belajar untuk menghubungi Dia, akan mudah bagi kita untuk menyusuri kedalaman ini, dan mendengarkanNya, merasakan kehadiranNya dan bicara kepadaNya. Semua ini menjadi mungkin melalui doa yang terus menerus!
“Datanglah kepadaKU,” Sri Krishna bersabda, “dan engkau akan menjadi tanggunganKu, bebanmu akan menjadi bebanKu, dan kebahagianmu akan menjadi kebahagianKu!”

Carilah Tuhan bukan untuk keuntungan materiil, melainkan untuk mendapatkan cintaNya. Kedamaian tidak akan datang kepada kita dengan mencari hal hal yang diberikan oleh dunia dan yang kelak akan diambil kembali oleh dunia. Kedamaian tidak akan datang kepada kita dengan melawan keadaan dan berontak terhadap segala yang terjadi pada kita. Kedamaian akan datang ketika kita memasuki Kedamaian Besar Tuhan, melalui doa terus menerus.,

Hai pengelana, yang telah lelah akan pencarianmu! Jauh dari Rumah sejatimu, tidak ada ketenangan, kembalilah kerumahmu! Dan rumahmu adalah Tuhan. Ingatlah Dia selalu. Berdoalah kepadaNya tanpa henti.

Sungguh bahagia mereka yang bersatu dengan Tuhan melalui doa yang tanpa henti! Mereka telah terlepas dari belenggu duniawi; mereka tidak terikat apapun; Tuhan menjadi janngkar mereka!

Sangat bermakna sabda Sri Krishna dalam Bhagawad gita :
Berdiam dalam kegelisahanmu, Engkau berdiam tenang dalam diriku
Menyatu denganku, Engkau akan mencapai kedamaian
Dari keabadian, Kebahagiaan sejati Yang ada dalam diriKu
Mereka yang menyatu dengan Tuhan dalam doa yang tiada henti akan berbahagia! Mereka telah melepaskan diri dari belenggu keterikatan, mereka tidak lagi terikat; Tuhan adalah jangkar sejati mereka!

Pada awalnya Anda akan menemukan bahwa doa membutuhkan disiplin dan ketekunan. Tetapi seiring berjalannya waktu, disiplin menjadi tidak perlu, Karen doa menjadi bagian dari kesadaran. Selanjutnya doa tidak lain merupakan pikiran baik yang terkonsentrasi. Berdoa tanpa henti bukan merupakan ritual; bukan merupakan kata terus-menerus akan kesatuan kita dengan Tuhan. Tentu saja Anda bisa meminta semua hal baik yang Anda butuhkan dan anda bisa mendapatkan kepercayaan bahwa segala bisa Anda raih. Karena segala jenis doa efektif, tetapi doa tanpa henti memiliki pengaruh berlipat.

Seorang penulis dan pembicara terkenal mengatakan : “Tak ada seharipun berlalu tanpa saya memikirkan Tuhan. Lebih dari berpikir, saya merasa kehadiran Tuhan hampir di setiap sat kesadaran saya. Perasaan lega dan puas ini melebihi apapun yang bisa sayta gambarkan…..” “masalah dan kebingungan mendorong saya ke-arah doa”, seorang saudara menulis. “dan doa mendorong masalah dan kebingungan menjauh .” “Mengapa kita harus menunggu sampai berada dalam masalah?” Berdoalah tanpa henti bahkan saat anda sedang gembira, seperti dikatakan oleh Walter Mufffer, “Doa seharusnya tidak menjadi reakasi kita yang terkadang muncul di saat kita sedang kesulitan; doa adalah sikap dalam hidup.”

Jadikan doa sebagai sikap dalam hidup Anda. Biarlah setiap pikiran, setiap kata, setiap perbuatan, terpusat dalam doa.


Bersambung...........................

Thursday, September 16, 2010

AGAMA ADALAH PRAKTEK bagian ketiga

Oleh : Jro Mangku Ir. Gusti Ngurah Made Suyadnya (Ketua Umum PSN Pusat)

LANGKAH 2 ; ISTIRAHATKAN PIKIRAN DALAM TUHAN

Engkau akan memberikan kedamaian bagi mereka yang pikirannya terpusat pada-Mu. Anda pasti menemukan bahwa setiap kali pikiran anda berada dalam Tuhan, setiap kali anda merasakan kehadiran-Nya, anda berada dalam kedamaian.

Dapatkah anda mencoba sebuah latihan sederhana? Setiap kali anda mulai sadar pikiran anda melayang, perlahan-lahan dengan penuh kasih sayang bawalah pikiran anda kembali kepada Yang Maha Kuasa. Memang tidak mudah! Bahkan saat anda sadar bahwa pikiran anda mulai melayang, kita ikut melayang bersama pikiran kita! Akan tetapi lakukan sebisa anda untuk menghentikan pikiran anda yang sedang melayang ini, dan bawalah kembali kepada Yang Maha Kuasa.

Jangan berusaha untuk melawan pikiran kita----karena pikiran dapat menjadi musuh yang berbahaya. Ber-temanlah dengannya, bujuklah dia, seperti anda membujuk seorang anak yang keras kepala, bahwa akan baik baginya untuk terfokus pada Yang Maha Kuasa. Ijinkan pikiran anda untuk sedikit menikmati kedamaian yang timbul. Katakan padanya, “Lihat, lihatlah betapa bahagianya bila kita diam dihadapanNya! Dia akan membuat kita merasa damai saat kita beristirahat denganNya. Mengapa kita tak bisa berdiam saja dihadapanNya dan merasakan kebahagiaan dalam hidup?”

Pikiran yang cepat tidaklah sehat. Pikiran yang pelan adalah sehat. Pikiran yang hening adalah suci. Jika anda menginginkan kesucian anda nyata, pelankan laju pikiran anda, heningkan pikiran anda dalam hadirat Yang Maha Kuasa. Pikiran yang kosong mengundang penghuni yang berbahaya, seperti sebuah rumah besar yang kosong, mengundang glandangan dan buronan untuk mengisi kamar-kamarnya, karenanya isilah pikiran dengan segala yang baik dan mulia.

Bagaimana kita mengharapkan dapat menemukan kedamaian di dunia luar, ketika kita gagal menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya berpusat dalam pikiran kita sendiri.
Mengapa pikiran kita berkeliaran? Penyebab berkeliarannya itu ada tiga hal, seperti halnya maya memiliki tiga wajah;

1. Yang pertama adalah kenikmatan, kepuasan duniawi. Kenikmatan mengundang kita bagaikan magnet. Pikirkan tempat tempat hiburan kesukaan anda seperti bioskop, theater, bar, klub, dan seterusnya, semua ini dan masih banyak lagi yang sangat menarik bagi pikiran manusia. Hal hal ini menarik imajinasi dan membangunkan hasrat dalam diri anda. Hasrat inilah yang membuat pikiran berkeliaran.

2. Wajah kedua dari maya adalah kekayaan. Kita terus mengumpulkan kekayaan yang semakin banyak. Kita bahkan tidak memiliki waktu untuk menghabiskannya! Suatu waktu kematian menerkam kita dengan tiba tiba, dan pada saat meninggal kita terpaksa meninggalkannya, kita berjalan terus dengan tangan kosong ke Dunia lain.

3. Wajah ketiga maya adalah ketenaran, keagungan duniawi, pengaruh dan kekuasaan. Ada orang-orang yang mengutuk hasrat dan menjauhi kekayaan, tetapi mereka sangat tertarik akan kebesaran nama, ketenaran, kehormatan dan pendapat umum. Mereka juga merupakan tahanan dari Maya! Kita tidak mungkin mencapai kesempurnaan ini dalam semalam, tetapi kita bisa dan harus berusaha memusatkan pikiran yang berkeliaran sehingga kita bisa mempergunakan kekuatannya untuk kebaikan. Fokus terhadap Tuhan mendekatkanmu dengan Keabadian, sehingga pikiranmu bisa mengatur yang tidak abadi sebaik-baiknya.

Lord Chesterfield berkata bahwa pikiran yang lemah dan berkeliaran menjadi seperti mikroskop, yang hanya terpaku pada hal hal yang tidak penting. Pikiran yang berkeliaran menjadikan gundukan seperti gunung dan membayangkan halangan yang tak teratasi dalam jalan menuju kemajuan. Sebaliknya pikiran yang terpusat mempunyai kebijakan, kekuatan dan kebesaran untuk membantu kita mengatasi tantangan dalam hidup.

Dalam kata-kata filsuf Zen, Chang Tsu : Jika air mendapatkan kejernihannya dengan tetap diam, pikiran bisa lebih hebat lagi! Pikiran yang tenang menjadi cermin dari alam semesta, teropong untuk melihat seluruh ciptaan. Engkau akan memberikan kedamaian sempurna bagi mereka yang pikirannya terpusat pada-Mu.


LANGKAH 3; JADILAH SINGA BUKAN ANJING

Orang Suci menjelaskan hal ini sbb; “Jika kamu melempar bola pada anjing, apa yang terjadi? Ia berlari mengejarnya. Jika kamu melempar apapun pada singa, apa yang terjadi, ia akan mengacuhkan benda tersebut dan berlari mengejarmu. Dia akan mengejar pelemparnya, bukan benda yang dilemparkan.

Setiap saat kita berpikir mengenai benda-benda yang dilemparkan pada kita, mengenai kondisi dan keadaan kita hidup, mengenai pola dalam hidup yang berubah-ubah, saat saat dalam hidup yang segera akan berlalu. Kita tidak memikirkanNya, Sang Pelempar yang telah melemparkan semua ini pada kita.

Kita harus menyadari berulang-ulang bahwa ada anugerah dalam semua yang terjadi pada kita. Semua pengalaman hidup akan mengajarkan kita sesuatu . Kita harus menerimanya sebagai sebuah anugerah dan kita akan dianugrahi dengan berlimpah. Berpalinglah pada Tuhan dalam doa dan meletakkan semua kekhawatiran, kebingungan kita di kakiNya. Ini akan memberI kita perasaan damai dan rileks secara langsung, sehingga kita bisa menangani masalah dalam jiwa penyerahan yang tenang.

Kosongkan pikiran anda dari segala kekhawatiran. Letakkan beban anda di kakiNya dan Dia akan memberi anda ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan hidup.

Que sera,sera! Apapun yang akan terjadi, terjadilah! Jadi mengapa harus khawatir? “Apapun yang telah terjadi, apapun yang sedang terjadi, apapun yang akan terjadi semuanya terjadi untuk yang terbaik.” Kita harus menegaskan berulang-ulang bahwa ada anugerah dalam semua yang terjadi pada kita. Semua pengalaman hidup akan mengajarkan kita sesuatu. Kita harus menerimanya sebagai sebuah anugerah, dan kita akan dianugerahi dengan berlimpah.

Daripada khawatir, marilah kita berpaling pada Tuhan dalam doa dan meletakkan semua kekhawatiran kita di kaki-Nya. Ini akan memberikan kita perasaan damai dan rileks secara langsung, sehinhgga kita bisa menangani masalah dan kesulitan dalam hidup dalam jiwa penyerahan yang tenang. Mengapa kita harus membawa beban berat dalam pikiran dan hati kita, ketika kita bisa dengan mudah meletakkan beban kita dikaki-Nya yang cukup kuat untuk memanggul semua beban di dunia ini?
Letakkan beban anda di kaki-Nya dan Dia akan memberi anda ketenangan, keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan hidup.

LANGKAH 4; JANGAN BERKONSENTRASI PADA MASALAH.
BERKONSENTRASILAH PADA PEMECAHAN


Masalah ada bagi kita semua; setiap orang pasti menghadapinya; masalah kesehatan, keuangan, hubungan keluarga, diplomatic, pekerjaan, anak-anak. Setiap orang menghadapi masalahnya masing-masing, tanpa kecuali, kita semua selalu membayangkan bahwa masalah kita yang paling berat dari semuanya.

Ingatlah bahwa setiap masalah punya solusi. Tidak ada masalah yang tidak punya pemecahan.

Ada tiga cara untuk menghadapi masalah;

1. Cara pertama adalah dengan cara menghindarinya, menantang masalah ini membuat anda gentar, jadi anda memutuskan untuk kabur. Menghindari masalah, bisa dipastikan masalah ini akan kembali pada anda cepat atau lambat. Menghindari terus menerus akan membuat masalah ini menjadi semakin besar, berat, sampai pada suatu saat anda tak akan dapat menghindarinya lagi.

2. Cara kedua lagi lagi cara yang salah dimana untuk menghadapinya dengan sikap pasrah yang pasif. Apa yang tak dapat disembuhkan harus diderita. Apa yang bisa kita lakukan, kita harus menghadapi masalah ini, tidak ada jalan keluar.

3. Cara ketiga menghadapi masalah dengan cara yang benar, cara kemenangan. Kita terima masalah ini dengan senang hati, menyambutnya dan meminta pesan apa yang terkandung dalam masalah ini yang merupakan pesan dari Tuhan. Percaya bahwa hidup ini tidak diberikan dengan syarat yang mudah, hidup adalah penuh tantangan, kesulitan, cobaan dan konflik. Masalah masalah diberikanNya untuk kebaikan bagi kita.

Hidup adalah sekolah, bukan ladang untuk memanen kenikmatan belaka. Majulah untuk menyambut masalah saat muncul di cakrawala. Janganlah takut, janganlah melarikan diri, hadapi, atasi dan bekerja samalah dengannya, sambil memahami dan ia akan membawa anda ke sebuah penemuan berharga, sebuah penghargaan yang semestinya anda terima. Inilah cara yang benar untuk menghadapi masalah, cara kemenangan.

Masalah tanda dari kehidupan; masalah adalah ciri-ciri kehidupan. Jika anda pernah mengalami hari dimana anda tidak perlu menghadapi masalah satu pun juga, sebaiknya anda membaca berita kematian di koran, kalau-kalau nama anda ada disana. Hanya mereka yang sudah mati yang tak menghadapi masalah!

Masalah tidak datang kepada kita tanpa di sengaja. Masalah sengaja dilempar di jalan kita oleh Tuhan demi kebaikan kita sendiri. Di saat kita bisa menangani masalah-masalah ini dengan baik, di saat ini kita bisa membuka kekuatan dari dalam jiwa kita sendiri, energy besar yang tersimpan dalam diri kita. Jika kita dapat melepaskan sedikit saja kekuatan yang tak terhingga ini, kita akan menyadari bahwa tak ada yang tak dapat kita capai. Dan cara terbaik untuk membuka, mengeluarkan kekuatan-kekuatan terpendam ini adalah dengan menghadapi masalah dan tantangan dengan cara yang benar.

Jangan lihat masalahnya, lihat pemecahannya. Kepuasan terbesar dalam hidup datang pada anda bukan dengan lari dari masalah, bukan dengan mengacuhkan kewajiban-kewajiban berat, tetapi dengan menghadapi dan menyelesaikan masalah, dengan menerima tantangan sebagai individu yang bertanggung jawab dan bisa dipercaya. Masalah tidak membawa anda pada jalan buntu. Masalah tidak akan menghalangi jalan anda untuk selamanya. Masalah bukan penghalang melainkan batu loncatan menuju hidup yang lebih kaya dan lebih indah.

Bhagawad Gita memberi tahu kita bahwa hidup kita berdasarkan dwanda, pasangan yang saling berlawanan; gelap dan terang, siang dan malam, panas dan dingin, kelebihan dan kekurangan, jauh dan dekat, baik dan jahat, pujian dan hinaan, daftar ini tak ada habisnya. Anda tak tahu rasanya panas tanpa merasakan dingin, tak tahu rasanya terang tanpa merasakan gelap. Begitu juga halnya dengan masalah Kapanpun anda punya masalah, anda pasti punya pemecahannya, pemecahan yang terkandung dalam masalah itu sendiri.



Bersambung............

Monday, September 6, 2010

AGAMA ADALAH PRAKTEK bagian kedua

disajikan oleh : Jro Mangku Gusti Ngurah Suyadnya
(Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara Pusat)


Ya, hanya ada satu cara untuk mencapai kedamaian dalam pikiran, caranya dengan menyadari bahwa semua yang terjadi, terjadi sesuai keinginan Tuhan. Mengapa kita sering kehilanagn kedamaian pikiran kita? Sebab keinginan kita, nafsu kita, tidak dituruti. Kita menginginkan hal tertentu terjadi dengan cara tertentu pula. Saat kenyataan menjadikannya bebeda, barangkali dengan jalan berlawanan, kedamaian kita hilang.

Mengapa kita merasa kesal, frustasi, kecewa? Karena kita terikat, karena kiita terlibat. Jika saya menjalankan tugas saya, jika saya menjalankan hidup saya, seperti memainkan bagian dari sandiwara, saya tidak akan merasa kesal. Jika ada sesuatu yang terjadi dalam sandiwara, apakah anda merasakesal? Seandainya tokoh lain dalam sandiwara ini memarahi Anda atau bicara jelek tentang Anda, apakah Anda akan kesal? Tidak! Anda tahu Anda harus memainkan peran Anda dengan baik.

Jika saja kita bisa menyadari hal ini, bahwa kita semua hanya pemeran dalam sandiwara kehidupan; bahwa peran yang Anda mainkan telah diberikan pada Anda oleh sutradara alam semesta---kita tidak akan pernah merasa kesal. Kita tidak akan pernah terlibat. Tapi tentu saja ada syaratnya. Dalam sandiwara alam semesta dan kehidupan; Anda harus memainkan peran ganda. Anda harus jadi pemeran dan Anda juga harus menjadi penonton. Anda harus menyaksikan sandiwara ini bermain di depan mata Anda dan Anda juga hrus memainkan peran. Bilamana Anda mampu melakukan ini, niscaya Anda tidak akan kehilangan kedamaian pikiran.

Melakukan hal ini tidaklah mudah-----menjaga keseimbangan anda pada semua situasi. Sadhu Vaswani pernah mengatakan : “Tuhan menggagalkan rencana kita untuk menjalankan rencanaNya sendiri. Dan rencanaNya selalu sempurna”. Jika saya percaya sepenuh hati apapun yang telah terjadi pada diri saya merupakan bagian rencana Yang Maha Kuasa, bahwa ada hikmah yang terkandung didalamnya bagi saya, saya tidak akan merasa kesal. Sadhu Vaswani juga mengatakan; “Setiap kekecewaan adalah janjiNya. Dan Dia tahu yang terbaik. Saat anda telah menyadari ini, tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi ketidak bahagiaan. Hal ini adalah proses yang harus kita yakini dan jalani.

Saat anda telah menyadari hal ini, tak ada lagi kekecewaan, tak ada lagi ketidakbahagiaan. Anda akan tetap berada dalam keadaan tenteram dan damai. Anda mungkin tak dapat mencapai hal ini secara langsung. Hal ini adalah hasil dari proses yang harus Anda jalani.

Satu cara mudah untuk mencapai kedamaian pikiran adalah dengan bermeditasi selama sepuluh sampai lima belas menit setiap harinya, dan menjelaskan hal berikut kepada diri anda sendiri, “Apapun yang terjadi, terjadi sesuai dengan keinginan Tuhan. Jika ada sesuatu yang terjadi yang tidak sesuai dengan keinginan anda, hal ini terjadi karena kehendak Tuhan. Karena itu pasti ada hikmahnya bagi anda”
Jelaskan hal ini kepada pikiran anda setiap hari. “Wahai pikiran kenapa kau kehilangan kedamaianmu?’ Ijinkan saya katakan kepadamu, anda bisa mendapatkan kedamian pikiran jika anda berbagi kepada orang lain.

Santo Tulsidas, penyair yang agung berkata; “Tulsi is sansar mein kar leejiye do kaam. (Hei Tulsi, lakukan dua hal dalam hidup ini)
“Dene ko tukda bhala, lne ko Heri naam. (Berikan dari sebagian dan sebutkan nama Tuhan ). Terus memberi, santo ini berkata; “Ketika kamu sudah belajar untuk memberi, kamu telah belajar hidup dengan benar. Kedamaian akan terbit secara langsung dihatimu”. Hanya karena kita begitu egois, maka kedamaian kita terganggu. Kadamaian adalah asal wujud kita. Kita dibentuk dari kedamaian. Kita semua adalah Sat Cit Ananda. Ananda adalah kebahagiaan tanpa batas. Ini adalah wujud asal kita, kita hanya harus kembali kepadaNya.

DELAPAN LANGKAH MENUJU KEDAMAIAN DARI DALAM
LANGKH 1: AWALI HARI DENGAN TUHAN
Sebuah billboard mengiklankan sebuah obat syaraf. “Apa yang Anda rasakan besok tergantung dari langkah yang Anda ambil hari ini”. Hari esok kita tergantung pada hari ini dan setiap hari kita tergantung banyak pada apa yang kita lakukan di pagi hari.

Setiap pagi, ketika anda bangun ada pilihan dalam diri anda; anda bisa memilih optimis, harapan, pikiran positip dan sikap yang benar, atau anda bisa memilih pessimisme, kekalahan, keputusasaan.

Berikut adalah cara indah dari seorang penulis Amerika Dan Custer untuk mengungkapkan hal ini.

Setiap pagi adalah awal yang segar. Setiap hari dunia dibuat baru. Hari ini adalah hari baru. Hari ini dunia saya dibuat baru……saya akan membuat hari ini, setiap saat dalam hari ini, bagaikan sorga di bumi. Hari ini adalah hari kesempatan bagi saya.
Awali hari dengan baik, dan Tuhan akan mengurus sisa hari tersebut!
Setiap hari, saat anda bangun pagi hari, bacakan doa dari bibir anda, sebuah doa sederhana seperti:

Ya Tuhan, hari baru ini tiba sebagai anugerah dari tanganMu Yang Agung. Engkau telah menjagaku di waktu malam, dan Engkau akan menjagaku di waktu siang. Segala pujian bagiMu, ya Tuhan terpujilah namaMu!

Apa yang terjadi dan kita rasakan sekarang?. Kita jarang bersyukur atas banyaknya anugrah yang dilimpahkanNya pada kita. Kita menerimaNya seperti hak kita, kita menerima anugrahNya seperti sudah menjadi tugasNya. Coba awali segalanya dengan rasa syukur dan setelah anda mengucapkan syukur padaNya, biarkan pikiran anda selama semenit dua menit merenungkan sebuah perkataan mendalam, sebaris atau satu sloka dari kitab Suci. Ambillah satu sloka dari Bhagawadgita misalnya, atau pilihlah baris manapun yang dekat dengan hati anda, dan renungilah. Dengan cara ini secara rutin anda lakukan akan menimbulkan perubahan besar pada pikiran anda.

Jika anda benar benar ingin menjalani hari secara utuh, sukses, berlatihlah meditasi, setidaknya sebentar saja setiap pagi, Dengan cara ini anda akan menemukan bahwa anda telah membuat investasi tak ternilai untuk kedamaian dalam diri anda.


Bersambung..........

Tuesday, August 31, 2010

AGAMA ADALAH PRAKTEK

disajikan oleh : Jro Mangku Gusti Ngurah Suyadnya
(Ketua Umum Pinandita Sanggraha Nusantara Pusat)

DAMAI BESERTAMU
Dimasa kini orang semakin kehilangan kepercayaan pada agama, karena agama telah menjadi terpisah dari kehidupan. Pertengkaran, perpecahan, kebencian dan kekerasan telah memasuki ruang lingkup keagamaan. Menyedihkan, agama yang pada awalnya sebagai perekat persatuan, kini telah menjadi alasan untuk perpecahan antar sekte.
Atas nama sekulerisme, kita membuat kesalahan tragis memisahkan agama dari kehidupan kita. Kita telah membersihkan pendidikan kita di sekolah, perguruan tinggi dari pengaruh Tuhan. Bagaimana pendidikan semacam itu dapat bekerja?

Kini agama semakin dilecehkan oleh kaum “liberal” dan kaum ‘intelektual’. Sesungguhnya bukan agama yang telah mengecewakan kita, tetapi kitalah yang telah mengecewakan agama. Kita sering sekali membicarakan agama, tetapi kita tidak menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kita tidak memperhatikan lagi ajaran dari para Awatara,Nabi, Santo tentang kemanusiaan.

Yang dibutuhkan adalah kehidupan, bukan cuma perkataan. Setiap orang bisa saja ke Pura, Mesjid, Gereja, ke Kuil setiap hari, membacakan doa-doa, menyanyikan lagu-lagu pujian, membaca ayat-ayat Suci dari Kitab Sucinya tanpa hentinya, puasa dari pagi hingga malam, namun jika perbuatannya tidak terpengaruh oleh agama dalam kesehariannya, yang berangkuan tidaklah lebih dari sebuah mesin perekam!

Seseorang bisa saja menyampaikan khotbah-khotbah, dharma wecana, pencerahan yang memberi inspirasi, menuliskan analisa mengenai Bhagawadgita, Upanishad, Brahmasutra, atau kitab suci yang lainnya, tetapi jika kehidupan yang bersangkutan tidak menyiratkan kebenaran-kebenaran atas ajaran ajaran ini, maka yang bersangkutan tidaklah lebih dari mesin pencetak.

Di masa kini dunia tidak lagi membutuhkan mesin perekam, pencetak belaka, yang dibutuhkan adalah kehidupan, bukan perkataan. Yang dibutuhkan adalah perbuatan, bukan upacara semata. Agama harus diartikan kembali dalam bentuk energi, vitalitas, dan kehidupan.

Apa yang terjadi saat ini?

Dalam dunia yang terpecah oleh sekte, agama dimanfaatkan oleh pihak-pihak tak bermoral untuk menyebarkan kebencian atas nama agama dan kepercayaan mereka. Pada saat yang bersamaan, telah menjadi kebiasaan bagi para politisi untuk menyalahkan agama atas nama kejahatan dalam masyarakat.

Saat ini kemanapun kita menoleh, kita melihat hasrat akan kedudukan, kerkuasaan dan ketenaran; ketamakan akan harta. Saat ini negara-negara seakan akan berkelana dalam hutan kegelapan dimana kekuatan berarti kebenaran. Saat ini manusia berdiri ditengah reruntuhan nilai dan idealisme. Ibu Pertiwi merinding ketakutan di saat anak-anaknya sibuk membangun senjata senjata kematian dan kehancuran.

Psichiater Swiss Carl Yung mengatakan: “Peradaban masa kini menderita karena manusia telah mengasingkan diri dari Tuhan” Bukankah ini musibah terbesar yang telah menimpa manusia modern?

Kita hidup dalam zaman kemajuan ilmiah dan perkembangan teknologi yang luar biasa. Ilmu pengetahuan telah menganugrahkan pada kita begitu banyak kenyamanan, kemudahan, begitu banyak peralatan, sayangnya semua ini telah membesarkan ego kita dan membutakan kita terhadap kebenaran mengenai diri kita sendiri, bahwa kita sesungguhnya adalah ciptaan Sang Pencipta. Kegagalan terbesar peradaban modern adalah kita bergerak menjauh dari Tuhan sampai kita melupakan bahwa kita semua adalah ciptaan-Nya.

Bahkan ada ateis muda yang berkata, “Kita tidak membutuhkan Tuhan. Tak ada yang tak bisa dilakukan oleh umat manusia. Manusia telah mampu menginjakkan kakinya di bulan. Roket buatan manusia telah mampu terbang melintasi planet-planet jauh. Manusia telah mampu memasang satelit di luar angkasa. Siapa yang butuh Tuhan di masa kini?”

Tuhan adalah sumber dan penopang kehidupan, dan manusia tak akan bisa menjalani hidup yang sehat secara fisik, mental, moral dan spiritual selama kita tetap memisahkan diri dari Tuhan. Sangat mudah melupakan Ruh suci, namun sekali kita lakukan, hidup kehilangan rasa; “garam kehidupan terasa hambar”. Ya inilah yang telah terjadi pada kita dewasa ini. Hidup telah kehilangan rasanya; garam kehidupan telah menjadi hambar; saat ini semakin banyak orang menyatakan bahwa hidup tak memiliki arti apapun--- oleh sebab itu apa gunanya hidup?

Berkat kemajuan material, kita memiliki semakin banyak cara, tetapi semakin sedikit makna. Materi kemewahan semakin bertambah tetapi angka bunuh diri meningkat juga.
Internet, jaringan luas…. komunikasi berkecepatan tinggi…… tetapi hipertensi terus meningkat. Ruang olahraga dan lift….. tapi lebih banyak yang berpenyakit jantung.
Megabit, gigabit……. Jutaan sel data yang dipindahkan dalam hitungan nanodetik……. tapi semakin banyak kesalahpahaman dan tidak adanya komunikasi nyata.

Hp, SMS, layar datar, LCD, TV plasma, Laptop, resolusi digital yang semakin besar….. tapi tak ada waktu untuk keluarga atau teman-teman.
Rumah Sakit bintang lima, peralatan tingkat tinggi, kamar perawatan yang nyaman….. tapi lebih sedikit kasih sayang dan perhatian.
Standar hidup yang lebih tinggi…… tapi kualitas kehidupan yang kian berkurang!

Apakah obatnya?

Nampaknya dewasa ini, ada keinginan untuk semua yang ‘besar’ dan ‘hebat’. Hal-hal kecil tidak lagi dapat memuaskan kita. Kelihatannya ego-ego kita semakin membesar saja, kita ingin meraih keuntungan yang semakin besar, mendirikan bangunan yang lebih gagah, membentuk yayasan yang lebih hebat, dan menulis buku-buku yang lebih tebal, dimana semua ini hanya akan mengarah pada ketidakbahagiaan yang lebih besar dan lebih berat juga, ini suatu cermin kebobrokan moral. Dasar dasar moral kehidupan umum telah berantakan; nilai-nilai tak lagi dihargai. Di seluruh dunia, pada saat ini juga, ada ratapan mengangankan dunia baru, kehidupan baru. Karena baik pria maupun wanita, tua dan muda, sudah lelah terhadap kondisi dunia yang ada sekarang.

Ratapan ini berasal dari kuil, pura, gereja, dari mesjid-mesjid, dari pabrik dan peternakan, dari pemukiman dan perkantoran, dari jiwa-jiwa yang menginginkan kedamaian, dan hati yang dipenuhi harapan akan datangnya masa depan yang lebih baik.
Saat ini kita telah tiba pada tahap di mana setiap bangsa dan individu harus belajar untuk saling memahami---untuk mencapai kedamaian atau kehancuran! Tidak ada jalan lain!

B A G A I M A N A K I T A D A P A T M E N C A P A I K E D A M A I A N ?

Bila kita cermati secara mendalam selama berabad-abad, berbagai negara termasuk negara kita telah mencari berbagai usaha/cara untuk mencapai perdamaian. Berbagai metode telah dicoba melalui kekerasan, agresi, negoisasi, konfrensi, perjanjian dan diskusi-diskusi. Secara internasional membentuk Persatuan Bangsa Bangsa dimasa lalu, dan kini mereka telah membentuk United Nations, tetapi dimanakah gerangan perdamaian yang sesungguhnya?

Dalam buku dari J. P. Vaswani yang berjudul “Peace or Perish” – Damai atau Hancur –

“Bagaimana bisa ada kedamaian di bumi bila hati manusia bagaikan gunung berapi”.
How can there be peace among the nations, when there is no peace in our homes, offices, schools – in our own hearts?
(SADHU VASWANI).

Damai!! Seolah-olah kita telah menjadi kebal terhadap kata ini! Walaupun sering kita dengar, kenyataannya begitu asing. Tetapi bukankah kedamaian merupakan tujuan utama dari setiap manusia? Tidakkah kita semuanya merupakan pencinta kedamaian? Kedamaian adalah apa yang diinginkan kita semua. Kedamaian adalah apa yang diangankan oleh umat manusia, masa demi masa. Damai, damai, damai --- dalam satu kata ini anda memiliki rahasia alam semesta.

Damai itu agung, karena nama Tuhan sendiri merupakan kedamaian…. Damai itu agiung, karena meliputi semua anugerah….. damai itu agung, karena bahkan dalam masa peperangan, kedamaian tetap dicari….. Damai itu agung karena melihat saat Messiah datang, Dia akan memulai saat saat kedamaian, seperti dikatakan, “Betapa indahnya pegunungan terlihat dari kaki para pembawa kabar gembira, yang mengumumkan perdamaian.” Bahkan kata Islam itu sendiri berakar dari kata yang berarti damai.

Menurut etimologi, Islam berasal si-lam-mim, yang arti dasarnya adalah keamanan dan kedamaian. Para rsi agung dari India, para rsi dari Aryavanta menyimpan kedamaian dalam hati mereka. Itulah sebabnya di akhir setiap doa Vedic kita mendengar bacaan suci – Om Shanti, Shanti, Shanti!

Menurut para pemikir, kata keramat yang diucapkan tiga kali untuk menyembuhkan kita, melindungi kita, dan membebaskan kita dari ke-tiga jenis kondisi yang menghancurkan kedamaian kita :
1. Adhyatmika – permasalahan mental, fisik dan spiritual yang penyebanbnya adalah dari kita sendiri.
2. Adhibhautikam --- permasalahan dan penyakit yang disebabkan oleh mereka di luar diri kita.
3. Aadhidhaivikam--- permasalahan yang disebabkan oleh fenomena alam seperti hujan, badai, petir, api, banjitr dsb.
Bacaan Om Shanti, Shanti, Shanti memberi kita kedamaian dengan membebaskan kita dari tiga jenis bencana.

Om Shanti Shanti Shanti, rasa tenteram bagi semua, rasa positip bagi semua, kedamaian bagi semua. Shanti adalah Shalomica! Shalomica adalah damai! Om Shanti damai, damai besertamu! Inilah petunjuk yang dibutuhkan oleh semua bangsa dewasa ini. Yesus bersabda mengenai kedamaian ini: Terberkatilah para pencipta kedamaian!

Dalam buku J.P.Vaswani dijelaskan bahwa kedamaian itu terdiri atas tiga dimensi :
Dimensi pertama kedamaian; Kedamaian dari dalam diri sendiri. Dimensi kedua; kedamaian antar kita/antar bangsa, dan dimensi ketiga; kedamaian dengan alam

Apa itu kedamaian? Seperti cinta, kedamaian harus dirasakan. Anda adalah anak Tuhan, dan ia merupakan sumber kebahagiaan yang abadi. Di saat Anda sadar bahwa Anda merupakan anak Tuhan, Anda tak akan membiarkan apapun juga mempengaruhi Anda. Yang perlu Anda lakukan hanyalah melupakan diri Anda sendiri, dan menyadari jati diri Anda sebagai anak Tuhan. Ketika kita sudah melupakan bagian luar diri kita dan melewati dunia nyata yang materialistis dan fenomental, kita semakin mendekati diri kita sesungguhnya di dalam yakni kedamaian.

Dalam Bhagadgita Bab II. 64, 65,
Tuhan memberikan kita gambaran mengenai stitha prajna, manusia seimbang : Seseorang dengan pikiran yang seimbang, yang inderanya terkendali dan bebas dari keterikatan dan pantangan, dia memasuki tahap yang dinamakan prasadam, kedamaian……. Setelah mencapai kedamaian, baginya semua penderitaan berakhir; orang yang penuh kedamaian seperti itu telah mencapai keseimbangan.

Sloka ini semakin mempertegas kebenaran bahwa hanya orang yang tidak terusik oleh hasrat yang tiada habisnya yang dapat mencapai kedamaian; bukan orang yang keinginannya memenuhi nafsu belaka. Sloka ini sangat dekat dengan hati Mahatma Gandhi, dia minta dibacakan setiap hari dalam sembahyang bersama.


Bersambung...........

Thursday, May 20, 2010

Hindu Dalam Wacana Bali Sentris-Non-Bali Sentris

Oleh: Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi


KEINGINAN mengadakan reformasi di segala bidang akhir-akhir ini menimbulkan wacana yang berkembang, antara lain tentang Hindu Bali sentris yang ditolak oleh beberapa kalangan, baik yang tinggal dan berasal dari Bali maupun yang di luar Bali. Hal ini sebaiknya dikaji lebih dalam agar reformasi dilaksanakan dengan tepat dan berdampak positif bagi umat Hindu di Tanah Air.

Sebagaimana ditulis dalam buku Pengantar Agama Hindu untuk perguruan tinggi (Cudamani, 1990) ada tujuh Maha Rsi yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum masehi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka, sehingga lama-kelamaan terbentuklah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan.

Sekte-sekte terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta.

Sekte Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India Tengah) kemudian menyebar ke Indonesia.

Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekte ini yang berasal dari Pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.

Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekte Siwa yang lain.

Sidhanta artinya ''kesimpulan'', sehingga Siwa Sidhanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas. Diibaratkan seperti memperkenalkan gajah kepada orang buta. Jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa, bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar.

Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.

Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda pun dipelajari yang pokok-pokok/intinya saja. Resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.

Penerima Wahyu Weda

Di India Wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda.

Pangawi dan ahli Weda I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dalam bukunya ''Dwijendra Tattwa'' (Upada Sastra, 1991) menyiratkan bahwa, di Bali wahyu Hyang Widhi diterima setidak-tidaknya oleh Enam Maha Rsi.

Wahyu-wahyu itu memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu yaitu tatwa, susila dan upacara.

Wahyu-wahyu tersebut berupa pemikiran-pemikiran cemerlang dan wangsit yang diterima oleh orang-orang suci di Bali sekitar abad ke delapan sampai ke empat belas. Para Rsi penerima wahyu Weda adalah :

Pertama, Danghyang Markandeya.
Pada abad ke-8 mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Tengah) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegallalang, Gianyar, Danghyang Markandeya memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual surya sewana, bebali (banten), dan pacaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggalnya dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih Danghyang Markandeya juga membangun Pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu, Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang. Juga didapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu Danghyang Markandeya menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dan lain-lain.

Pada masa ini pula diperkenalkan hari Tumpek Kandang untuk memohon keselamatan kepada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah dan hati. Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

Kedua, Mpu Sangkulputih.
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan : pisang, kelapa, dan biji-bijian : beras, ketan hitam (injin), kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubungan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, dan beberapa unsur lainnya. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu Mpu Sangkulputih mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Mpu Sangkulputih juga pelopor pembuatan arca/ pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Diperkenalkan pula tata cara pelaksanaan peringatan hari piodalan di Pura Besakih dan Pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya seperti Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dan lain-lain.

Jabatan resmi Mpu Sangkulputih adalah sulinggih yang bertanggungjawab di Pura Besakih dan Pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

Ketiga, Mpu Kuturan.
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar dalam kemajuan agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang untuk mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Tri Murti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu) dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Tri Murti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horisontal (pangider-ider).

Keempat, Mpu Manik Angkeran.
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugasnya diganti oleh Mpu Manik Angkeran, seorang brahmana dari Majapahit, putra Danghyang Siddhimantra. Pemberian tugas ini dimaksudkan Mpu Manik Angkeran tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan batin Danghyang Sidhimantra. Tanah genting yang putus itu kemudian disebut segara rupek.

Kelima, Mpu Jiwaya
Beliau ini yang menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran dan pamasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dan lain-lain.

Keenam, Danghyang Dwijendra.
Datang ke Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong.
Danghyang Dwijendra mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tri Purusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Tri Murti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horisontal, maka konsep Tri Purusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai bhiseka lain, Mpu/Danghyang Nirarta, dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Karena mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum Danghyang Dwijendra diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai zaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klen disusun. Awig-awig desa adat pakraman dibuat, organisasi subak ditumbuh kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu pada masa ini juga didorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar kidung atau kakawin. Karya sastra yang terkenal antara lain, Sebun Bangkung, Sarakusuma, Legarang, Mahisa Langit, Dharma Pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk Menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dan lain-lain.

Danghyang Dwijendra juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan dharma wacana. Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memujanya di tempat beliau pernah bermukim membimbing umat. Tempat-tempat tersebut misalnya, Purancak, Rambut Siwi, Pakendungan, Uluwatu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain.

Suksma.