Berdasarkan “Serat Rama” atau Ramayana Kakawin, yang disadur oleh pujangga Yasadipura I dan diterjemahkan kedalam Bahasa Indonesia oleh Kamajaya.
BARATA BERTAKHTA SEBAGAI RAJA AYODYANEGARA MELAKSANAKAN AMANAT DAN AJARAN SANG MAHA BIJAKSANA RAMAWIJAYA :
“Ketahuilah adinda, bahwa raja yang memimpin negara adalah pemimpin masyarakat dan sekaligus rakyatnya. Raja berkewajiban pula menjaga seluruh dunia.
Pedoman sebagai pegangan raja menjalankan kebijaksanaan adalah sebagai berikut:
1. Perhatikan dan ikutilah ajaran-ajaran kesatriaan. Peganglah sebagai pedoman kitab-kitab suci dan ikutilah perintah dalam kitab-kitab agama. Dengan berbuat demikian, niscaya akan datang kebahagiaan kepadamu.
2. Peliharalah rumah-rumah Dewa (agama), yang suci, rumah-rumah sakit dan tanah milik bangunan suci.
3. Peliharalah biara-biara dan perhatikanlah tempat-tempat suci dan rumah pedewaan. Jalan, pasanggrahan, air mancur, telaga, empang, tambak, pasar, jembatan dan segala apapun juga yang dapat membawa kesejahteraan rakyat, itu wajib adinda selenggarakan.
4. Pertanian wajib dikerjakan oleh raja dengan penuh perhatian terus-menerus. Dari pertanian ini datanglah segala macam bahan pangan yang sangat penting untuk negara.
5. Perbesarlah jumlah emas (harta) untuk biaya yang menuju kearah terjaminnya kebahagiaan. Adinda dapat mengeluarkan emas dan harta sesuka hatimu, asal saja untuk kebahagiaan rakyatmu. Ini berarti, bahwa dengan menjalankan darma (amal perbuatan), adinda juga membawa kebahagiaan untuk orang lain agar mengecap kenikmatan bersama.
6. Raja yang dihormati rakyat ialah raja yang tahu suka duka rakyatnya dengan sempurna dan terus menerus, begitu pula usahanya untuk mendengarkan kesusahan yang diderita oleh seluruh rakyat di negaranya. Sebab inilah kewajiban abadi seorang raja.
7. Tolonglah setiap orang diantara rakyatmu yang mengajukan keluh kesahnya dan janganlah diam. Adinda tidak boleh menghina siapapun juga, bahkan terhadap seseorang yang rendah sekalipun. Jangan menghina mereka yang minta pertolongan.
8. Cobalah untuk menjalankan kebijaksanaan pemerintahan yang baik, wahai adinda. Pertajamlah hatimu dan jadikanlah hal ini sebagian dari kebijaksanaanmu.
9. Susunlah rencanamu untuk waktu yang akan datang guna memelihara dunia dan menjamin berlangsungnya keamanan dan ketertiban.
10. Periksalah angkatan perangmu dan berilah latihan kepada tentaramu dan perhatikantah tentang kemahirannya. Siapa diantara mereka yang memperlihatkan kecakapan yang lebih dari yang lain, ia wajib dinaikkan pangkatnya. Sebaliknya yang memperlihatkan kekurangannya, wajib dilatih lebih mendalam.
11. Latihlah gajah, kereta perang, begitu pula kuda dan siapkanlah itu untuk menyerang.
12. Masukkanlah musuhmu dalam perangkap dan binasakanlah mereka itu dengan tali pemukulmu, sehingga mereka itu binasa seperti air yang mengering. Seranglah musuhmu dengan segala jalan dan segala perhitungan. Janganlah kamu tunda pembasmian orang-orang jahat.
13. Pahlawan yang dikatakan tidak ada bandingannya ialah apabila ia memiliki kekuatan seperti singa yang ditakuti dan apabila ia membunuh musuh dengan tepat.
14. Jauhkanlah dirimu dari orang-orang yang mempunyai perangai jahat, karena mereka itu menimbulkan kerusakan dan menyebabkan negara menjadi mundur. Bila adinda bersama mereka, maka pegawai yang baik menjauhimu, sedangkan teman-temanmu makin jauh dan musuhmulah yang dekat kepadamu.
15. Seorang pegawai itu buruk apabila ia acuh. Dengan demikian ia tak tahu hormat dan melanggar sopan santun. Ia dapat diumpamakan sebagai kambing yang takut dan hormat kepada pohon yang miring, ia dengan gembira memanjatnya dan dengan seenaknya serta tidak ragu-ragu berlari-lari diatas batangnya. Pegawai jahat niscaya akan kelihatan dan jangan menaruh kepercayaan kepadanya.
16. Perhatikanlah gerak-genik mereka yang mengabdi kepadamu sebagai pegawal. Selidikilah tentang kepandaiannya dan kesetiaan mereka terhadap kamu. Apabila ia bertabiat baik dan memiliki sifat-sifat baik, ia harus kamu hargai, sekalipun ia masuk keturunan rendah. Lebih utama apabila kamu terima seorang dan keturunan baik-baik.
17. Perhatikan dan selidikilah sikap segala pegawaimu apakah mereka itu berpengetahuan dan tahu tentang kenegaraan dan pemerintahan, patuh dan berkelakuan baik, apakah tidak bohong dan berbakti serta taat dalam pengabdiannya kepadamu, kepada negara, dan apakah mereka tidak jahat?. Dalam hal ini adinda harus mengetahui apa yang buruk dan apa yang baik. Adinda dapat mencegah mereka dari perbuatan yang menyesatkan.
18. Setiap orang pegawal wajib tahu tentang kepegawaiannya dan ia harus setia kepada pemerintahnya. Begitu pula ia harus tahu tentang pekerjaannya dan tidak segan untuk membuat pekerjaan baik.
19. Janganlah lekas-lekas memberi hadiah kepada pegawai, sebelum adinda menyelidikinya. Apabila adinda memberi sesuatu kepadanya, berikanlah kepadanya lebih dahulu suatu tugas, sehingga mencapai hasil. Jika terbukti, bahwa ia tetap pendiriannya untuk mengabdikan dirinya kepadamu, ini berarti bahwa adinda disegani dan rakyatmu mencintaimu sebagai manikam yang sakti dan membawa kebahagiaan.
20. Apabila adinda tahu sungguh-sungguh yang adinda kerjakan, dapat dikatakan adinda memiliki pepengetahuan yang sempurna seperti Dewa-dewa. Siapa yang tahu tentang kepandaian, ialah yang disebut serba tahu.
21. Bebaskanlah diri dari hawa nafsu dan kedengkian. Jauhkanlah darimu dari kecemburuan dan bersihkanlah dirimu. Dengan jalan itu adinda akan di segani. Ketahuilah, bahwa raja yang memperlihatkan keangkuhan akan kehilangan kewibawaannya karena ditinggalkan oleh wahyunya.
22. Angkara murka wajib diberantas; demikian pula perbuatan tercela haus dibasmi.
23. Kekayaan lahiriah, harta, benda dan pangkat tidak boleh menimbulkan kemabukan lupa daratan. Semua itu boleh mendatangkan kesenangan yang terbatas.
24. Ajaran kitab-kitab Sastra harus dijalankan dengan tidak henti-hentinya. Sekalipun itu sukar dilaksanakan, namun setiap orang harus mentaatinya. Bilamana banyak orang taat dan tahu akan ajaran kitab-kitab suci serta berpegang kepadanya, maka mereka akan melahirkan pedoman kebenaran.
25. Tunjukkanlah keikhlasan hatimu apabila memberi hadiah kepada orang-orang brahmana dan pendeta yang terkemuka.
26. Cobalah selalu tenang dan berbelas kasihan dan janganlah menunjukkan ketakutan kepada apa dan siapa yang adinda takuti.
27. Jangan berdusta, sebab dusta menyebabkan kejahatan. Dengan demikian adinda akan menghadapi malapetaka dan akan dicela.
28. Apabila adinda mencela seseorang, kerjakan sendiri yang tepat dan janganlah adinda terlalu dikuasai oleh hawa nafsu. Sabda raja harus sesuai dengan perbuatannya. Perjudian dan perbuatan hina jangan adinda kerjakan.
29. Basmilah kemabukan pikiran yang angkuh; hilangkanlah itu dari hatimu, sebab keangkuhan itu mencemarkan dan menyuramkan penglihatan.
30. Kesaktian dan kepandaian menyebabkan kebahagiaan dan kenikmatan. Untuk memiliki kedua hal itu bukanlah ringan. Orang-orang baik yang berpengetahuan dan faham tentang kitab-kitab ini patut adinda hargai. Apabila adinda memiliki beberapa macam kepandaian, pastilah rakyat mencintaimu. Jauhilah perbuatan mengadu domba dan pujian yang menyesatkan.
31. Apabila sesuatu kejahatan telah jelas bentuknya, bertindaklah apabila perbuatan itu memang salah,Binasakanlah orang yang berdosa. Akan tetapi selidikilah hal ini dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya apabila ia berjasa, berikan kepadanya hadiah dan kepuasan. Inilah hak raja untuk memberi anugerah atau memberi hukuman.
32. Ada lima macam bahaya yang sungguh mengancam ialah:
1. Apabila ada pegawai yang dalam menunaikan tugas di daerah menderita karena terik matahari.
2. Adanya sejumlah banyak pencuri;
3. Apabila kekacauan dan kejahatan merajalela;
4. Adanya orang-orang yang menjadi dan dijadikan “anak emas” pembesar. Kejadian seperti itu dapat dianggap sebagai kejahatan; dan
5. Keangkara-murkaan raja.
Lima macam bahaya itu harus dibasmi atau dicegah sebelum timbul dan merajalela
33. Ketahuilah adinda Barata, bahwa raja dapat diumpamakan batara Surya yang memanasi dunia oleh sifatnya. Demikianlah halnya dengan seorang raja yang membinasakan orang jahat. Bulan memberikan rasa cinta dan disegani oleh seluruh dunia Begitulah juga hendaknya perbuatan raja dalam memperhatikan dan memelihara rakyatnya.
34. Sebagai raja adinda dapat disamakan dengan sebuah bukit, sedangkan rakyatmu diumpamakan pohon-pohonan yang tumbuh di lerengnya. Pohon-pohon itu hidup dan dijamin hidupnya oleh bukit.
35. Adindaku Barata yang tercinta, itulah sesama kewajiban adinda sebagai raja yang berusaha menjaga keselamatan dunia yang bahagia. Adinda wajib mempertinggi perhatian kepada orang lain dan menaruh belas kasihan kepada rakyatmu, dan seluruh kesukaran duniapun harus adinda perhatikan.
Demikianlah nasihat wejangan sang bijaksana Ramabadra kepada adinda Barata yang direstuinya duduk di atas takhta Ayodyanegara sebagai raja memimpin tampuk pemerintahan, memimpin masyarakat dan rakyatnya.
Setelah bersembah sujud dengan khidmat kepada Rama dan Sinta, dan setelah satria Laksmana menyembah Barata, maka dengan ijin dan restu serta puji jaya-jaya dan kakandanya sang Ramawijaya, Barata dengan segenap pengiringnya turun dan bukit Citrakuta, kemudian berangkatlah meninggalkan hutan menuju ke ibukota Ayodya.
Kewajiban sebagai raja telah menantinya. Dengan merayakan “terompah sang Rama” dan menerapkan ajaran sang bijaksana, maka aman sentosa sejahteralah Ayodyanegara dibawah pemerintahan raja Barata.
By : Alang-alang Kumitir
Welcome
“Pinandita Sanggraha Nusantara”
sebagai wadah pemersatu
Para Pinandita/Pemangku/Wasi/Dukun
di seluruh Nusantara.
Kalender Bali
Profile
Basic Info
Religion & SpiritualtyContact Info
email:sanggrahanusantara@gmail.com office:Pinandita Sanggraha Nusantara "Pura ADITYA JAYA" Jl. Daksinapati No. 10 Rawamangun Jakarta Timur Telp:(+6221) 7098-3858, 770-3574, 546-3858 Fax:(+6221) 546-3811 Bank BRI Cab. Pancoran Jakarta Rekening Britama Nomer : 0390-01-001235-50-8 Bank Mandiri Cab. Jakarta KP Pertamina Rekening Giro Nomer : 119-0004754048 DONASI/PUNIA ANDA SANGAT BERARTI dan BERMANFAAT BAGI PENGEMBANGAN PINANDITA SANGGRAHA NUSANTARA |
Bagaimana blog PSN sekarang?
Showing posts with label Religion. Show all posts
Showing posts with label Religion. Show all posts
Monday, February 22, 2010
Monday, May 4, 2009
Isvara
Oleh : I W Sudarma (Shri Danu D.P)
Om Swastyastu
Ada tiga isu filosofis menyangkut hal ini, dimana kita akan dapat melihat pandangan Ramanuja sendiri menjadi lebih jelas tentang Tuhan, The Ultimate Reality dan kritik yang diajukannya.
1.Isu I. Apakah Brahman sebagai Ultimate Reality sama dengan Isvara atau Tuhan pribadi yang kita pahami sebagai pencipta dan controller dari alam semesta? Merupakan isu yang krusial pada metafisika Vedanta yang menimbulkan pertanyaan: Apakah ada dua realitas ? Kalau ya maka lebih jauh : Apakah yang satu karena merupakan Being murni, lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, sehingga agak kurang realitis. Apakah Brahman adalah nirguna, Being yang transenden yang tak terbedakan, ataukah Saguna, Tuhan yang memiliki sifat-sifat?
2.Isu II. Brahman sebagai penyebab materiil alam semesta apakah mengalami perubahan ataukah ia menampakkan diri sebagai fenomena alam semesta yang memiliki kebodohan kosmis (avidya). Masih berkaitan kontoversi besar pada vedanta, apakah apakah vivarta-vada,teori tentang penampakan ilusi dari Brahman berupa fenomena alam hanya sebagai yang perlu dicurigai atau dipertahankan? Hal ini melibatkan pengujian kritis dari doktrin advidya seperti yang di rumuskan oleh Advaita Vedanta dan isu alam semesta bersifat ilusi.
3.Isu III. Apakah mungkiin utuk membuktikan eksistensi dari Tuhan dengan orgumentasi logis tanpa mengacu pada kesaksian kitab suci?. Mengacu pada kontroversial penganut nyaya dengan penganut vedanta. Apakah benar eksistensi Tuhan dapat dibuktikan dengan argumentasi logis ? Menurut Nyaya :Eksistensi Tuhan dapat di buktikan secara logika sedangkan kaum Vedanta menyatakan bahwa: Kitab suci adalah satu-satunya otoritas untuk mengerti hakekat dari eksistensi Tuhan.
A. Bukti adanya Tuhan :
Mereka yang tidak menerima eksistensi Tuhan berargumentasi bahwa “konsep Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak dapat dipertahankan karena Tuhan tidak memiliki badan untuk mencipta alam semesta. Agumentasi tidak absah karena dalam Sruti Tuhan, Isvara dapat mencipta alam semesta dengan keinginannya tanpa bantuan badan. Belum ada peryataan-peryataan para atheis yang dapat membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Kalau demikian Sruti atau pengungkapan lewat kitab suci adalah satu satunya otoritas untuk mengetahui adanya Tuhan. Pandangan Advata Vedanta (Sankara) : Brahman sebagai realitas Transendental mengembangkan dirinya sendiri, melampaui pembicaraan dan pemikiran.Tuhan tidak dapat di dekati lewat intelek kita. Brahman bersifat avedya melewati semua pengetahuan empiris dan kognitif kita. Menurut Para Waisnawa: Adalah tidak benar bahwa Brahman tidak bisa dicapai dan tidak bisa di ketahui lewat teks kitab suci. Disamping kitab suci yang menyatakan Tuhan melewati pembicaraan dan pemikiran,masih banyak lagi teks-teks yang menyatakan bahwa Brahman dapat diketahui lewat Sruti bahwa semuaVeda berbicara masalahTuhan. Argumentasi Impersonalist : Brahman, atman yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad tidak berkaitan langsung dengan Brahman, tetapi secara tidak langsung. Seperti halnya sinar bulan yang jatuh pada dahan pohon dapat membantu membawa pengetahuan tentang bulan. Argumentasi Vitistadvaita Ramanuja : Teks dalam upanisad yang berhubungan dengan argumentasi hakekat Brahman mengacu secara langsung kepada Brahman yang lebih tinggi, tidak kepada Brahman yang lebih rendah. Bila argumentasi di tunjukan langsung hanya pada Brahman yang lebih rendah maka pernyataaan tentang Brahman yang lebih tinggi menjadi tidak absah sehinggga konsekwensinya adalah eksistensi dari Brahman akan dipertanyakankan. Adalah tidak mungkin mempertahankan Brahman yang tidak dapat di ketahui. Akan lebih masuk akal dan logis menerima bahwa cara mengetahui Brahman melalui kitab suci. Dengan kata lain kitab sucilah satu-satunya otoritas untuk membuktikan adanya Tuhan.
B. Hakekat dari the ultimate reality
Menurut Ramanuja: bahwa the ultimate reality dari Brahman mengacu pada upanisad-upanisad adalah kepribadian Tuhan YME dalam agama. Ramanuja menolak teori dua Brahman seperti pemikiran Sankara dimana ,Brahman yang lebih tinggi (para) yang tidak memiliki atribut dan Brahman yang lebih rendah (apara) yang memiliki atribut-atribut, merupakan realitas yang lebih rendah. Brahman yang di katakana dalam teks Vedanta sutra jelas-jelas pencipta alam semesta yang di kwalifikasikan dengan sifat-sifat yang bertuah, yang gaib yang merupakan realitas dari kepribadian Tuhan dalam agama. Ramanuja mengatakan bahwa Brahman yang di maksud adalah Purusottama,Supreme person atau Supreme Self yang sempurna dan memiliki atribut-atribut bertuah, yang gaib yang tak terbatas. Dalam Mahopanisad I.1.dinyatakan: “eko ha vai Narayana asit: Narayana sendiri telah ada sejak awal” sesuai dengan prinsip dari tatabahasa yang di ajarkan oleh Panini kata” Narayana di nyatakan sebagai nama khusus yang hanya di aplikasikan pada Being yang tertentu saja, tidak kepada entitas lain, seperti kata “Brahman”. Brahman yang ada dalam upanisad-upanisad, pencipta alam semesta sama dengan Narayana. Subala upanisad :Narayana adalah antaratman yang merupakan inner controller dari segala yang ada dalam alam semesta
C. Teori tentang Nirguna Brahman
Teori dua Brahman yang diajarkan, yaitu para Brahman yang lebih tinggi dan Apara Brahman atau Saguna Brahman adalah Brahman yang lebih rendah. Nirguna Brahman yang mempergunakan kekuatan teks Nirguna sruti dan Saguna Brahman mempergunakan kekuatan teks Saguna sruti. Kaum Impersonalist: Nirguna sruti keabsahannya lebih tinggi di bandingkan dengan Saguna sruti. Menurut Sri Ramanuja dalam Sri Bhasya tidak menerima teori dua Brahman. Ia menolak konsep Nirguna Brahman dan ultimate reality yang pada dasarnya hanyalah Savisesa Brahman yang sama dengan kepribadian Tuhan YME dalam agama.
D.Tuhan dan sifat-sifatnya.
Menurut Ramanuja Brahman adalah savisesa artinya memiliki badan (vigraha), sifat (guna) dan peralatan (vibhuti). Badan Tuhan bersifat rohani yang bebas dari pengaruh karma. Dengan badan ini memungkinkan bagi penyembahnya untuk mendekatinya untuk menyembahnya untuk bermeditasi padanya. Setiap entitas di alam semesta baik secara fisik maupun ontologis terdiri dari dua aspek yaitu aspek substantif atau svarupa dan aspek atributif atau aspek svabhava. Svarupa Brahman menurut Ramanuja memilki lima sifat yaitu : satyam yaitu eksistensi yang absolut dan tak terkondisikan, jnana yaitu abadi dan berpengetahuan tak terbatas (Tait. Up. I.1 satyam jnanam anantam brahma), anantam yaitu kekuatan yang tak terbatas, anandam yaitu kebahagiaan tanpa akhir (Tait. Up. I.1 anandam brahmano vidvan), amalam yaitu bebas dari ketidaksempurnaan. Jadi entitas yang memiliki lima sifat ini disebut svarupa dari Brahman. Dalam Tait. Up. III.1 Brahman adalah : yato vaimani bhutani jayante, yena jatani jivanti, yat prayanty abhisamvisanti tad vijijnasasva tad brahmeti artinya bentuk itu dari mana segalanya lahir,dimana mereka hidup dan lahir dan dimana mereka akan masuk setelah mati itulah Brahman. Disini mengacu kepada Brahman sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta. Dalam Vedanta Sutra juga dikatakan bahwa : janmady asya yatah. Masih ada 6 sifat lainnya lagi dari Isvara yaitu jnana, bala, aisvarya, virya, sakti, tejas.
E. Lima manifestasi dari Tuhan.
Menurut Ramanuja ada lima bentuk dari Brahman yaitu : Para atau bentuk yang transenden, Vyuha sebagai Vasudeva, Sankarsana, Pradyumna adan Aniruddha, Vibhava inkarnasi Tuhan sebagai Kurma, Matsya, Varaha, Rama dll, Archa yaitu memasuki substansi yang menjadi pilihan penyembah di tempat persembahyangan, Antaryami yaitu Beliau bersemayam dalam hati kita sebagai obyek meditasi. Isvara sebagai pencipta alam semesta bertujuan untuk peduli terhadap penderitaan manusia dan untuk olah raga rohani bagi Tuhan. Kalau memang demikian mengapa Tuhan menciptakan menciptakan alam semesta yang penuh dengan penderitaan manusia ? Hampir semua pemikiran di India mengatakan bahwa semua itu disebabkan kerena “karma” dari masing-masing individu yang berbeda-beda.
F. Kausalitas Material dari Brahman
Problem utama dari Vedanta adalah bagaimana memberikan penjelasan yang memuaskan bahwa Brahman adalah penyebab material. Upanisad memang mendukung pemikiran ini bahwa Brahman adalah penyebab material dari alam semesta dan hampir semua Vedanta menerimanya. Ada tiga jawaban mengenai kausalitas dari Brahman : 1. Brahman itu sendiri merubah dirinya menjadi alam semesta. Brahma-parinama-vada dari Yadavaprakasa dan Bhaskara, 2. Brahman menyatu dengan cit dan acit dalam wujud sangat kecil yang merupakan penyebab material dari alam semesta, yang merupakan modifikasi dari teori Brahma-parinama-vada inilah pemikiran Ramanuja, 3. Brahman adalah dasar dari penampakan ilusi alam semesta yang merupakan penyebab material, ini adalah teori vivarta-vada dari Advaita Sankara.
Om Santih Santih Santih Om
=======
"Your Hand On Works But Your Heart On God "
=======
Om Swastyastu
Ada tiga isu filosofis menyangkut hal ini, dimana kita akan dapat melihat pandangan Ramanuja sendiri menjadi lebih jelas tentang Tuhan, The Ultimate Reality dan kritik yang diajukannya.
1.Isu I. Apakah Brahman sebagai Ultimate Reality sama dengan Isvara atau Tuhan pribadi yang kita pahami sebagai pencipta dan controller dari alam semesta? Merupakan isu yang krusial pada metafisika Vedanta yang menimbulkan pertanyaan: Apakah ada dua realitas ? Kalau ya maka lebih jauh : Apakah yang satu karena merupakan Being murni, lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah, sehingga agak kurang realitis. Apakah Brahman adalah nirguna, Being yang transenden yang tak terbedakan, ataukah Saguna, Tuhan yang memiliki sifat-sifat?
2.Isu II. Brahman sebagai penyebab materiil alam semesta apakah mengalami perubahan ataukah ia menampakkan diri sebagai fenomena alam semesta yang memiliki kebodohan kosmis (avidya). Masih berkaitan kontoversi besar pada vedanta, apakah apakah vivarta-vada,teori tentang penampakan ilusi dari Brahman berupa fenomena alam hanya sebagai yang perlu dicurigai atau dipertahankan? Hal ini melibatkan pengujian kritis dari doktrin advidya seperti yang di rumuskan oleh Advaita Vedanta dan isu alam semesta bersifat ilusi.
3.Isu III. Apakah mungkiin utuk membuktikan eksistensi dari Tuhan dengan orgumentasi logis tanpa mengacu pada kesaksian kitab suci?. Mengacu pada kontroversial penganut nyaya dengan penganut vedanta. Apakah benar eksistensi Tuhan dapat dibuktikan dengan argumentasi logis ? Menurut Nyaya :Eksistensi Tuhan dapat di buktikan secara logika sedangkan kaum Vedanta menyatakan bahwa: Kitab suci adalah satu-satunya otoritas untuk mengerti hakekat dari eksistensi Tuhan.
A. Bukti adanya Tuhan :
Mereka yang tidak menerima eksistensi Tuhan berargumentasi bahwa “konsep Tuhan sebagai pencipta alam semesta tidak dapat dipertahankan karena Tuhan tidak memiliki badan untuk mencipta alam semesta. Agumentasi tidak absah karena dalam Sruti Tuhan, Isvara dapat mencipta alam semesta dengan keinginannya tanpa bantuan badan. Belum ada peryataan-peryataan para atheis yang dapat membuktikan bahwa Tuhan tidak ada. Kalau demikian Sruti atau pengungkapan lewat kitab suci adalah satu satunya otoritas untuk mengetahui adanya Tuhan. Pandangan Advata Vedanta (Sankara) : Brahman sebagai realitas Transendental mengembangkan dirinya sendiri, melampaui pembicaraan dan pemikiran.Tuhan tidak dapat di dekati lewat intelek kita. Brahman bersifat avedya melewati semua pengetahuan empiris dan kognitif kita. Menurut Para Waisnawa: Adalah tidak benar bahwa Brahman tidak bisa dicapai dan tidak bisa di ketahui lewat teks kitab suci. Disamping kitab suci yang menyatakan Tuhan melewati pembicaraan dan pemikiran,masih banyak lagi teks-teks yang menyatakan bahwa Brahman dapat diketahui lewat Sruti bahwa semuaVeda berbicara masalahTuhan. Argumentasi Impersonalist : Brahman, atman yang dijelaskan dalam upanisad-upanisad tidak berkaitan langsung dengan Brahman, tetapi secara tidak langsung. Seperti halnya sinar bulan yang jatuh pada dahan pohon dapat membantu membawa pengetahuan tentang bulan. Argumentasi Vitistadvaita Ramanuja : Teks dalam upanisad yang berhubungan dengan argumentasi hakekat Brahman mengacu secara langsung kepada Brahman yang lebih tinggi, tidak kepada Brahman yang lebih rendah. Bila argumentasi di tunjukan langsung hanya pada Brahman yang lebih rendah maka pernyataaan tentang Brahman yang lebih tinggi menjadi tidak absah sehinggga konsekwensinya adalah eksistensi dari Brahman akan dipertanyakankan. Adalah tidak mungkin mempertahankan Brahman yang tidak dapat di ketahui. Akan lebih masuk akal dan logis menerima bahwa cara mengetahui Brahman melalui kitab suci. Dengan kata lain kitab sucilah satu-satunya otoritas untuk membuktikan adanya Tuhan.
B. Hakekat dari the ultimate reality
Menurut Ramanuja: bahwa the ultimate reality dari Brahman mengacu pada upanisad-upanisad adalah kepribadian Tuhan YME dalam agama. Ramanuja menolak teori dua Brahman seperti pemikiran Sankara dimana ,Brahman yang lebih tinggi (para) yang tidak memiliki atribut dan Brahman yang lebih rendah (apara) yang memiliki atribut-atribut, merupakan realitas yang lebih rendah. Brahman yang di katakana dalam teks Vedanta sutra jelas-jelas pencipta alam semesta yang di kwalifikasikan dengan sifat-sifat yang bertuah, yang gaib yang merupakan realitas dari kepribadian Tuhan dalam agama. Ramanuja mengatakan bahwa Brahman yang di maksud adalah Purusottama,Supreme person atau Supreme Self yang sempurna dan memiliki atribut-atribut bertuah, yang gaib yang tak terbatas. Dalam Mahopanisad I.1.dinyatakan: “eko ha vai Narayana asit: Narayana sendiri telah ada sejak awal” sesuai dengan prinsip dari tatabahasa yang di ajarkan oleh Panini kata” Narayana di nyatakan sebagai nama khusus yang hanya di aplikasikan pada Being yang tertentu saja, tidak kepada entitas lain, seperti kata “Brahman”. Brahman yang ada dalam upanisad-upanisad, pencipta alam semesta sama dengan Narayana. Subala upanisad :Narayana adalah antaratman yang merupakan inner controller dari segala yang ada dalam alam semesta
C. Teori tentang Nirguna Brahman
Teori dua Brahman yang diajarkan, yaitu para Brahman yang lebih tinggi dan Apara Brahman atau Saguna Brahman adalah Brahman yang lebih rendah. Nirguna Brahman yang mempergunakan kekuatan teks Nirguna sruti dan Saguna Brahman mempergunakan kekuatan teks Saguna sruti. Kaum Impersonalist: Nirguna sruti keabsahannya lebih tinggi di bandingkan dengan Saguna sruti. Menurut Sri Ramanuja dalam Sri Bhasya tidak menerima teori dua Brahman. Ia menolak konsep Nirguna Brahman dan ultimate reality yang pada dasarnya hanyalah Savisesa Brahman yang sama dengan kepribadian Tuhan YME dalam agama.
D.Tuhan dan sifat-sifatnya.
Menurut Ramanuja Brahman adalah savisesa artinya memiliki badan (vigraha), sifat (guna) dan peralatan (vibhuti). Badan Tuhan bersifat rohani yang bebas dari pengaruh karma. Dengan badan ini memungkinkan bagi penyembahnya untuk mendekatinya untuk menyembahnya untuk bermeditasi padanya. Setiap entitas di alam semesta baik secara fisik maupun ontologis terdiri dari dua aspek yaitu aspek substantif atau svarupa dan aspek atributif atau aspek svabhava. Svarupa Brahman menurut Ramanuja memilki lima sifat yaitu : satyam yaitu eksistensi yang absolut dan tak terkondisikan, jnana yaitu abadi dan berpengetahuan tak terbatas (Tait. Up. I.1 satyam jnanam anantam brahma), anantam yaitu kekuatan yang tak terbatas, anandam yaitu kebahagiaan tanpa akhir (Tait. Up. I.1 anandam brahmano vidvan), amalam yaitu bebas dari ketidaksempurnaan. Jadi entitas yang memiliki lima sifat ini disebut svarupa dari Brahman. Dalam Tait. Up. III.1 Brahman adalah : yato vaimani bhutani jayante, yena jatani jivanti, yat prayanty abhisamvisanti tad vijijnasasva tad brahmeti artinya bentuk itu dari mana segalanya lahir,dimana mereka hidup dan lahir dan dimana mereka akan masuk setelah mati itulah Brahman. Disini mengacu kepada Brahman sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur alam semesta. Dalam Vedanta Sutra juga dikatakan bahwa : janmady asya yatah. Masih ada 6 sifat lainnya lagi dari Isvara yaitu jnana, bala, aisvarya, virya, sakti, tejas.
E. Lima manifestasi dari Tuhan.
Menurut Ramanuja ada lima bentuk dari Brahman yaitu : Para atau bentuk yang transenden, Vyuha sebagai Vasudeva, Sankarsana, Pradyumna adan Aniruddha, Vibhava inkarnasi Tuhan sebagai Kurma, Matsya, Varaha, Rama dll, Archa yaitu memasuki substansi yang menjadi pilihan penyembah di tempat persembahyangan, Antaryami yaitu Beliau bersemayam dalam hati kita sebagai obyek meditasi. Isvara sebagai pencipta alam semesta bertujuan untuk peduli terhadap penderitaan manusia dan untuk olah raga rohani bagi Tuhan. Kalau memang demikian mengapa Tuhan menciptakan menciptakan alam semesta yang penuh dengan penderitaan manusia ? Hampir semua pemikiran di India mengatakan bahwa semua itu disebabkan kerena “karma” dari masing-masing individu yang berbeda-beda.
F. Kausalitas Material dari Brahman
Problem utama dari Vedanta adalah bagaimana memberikan penjelasan yang memuaskan bahwa Brahman adalah penyebab material. Upanisad memang mendukung pemikiran ini bahwa Brahman adalah penyebab material dari alam semesta dan hampir semua Vedanta menerimanya. Ada tiga jawaban mengenai kausalitas dari Brahman : 1. Brahman itu sendiri merubah dirinya menjadi alam semesta. Brahma-parinama-vada dari Yadavaprakasa dan Bhaskara, 2. Brahman menyatu dengan cit dan acit dalam wujud sangat kecil yang merupakan penyebab material dari alam semesta, yang merupakan modifikasi dari teori Brahma-parinama-vada inilah pemikiran Ramanuja, 3. Brahman adalah dasar dari penampakan ilusi alam semesta yang merupakan penyebab material, ini adalah teori vivarta-vada dari Advaita Sankara.
Om Santih Santih Santih Om
=======
"Your Hand On Works But Your Heart On God "
=======
Katagori
Religion
Wednesday, March 11, 2009
TATAKRAMANING SANGGING*
Oleh: (Shri Danu D.P)I Wayan Sudarma**
Om Swastyastu
I. PERLENGKAPAN SANGGING
1. Kelapa gading yang dikasturi, airnya dibuang dan ditulis gambaran Ardhanaresvari (gambar Smara Ratih). Kelapa gading ini akan dipakai sebagai tempat “ludah” dan “singgang gigi (pedangal)” yang sudah dipakai. Setelah uapcara, kelapa gading ini dipendam di belakang Sanggah Kamulan.
2. Untuk singgang gigi / pedangal, adalah tiga potong cabang dapdap dan tiga potong tebu malem / tebu ratu. Panjang pedangal ini -/+ 1,5 cm.
3. Pengilap yaitu sebuah cincin bermata mirah. yang dipakai untuk menulis / ngerajah gigi di metatah.
4. Pengurip-urip yang dibuat dari empu kunir (inan kunyit), yang dikupas sampai bersih dan kapur (pamor). Dipakai setelah selesai metatah untuk pertama kali yang ditatah menggigit kunir dan kapur pengurip ini.
5. sebuah bokor yang berisi: kikir, cermin, pahat, palu. (biasanya pengilap / mirah dan pengurip-urip tersebut di atas diletakkan menjadi satu di bokor ini).
6. Sebuah tempat yang berisi sirih lekesan, tembakau, pinang, gambir. (Di dalam sirih sudah berisi kapur).
7. Beberapa potong kain (yang baru) sebagai penutup badan pada waktu upacara (rurub).
8. Banten tetingkeb yang akan diinjak pada waktu turun dari bale petatahan setelah upacara selesai.
II. TATA UPACARA
1. Sangging melaksanakan puja kepadaBhatara Surya, Sanghyang Smara Ratih, Sanghyang Aji Sarasvati, Bhatara Gana, memohon pengraksa dan tuntunan agar berkenan menjaga sehingga upacara ini dapat berjalan dengan baik dan sukses (siddha karya dan siddha sampurna). Mantra Pengaraksa Bale petatahan:
ONG UTEJO SAKHAM PANDAM SUCI GATRI MAHA SIDDHI, SARVA PAPA VINASANAM, TASKARA MANTRA UTTAMAM, ONG HRANG HRING SAH (MANTRA PANGRAKSA). Sumber: lontar Kanda Pitu
ONG HIDEPKU SANG HYANG JATU TUNGGAL, MANGRANGSUK AKU GUNA WISESA, BHUTA, LEAK ASIH, SAKWEHING SATRU MUSUHKU PADA PATUH INGKUP, SAMA WEDI, TEKA HAP (3X), TEKA LUPA (3X), ASING TEKA KUKUL DUNGKUL. (MANTRA PENOLAK BHAYA). Pada waktu mengucapkan pusatkan pikiran pada ubun-ubun. Sumber ; Lontar Punggung tiwas, lb.6a
ONG SANG HYANG CINTYA RAJA PINULAH, ANG ANG ANG, ANG ANG ANG, ANG ANG ANG. (MANTRA PENOLAK SEGALA PERBUATAN JAHAT, JIN, SETAN, BEBAHI, ORANG MARAH, IRI HATI DSB). Sumber: Lontar Tutur Kadharman, lb. 40a
2. Seperti biasa dilakukan upacara mabhyakala dan maprayascita, lalu sembahyang kehadapan Bhatara Surya, dan Sanghyang Smara Ratih, kemudian naik ke tempat upacara potong gigi serta duduk menghadap ke hulu. Pimpinan upacara mengambil cicin mirah yang dipakai untuk ngarajah pada beberapa tempat yaitu:
a. Pada Dahi : Omkara Amertha Adu Muka
b. Pada gigi taring kanan : Ang
c. Pada gigi taring kiri : Ang
d. Pada gigi seri atas : Ah
e. Pada gigi seri bawah : Ang
f. Pada lidah : Omkara
3. Setelah itu sangging menatah / memahat gigi orang yang akan ditatah secara simbolik dengan sarana pahat dan palu yang telah di pasupati. Mantra pengurip palu: ONG UTTAMAM, ONG HRAH PHAT NAMAH SVAHA. Mantra pengurip pahat yaitu: ONG UTTAMAM, ONG UNG PHAT NAMAH SVAHA.
4. Setelah itu baru diperciki Tirtha Pesangihan (dari Pedanda), selanjutnya upacara dipimpin oleh Sangging. Setelah orang yang bersangkutan tidur serta memakai rurub, maka sangging mengambil kikir lalu diberi mantra. Orang yang akan ditatah diberi pedangal tebu dan carang dapdap.
Untuk laki-laki pedangal tebu di sebelah kanan dan carang dapdap di sebelah kiri.
Untuk perempuan pedangal tebu di sebelah kiri dan carang dapdap di sebelah kanan.
5. Setelah kikir diberi mantra, lalu dimulailah pelaksanaan potong gigi dengan disertai puja. Kemudian pedangal diganti, orang yang bersangkutan disuruh meludah, pedangal diganti, dan demikian seterusnya sampai dianggap cukup.
Catatan:
Ludah dan pedangal dibuang ke dalam kelapa gading.
Setiap selesai disangih sebelum diganti pedangal orang yang bersangkutan disuruh bercermin.
6. Bila sudah dianggap cukup, lalu diberi pengurip-urip (kunir dan kapur), kemudian berkumur dengan air cendana, selanjutnya makan sirih (ludahnya ditelan tiga kali), dan sisanya dibuang ke dalam kelapa gading.
7. Selanjutnya natab banten peras, dan waktu turun menginjakkan kakinya pada banten tetingkeb sebanyak tiga kali.
8. Setelah peserta selesai ditatah dilarang untuk berkeliaran, memakan makanan padas dan dingin. Dan kemudian akan dilanjutkan dengan sembahyang dan natab banten petatahan yang ada di lapaan.
9. Beberapa buah mantra :
a. Mantra kikir: Om Sang Parigi Manik, ajo sira geger lunga, antinen kakangnira sang Sri Kanaka, teka kekeh pageh, tan katekaning lara wighna, teka awet teka awet teka awet.
b. Mantra Mirah: Om Sri Bhatrimsa ya namah, Om Sri Bhatrimsa samyogi ya namah
c. Mantra memulai Nyagih: Om Sanghyang tunggal angentas papa klesan kita ring bapa ibu, Om lunga hayu teka hayu (3x).
d. Mantra ketika sedang Nyangih: Om Krekna jiwa prasiddha ya namah, Om purna jiwa ya namah, Om suddha paripurna jiwa ya namah, Om Brahma ya namah.
e. Mantra Pangurip-urip: Om urip uriping bhayu sabda idhep, teka urip, Ang Ah, Om taya urip, bhayu urip, manusa urip, pada urip (3x) , Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang Ang Ung Mang, Om Brahma urip Visnu urip Siva sampurna ya namah svaha.
f. Mantra Lekesan: Om suruh mara jambe mara, tumiba pwa sira ring lidah, Sanghyang bhumi ratih aran sira, tumiba pwa sira ring hati, kunci pepet aran sira, katemu-temu dlaha, samangkana lawan tembe, metu pwa sira ring wewadonan Sanghyang Sumarasa aran sira, astu kedep siddhi mantranku.
g. Rajahan Lekesan / Sirih: Ya Sa Pa Wa
h. Rajahan Pinang: Ang Ung Mang
i. Rajahan Pedangal Tebu: Ong Ang
j. Rajahan Pedangal Dapdap: Ong Ah
Demikian tentang tata karma / tetikesan Sangging ketika melaksanakan dharmanya sebagai manggala upacara. Semoga mendapat pencerahan dan selalu dapat mengutamakan pelayanan kepada umat semuanya.
Catatan: Menurut lontar Satra Proktah tidak boleh sawa (mayat) itu ditatah, yang disebut; “Ngeludin wangke Ngaran”.
Om Śāntih Śāntih Śāntih Om
* Disampaikan sebagai bahan penataran Calon Sangging di Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi, dari tanggal 3 sampai 6 Nopember 2005.
** Penyuluh Agama Hindu Kota Bekasi
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======
Om Swastyastu
I. PERLENGKAPAN SANGGING
1. Kelapa gading yang dikasturi, airnya dibuang dan ditulis gambaran Ardhanaresvari (gambar Smara Ratih). Kelapa gading ini akan dipakai sebagai tempat “ludah” dan “singgang gigi (pedangal)” yang sudah dipakai. Setelah uapcara, kelapa gading ini dipendam di belakang Sanggah Kamulan.
2. Untuk singgang gigi / pedangal, adalah tiga potong cabang dapdap dan tiga potong tebu malem / tebu ratu. Panjang pedangal ini -/+ 1,5 cm.
3. Pengilap yaitu sebuah cincin bermata mirah. yang dipakai untuk menulis / ngerajah gigi di metatah.
4. Pengurip-urip yang dibuat dari empu kunir (inan kunyit), yang dikupas sampai bersih dan kapur (pamor). Dipakai setelah selesai metatah untuk pertama kali yang ditatah menggigit kunir dan kapur pengurip ini.
5. sebuah bokor yang berisi: kikir, cermin, pahat, palu. (biasanya pengilap / mirah dan pengurip-urip tersebut di atas diletakkan menjadi satu di bokor ini).
6. Sebuah tempat yang berisi sirih lekesan, tembakau, pinang, gambir. (Di dalam sirih sudah berisi kapur).
7. Beberapa potong kain (yang baru) sebagai penutup badan pada waktu upacara (rurub).
8. Banten tetingkeb yang akan diinjak pada waktu turun dari bale petatahan setelah upacara selesai.
II. TATA UPACARA
1. Sangging melaksanakan puja kepadaBhatara Surya, Sanghyang Smara Ratih, Sanghyang Aji Sarasvati, Bhatara Gana, memohon pengraksa dan tuntunan agar berkenan menjaga sehingga upacara ini dapat berjalan dengan baik dan sukses (siddha karya dan siddha sampurna). Mantra Pengaraksa Bale petatahan:
ONG UTEJO SAKHAM PANDAM SUCI GATRI MAHA SIDDHI, SARVA PAPA VINASANAM, TASKARA MANTRA UTTAMAM, ONG HRANG HRING SAH (MANTRA PANGRAKSA). Sumber: lontar Kanda Pitu
ONG HIDEPKU SANG HYANG JATU TUNGGAL, MANGRANGSUK AKU GUNA WISESA, BHUTA, LEAK ASIH, SAKWEHING SATRU MUSUHKU PADA PATUH INGKUP, SAMA WEDI, TEKA HAP (3X), TEKA LUPA (3X), ASING TEKA KUKUL DUNGKUL. (MANTRA PENOLAK BHAYA). Pada waktu mengucapkan pusatkan pikiran pada ubun-ubun. Sumber ; Lontar Punggung tiwas, lb.6a
ONG SANG HYANG CINTYA RAJA PINULAH, ANG ANG ANG, ANG ANG ANG, ANG ANG ANG. (MANTRA PENOLAK SEGALA PERBUATAN JAHAT, JIN, SETAN, BEBAHI, ORANG MARAH, IRI HATI DSB). Sumber: Lontar Tutur Kadharman, lb. 40a
2. Seperti biasa dilakukan upacara mabhyakala dan maprayascita, lalu sembahyang kehadapan Bhatara Surya, dan Sanghyang Smara Ratih, kemudian naik ke tempat upacara potong gigi serta duduk menghadap ke hulu. Pimpinan upacara mengambil cicin mirah yang dipakai untuk ngarajah pada beberapa tempat yaitu:
a. Pada Dahi : Omkara Amertha Adu Muka
b. Pada gigi taring kanan : Ang
c. Pada gigi taring kiri : Ang
d. Pada gigi seri atas : Ah
e. Pada gigi seri bawah : Ang
f. Pada lidah : Omkara
3. Setelah itu sangging menatah / memahat gigi orang yang akan ditatah secara simbolik dengan sarana pahat dan palu yang telah di pasupati. Mantra pengurip palu: ONG UTTAMAM, ONG HRAH PHAT NAMAH SVAHA. Mantra pengurip pahat yaitu: ONG UTTAMAM, ONG UNG PHAT NAMAH SVAHA.
4. Setelah itu baru diperciki Tirtha Pesangihan (dari Pedanda), selanjutnya upacara dipimpin oleh Sangging. Setelah orang yang bersangkutan tidur serta memakai rurub, maka sangging mengambil kikir lalu diberi mantra. Orang yang akan ditatah diberi pedangal tebu dan carang dapdap.
Untuk laki-laki pedangal tebu di sebelah kanan dan carang dapdap di sebelah kiri.
Untuk perempuan pedangal tebu di sebelah kiri dan carang dapdap di sebelah kanan.
5. Setelah kikir diberi mantra, lalu dimulailah pelaksanaan potong gigi dengan disertai puja. Kemudian pedangal diganti, orang yang bersangkutan disuruh meludah, pedangal diganti, dan demikian seterusnya sampai dianggap cukup.
Catatan:
Ludah dan pedangal dibuang ke dalam kelapa gading.
Setiap selesai disangih sebelum diganti pedangal orang yang bersangkutan disuruh bercermin.
6. Bila sudah dianggap cukup, lalu diberi pengurip-urip (kunir dan kapur), kemudian berkumur dengan air cendana, selanjutnya makan sirih (ludahnya ditelan tiga kali), dan sisanya dibuang ke dalam kelapa gading.
7. Selanjutnya natab banten peras, dan waktu turun menginjakkan kakinya pada banten tetingkeb sebanyak tiga kali.
8. Setelah peserta selesai ditatah dilarang untuk berkeliaran, memakan makanan padas dan dingin. Dan kemudian akan dilanjutkan dengan sembahyang dan natab banten petatahan yang ada di lapaan.
9. Beberapa buah mantra :
a. Mantra kikir: Om Sang Parigi Manik, ajo sira geger lunga, antinen kakangnira sang Sri Kanaka, teka kekeh pageh, tan katekaning lara wighna, teka awet teka awet teka awet.
b. Mantra Mirah: Om Sri Bhatrimsa ya namah, Om Sri Bhatrimsa samyogi ya namah
c. Mantra memulai Nyagih: Om Sanghyang tunggal angentas papa klesan kita ring bapa ibu, Om lunga hayu teka hayu (3x).
d. Mantra ketika sedang Nyangih: Om Krekna jiwa prasiddha ya namah, Om purna jiwa ya namah, Om suddha paripurna jiwa ya namah, Om Brahma ya namah.
e. Mantra Pangurip-urip: Om urip uriping bhayu sabda idhep, teka urip, Ang Ah, Om taya urip, bhayu urip, manusa urip, pada urip (3x) , Om Sang Bang Tang Ang Ing Nang Mang Sing Wang Yang Ang Ung Mang, Om Brahma urip Visnu urip Siva sampurna ya namah svaha.
f. Mantra Lekesan: Om suruh mara jambe mara, tumiba pwa sira ring lidah, Sanghyang bhumi ratih aran sira, tumiba pwa sira ring hati, kunci pepet aran sira, katemu-temu dlaha, samangkana lawan tembe, metu pwa sira ring wewadonan Sanghyang Sumarasa aran sira, astu kedep siddhi mantranku.
g. Rajahan Lekesan / Sirih: Ya Sa Pa Wa
h. Rajahan Pinang: Ang Ung Mang
i. Rajahan Pedangal Tebu: Ong Ang
j. Rajahan Pedangal Dapdap: Ong Ah
Demikian tentang tata karma / tetikesan Sangging ketika melaksanakan dharmanya sebagai manggala upacara. Semoga mendapat pencerahan dan selalu dapat mengutamakan pelayanan kepada umat semuanya.
Catatan: Menurut lontar Satra Proktah tidak boleh sawa (mayat) itu ditatah, yang disebut; “Ngeludin wangke Ngaran”.
Om Śāntih Śāntih Śāntih Om
* Disampaikan sebagai bahan penataran Calon Sangging di Pura Agung Tirta Bhuana Bekasi, dari tanggal 3 sampai 6 Nopember 2005.
** Penyuluh Agama Hindu Kota Bekasi
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======
Katagori
Religion
KRAMANYA SANG KUNINGKIN KARYA SANISTA, MADYA, UTTAMA (TATACARA BAGI MEREKA YANG AKAN MELAKSANAKAN UPACARA KANISTAMA, MADYAMA DAN UTTAMA)
Olih: Shri Danu Dharma P (I Wayan Sudarma)
Manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya. Mwang kamagutan, kaliliraning wwang atuwa aywa mengambekang krodha mwang ujar gangsul. Ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya aywa simpanging budhi mwang krodha
Artinya:
Pikiran yang tenang dan ikhlaslah yang menjadikan baik. Janganlah tidak ikhlas dan terlalu menyayangi harta benda yang diperlukan untuk yadnya, janganlah menentang petunjuk orang orang yang dituakan ( berpengetahuan luas dan bijak), janganlah berprilaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengar itu juga hendaknya diucapkan. Demikianlah tata cara orang yang akan melaksanakan yadnya. Jangan menyimpang dari budhi baik dan jangan menampilkan kemarahan. (Lontar Dewa Tattwa.10 ).
Iki widhi sastra Tapeni Yadnya, ngaran ling nira Bhatari Tapeni, ngaran Bhatari Uma Dewi sira Hyang ring Pura Dalem, maka lingga gama kerthi ulahing wong kamanusan. Adruwe pariwara watek apsari maka, Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu mwang Dewi Sidhi, ika pariwaranira mekabehan.
Uduh sira sang umara yadnya, sang paramakerti sang akinkin akerti yasa, nguni weh ta kita sang anggaduh gama-gaman, rengo lingku mangke, dak, sun warahi kita parikraman ing bhkati astiti ring gama tirta, aja sira tan mitulu ri hing ning sastra iki, nimita kweh wetun ikang yadnya, sapta yadnya, sapta yadnya luire: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, samadania limuwihaken pada luwih ika tinemuni ya, palan ing yadnya, samangkana juga wineh utamaning kang yadnya, patemuang kunang kang Agama, Ugama, muang Igama, apan ika ngaran pamurtian Sanghyang Tri Murti, tan wenang amalaku yadnya yan tan ingangge tattwa, ika ingaran Wuta, yan tan ingangge solah ayu sang umara yadnya, ika ingaran Tuli, muah tan ingannge yadnya ngaran rumpuh tan sida karyania, apan sukmania ika kadi anggan sira, ana hulu, ana awak, muang ana juga sukunia, mangkana utamaning kang yadnya. Apan sukmania, yadnya palan ikan yadnya
wahya diatmika nemu sira rahayu.
Artinya:
Ini sumber sastra Tapeni Yadnya, bernama Bhatari Tapeni atau Bhatari Uma Dewi, beliau adalah dewanya Pura Dalem, beliau merupakan sumber dari tata cara pelaksanaan agama bagi penganutnya, mempunyai pembantu para widyadari yang bernama Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu dan Dewi Sidhi, itulah pembantunya semua.
Wahai kamu Sang Pelaku Yadnya, ini Aku berikan bagi yang senang terhadap ajaran agama, dengarkan arahanku sekarang, Aku akan memberitahukan bagi yang senang melakukan persembahan terhadap agama Hindu (Tirta), jangan sampai kamu tidak melaksanakan isi sastra ini, pada dasarnya banyak ada macam yadnya, tujuh yadnya antara lain: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, keutamaan dari yadnya ini sama-sama utama, demikian juga Aku berikan tentang kebajikannya, merupakan pengamalan ajaran agama, ugama dan igama karena ketiganya merupakan perwujudan Sanghynag Tri Murti, seimbangkan antara upakara; ritualnya dengan tattwanya, karena itu merupakan yadnya, kalau menyimpang dari Tattwanya itu disebut “buta”, kalau tidak memakai tatanan yang benar bagi yang melaksanakan yadnya, itu disebut “tuli”, dan kalau tidak menggunakan upakara disebut “lumpuh’, kerjanya sia-sia, karena merupakan
manifestasinya dari tubuh kita, ada kepala, ada badan, dan ada juga anggota badan, begitulah kebajikan dari beryadnya, berpahala untuk sekala dan niskala, akan menemukan kebahagiaan. (Lontar Tutur Tapeni Yadnya, 72-73).
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======
Manah lega dadi ayu, aywa ngalem drewya. Mwang kamagutan, kaliliraning wwang atuwa aywa mengambekang krodha mwang ujar gangsul. Ujar menak juga kawedar denira. Mangkana kramaning sang ngarepang karya aywa simpanging budhi mwang krodha
Artinya:
Pikiran yang tenang dan ikhlaslah yang menjadikan baik. Janganlah tidak ikhlas dan terlalu menyayangi harta benda yang diperlukan untuk yadnya, janganlah menentang petunjuk orang orang yang dituakan ( berpengetahuan luas dan bijak), janganlah berprilaku marah serta mengeluarkan kata-kata yang sumbang dan kasar. Kata-kata yang baik dan enak didengar itu juga hendaknya diucapkan. Demikianlah tata cara orang yang akan melaksanakan yadnya. Jangan menyimpang dari budhi baik dan jangan menampilkan kemarahan. (Lontar Dewa Tattwa.10 ).
Iki widhi sastra Tapeni Yadnya, ngaran ling nira Bhatari Tapeni, ngaran Bhatari Uma Dewi sira Hyang ring Pura Dalem, maka lingga gama kerthi ulahing wong kamanusan. Adruwe pariwara watek apsari maka, Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu mwang Dewi Sidhi, ika pariwaranira mekabehan.
Uduh sira sang umara yadnya, sang paramakerti sang akinkin akerti yasa, nguni weh ta kita sang anggaduh gama-gaman, rengo lingku mangke, dak, sun warahi kita parikraman ing bhkati astiti ring gama tirta, aja sira tan mitulu ri hing ning sastra iki, nimita kweh wetun ikang yadnya, sapta yadnya, sapta yadnya luire: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, samadania limuwihaken pada luwih ika tinemuni ya, palan ing yadnya, samangkana juga wineh utamaning kang yadnya, patemuang kunang kang Agama, Ugama, muang Igama, apan ika ngaran pamurtian Sanghyang Tri Murti, tan wenang amalaku yadnya yan tan ingangge tattwa, ika ingaran Wuta, yan tan ingangge solah ayu sang umara yadnya, ika ingaran Tuli, muah tan ingannge yadnya ngaran rumpuh tan sida karyania, apan sukmania ika kadi anggan sira, ana hulu, ana awak, muang ana juga sukunia, mangkana utamaning kang yadnya. Apan sukmania, yadnya palan ikan yadnya
wahya diatmika nemu sira rahayu.
Artinya:
Ini sumber sastra Tapeni Yadnya, bernama Bhatari Tapeni atau Bhatari Uma Dewi, beliau adalah dewanya Pura Dalem, beliau merupakan sumber dari tata cara pelaksanaan agama bagi penganutnya, mempunyai pembantu para widyadari yang bernama Dewi Kancak, Dewi Pradnya, Dewi Wastu dan Dewi Sidhi, itulah pembantunya semua.
Wahai kamu Sang Pelaku Yadnya, ini Aku berikan bagi yang senang terhadap ajaran agama, dengarkan arahanku sekarang, Aku akan memberitahukan bagi yang senang melakukan persembahan terhadap agama Hindu (Tirta), jangan sampai kamu tidak melaksanakan isi sastra ini, pada dasarnya banyak ada macam yadnya, tujuh yadnya antara lain: Aswameda yadnya, Siwa yadnya, Dewa yadnya, Rsi yadnya, Pitra yadnya, Bhuta yadnya, Manusa yadnya, keutamaan dari yadnya ini sama-sama utama, demikian juga Aku berikan tentang kebajikannya, merupakan pengamalan ajaran agama, ugama dan igama karena ketiganya merupakan perwujudan Sanghynag Tri Murti, seimbangkan antara upakara; ritualnya dengan tattwanya, karena itu merupakan yadnya, kalau menyimpang dari Tattwanya itu disebut “buta”, kalau tidak memakai tatanan yang benar bagi yang melaksanakan yadnya, itu disebut “tuli”, dan kalau tidak menggunakan upakara disebut “lumpuh’, kerjanya sia-sia, karena merupakan
manifestasinya dari tubuh kita, ada kepala, ada badan, dan ada juga anggota badan, begitulah kebajikan dari beryadnya, berpahala untuk sekala dan niskala, akan menemukan kebahagiaan. (Lontar Tutur Tapeni Yadnya, 72-73).
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======
Katagori
Religion
CANANG SARI (CARA MEMBUAT DAN KAJIAN FILOSOFIS)

Shri Danu D.P ( I Wayan Sudarma
”Canang sari inggih punika sarin kasucian kayun bhakti ring Hyang Widhi tunggal. Napkala ngaksara kahiwangan-kahiwangan”.- Canang sari yaitu inti dari pikiran dana niat yang suci sebagai tanda bhakti/hormat kepada Hyang Widhi ketika ada kekurangan saat sedang menuntut ilmu kerohanian (lontar Mpu Lutuk Alit). Canang sari adalah suatu Upakāra /banten yang selalu menyertai atau melengkapi setiap sesajen/persembahan, segala Upakāra yang dipersiapkan belum disebut lengkap kalau tidak di lengkapi dengan canang sari, begitu pentingnya sebuah canang sari dalam suatu Upakāra /bebanten. Apakah sebenarnya makna yang terkandung dalam sebuah canang sari?. Canang sari sebagai lambang angga sarira serta hidup dan kehidupan. Yaitu:
Ceper. Ceper adalah sebagai alas dari sebuah canang, yang memiliki bentuk segi empat. Ceper adalah sebagai lambang angga-sarira (badan), empat sisi dari pada ceper sebagai lambang/nyasa dari Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, Panca Karmendriya. Keempat itulah yang membentuk terjadinya Angga-sarira (badan wadag) ini.
Beras. Beras atau wija sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Ātma , yang menjadikan badan ini bisa hidup, Beras/wija sebagai lambang benih, dalam setiap insan/kehidupan diawali oleh benih yang bersumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berwujud Ātma . Ceper sebagai lambang/nyasa angga-sarira/badan tiadalah gunanya tanpa kehadiran Sang Hyang Ātma . Tak ubahnya bagaikan benda mati, yang hanya menunggu kehancurannya. Maka dari itulah di atas sebuah ceper juga diisi dengan beras, sebagai lambang/nyasa Sang Hyang Ātma . Maka dari itulah hidup kita di belenggu oleh Citta dan Klesa, Ātma menimbulkan terjadinya Citta Angga-sarira (badan kasar) menimbulkan terjadinya klesa, itulah yang menyebabkan setiap umat manusia memiliki kelebihan dan kekurangannya.
Porosan. Sebuah Porosan terbuat dari daun sirih, kapur/pamor, dan jambe atau gambir sebagai lambang/nyasa Tri-Premana, Bayu, Sabda, dan Idep (pikiran, perkataan, dan perbuatan). Daun sirih sebagai lambang warna hitam sebagai nyasa Bhatara Visnu, dalam bentuk tri-premana sebagai lambang/nyasa dari Sabda (perkataan), Jambe/Gambir sebagai nyasa Bhatara Brahma, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Bayu (perbuatan), Kapur/Pamor sebagai lambang/nyasa Bhatara Iswara, dalam bentuk Tri-premana sebagai lambang/nyasa Idep (pikiran). Suatu kehidupan tanpa dibarengi dengan Tri-premana dan Tri Kaya, suatu kehidupan tiadalah artinya, hidup ini akan pasif, karena dari adanya Tri-premana dan Tri Kaya itulah kita bisa memiliki suatu aktivitas, tanpa kita memiliki suatu aktivitas kita tidak akan dapat menghadapi badan ini. Suatu aktivitas akan terwujud karena adanya Tri-Premana ataupun Tri-kaya.
Tebu dan pisang. Di atas sebuah ceper telah diisi dengan beras, porosan, dan juga diisi dengan seiris tebu dan seiris pisang. Tebu atapun pisang memiliki makna sebagai lambang/nyasa amrtha. Setelah kita memiliki badan dan jiwa yang menghidupi badan kita, dan tri Pramana yang membuat kita dapat memiliki aktivitas, dengan memiliki suatu aktivitaslah kita dapat mewujudkan Amrtha untuk menghidupi badan dan jiwa ini. Tebu dan pisang adalah sebagai lambang/ nyasa Amrtha yang diciptakan oleh kekuatan Tri Pramana dan dalam wujud Tri Kaya.
Sampian Uras. Sampian uras dibuat dari rangkaian janur yang ditata berbentuk bundar yang biasanya terdiri dari delapan ruas atau helai, yang melambangkan roda kehidupan dengan Astaa iswaryanya/delapan karakteristik yang menyertai setiap kehidupan umat manusia. Yaitu : Dahram (Kebijaksanaan), Sathyam (Kebenaran dan kesetiaan), Pasupati (ketajaman, intelektualitas), kama (Kesenangan), Eswarya (kepemimpinan), Krodha (kemarahan), Mrtyu (kedengkian, iri hati, dendam), Kala ( kekuatan). Itulah delapan karakteristik yang dimiliki oleh setiap umat manusia, sebagai pendorong melaksanakan aktivitas, dalam menjalani roda kehidupannya.
Bunga. Bunga adalah sebagai lambang/nyasa, kedamaian, ketulusan hati. Pada sebuah canang bunga akan ditaruh di atas sebuah sampian uras, sebagai lambang/nyasa di dalam kita menjalani roda kehidupan ini hendaknya selaludilandasi dengan ketulusan hati dan selalu dapat mewujudkan kedamaian bagi setiap insan.
Kembang Rampai. Kembang rampai akan ditaruh di atas susunan/rangkaian bunga-bunga pada suatu canang, kembang rampai memiliki makna sebagai lambang/nyasa kebijaksanaan. Dari kata kembang rampai memiliki dua arti, yaitu: kembang berarti bunga dan rampai berarti macam-macam, sesuai dengan arah pengider-ideran kembang rampai di taruh di tengah sebagai simbol warna brumbun, karena terdiri dari bermacam-macam bunga. Dari sekian macam bunga, tidak semua memiliki bau yang harum, ada juga bunga yang tidak memiliki bau, begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, tidak selamanya kita akan dapat menikmati kesenangan adakalanya juga kita akan tertimpa oleh kesusahan, kita tidak akan pernah dapat terhindar dari dua dimensi kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehidupan ini. Untuk itulah dalam kita menata kehiupan ini hendaknya kita memiliki kebijaksanaan.
Lepa. Lepa atau boreh miyik adalah sebagai lambang/nyasa sebagai sikap dan prilaku yang baik. Boreh miyik/lulur yang harum, lalau seseorang memaki lulur, pasti akan dioleskan pada kulitnya, jadi lulur sifat di luar yang dapat disaksikan oleh setiap orang. Yang dapat dilihat ataupun disaksikan oleh orang lain adalah prilaku kita, karena prilakunyalah seseorang akan disebut baik ataupun buruk, seseorang akan dikatakan baik apabila dia selalu berbuat baik, begitu juga sebaliknya seseorang akan dikatakan buruk kalau di selalu berbuat hal-hal yang tidak baik. Boreh miyik sebagai lambang/nyasa perbuatan yang baik.
Minyak wangi. Minyak wangi/miyik-miyikan sebagai lambang/nyasa ketenangan jiwa atau pengendalian diri, minyak wangi biasanya diisi pada sebuah canang. Sebagai lambang/nyasa di dalam kita menata hidup dan kehidupan ini hendaknya dapat dijalankan dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang baik, saya umpamakan seperti air yang tenang, di dalam air yang kita akan dapat melihat jauh ke dalam air, sekecil apapun benda yang ada dalam air dengan gampang kita dapat melihatnya. Begitu juga dalam kita menjalani kehidupan ini, dengan ketenangan jiwa dan pengendalian diri yang mantap kita akan dapat menyelesaikan segala beban hidup ini.
Canang adalah pada dasarnya sebagai wujud dari perwakilan kita untuk menghadap kepada-Nya. Kalau kita dapat meresapi dan menghayati serta melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti apa yang terkandung dalam makna Canang sari di atas, pasti bhakti kita akan diterima oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dan kita dapat mengarungi kehidupan ini dengan damai sejahtera sekala niskala.
Karena ketaqwaan seseorang beragama bukanlah dinilai dari seringnya mereka sembahyang atau menghaturkan persembahan yang mewah-mewah, melainkan sejauh mana mereka dapat merealisasikan dalam bentuk prilakunya dalam bermasyarakat. Karena suatu ajaran Agama tidak hanya cukup untuk diresapi ataupun dihayati saja, melainkan harus dipraktekan dalam kehidupan nyata sehari-hari di dalam masyarakat.
======= "sampaikan kebenaran dengan cara menyenangkan jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan" =======
Katagori
Religion
Friday, March 6, 2009
Kawitan Wargasari

PANGAKSAMA
KAWITAN WARGASARI
PURWAKANING ANGRIPTA RUM,
NING WANA WUKIR
KAHADANG LABUH
KARTIKA PANEDENGING SARI
ANGAYOM TANGULI KETUR
ANGRINGRING JANGGA MURE
WARGASARI
IDA RATU SAKING LUHUR
KAULA NUNAS LUGRANE
MANGDA SAMPUN TITYANG TANDRUH
MENGAYAT BETARA MANGKIN
TITYANG NGATURANG PEJATI
CANANG SUCI LAN DAKSINA
SAMI SAMPUN PUPUT
PRETIKANING SAJI
ASEP MENYAN MAJAGAU
CENANA NUHUR DEWANE
MANGDA IDA GELIS RAWUH
MIJIL SAKING LUHURING LANGIT
SAMPUN MEDABDABAN SAMI
MARING GIRI MERU REKO
ANCANGAN SEDULUR
SAMI PADA NGIRING
OM KSAMA SWAMAM PUKULUN
SADOSA TRI KAYANE
MANUSA NIRA ATI JUGUL
PANGKAH MANGATURANG GURIT
RING PADA DWAYA SANG LUWIH
SADANANING WONG ANEDA
SIH IRA HYANG KASUHUN
MUGI SIDA MANGUN TREPTI
PANGAKSAMANE KALUHUR
MANUNAS WARA LUGRANE
MANAWI IWANG NE KATUR
AGUNG RENA MATUR SISIP
CANANGE ASEBIT SARI
ICA BETARA MANONTON
NODYA SAKING LUHUR
MAMUPUTANG SAMI
MEGATRUH
ATUR TITYANG PARA SISYA
LINTANG JUGUL
PANEMBAHE RING HYANG WIDI
TAN PAMANTRA TAN PASUGUH
BAKTI ANTUK MANAH ELING
ELING MARING RAGA BELOG
MUKYA WALYA IRA SRAYA
SEMBAH INGSUN
KSAMA YA TAN PANGESTI
ASUNG ASIH HYANG PUKULUN
MANUGRAHA MARING MAMI
MANGDA KASIDANING DON
ADRI
EGAR MANAH IRA NGESTI AYU
NGESTI BETARANE
KALIH IDA SANGHYANG WIDI
MUGI IDA ICA NERUS
BETEL KANGIN BETEL KAWUH
NGULAYANG KAWELAS HARSA
ANGESTIANG BRATA SADU
NGESTI IDA HYANG BETARA
NUNAS SARINING AMERTA
ASEP MENYAN MUANG KUKUS HARUM
IRINGAN PUJANE
DINULUR GANDANING SARI
TEJANING SANG HYANG TUMURUN
MANJING RING BUDI UMANGUN
MANYUSUP RING CITA MENGKE
MANINCAP RING RASA SAMPUN
WUS MALINGGA RING ADNYANA
JENEK NYENENG RING HREDAYA
MERDU KOMALA
ONG SEMBAH NING ANATHA
TINGGALANE DE TRI LOKA SARANA
WAHYA ^ DYATMIKA SEMBAHING HULUN
IJENG TA, TAN HANA WANEH
SANG LUIR AGNI SAKING TAHEN KADI MINYAK
SAKING DADI KITA
SANG SATSAT METU, YAN HANA WANG
AMUTER TUTUR, PINAHAYU
WYAPI WYAPAKA
SARINING PARAMA TATWA,
DURLABA KITA ICANTA ANA TAN HANA
GANALALIT, LAWAN ALA AYU
UTPATI-STITI LINANING DADI
KITA TA KARANA NIKA
SANG SANGKAN PARANING SARAT
SEKALA LAN NISKALA ATMAKA KITA
M I J I L
SAPITUDUH IDA SANGHYANG WIDI
AYU LAWAN KAWON
TATAK MANGDENE TANGGEN KAYUNE
WIREH IDA MAPAICA URIP
RING SANG MANUMADI
YOGYA IDA SEMBAH SUWUN
SIYANGDALU PATUTE ASTITI
TANGAN CAKUP KARO
SEKAR KUKUS HARUM PIRANTINE
MANGDA PAGEH ADNYANANE NGILIS
MENGARCANA WIDI
BAKTINE MANGDENE TUMUS
NULIS TUTUR DARMA SASTRA AJI
ANTENGE MEMAWOS
NGRANJING BAKTINE RING HYANG WIDI REKE
RING MERAJAN NGUDUD NYAMPAT APIK
MASI TANDA BAKTI
RING IDA HYANG MAHA AGUNG
T O T A K A
SASIWIMBA
HANENG GATA MESI BANYU
NDAN ASING SUCI NIRMALA MESI WULAN
IWA MANGKANA RAKWA
KITENG KADADIN
RING ANGAMBEKI YOGA
KITENG SEKALA
KATEMUNTA
MAREKA SITAN KATEMU
KAHIDEPTA MAREKA SITAN KAHIDEP
KAWENANGTA MAREKA
SITAN KAWENANG
PARAMARTA CIWATWA
NIRA WARANA
SWANDEWI
PRIHAN TEMEN DARMA
DUMERANANG SARAT
SARAGA SANG SADU
SIREKA TUTANA
TAN ARTA TAN KAMA
PIDONYA TAN YASA
YA SAKTI SANG SADNYANA
DARMA RAKSAKA
SAKAN IKANG RAT KITA
YANG WENANG MANUT
MANUPA DESA
PRIHATAN RUMAKSA YA
KSAYA NIKANG PAPA
NAHAN PRAYOJANA
JANA NURAGA DI
TWIN KAPANGGUHA
ADRI REREPEN
TEMBANG ADRI PENGASTAWA AYU
NGASTAWA IDA BETARA MANGKIN
NGASTITI IDA HYANG WIDI
DASA INDRYA SAMI KUMPUL
PANCA WISAYANE KUMPUL
MULIH MARING RASA SUKLA
RING PUTIH ATI MANERUS
BAYU SABDA IDEP SUKLA
MANGREGEP PRANAWA SUKLA
MECARU
WARGASARI
BUTA YADNYA BANTEN CARU
SAKSI PANGUNDANG BUTANE
SEGEHAN SATO BERUMBUN
TABUHAN SEREGEP SAMI
GELARANG MANTRA PEJATI
PANGLUKATAN WATEK BUTA
SAMI SAMPUN NYUKUH
MANUT BANTEN SIJI-SIJI
BUTA DENGEN SIDA MANTUK
MARING BUTA KALIKANE
BUTA KALIKA TUMURUN
LUKAT DENING DURGA DEWI
DURGA UMANE MENAMPI
PANGLUKATAN DURMANGGALA
ANTUK SANGHYANG GURU
SANGHYANG TUNGGAL PACANG NAMPI
NUHUR TIRTA
ADRI REREPEN
TIRTA UTAMA SAKTI MANERUS
PAICAIN KAULANE MANGKIN
NE SANDI MAPASUPATI
PANYUPATAN LARA AGUNG
SALWIRING LARA KASEPUH
HILANG MOKSA MARING SUNYA
LETUH HILANG ALA DUDUS
KATIBENIN ANTUK TIRTA
PAICAN IDA BETARA
A D R I
SINGGIH RATU SANG HYANG SINUHUN
KAULANE MANGKIN
NUNAS TIRTA MAHASUCI
TIRTA AMERTA KANG SINANGGUH
PANGURIP SARWA TUMUWUH
SANJIWANI YA ARANA
DASA MALA WUS KINANYUT
DADYA LUKAT TAN PEMALA
ATI SANTA PARISUDA
WARGASARI
TURUN TIRTA SAKING LUHUR
MANYIRATANG PEMANGKUNE
MEKALANGAN MUNCRAT MUMBUL
MAPAN TIRTA MERTA JATI
PAICAN BETARA SAMI
PANGLUKATAN DASA MALA
SAMI PADA LEBUR
MALANE RING BUMI
PAMUPUT
M I J I L
SAMPUN PUPUT MANGATURANG BAKTI
TANGAN CAKUP KARO
MENGATURANG SUKSEMANING
MADULURAN PARAMA SANTI
OM SANTI, SANTI, SANTI
PARIPURNA RAHAJENG IKU
LAIN-LAIN
BRAMARA
OM OM SEMBAH NING ANATA
DUMADAK JWA KA AKSI
MUNGGWING PANGEBAKTIAN TITYANG
DYASTUN TUNA LANGKUNG SAMI
PAKIRANG ARTA WIBAWA
NISTA SOLAH LAWAN WUWUS
MIWAH BANGET TUNA BUDI
KEWANTEN SREDANING MANAH
MIWAH KATLEBANING ATI
KALAWAN ELING TAN PEGAT
KEANGGEN MENYANGGRA MANYUWUN
SUWECAN IRATU SANG LUWIH
RARA KADIRI
RYANGKAT SRI NARAPATI
GUMURUH LAMPAHING BALA ANGIRING
LINTANG SAKING ALAKSA
SAMAYA LWIR GUNUNG
GONG GENDING AMBARUNG
RASA BELAH KENA MAHETALA
LAKUNING BALA ANGIRING
SAHA SANJATA PUNANG WONG
KAMA MALA
KADI HARSANING TARU LATA
ANGAYAM-AYAM LABUH KAPAT
SUKANING SAKENDRAN I DATENG NRPA SUTA
Katagori
Religion
The Gayatri Mantra

The vedic form of the famous Gayatri mantra:
Aum bhur-bhuvah-swah tat savitur varenyam
bhargo devasya dheemahi dhiyo yo nah Prachodayat.
Summary of the Mantra:
May we meditate on the Glory of the Lord, the Remover of pains and sorrows, the Bestower of happiness, Who has created the universe, and Who is the embodiment of knowledge and light. May the Lord, enlighten our intellect in the right direction by destroying all our sins and ignorance.
Meaning of each letter in mantra:
---------------------------------
OM = Almighty God
BHOOR = Embodiment of vital or spiritual energy
BHUVAHA = Destroyer of suffering
SWAHA = Embodiment of happiness
TAT = That (indicating God)
SAVITUR = Bright, luminous, like and sun
VARENIYAM = Supreme, best
BARGO = Destroyer of sins
DEVASYA = Divine
DHEEMAHI = May receive
DHIYO = Intellect
YO = Who
NAHA = Our
PRACHODAYAT = May inspire
---------------------------------
Gayatri is a Mantra(vedic hymn) which inspires righteous wisdom its meaning is that the Almighty God may illuminate our intellect which may lead us to righteous path. This is most important teaching. All the problems of a person are solved if he is endowed with the gift of righteous wisdom. Having endowed with far sighted wisdom, a man is neither entangled in calamity nor does he tread wrong path. Righteous wisdom stars emerging as soon as a methodical recitation of this Mantra is performed.
"May we meditate on the Glory of the Lord, the Remover of pains and sorrows, the Bestower of happiness, Who has created the universe, and Who is the embodiment of knowledge and light. May the Lord, enlighten our intellect in the right direction by destroying all our sins and ignorance."
The Gayatri Mantra is the form of eternal truth. It is the heart of all beings and the eternal Ved Mantra. Gayatri destroys the sins of the world. All the four Vedas have originated from this mantra:
This can be translated: Aum. Let us contemplate the spirit of the divine of the earth, the atmosphere and heaven. May that inspire our minds. Savitri is the Sun and this mantra is recited at the three junctions or twilight of the day. Here is described how the mantra Aum hums in the base or Muladhara chakra, and moves through seven stages to the chakra above the head Sahasrara.
Maha Vishnu describes Aum as consisting of the following. Bhur is existence, Bhuvah is the elements, Svah is the Atma of everything, Maha is greatness and light, Tat is Brahman (the absolute). Tapah is all knowledge, Satyam is supremacy and internal wisdom. This tantra connects the three letters of Aum to the seven worlds.
Tat, refers to the first cause of all substance, as fire in the circle of the sun and is supreme Brahman. Savituhu is the source of all living beings. Varenyam is the excellent one who receives adoration.
Bharga destroys sin. Devasya means it is full of light, while Dheemahi refers to knowledge being golden and always within the sun. Dhiyo means Buddhi. Yo stands for energy (tejas).
The mantra is divided into three sections of eight letters and four sections of six letters.
A dhyana (meditation) - Gayatri as having four faces, which are white, yellow, red and black. Yet the tantrik tradition has different views of the Gayatri. For example, in the Matrikabhedatantra, there is a couplet, which says a person who knows the Brahman (the absolute) is a Brahmin.
Gayatri is mother of Vedas. Sadhana of Gayatri mantra is the essence of all Vedas. Even God like Brahma mediates on and performs Jap of Gayatri at the time of twi-light.
Gayatri Jap performed daily for three years realizes God and like air, acquires the power of going where the person wants to go. Merely by offering water to the Sun and performing Jap of three thousand Gayatri mantra at the time of twilight, a person becomes adorable by God.
By Gayatri Sadhana the person may get salvation, wealth, victory in battle, and freedom from disease. A man may know all the four Vedas very well but all his labour goes waste if he does not know Gayatri mantra. A person who worships mantra other than Gayatri cannot get success even if he takes millions of birth.
Rishis, Saints say that there is no other mantra like Gayatri mantra in all the Vedas. Ved, yagya, dan (donation, charity), tap are not equivalent even to a small fraction of Gayatri mantra. Whether a man is pure or impure, he is sitting or walking, in whatever condition a wise man may be, he should perform Gayatri Jap. A man gets rid of all sins by this Jap. Nothing is greater than GAYATRI MANTRA in this as well as other loks for the success of daily work; fulfilment of desires and for development of tapas.
The following guidelines are provided for the Sadhaka:
In Bhavanopanishad, one witness within oneself the effulgent figure of Divine Mother with the different phases of the waxing and waning Moon.
The Devi is to be meditated upon as of a ruddy complexion, with eyes expansive, as an ocean overflowing with waves of grace, with noose, goad, arrows of flowers and a twig of sugar- cane in her hand, surrounded by Anima and other deities and ultimately as one´s own self.
1. Complete faith unflinching loyalty backed by a clear heart towards the deity is required for Sadhana.
2. Do not start Mantra Shakti under any pressure. Trust in God, kindness and patience should be the virtues of a Sadhaka.
3. Avoid harsh speech, lust, anger, restless thoughts, evil company and egoism. Do not get emotional. Mantras on hearsay should be avoided, as they must be authentic.
4. Sadhana done without any specific aim bears fruits early. In case you see any miracle, do not fear. Keep your WILL POWER strong and continue your Sadhana. All troubles will vanish.
5. Brahmacharya or celibacy should be observed during Sadhana. In case of failure, do not lose heart. Try it again and again and you will be crowned with success.
HOW MANTRAS ARE USEFUL:
One´s subconscious mind can help to find the solution through meditation and recitation of Mantras.
1.Purity of thoughts, words and deeds, sincerity and deep seated. Belief in repeating Mantras systematically and without any stress or strain on the brain or body is the keynotes for the efficacy of Mantras.
2. Concentrate and Meditate without having any desires in mind. The Mantra should be recited softly so as to be audible only to be person concerned and not to others. Mantras should be recited in a pleasing musical tone, which will help in concentration.
3.Continuous Sadhana will enable the Sadhaka to find solutions to the problems, attaining peace of mind, reducing mental strain.
4.The Sadhaka should have a light meal, hot and well cooked and in small quantity, as over eating leads to the excitement of the sensory organs which aggravate passions. Onions, Garlic and Meat have stimulating effects on the sensory organs and will do harm to the body than good. Intoxicates and smoking of any kind should be avoided. Lack of control in the diet is a great obstacle to progress. Small quantities of wholesome food purify the mind and a pure mind retains the memory of God.
AUM GRANTHI POWER MEANING
TAT TAPINI SUCCESS
SA SUCCESS BRAVERY (PARAKRAM)
VI VISHWA MAINTENANCE (PALAN)
TUR TUSHTI WELFARE (KALYAN)
VA VARDA MARYADA
RE YOG SELF RESTRAINT (SANYAM)
NI REVATI SFUTA
YAM LOVE (PREM) TAP
BHAR SOOKSHMA MEDHA
GO MONEY FOR SIGHT
DE GYANA YOGMAYA
VA BRILLIANCE (TEJ) JAGRITI (AWAKENING)
SYA BHARGA YOGINI
DHEE DEFENCE (RAKSHA) CREATION (PRODUCTION)
MA GOMATI DHARINI
HI INTELLECT (BUDDHI) SARASTA (SWEETNESS)
DHI DEVIKA PRABHAVA
YO SUPPRESSION (DAMAN) IDEAL
YO VARAHI OOSHMA
NAHA DEVOTION (NISTHA) COURAGE
PRA SINHANI DRASHYA
CHO DHARNA (POWER OF RETENTION) WISDOM (VIVEK)
DA DHYAN NIRANJAN
YAT PRAN SEWA (SERVICE)
GAIN SHARP INTELLECT:
The deity worshipped in the Gayatri Mantra is Savita or the Sun, hence the best day to do this ritual is Sunday. Through this Sadhana one can awaken all mental faculties and gain a sharp intellect and photographic memory. Even a child can be encouraged to try this practice for he can thus go on to excel in his studies and build an excellent career.
Early morning before sunrise have a bath and dress in yellow clothes. Fill a copper pot with water in it drop a few rice grain and flower petals. Face the morning sun. Raise the pot to the heart level and till it forward allowing the water to follow onto the ground gently. At the same time chant the Mantra seven times Udityam Jaatvedase Namah
RECOVER FROM ILLNESS-ALIMENT.
This ritual is a real boon for those afflicted by bad diseases. A family member of a friend can perform this ritual for the person. On a Saturday night after 9 p.m. Wear red clothes and sit on a red mat facing south. Make a wooden platform in front and cover with red cloth. On it place a steel plate with a handful of rice grains on it. On this plate place Moong grains. Offer red Vermilion; rice grains, red flowers, incense and Ghee lamp on it. Take the Red Hakeek Rosary and put it around the Ratna. Next with water in the right palm and any wish you have to free yourself of any aliments. Let the water drop on the plate before you. Then without any count chant the Gayatri Mantra continuously for about 1 hour. Add at the end of the Gayatri Mantra Ayeim Aum Hum Namah
GET ONES WISHES FULFILLED:
This Sadhana can be done on a Sunday or a Friday from 5 a.m. To 8 a.m. After a bath wear yellows clothes and sits on a yellow mat facing east. On a covered wooden seat make a mound of rice grains dyed yellow. On these place a coconut. Tie a mouli (sacred red thread) around it. Apply a mark of red tilak. On the right side place red rose petals place a Divya and a Shankh. Offer on it incense, Ghee lamp, flowers rice grains, vermilion. Take water in your right palm and pledge your wish. Next Stand on the mat and chant one mala with Cheitanya rosary of this Gayatri Mantra adding to the last part of this Mantra with Shreem Shreem Shreem Shreem Namah.
GAYATRI MANTRA FOR ALL PURPOSES:
Repetitions of the Gayatri Mantra for 125,000 times brings Siddhi. After the mantra has been done for the prescribed number of times, fire worship should be done with 12,000 ahutis of havan samagri with an offering of raw sugar, black sesame seeds (125gms) and ghee (250gms). After the Homa a small feast should be held for 12 girls of 8 years of age and one boy of 6 yrs old. The person after achieving this siddha of the mantra can use to heal physiological or psychological diseases, cure ill lucks and give victory over enemies.
FOR HEALING:
Before touching the patient or giving any medicine, repeat one mala of Gayatri. After completing the mala (108 beads), give the patient medicine for the disease. If the patient is not taking any medication one can give water from a clean copper, brass, bronze or silver pot. Shake the water and repeat the mantra only once before giving the water to the patient. This water will have miraculous effect.
CURE DISEASES:
The sick person should do the japa of Gayatri, after bathing, adding AING three times at the end of the mantra for disease related to aggravation of mucus and bile. Add HUNG three times at the end of the mantra for disease caused by aggravation of wind. The japa should be done 108 times in the early morning hours after bathing.
GOOD MEMORY AND MENTAL POWER:
The japa of Gayatri mantra should be done facing east before sunrise, after bathing. The forehead should remain wet. This is accompanied by applying a thick paste of sandal wood. Gayatri mantra should be recited repeating the sound AUM three times before the mantra. Japa should be done daily either 1, 3, 5, 7, 9 or 11 malas. After doing the mala rub both palms together while reciting the mantra, then rub both hands on the forehead touching the place of the third eyes with both ring fingers while the right hand rubs the right side and the left hand the left side of the forehead, reaching up to the temples. Then bring the hands to the head, then to the eyes, ears, nose, cheeks, back of the neck, front of the neck, in that order. This exercise should be done in a slow rhythm. All the breath (no inhaling or exhaling while touching the starting point, third eye) until the end ( the front of the neck).
FOR ATTAINING WEALTH:
At the end of the Gayatri mantra, repeat SHRING, the Lakshmi Bija, three times. 1 Mala (108 times) should be done everyday. All samagris used in worship should be yellow, and yellow food should be taken for the period japa is done. Use a yellow woolen rug, a mala of yellow haldi (tumeric root) beads, yellow pots, yellow flowers, and yellow prasad for offering. A pinch of saffron should be added in the kalash. The japa should be done in the early morning hours before sunrise.
DISPEL EVIL SPIRITS:
An agnihotra (homa) should be done, and 108 ahutis of ordinary havan samagri should be offered to the fire. After the havan is done, the whitish gray ashes should be collected from the fire place and rubbed on the hands, feet, face, head, stomach and back of the person. The Gayatri mantra should be recited during the rubbing of the ashes. The evil spirit will vanish after one rubbing of the ashes. These ashes should be kept in a bottle and maybe used whenever needed by the attendants of the patient. They can be used on any other patients as well. And one should put ashes in ones hand and recite Gayatri mantra 11 times and keep on reciting while rubbing.
SNAKES SCORPIAN BITES:
Ashes from sandal wood or peepal (Banyan wood), should be obtained after doing homa with 108 recitations of the Gayatri Mantra. The ashes should be collected in a blue bottle. One should observe the following method:
1. Check which nostril is working.
2. Keep ashes in the hand in the same side as the dominant nostril.
3. Recite Gayatri mantra, adding HUNG at the end, while meditating on Gayatri riding a horse. Recite the mantra 11 times.
4. Rub the ashes while chanting the mantra:
AUM BHUR BUVUH SWAHA TATSAVITRU VARENIYEM
BHARGO DEVESYA DHEEMAHI DIYO YO NA PRACHODAYAT HUNG.
5. Keep in another small bottle 10gms of mustard seeds made into paste. Recite the mantra 108 times while making the paste in a stone mortar. This paste should be made and stored like the ashes and used simultaneously or after rubbing the ashes. Take the paste when needed and apply it to the tips of all fingers, all toes, earlobes, navel, tip of the nose and forehead.
This chanting is considered to be especially GOOD on Fridays, on Navami, Chaturdasi, and Full Moon day-and during the nine days of Navaratri.
The Gayatri Mantra does not belong to any particular sect of worship or it is not restricted to any certain community. It is universal, for the whole world. It contains in it the culture not of any particular society, but the culture of humanity. The Gayatri Mantra is a treasure and heritage that belongs to the whole of humanity without exclusion.
Katagori
Religion
One Minute Meditation

OM NA MA SI VA YA
Baba Sri Siva Speaks:
“The most important mantra in the newsleters is OM NA MA SI VA YA. Even if you don't use any other techniques from the newsletter, do use this mantra. It will do a world of good beyond belief.
Om is God.
God is Om.
Om is the primordial sound from which everything emanated. Om is consciousness. Om is Life.
The domain of Om is incomprehensible to the human mind. Om is the realm of all possibilities. Om is Light. Om is Arul, the Divine Intelligence. When you have enough Grace, Om will manifest as Divine Light just in front of you and will envelope you. This Light of Om will dissolve your ignorance.
Different Enlightened Beings belonging to different religions have encountered the Om Light prior to their Enlightenment. The Om Light is Allah, Siva, Yaweh, the Tao, Nirvana, etc.
Practice Om in the following way. Om is formed of three sounds: Ah, Oo, Mm. Count the time with the fingers of the right hand. Each finger will bow down and contact the right thumb. Counting five fingers is five seconds, ten seconds is two rounds of counting.
At the level of human existence, Ah creates the waking state of human consciousness, Oo, the dream state, and Mm, the sleep state.
Meditate on Ah for 10 seconds at the root chakra. Keep repeating this sound mentally. This will attract all worldly things to you.
Meditate on Oo at the heart center for 10 seconds. This will give you Divine Intelligence and influence your dreaming.
Meditate on Mm at the throat chakra for 5 seconds. Mm will create awareness of maya (illusion). It will create earthly consciousness and provide rest to the system. We only sleep 1/3 our lives, so that is why Mm is for a shorter duration, so you do not become too sleepy.
Go the 3rd eye and chant Om for 10 seconds.
Remember the following over and over and over again:
One day, when you do this meditation or when you are praying, Om will flood the entire place. From that time onwards you will know that Om can get into you and totally change your human consciousness.
OM NAMA SIVAYA
Nama Sivaya has two units. Na Ma is to be chanted at the root chakra and the navel chakra respectively. Nama represents lower worldly realities like earth and water and the karmic and egocentric life. Sivaya is the second unit. It represents higher life. Si Va Ya has to be chanted at the heart, throat and 2 eyes respectively. Sivaya gives the awareness of the Divine existence which is the right of every human soul.
Na - root center, earth energy - 5 seconds
Ma - navel center, water energy - 5 seconds
Si (pronounced like the English word "She") - heart center, fire energy - 5 seconds
Va - throat and nostrils, wind/air energy - 5 seconds
Ya - 2 eyes, 2 brains, third eye, space energy - 5 seconds
The chanting of Om Nama Sivaya does the following. OM when practiced in the above manner cleans up consciousness. NA MA awakens the lower realities necessary for earthly existence. SI VA YA helps you to be grounded in awareness of the divine. One should chant Om Nama Sivaya with this full understanding. Total time for one round is one minute.
Doing Om Nama Sivaya 108 times a day will help you attain the highest material and spiritual good. It will help you to be in the right place at the right time doing the right thing. It harmonizes you with all the elemental energies.
There is much more I can teach about Om Nama Sivaya, but this is a starting point. If enough people work with this, I will be able to teach more.
This new century will be a very powerful time, and it is indeed the Age of Truth. You will certainly be elevated to a new reality. Use these tools and share them with others. Some of you may want to experiment with chanting OM NA MA SI VA YA in groups on a weekly basis.
This One Minute Meditation can be practiced in a variety of ways. If you desire, you can stay at different points for longer periods of time."
Katagori
Religion
Dewa Yadnya

Doa baru sampai di Candi Bentar : Om Dwara menge, Om Hyang Dewa, Bhuta masiha Prayojana, Angecetana ya namah swaha.Om Hyangning Hyang Triwikrama Dewa suka ya namah swaha
Doa Menaruh sesajen : Om tamolah Pancopakara guru paduka ya namah swaha.
Doa Menaruh toya anyar : Om pukulun paduka Bhatara, Hulun angaturaken toya, Aneda wangsuh tangan mvang wangsuh pada, Om Siwa Sadasiwa Paramasiwa ya namah swaha.
Doa Menaruh Dupa : Om Agnir – agnir Jyotir Dupam Samarpayami.
Katagori
Religion
Doa Khusus

Doa menghindar dari Malapetaka : Om Sarwa papawinasini, sarwa roga wimocane, sarwa klesa winasanam, sarwa bhogam awapnuyat. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia terimalah segala persembahan kami, musnahkan segala malapetaka, engkau bebaskan segala derita, engkau jauhkan segala penyakit, dan berikanlah kami sarana kehidupan.
Doa menghindar dari Malapetaka : Om Srikare sapa hut kare, roga dosa winasanam, siwa loghan mahayaste, mantra manah papa kelah Om Hyang Whidi , Paduka yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, yang menjiwai segala mantra, bebaskan hamba dari segala dosa dan derita, serta tuntunlah pikiran kami dari kenestapaan menuju kejalan yang benar.
Doa mendapatkan kebahagiaan : Om Ayuwrdhi labhate dhanam, wrdhi guna suci yajnya, sudha sila sudhajnanam, bhukti mukti phalam swargam. Om Hyang Whidi , semua keberuntungan, kekayaan, kepandaian adalah atas Yajna suci Paduka, semoga tingkah laku, pikiran dan kata kata hamba menjadi bersih serta menikmati pahala sorga.
Doa Para Pedagang : Om A visvani amrta saubhagani Om Hyang Whidi , Paduka yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, yang Maha pengasih, semoga Paduka menganugrahkan segala keberuntungan yang memberikan kebahagiaan.
Doa ucapan selamat Hari Ulang tahun : Om Dirgayur astu tad astu astu swaha. Om Hyang Whidi , semoga keberuntungan, kebahagiaan dan panjang umur atas karunia Paduka.
Doa memotong Hewan : Om Pasu Pasa ya wihmahe sira cedaye dimahi, tanno jiwah pracodayat. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia atas perkenan paduka hamba menyemblih hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.
Doa mengunjungi orang sakit : Om Sarwa wighna, sarwa klesa, sarwa lara roga winasa ya namah swaha. Om Hyang Whidi , semoga segala halangan , segala penyakit, segala penderitaan dan gangguan lenyep oleh paduka.
Doa pada saat menghembuskan napas terakhir : OM A, TA, SA, BA, A, I, NA, MA, SI, WA, SI, WA, YA, ANG, UNG, MANG.Om Murcyantu, Swargantu, Moksantu, Sunyantu, Ang ksama sampurna yanamah swadah. Om Hyang Whidi , Paduka yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, yang menjiwai segalanya semoga arwahnya mencapai sorga, menunggal dengan Paduka, mencapai keheningan tempat tanpa suka dan duka, ampunilah dia semoga sempurna atas kemaha kuasaan MU.
Doa mengheningkan cipta : Om Am Brahma prajapati srstwah, swayambu waradham guru, padmayoni catur waktra, brahma sakayamucyate. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia Hamba puja sebagai brahma dan prajapati pencipta alam semesta, Paduka ada dengan sendirinya, adalah guru sejati, lahir diatas tertai dengan empat wahyu saktimu.
Doa pembukaan Rapat-1 : Om Sam Gacchadwam sam wadadwam, sam wo manamsi jatanam, dewa bhagamyatha purwa, sam janana upasate. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia Hamba berkumpul ditempat ini, berbicara satu dengan yang lainuntuk menemukan kesatuan pikiran, sebagai hal nya para dewapada jaman dahulu bersatu
Doa pembukaan Rapat-2 : Om Sam Samani Wa Akutih, Samana Hridayani Wah, Samanamastu Wo Mano, yathawah susaha sati Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia tuntunlah agar hamba sama dalam tujuan, sama dalam hati, bersatu dalam pikiran, sehingga kami dapat hidupbersama dengan bahagia.
Doa pembukaan Rapat-3 : Om Ano Bhadrah kratawo yantu wiswatah. Om Hyang Whidi , semoga pikiran yang baik datang dari segara arah. ,
Doa Penutup Rapat-1 : Om Mantramhinam Kryahinam, bhaktihinam, yadpujitan mahadewa, paripurnam tad astume. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia Mantram hamba tidak sempurna, perbuatan hamba tiada sempurna, bhakti hamba tidak sempurna pula, karena itu hamba Mu, Oh Mahadewa yang Agung, semoga kami dikaruniai kesempurnaan.
Doa Penutup Rapat-2 : Om Ayuwrdhi yasowerdhi, wrdhi prajna sukhasriyam Dharma santanawrdhisca santute sapta wrdhayah. Om Hyang Whidi , anugrahkanlah hamba dengan tujuh kehormatan, hidup lama,nama harum, ilmu pengetahuan suci, kebahagiaan, kesejahteraan, kepercayaan,dan putra-putri yang utama.
Doa Penutup Rapat-3 : Om Dirghayur nirwighna sukha wrdhinugrahakam. Om Hyang Whidi , semoga sukses tanpa halangan dan memperoleh kebahagiaan atas anugerahmu.
Doa Penutup / perpisahan : Om sarve bhavantu sukinah Sarve santhu niramayah Sarva bhadrani pasyantu Ma karcid dukha bagbawed Om santih santih santih. Om Hyang Widi semoga semuanya memperoleh kebahagiaan, Semoga semuanya memperoleh kedamaian, Semoga semuanya memperoleh kebajikan & saling pengertian dan semoga semuanya terbabas dari penderitaan
Doa berangkat bertugas1 : Om Mrtyunjayasya Dewasya, yo namamyanukirtayet, Dirghayusyam awapnoti, sanggrama wijayibhawet. Om Hyang Whidi , Paduka yang dipuja sebagai penguasa alam semesta, menguasai kematian, semoga kami memperoleh umur panjang selalu menang dan sukses dalam menjalankan tugas.
Doa berangkat bertugas2 : Om Om Jaya jiwatsarira raksan dadasime Om Hyang Whidi , anugrahkanlah kejayaan dan lindungilah jiwa raga hamba.
Doa berangkat bertugas3 : Om sudha sudha sudha waryastu ya namah swaha. Omawighnamastu ya namah swaha Om Hyang Whidi , yang maha suci anugrahkanlah kesucian itu pada hamba. Semoga atas karunia Mu tidak ada halangan.
Doa menolak Bahaya : Om Om Asta Maha Bhaya Ya, Om Sarwa dewa, sarwa senjata, sarwa warna ya namah. Om Atma Raksaya, sarwa satru winasa ya namah swaha. Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, penakluk segala macam bahaya dari segala penjuru,hamba . memujamu dalam wujud sinar suci dengan beraneka warnadan senjata sakti, Om Hyang Widhi lindungilah jiwa kami, semoga semua musuh binasa ataskehendak Mu.
Doa Kembali dari Tugas1 : Om Dirghayur Balawrdhi Sakti Karanam, Mrtyunjaya Saswatam, rogadi Ksaya kusta Dusta kalusam, Chandra Prabha Bhaswaram. Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, maha mulia membuat kehidupan kami, berumur panjang mengruniai tenaga, kekuatan dan kesejahteraan, Paduka adalah pemenang kematian dan abadi. Paduka bagaikan sinar rembulan yang penuh kasih menjauhi hamba dari penyakit dan dosa.
Doa Kembali dari Tugas2 : Om Dirghayur Nirwighna Sukha Wrdhi Nugrahakam. Om Santhi Santh Santhi Om. Om Hyang Whidi , semoga iada rintangan bagi kami dalam menegakan Dharma, semoga paduka limpahkan panjang umur kepada hamba.
Doa Ziarah : Om Parama Siwa Tangguhyam Siwa tattwa parayanah Siwasya pranato nityam Candhisasyo namah stute.Om Ksamantu, swargantu, Moksantu, murciantu namah swadah.Om Santhi Santh Santhi Om. Om Hyang Whidi, Paduka yang hamba puja sebagai Parama siwa yang maha gaib, yang merupakan pelebur dan kembalinya segala sesuatu, akhir dan kembalinya seluruh mahluk dan isi alam semesta ini..Om Hyang Whidi, Ampuni dan limpahkanlah kesempurnaan arwah para pahlawan kami. Semoga damai, damai, damai atas karunia Paduka
Doa Renungan Suci1 : Om Am Brahma Prajapati, Sristwah, swayambu Waradam Guru, Padmoyoni Catur Waktra, Brahma sakayamucyate. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia Hamba puja sebagai brahma dan prajapati pencipta alam semesta, Paduka ada dengan sendirinya, adalah guru sejati, lahir diatas tertai dengan empat wahyu saktimu, Paduka pembebas semua perbuatan
Doa Renungan Suci2 : Swargantu Pitaro Dewa Swargantu Pitaro Maha Swargantu Pitara Sarwaye Namah swadah Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, maha mulia Maha pengasih dan penyayang, semoga semua arwah dan roh suci mencapai sorga.
Doa Renungan Suci3 : Moksantu Pitaro Dewa Moksantu Pitaro Maha Moksantu Pitara Sarvaya Namah swadah Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, maha mulia Maha pengasih dan penyayang, semoga semua arwah dan roh suci mencapai moksa.
Doa Renungan Suci4 : Sunyantu Pitaro Dewa Sunyantu Pitaro Maha Sunyantu Pitara Sarvaya Namah swadah Om Santhi Santh Santhi Om. Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, maha mulia Maha pengasih dan penyayang, semoga semua arwah dan roh suci mencapai keheningan tempat tanpa suka dan duka. Semoga damai, damai, damai atas karunia Paduka
Doa Keselamatan Penganten : Om Iha Iwa Stam ma wi yaustam, wiswam ayur wyasnutam, kridantau putrair naptrbhih, modamnau swe grhe Om Hyang Whidi , Yang Maha Kuasa, maha mulia Maha pengasih dan penyayang, anugrahkanlah pasangan penganten ini kebahagiaan, tiada terpisahkan, panjang umur, semoga penganten ini dianugrahkan suputra.
Doa Menanti Kelahiran : Om Bhratsumnah prasavita nivasano Jagatah sthaturubhasya yovasi.Sano devah savita sarma yacchatvasme Ksayaya trivarutham amhasah Om Hyang Whidi, Yang Maha Kuasa, maha mulia Maha pengasih, serta pemberi kehidupan pada alam dan menegakkannya. Semoga Savitar memberikan rahmatnya kepada kami untuk ketentraman hidup Dengan kemampuan untuk menghindari kekuatan jahat.
Doa saat bayi Lahir : Om bhur bhvah svah Tat savitur varenyam Bhargo devasya dhimahi Dhiyo yo nah pracodayat
Katagori
Religion
Doa Umum

Doa bangun tidur : Om Jagrasca prabhata kalasca ya namah swaha Om Hyang Whidi , Kami memujamu karena kami telah bangun pagi dalam keadaan selamat, Semoga Hari ini bermaanfaat bagi kami
Doa mencuci muka : Om Cam Camani Ya namah Swaha, Om Om Parisudha ya namah swaha Om Hyang Whidi , Kami memujamu semoga muka hamba menjadi bersih dan suci
Doa membersihkan gigi : Om sri Dewi yogini Bhatarisma ya namah, Om Ang Waktra parisudha ya namah swaha Om Hyang Whidi , Hamba sujud kepadamu semoga gigi hamba menjadi bersih dan suci semoga mulut hamba menjadi bersih dan suci
Doa membersihkan mulut : Om Um Phat astraya namah Om Hyang Whidi , Paduka adalah sumber kehidupan abadi dan suci, semoga mulut hamba menjadi bersih dan suci
Doa waktu Mandi : Om Gangga Amrta Sodha mam swaha, Om sarira parisudha mam swaha. Om Hyang Whidi , Paduka adalah sumber kehidupan abadi dan suci, semoga diri hamba menjadi bersih dan suci
Doa memakai pakaian : Om tham mahadewa ya namah swaha, Om busana sarirabhyo parisudhamam swaha Om Hyang Whidi , Kami memujamu sebagai Mahadewa yang agung, pada saat hamba mengenakan pakaian, semoga diri hamba menjadi rapi, bersih dan suci
Doa Memakai kampuh : Om Um Wisnu Sadasiwaya namah Om Hyang Whidi , Kami memujamu sebagai Dewa Wisnu yang agung, pada saat hamba mengenakan kampuh, semoga menjadi suci.
Doa Memakai Jaket : Om Hrung Kawaca ya namah swaha Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia semoga saat hamba mengenakan kawaca ini hamba bersih dan suci terlepas dari mala petaka.
Doa sebelum makan : Om Ang Kang Kasolkaya isana ya namah Swasti swasti sarwa bhuta suka predana purusa sang yoga ya namah Om Hyang Whidi , Paduka bergelar Isana hamba persembahkan seluruh makanan ini Semoga semua mahluk bahagia.
Doa sebelum makan Lanjutan : Om sarwa bhuta suka prtebhyah swaha Om Hyang Whidi , hamba berikan sebagian makanan kepada bhuta agar ia bahagia
Doa mulai makan : Om Anugraha amrtadi sanjiwani ya namah swaha Om Hyang Whidi , anugrahkanlah hamba makanan ini menjadipenghidupan yang suci lahir bhatin
Doa selesai makan : Om Dirghayur astu, Awighnam astu, Subham astu, Om Sriyam bhawantu, Sukham Bhawantu, Purnam bhawantu, kesama sampurana ya namah swaha.Om santhi Santhi Santhi Om Om Hyang Whidi , Kami memujamu semoga makanan yang telah kami makan memberikan kekuatan, keselamatan, panjang umur dan tak ada halanagan. Demikian pula agar hamba mendapat kebahagiaan, kesukaan dan kesempurnaan
Doa Sapaan : Om Swasty astu Om Hyang Whidi , Kami memujamu semoga semuanya ada dalam keadaan selamat.
Doa perpisahan : Om Santhi Santhi Santhi Om Om Hyang Whidi , Kami memujamu semoga semuanya ada dalam keadaan damai.
Doa mulai kegiatan : Om Awignam Astu namo sidham Om sidhirastu tad astu astu swaha Om Hyang Whidi , Kami memujamu semoga atas perkenan Paduka tiada halangan bagi hamba untuk memulai pekerjaan, dan semoga sukses
Doa selesai kegiatan : Om Dewa suksma param acintya ya namah swaha, sarwa karya prasidhantam Om santhi Santhi santhi Om Om Hyang Whidi , Paduka dalam wujud Parama acintya yang maha gaib dan maha karya, atas racmat paduka pekerjaan ini sukses, semoga damai selalu.
Doa sebelum tidur : Om Asato ma sat gamaya tamaso ma jyotir gamaya mrityor mamritam gamaya. Om Hyang Whidi , tuntunlah kami dari jalan sesat ke jalan yang benar, dari gelap ke yang terang, hjauhkan kami dari kematian dan tuntun kami menuju kehidupan sejati
Doa Memohon inspirasi : Om pra no dewi Srasvaty, Vajebir vajinivati Dhinam avinyavantu Om Hyang Whidi paduka dipuja sebagi Dewi Saraswaty yang Maha Agung, Paduka yang merupakan sumber ilmu pengetahuan, Semoga Paduka memelihara kecerdasan kami.
Doa memohon kebajikan : Om Vissani deva savitar, Duritani para suva, Yad bhadram tanna a suva. Om Hyang Whidi, Paduka dipuja sebagi Savitri, Lindungilah kami dari segala kejahatan, Anugrahkanlah segala kebajikan, Yang bermanfaat bagi kami.
Doa mohon perlindungan : Om Trayam bhakam ya jamahe, sughandim pusthi wardhanam, urwaru kham iwa bhandhanat, mrtyor mukhsya mamrtat. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha mulia penyebar keharuman, kami memujamu, jauhkan kami dari keraguan ini. Bebaskan kami dari belenggu dosa, bagaikan mentimun terlepas dari tangkainya, sehingga kami dapat bersatu dengan Mu.
Doa menghilangkan rasa takut : Om Om jaya jiwat sarira, Raksan dadasime. Om Mjum Sah waosat mrtyun jaya namah swaha. Om Hyang Whidi , Paduka yang maha jaya, yang mengatasi segala kematian, kami memujamu, lindungilah kami dari marabahaya.
Katagori
Religion
Subscribe to:
Posts (Atom)
Katagori
- Article (79)
- Asuransi PSN (2)
- Events (4)
- Pengumuman (17)
- Profile (10)
- Program (2)
- Pustaka-Pustaka (23)
- Religion (11)
- Sarati Banten (1)
- Tirtha Yatra (2)
- Umum (7)
