Thursday, May 20, 2010

Hindu Dalam Wacana Bali Sentris-Non-Bali Sentris

Oleh: Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija Warsa Nawa Sandhi


KEINGINAN mengadakan reformasi di segala bidang akhir-akhir ini menimbulkan wacana yang berkembang, antara lain tentang Hindu Bali sentris yang ditolak oleh beberapa kalangan, baik yang tinggal dan berasal dari Bali maupun yang di luar Bali. Hal ini sebaiknya dikaji lebih dalam agar reformasi dilaksanakan dengan tepat dan berdampak positif bagi umat Hindu di Tanah Air.

Sebagaimana ditulis dalam buku Pengantar Agama Hindu untuk perguruan tinggi (Cudamani, 1990) ada tujuh Maha Rsi yang menerima wahyu Weda di India sekitar 2500 tahun sebelum masehi yaitu Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista, dan Kanwa. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka, sehingga lama-kelamaan terbentuklah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan.

Sekte-sekte terbanyak pengikutnya antara lain: Pasupata, Linggayat Bhagawata, Waisnawa, Indra, Saura, dan Siwa Sidhanta.

Sekte Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya di daerah Madyapradesh (India Tengah) kemudian menyebar ke Indonesia.

Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekte ini yang berasal dari Pasraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja, dan Trinawindu. Yang populer di Bali adalah nama Trinawindu atau Bhatara Guru, disebut-sebut dalam lontar kuno seperti Eka Pratama.

Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekte Siwa yang lain.

Sidhanta artinya ''kesimpulan'', sehingga Siwa Sidhanta artinya kesimpulan dari Siwaisme. Kenapa dibuat kesimpulan ajaran Siwa? Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas. Diibaratkan seperti memperkenalkan gajah kepada orang buta. Jika yang diraba kakinya, maka orang buta mengatakan gajah itu bentuknya seperti pohon kelapa, bila yang diraba belalainya mereka mengatakan gajah itu seperti ular besar.

Metode pengenalan yang tepat adalah membuat patung gajah kecil yang bisa diraba agar si buta dapat memahami anatomi gajah keseluruhan.

Bagi penganut Siwa Sidhanta kitab suci Weda pun dipelajari yang pokok-pokok/intinya saja. Resume Weda itu dinamakan Weda Sirah (sirah artinya kepala atau pokok-pokok). Lontar yang sangat populer bagi penganut Siwa Sidhanta di Bali antara lain Wrhaspati Tattwa. Pemantapan paham Siwa Sidhanta di Bali dilakukan oleh dua tokoh terkemuka yaitu Mpu Kuturan dan Mpu/Danghyang Nirartha.

Penerima Wahyu Weda

Di India Wahyu Hyang Widhi diterima oleh Sapta Rsi dan dituangkan dalam susunan sistematis oleh Bhagawan Abyasa dalam bentuk Catur Weda.

Pangawi dan ahli Weda I Gusti Bagus Sugriwa (alm) dalam bukunya ''Dwijendra Tattwa'' (Upada Sastra, 1991) menyiratkan bahwa, di Bali wahyu Hyang Widhi diterima setidak-tidaknya oleh Enam Maha Rsi.

Wahyu-wahyu itu memantapkan pemahaman Siwa Sidhanta meliputi tiga kerangka Agama Hindu yaitu tatwa, susila dan upacara.

Wahyu-wahyu tersebut berupa pemikiran-pemikiran cemerlang dan wangsit yang diterima oleh orang-orang suci di Bali sekitar abad ke delapan sampai ke empat belas. Para Rsi penerima wahyu Weda adalah :

Pertama, Danghyang Markandeya.
Pada abad ke-8 mendapat wahyu di Gunung Di Hyang (sekarang Dieng, Jawa Tengah) bahwa bangunan palinggih di Tolangkir (sekarang Besakih) harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur-unsur emas, perak, tembaga, besi dan permata mirah.

Setelah menetap di Taro, Tegallalang, Gianyar, Danghyang Markandeya memantapkan ajaran Siwa Sidhanta kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual surya sewana, bebali (banten), dan pacaruan. Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali maka ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggalnya dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa Sidanta menurut petunjuk-petunjuk Danghyang Markandeya yang menggunakan bebali atau banten.

Selain Besakih Danghyang Markandeya juga membangun Pura-pura Sad Kahyangan lainnya yaitu, Batur, Sukawana, Batukaru, Andakasa, dan Lempuyang. Juga didapat wahyu ketika Hyang Widhi berwujud sebagai sinar terang gemerlap yang menyerupai sinar matahari dan bulan. Oleh karena itu Danghyang Markandeya menetapkan bahwa warna merah sebagai simbol matahari dan warna putih sebagai simbol bulan digunakan dalam hiasan di Pura antara lain berupa ider-ider, lelontek, dan lain-lain.

Pada masa ini pula diperkenalkan hari Tumpek Kandang untuk memohon keselamatan kepada Hyang Widhi, digelari Rare Angon yang menciptakan darah dan hati. Tumpek Pengatag untuk menghormati Hyang Widhi, digelari Sanghyang Tumuwuh yang menciptakan getah.

Kedua, Mpu Sangkulputih.
Setelah Danghyang Markandeya moksah, Mpu Sangkulputih meneruskan dan melengkapi ritual bebali antara lain dengan membuat variasi dan dekorasi yang menarik untuk berbagai jenis banten dengan menambahkan unsur-unsur tumbuhan lainnya seperti daun sirih, daun pisang, daun janur, buah-buahan : pisang, kelapa, dan biji-bijian : beras, ketan hitam (injin), kacang komak.

Bentuk banten yang diciptakan antara lain canang sari, canang tubungan, canang raka, daksina, peras, panyeneng, tehenan, segehan, lis, nasi panca warna, dan beberapa unsur lainnya. Banten dibuat menarik dan indah untuk menggugah rasa bakti kepada Hyang Widhi agar timbul getaran-getaran spiritual.

Di samping itu Mpu Sangkulputih mendidik para pengikutnya menjadi sulinggih dengan gelar Dukuh, Prawayah, dan Kabayan. Mpu Sangkulputih juga pelopor pembuatan arca/ pralingga dan patung-patung Dewa yang dibuat dari bahan batu, kayu, atau logam sebagai alat konsentrasi dalam pemujaan Hyang Widhi.

Diperkenalkan pula tata cara pelaksanaan peringatan hari piodalan di Pura Besakih dan Pura-pura lainnya, ritual hari-hari raya seperti Galungan, Kuningan, Pagerwesi, Nyepi, dan lain-lain.

Jabatan resmi Mpu Sangkulputih adalah sulinggih yang bertanggungjawab di Pura Besakih dan Pura-pura lainnya yang telah didirikan oleh Danghyang Markandeya.

Ketiga, Mpu Kuturan.
Pada abad ke-11 datanglah ke Bali seorang Brahmana dari Majapahit yang berperan sangat besar dalam kemajuan agama Hindu di Bali. Mpu Kuturan mempunyai pemikiran-pemikiran cemerlang untuk mengajak umat Hindu di Bali mengembangkan konsep Tri Murti dalam wujud simbol palinggih Kemulan Rong Tiga di tiap perumahan, Pura Kahyangan Tiga di tiap Desa Adat, dan pembangunan Pura-pura Kiduling Kreteg (Brahma), Batumadeg (Wisnu) dan Gelap (Siwa), serta Padma Tiga, di Besakih. Paham Tri Murti adalah pemujaan manifestasi Hyang Widhi dalam posisi horisontal (pangider-ider).

Keempat, Mpu Manik Angkeran.
Setelah Mpu Sangkulputih moksah, tugas-tugasnya diganti oleh Mpu Manik Angkeran, seorang brahmana dari Majapahit, putra Danghyang Siddhimantra. Pemberian tugas ini dimaksudkan Mpu Manik Angkeran tidak kembali ke Jawa dan untuk melindungi Bali dari pengaruh luar, maka tanah genting yang menghubungkan Jawa dan Bali diputus dengan memakai kekuatan batin Danghyang Sidhimantra. Tanah genting yang putus itu kemudian disebut segara rupek.

Kelima, Mpu Jiwaya
Beliau ini yang menyebarkan Agama Budha Mahayana aliran Tantri terutama kepada kaum bangsawan di zaman Dinasti Warmadewa (abad ke-9). Sisa-sisa ajaran itu kini dijumpai dalam bentuk kepercayaan kekuatan mistik yang berkaitan dengan keangkeran dan pamasupati untuk kesaktian senjata-senjata alat perang, topeng, barong, dan lain-lain.

Keenam, Danghyang Dwijendra.
Datang ke Bali pada abad ke-14 ketika Kerajaan Bali Dwipa dipimpin oleh Dalem Waturenggong.
Danghyang Dwijendra mendapat wahyu di Purancak, Jembrana bahwa di Bali perlu dikembangkan paham Tri Purusa yakni pemujaan Hyang Widhi dalam manifestasi-Nya sebagai Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa. Bentuk bangunan pemujaannya adalah Padmasari atau Padmasana.

Jika konsep Tri Murti dari Mpu Kuturan adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan horisontal, maka konsep Tri Purusa adalah pemujaan Hyang Widhi dalam kedudukan vertikal.

Danghyang Dwijendra mempunyai bhiseka lain, Mpu/Danghyang Nirarta, dan dijuluki Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Karena mempunyai kemampuan supra natural yang membuat Dalem Waturenggong sangat kagum Danghyang Dwijendra diangkat menjadi Bhagawanta (pendeta kerajaan).

Ketika itu Bali Dwipa mencapai zaman keemasan, karena semua bidang kehidupan rakyat ditata dengan baik. Hak dan kewajiban para bangsawan diatur, hukum dan peradilan adat/agama ditegakkan, prasasti-prasasti yang memuat silsilah leluhur tiap-tiap soroh/klen disusun. Awig-awig desa adat pakraman dibuat, organisasi subak ditumbuh kembangkan dan kegiatan keagamaan ditingkatkan.

Selain itu pada masa ini juga didorong penciptaan karya-karya sastra yang bermutu tinggi dalam bentuk tulisan lontar kidung atau kakawin. Karya sastra yang terkenal antara lain, Sebun Bangkung, Sarakusuma, Legarang, Mahisa Langit, Dharma Pitutur, Wilet Demung Sawit, Gagutuk Menur, Brati Sesana, Siwa Sesana, Aji Pangukiran, dan lain-lain.

Danghyang Dwijendra juga aktif mengunjungi rakyat di berbagai pedesaan untuk memberikan dharma wacana. Saksi sejarah kegiatan ini adalah didirikannya Pura-pura untuk memujanya di tempat beliau pernah bermukim membimbing umat. Tempat-tempat tersebut misalnya, Purancak, Rambut Siwi, Pakendungan, Uluwatu, Bukit Gong, Bukit Payung, Sakenan, Air Jeruk, Tugu, Tengkulak, Gowa Lawah, Ponjok Batu, Suranadi (Lombok), Pangajengan, Masceti, Peti Tenget, Amertasari, Melanting, Pulaki, Bukcabe, Dalem Gandamayu, Pucak Tedung, dan lain-lain.

Suksma.

4 comments:

  1. Sejarah masa silam ingtlah !!! ,berapa puluh ribu cobaan yang menerpa untuk bangsa dan Negara kita dan berapakah nyawa yang hilang sia-sia dalam kita merebut kemerdekaan yang sekarang ini kita rasakan hambar,kenapa hambar karena jutaan rakyat negeri ini masih menderita kemiskinan dan kemelaratan mahligai zaman penjajahan dahulu.Terjajah oleh bangsanya sendiri dan tertindas oleh petinggi bangsa ini,pahamilah bahwa kesemuanya ini adalah proses bangsa negara kita dalam menuju kedewasaan akan gerbang kemahajayaan abadi.
    http://poerwonjoto.wordpress.com

    ReplyDelete
  2. Bali is the best place to have your vacation and bonding with your friends and relatives especially if you visit the place and feel the bali accommodation there.

    ReplyDelete
  3. Aku baru aja bikin situs jejaring sosial khusus umat hindu,yowanabali.com
    silahkan coba

    ReplyDelete
  4. Ijin artikelnya saya share di sini
    http://www.yowanabali.com/thread-184.html

    ReplyDelete