Tuesday, July 27, 2010

"Realisasi PANGRUWATING DIYU" dan Sejarah ” CUPU MANIK ASTAGINA ” (Bagian Akhir)

Disarikan kembali oleh : Pinandita Astono Chandra Dana

Tapa – nya ; Subali, Sugriwa Dan Retna Anjani

Kekuatan kasih yang yang tinggi dari resi Gotama, kepada putera-puterinya berat untuk dipisahkan di dalam tugas. Yang tadinya cintanya terpaut, terampas oleh isterinya, Dewi Windradi. Anak-anak hanyalah mendapat cinta yang sifatnya ”sisa” dari cinta kepada isterinya. Cinta kepada anak, lahir dari aliran sungai kecil dari sebuah samudera. Cinta sang ayah adalah bagian terkecil, karena cinta yang suci kepada anak anaknya yang seharusnya hadir sebelum anak-anaknya lahir itu, terbius oleh cinta segalanya kepada isterinya sendiri.

Namun saat itu sang Resi merasakan bahwa kehadiran cinta kepada anaknya, yang cukup lama terbius oleh kebesaran cinta kepada isterinya, muncul perasaan cinta yang suci kepada anak-anaknya dan tambah memuncak saat dirinya menyadari, betapa selama ini dirinya kurang memperhatikan anak-anaknya.

Ternyata asmara, ”jagad asmara”, mengeruhkan jagad cinta seorang ayah kepada anak-anaknya yang dilahirkan. Seandainya jagad cinta sang ayah memenuhi permukaan bathin seorang anak, sukar memindahkan cinta baru, cinta asmara baru kepada wanita lain. Karena kebeningan cinta seorang ayah kepada anak yang sesungguhnya itu, menghalangi sikap keangkuhan lelaki dalam melangkah di alam dunia ini, dalam mengisi alam dunia ini.

Kebeningan cinta sang Resi kepada anaknya, menggugat jiwa dan fikirannya, betapa dirinya akrab dengan harkat kelaki-lakiannya. Dan terlalu akrab dengan cinta egonya, kepada isterinya. Saat itu pula sang Resi merasa berdosa yang sangat, kepada putera puterinya.

Maka dirangkullah putera-puterinya, Subali, Sugriwa dan Retna Anjani.

”Anak-anakku, maafkanlah dosa ayahmu ini, yang telah lama menyimpan kebeningan cinta yang seharusnya ada, telah kuselipkan di ’gunung kemurkaan’ aku sebagai laki-laki, wahai anakku! Cinta yang bening kepadamu kusembunyikan di sela nafas kelaki-lakianku, di sela nafas syahwatku. Tak mungkin engkau kehilangan kebeningan cinta yang ada dalam dadaku, tak mungkin sirna, kalau aku tak mengejar-ngejar syahwat selama seabad. Karena itu anak-anakku, maafkanlah ayahmu”, kata resi Gotama.

”Ayahku, apapun dosa yang dirasakan, kesalahan yang dipanggul oleh punggung jiwamu, itu adalah bukan hak kami untuk menilai”, jawab Retna Anjani,
”Itu adalah hak engkau dengan jatidirimu dan dengan segala alam yang telah membesarkan kami semua.”
”Namun demikian, kami sebagai anak-anakmu, tak mampu mengelak untuk tidak memaafkan engkau, ayahku. Kami tidak akan mempersembahkan maaf kepadamu, tapi kami akan berikrar kepada Hyang Widhi, Hing Murbeng Agung. Bahwa engkau adalah ayah yang baik bagi kami semua. Engkau adalah ayah yang sempurna dan berharkat tinggi, telah membesarkan kami semuanya. Kami bersaksi, atas segala kebaikan yang telah engkau berikan kepada kami. Semoga alam pun bersaksi atas kebaikan engkau, wahai ayahku tercinta.”

”Ayahanda, tak mungkin kami menerima keluh kesah tentang dosa masa lalu, tentang keresahan kebeningan cinta yang tak mampu engkau ungkapkan, engkau ekspresikan kepada kami”, Subali menyambung kata-kata adiknya,
”Karena kami terlahir dari betapa cintanya engkau kepada ibuku. Tanpa cinta kepada ibuku, tak mungkin kami terlahir ke dunia ini. Dan biarlah, wahai ayahku, cintamu kepada ibu kami, sebagai pembelian kembali beningnya cinta engkau, untuk kami, dan menghantar ayahanda untuk melangkah ke Nirwana yang dituntun oleh para dewa. Tinggalkanlah kami wahai ayahanda, menuju keagungan singgasana maaf yang diberikan kepada ibu.”

Betapa sang ayah terharu mendengar kebesaran jiwa anak anaknya. Padahal sebelumnya, anaknya bertanya, ”Mengapa kami berwajah kera? Bertubuh monyet?”

Sang resi telah memberi kebanggaan nurani, bahwa rendah diri adalah kekuatan untuk mengalahkan keangkuhan dunia ini. Namun kali itu, anak-anaknya membutuhkan dirinya tentang ungkapan sebuah hati yang rendah diri. Dari buruk rupa dan jelek tubuh sang kera. Dan sang ayah merasa, kemanusiaan dirinya yang gagah, yang mampu bertapa, sakti mandraguna, merasa menjadi ”lelanang jagad.” Sirna sesaat oleh ungkapan kesucian, keikhlasan bathin anak-anaknya.

Manakala anak-anaknya selesai mengikrarkan itu semua, saat itu pula sang resi, moksa. Ilmunya kembali, tapanya satu abad hanya untuk meminta bidadari kepada Hyang Widhi, terhapus oleh rasa maaf yang sangat kepada isterinya. Dan dimaafkan oleh putera-puterinya. Kembali kepada jati diri yang paling bening dari jiwanya. Kembali kepada jati diri yang paling suci dalam hatinya. Maka beliau moksa pergi ke Suralaya.
Suralaya adalah puncak kebahagiaan, berbatasan dengan nirwana. Puncak yang diraih oleh Sastra Jendra dari Wisrawa dan isterinya. Suralaya adalah tempat surgawi yang sudah terisi energi ke-Widhi-an, tapi masih terhalang oleh pintu ”Sela Manangkep.”

Tatkala resi Gotama ke angkasa sambil menangis, tetes airmatanya membasahi ketiga putera-puterinya. Maka lenyaplah sang ayah dari pandang mata kepala putera-puterinya. Akhirnya masing-masing melaksanakan tapanya, sebagaimana di amanatkan sang ayah.

Subali menuju gunung Sunyapringga, melaksanakan ”tapa ngalong.”

Sugriwa ke hutannya Sunyapringga, melaksanakan ”tapa ngidang.”

Retna Anjani di telaga Nirmala, melaksanakan ”tapa nyantuka.”

SUBALI
Subali, dalam kesunyian tanpa cinta ibunda dan tanpa cinta sang ayah. Keheningan gunung Sunyapringga, menambah mencekamnya kerinduan cinta yang ditinggalkan oleh kedua orangtuanya.
”Wahai gunung, siapakah yang mengisi kekosongan cinta ini?”
”Aku sendiri hening dari kekayaan cinta kepada diriku sendiri, jangankan aku mencintai diri sendiri, aku ini pun terkoyakkan oleh cinta orangtua kami, wahai gunung Sunyapringga. Sempurnakanlah kesunyian kami, sempurnakanlah kekosongan cinta kami. Supaya kami, masuk ke alam rahasia, supaya kami masuk ke alam yang oleh dunia dirahasiakan. Ke alam yang oleh hutan dirahasiakan, ke alam yang oleh tumbuh-tumbuhan dirahasiakan. Wahai gunung, gunakanlah kesepian kami sesepi-sepinya, supaya kami melupakan diriku sendiri. Janganlah engkau biarkan tubuh kami, jiwa kami, dan fikiran kami, terpenjarakan oleh kesepian yang kepalang tanggung. Kesepian yang sempurna mampu membebaskan diriku dari rasa memiliki tubuh dan jiwa ini.”

Demikianlah Subali dalam ”tapa ngalong-nya”, kaki ke atas berpegangan pada dahan pohon dan kepala! Menghadap ke bumi.

Di puncak kesepian Subali yang paling pekat, sang daging seperti meninggalkan dirinya, bukan daging yang ditinggalkan oleh dirinya. Satu-persatu, tangannya meninggalkan dirinya, daging di perutnya, tulang di kakinya, satu-persatu organ tubuh meninggalkan dirinya, yang tersisa adalah jantung dan hati, yang terasa masih ada.

”Mengapa jantung dan hati tidak mau pamit dariku? Bukankah karena engkau, aku merasa memiliki tubuh ini? Bukankah karena engkau, aku merasa memiliki denyut daging dan getar syaraf? Bukankah karena engkau, wahai hati, aku dapat memandang dengan mataku pesona dunia ini? Cepatlah engkau berjalan! Tinggalkan aku.”

Hati dan jantung menjawab :
”Bukan aku tak mau berpamitan kepadamu, namun katakanlah, bahwa aku pernah hadir dalam dirimu, dalam memperkenalkan dunia ini dengan isinya. Tanpaku, engkau tak mengerti arti duniawi, tanpa kami, engkau tak mampu bercengkerama dengan dunia. Izinkanlah kami pamit dan isilah jejak kami oleh dirimu. Dan suatu saat kami akan datang lagi mengisi tempat ini.”

Maka jantung dan hati pamitan tanpa kesedihan dan kegembiraan. Subali pun melepas organ tubuhnya yang terakhir.

Manakala hati dan jantung meninggalkan dirinya. Saat itu pula seluruh pohon-pohon di hutan Sunyapringga berbicara menyampaikan rahasia dirinya. Menyampaikan rahasia dirinya. Menyampaikan rahasia alam ini dan menyampaikan rahasia para dewa.
Hingga setiap pohon bercerita, aku ditakdirkan berbuah sampai sekian. Berapa yang gugur, berapa yang matang dan berapa yang dimakan ulat. Kami ditakdirkan berdaun sekian, dari pucuk pertama dan daun terakhir yang gugur.

Dan hewan-hewan pun, bercerita tentang kerahasiaan dirinya secara sempurna.

Maka telinga-telinga dari bathinnya, mendengar semua suara yang ada di dunia ini. Penglihatan mata bathinnya, tembus membelah samudera, masuk ke langit. Subali mulai masuk ke alam kebahagiaan bertemankan rahasia-rahasia. Dikatakan rahasia, karena terhalang oleh daging. Namun saat itu bukan rahasia lagi. Ternyata di balik daging, ada keindahan yang lebih sempurna, dari syahwat itu sendiri, dari indera itu sendiri, dari fikiran itu sendiri.

Subali menuju alam pertapaan yang sangat ramai. Sendiri dalam kesepian tetapi ramai dalam kehidupan. Subali dalam ”tapa ngalong-nya” menyaksikan kehidupan dunia. Setiap manusia terlihat takdimya. Tingkah laku, gerak tubuh yang menghasilkan problematik hidup setiap individu manusia, jelas di saksikan. Persoalan umat pun dilihatnya secara sempurna.

Maka pengetahuan-pengetahuan, ilmu, bukan datang dari pelajaran-pelajaran yang didapatkan dari ayahandanya. Semua memberikan pelajaran, semuanya yang dilihat memberikan pengertian. Dunia bukan lagi sekedar benda. Dunia adalah kalam Widhi yang bergerak-gerak. Dunia adalah ungkapan wahyu Hyang Widhi yang bercerita. Sabda-Nya mengalir tanpa perantara. Sabda yang bukan melalui malaikat, tapi sabda yang berasal dari isyarat alam, sebagai perwakilan-perwakilan sang Maha Kuasa.

SUGRIWA
Sugriwa di dalam ”tapa ngidang-nya”, tak seperti Subali. Kalau Subali, dalam ”tapa ngalong-nya”, ditinggalkan oleh seluruh organ tubuhnya. Maka yang dialami Sugriwa adalah organ tubuhnya tetap dirasakan utuh, tapi dirinya ditinggalkan oleh fikirannya.

Yang pertama kali meninggalkan dirinya adalah illusinya, ”Selamat tinggal wahai diriku”, kata ilusi,
”Aku akan mengangkasa dan akan kembali ke alamku sendiri, di awang-awang jagad raya, di mega-mega yang tak bersisi. Karena kami bercerita tanpa ada awal dan akhir, karena kami mengungkap masalah tanpa judul. Dan engkau mengenal aku, karena rekayasa perasaamu sendiri. Yang sesungguhnya, aku tidak ada. Aku adalah embun yang kembali kepada embun. Aku adalah asap yang kembali kepada awan. Aku tidak memiliki judul, kalaupun berjudul, bukan aku yang membuat. Tapi engkau yang membuat judul atas angan-anganmu tentang kehidupan ini.”

”Selamat jalan daya khayalku. Engkau terlalu kucintai, dan engkau jangan terlalu jauh melayang-layang di angkasa. Tanpa engkau, aku tidak mampu memahami dunia ini. Tanpa engkau, aku akan terpenjara oleh kenyataan hidup. Tapi engkau membebaskan diriku dari keterpenjaraan kehidupan yang sesungguhnya. Engkau adalah memberikan kemerdekaan semantara kepadaku”, demikian Sugriwa.

Perpisahan ini adalah tangisan, walau daya khayal dari illusi, tetapi tetap ditangisi, dan perpisahan ini terasa menyakitkan.

”Tanpamu, aku kehilangan diriku sendiri. Karena aku dikatakan sebagai manusia karena dirimu, yang telah hadir dalam diriku sebelum aku dilahirkan di muka bumi ini.”
Maka setelah kepergian daya cipta illusi, daya lamun, berpamitan pada logika. Logika berkata tentang atas dan bawah, sisi dan ujung, jumlah, matematika, sebab akibat, analisa-analisa, kesimpulan-kesimpulan, penjelasan mengapa begini, mengapa begitu, mengapa demikian.

”Selamat tinggal wahai Sugriwa. Aku matematika harus berpisah dari fikiranmu. Engkau sering resah karena perhitungan-perhitungan dariku. Engkau sering bergulana, karena aku menari dalam hitungan jumlah, dan engkau sakit oleh kekurangan-kekurangan. Dan engkaupun sering gembira manakala aku menambah. Engkau dipenjarakan olehku, dari sebuah sebab akibat. Yang paling menggoda kekhawatiran adalah aku, Sugriwa. Namun ingatlah aku, kenanglah aku! Tanpa aku, engkau tidak akan dapat mengerti, mengapa engkau harus mengejar-ngejar Cupu Manik Hayuningrat, karena aku, engkau dipicu dalam usaha dan ikhtiar.”

”Selamat jalan, wahai sebab akibat, suatu saat aku merindukanmu.”

”Ya! Aku akan datang manakala sang dewa telah mensucikan engkau. Dan akupun akan datang dengan sebab akibat dan matematika, jumlah dan kurang. Namun aku akan berbakti kepada ’kesucian’ engkau, yang telah disucikan dalam pertapaan yang panjang.”

”Berilah aku keleluasaan untuk mencari rahasia-rahasia alam, untuk mencari rahasia-rahasia mega-mega mengangkasa. Supaya manakala aku kembali, bila engkau mengenal aku 3+2=5, tapi 3+2 adalah 5+x+n+n, aku adalah kaya. Kalau pun aku matematik, tapi mampu membelah rahasia gaib, kalau engkau menambah kesucian dirimu. Karena aku harus diperkosa oleh kesucian dirimu. Bukan aku yang memperkosa dirimu, wahai Sugriwa”, demikian kata logika.

Yang terakhir pamit adalah fikirannya :
”Aku pamit Sugriwa. Telah lama aku bercokol dalam ruang-ruang fikiranmu. Aku adalah rencana yang panjang dari dirimu. Penggalan- penggalan kamar yang telah kau isi dari rencana kerja itu adalah aku. Biarlah aku kembali kepada pusat perencanaan Yang Maha Sempurna, Sang Pencipta Rencana itu sendiri, Hyang Agung Mahesa. Hing Murbeng Mahesa, adalah tempat aku kembali karena di sana ada rencana Yang Maha Sempurna. Aku adalah bayangan-bayangan kecil dari rencana-Nya. Aku adalah wayang dari rencana, dan engkau mau menggapai rencana dalam bayangan dirimu sendiri. Aku mengucapkan salam kepada dirimu. Dan aku pun, terima kembali suatu saat, manakala engkau telah membuat ’Istana kesucian’ di dalam fikiranmu. Fikiranmu adalah rukh, fikiranmu adalah sayap-sayap yang ku isi. Tanpa rukh, aku tak mampu hadir dalam sayap rukh. Kau kembali kepada jati yang tersuci dari rukhmu sendiri. Hewan tanpa rukh, aku pun tak mampu hadir di alam mereka.”

Maka menangislah Sugriwa dalam tapanya. Betapa kesepian panjang tanpa perhitungan, tanpa rencana, tanpa obsesi. Obsesi adalah kenakalan alam fikiran, gejolak alam fikiran akibat rencana yang diperhitungkan secara rinci dan sangat matematis. Sangat berfungsi dalam matematik dan pengetahuan alam.

Maka keheningan mengiringi Sugriwa, dan di puncak kesepiannya Sugriwa melihat perhitungan lain. Sugriwa mengetahui jauhnya bumi dengan bulan, mengetahui berapa banyak energi matahari yang selama ini telah mengalir ke bumi, berapa usia dunia ini dengan matematika yang tanpa batas logika. Bulan pun bercerita telah berapa kali mengelilingi bumi ini dan mengelilingi matahari. Matahari pun bercerita berapa jumlah energi panas yang disimpan dalam tubuhnya. Oksigen dan hidrogen menari-nari, memberikan informasi tentang eksis dirinya.

Maka rahasia jumlah dari hari dan tahun yang telah terlalui oleh alam ini, dari berapa jumlah yang akan lahir dari tahun dan bulan, diketahuinya dalam jumlah. Rencana pun teraba, kapan kiamat, kapan gunung hancur, kapan planet bertemu planet, meteor dengan meteor, komet dengan komet. Dan berapa jumlah planet yang ada di cakrawala ini, diketahui dengan pasti dan sistematis. Karena rukh, ternyata sumber logika yang paling murni. Yang terpandai dari otak. Otak ternyata jagad terkecil dari transfer fikiran, kepandaian rukh itu sendiri.

Sugriwa dalam tapa ngidangnya, menemukan rahasia jumlah dan perencanaan, mengetahui sebab dan akibat, awal dan akhir dari sesuatu proses.

Subali mata bathinnya bertambah tajam dalam dialog dengan alam dan sifatnya.

Sugriwa kepandaian rukhnya, menghitung dan membuat rencana dari sisi jumlah dan dimensi.

Subali adalah makna sifat yang dimensional dari fisik alam ini.

Sugriwa adalah dimensi jumlah dari fisik sifat alam ini.

Tapa ini ”wajib” bagi makhluk di muka bumi. Karena adalah tanggung jawab kepercayaan Hyang Widhi kepada manusia. Manusia sebagai perawat dunia dengan bermodalkan dua faktor tersebut di atas. Tanpa modal dua faktor ini, adalah tinja yang ada di bumi, kotoran yang menodai bumi ini.

Sabda Batara Narada dari Nirwana :
”Cucuku, Subali dan Sugriwa. Engkau pantas merawat dunia, engkau pantas mencintai bumi ini, pantas sebagai penghuni yang syah dari alam yang Tuhan telah ciptakan. Engkau adalah jagad, dimana dunia akan bersekutu dengan jagad dirimu. Bukan engkau yang bersekutu dengan bumi. Tapi bumi kembali bersekutu ke dalam jagad rukh dan jiwamu. Karena Hing Murbeng Agung, Sang Hyang Wenang, tak mungkin memberikan kepercayaan kepada penghuni yang namanya manusia, kalau tidak lebih mulia dari alam dan isinya.”

RETNA ANJANI
Retna Anjani, tapa nyantuka, seperti kodok yang berendam di air Sumala. Air kehidupan yang sudah keruh. Retna Anjani dalam kesunyian.

Kesunyian hatinya, kesunyian jiwanya, tambah mencekam dengan dinginnya telaga Sumala. Malam hari bertemankan kodok-kodok yang bernyanyi, menambah kerinduan dan keharuan kepada bundanya. Gigil tubuh Retna Anjani dan dinginnya air keruh Sumala, menghantar dirinya pada puncak kesempurnaan dari kesepiannya. Retna Anjani, tidak seperti Subali dan Sugriwa, yang diperlihatkan seluruh rahasia alam ini. Di puncak kesempurnaan kesepiannya, Retna Anjani :
- fisiknya tidak lagi memberikan perasaan,
- fikirannya tidak lagi memberikan pengertian, namun
- jiwanya sebagai wanita yang feminim, yang lembut, yang penuh kebijaksanaan, terbuka.
- jagad kesucian seorang wanita, pintunya terbuka.

Retna Anjani, masuk ke jagad cinta yang tertinggi. Dan dijemput oleh sebentuk cinta.
”Selamat datang Ratu Retna Anjani, aku adalah kerinduanmu. Tanpa aku, engkau tidak akan merindukan sesuatu, tidak akan merindukan apapun. Mengapa aku ada dalam jagad dirimu? Mengapa aku bertemu dengan dirimu? Padahal aku sering, aku tak pernah memperkenalkan diri kepada penghuni bumi yang namanya wanita. Karena aku tersembunyi, bisa di rasakan tak mungkin di raba. Bisa dihayati tak mmgkin di fikirkan. Karena aku, tersembunyi dalam emosi. Kalau pun aku datang memperkenalkan diri, membentuk diriku sendiri di hadapanmu, karena engkau telah masuk, mengalami terpaksa, hadir di dalam Cupu Manik Hayuningrat. Hayuningrat menyebabkan ketersem-bunyian aku di dalam emosimu sebagai wanita, tak kuasa tidak menjelmakan diri di hadapanmu.”

Hayuningrat :
- mampu menjelmakan sesuatu nilai-nilai menjadi nyata,
- sesuatu perasaan menjadi benda,
- sesuatu khayal menjadi teraba.

”Dan kerinduan yang engkau rasakan, karena aku adalah kerinduan kepada kesejukan kasih sayang ibu. Dan semua manusia merasakan kesejukan kasih sayang ibu, dan kenyataan perlindungan ayah. Dan untukmu wanita, merindukan perlindungan ksatria seorang lelaki. ltu adalah aku, kerinduan.”

”Selamat berjumpa wahai kerinduan, maafkan aku. Karena seusai tragedi aku menjadi kera, kerinduan apapun tak pernah hadir lagi dari jiwaku. Kalaupun kau ada dan memperkenalkan diri kepadaku, akupun terpaksa mengucapkan selamat datang, wahai kerinduan. Wahai kerinduan, ajaklah aku kepada misteri yang ada dalam jagad cinta. Jagad cinta wanita yang ada dalam jiwaku.”

Maka kerinduan, memperkenalkan perasaan lain, datanglah rasa nyaman, rasa terlindungi.
”Siapakah engkau?”, kata Retna Anjani.

”Aku adalah rasa tenteram karena kenyamanan, rasa aman karena perlindungan.”

”Siapa dirimu?”

”Aku adalah Hawa. Karena aku, terlahir generasi manusia. Karena aku manusia mewariskan cinta kepada keturunannya. Tanpa aku, manusia akan meninggalkan keturunannya. Aku adalah ’hawa kasih sayang’ yang tersembunyi dalam rasa aman, yang diam di dalam kerinduan. Dan aku sebenarnya cahaya dari perlindungan Hyang Widhi. Kerinduan kepada orang tua, kepada anak, kepada kekasih itu pun anak-anak yang dariku, Hawa. Dan aku adalah percik cahaya dari rasa aman yang datang dari Sang Hyang Widhi, kepada makhluk-Nya”, demikian sang kerinduan memperkenalkan dirinya.
Dan kerinduan tidak akan berfungsi. Kerinduan akan mati, manakala kerinduan hanya sampai kepada suami, hanya sampai kepada isteri, manusia. Hanya sampai kepada anak-anak dan kekasih. Kerinduan yang terhenti, adalah memotong cinta yang panjang dari makhluk kepada Penciptanya.

”Wahai ratu, jangan engkau terhenti di belokan cinta, terhenti di tikungan cinta. Karena engkau akan diperbudak oleh kerinduan itu sendiri. Kerinduan seperti itu meresahkan dan menyiksa, karena kerinduan belum usai, belum pulang kembali kepada sumbernya, Sang Hyang Widhi. Maka jadikanlah aku, Hawa, sebagai jembatan cahaya yang panjang. Supaya engkau melaju, mengalir menuju sumber Cinta. Bawalah cinta engkau kepada orangtuamu bersama aku, kembalikan dengan cahayaku kepada sumbemya. Bawalah cinta asmaramu kepada ksatria, idamanmu, memakai perahu cahaya yang mengalir di samudera yang panjang. Menuju pulau-pulau Sumber Cahaya Cinta Sang Hyang Murbeng Asih. Jangan engkau biarkan, dirimu dalam cinta, tenggelam dalam samudera cinta yang terseok-seok di bawah samudera asmara. Namun asmara akan menjadi lebih indah, manakala aku mengisinya dengan cahaya yang panjang sebagai jembatan cinta kepada sumbernya, Hing Murbeng Asih, Tuhan Yang Maha Esa.”

”Wahai Hawa”, kata Retna Anjani, ”Adakah dibalik engkau yang aku ingin kenal padanya?”

”Ada, di belakangku adalah dirimu yang sejati. Diri sejati yang merindukanmu yang ingin memberikan cinta kasih kepada semua yang ada. Tidak saja ksatria yang engkau berikan cinta, tidak saja ayah ibumu yang engkau berikan cinta. Tapi alam raya dan isinya, menunggu dengan sangat, dari abad ke abad, berjuta tahun, alam raya dan isinya, menunggu belaian kasih sayang dari jati dirimu sebagai wanita.”

Manakala Hawa tersibak, tampaklah di belakangnya. Dimana Retna Anjani rasanya seperti mengaca di kaca yang besar, segalanya persis. Persis wajah, sama persis tubuhnya. Sebagaimana Retna Anjani sendiri.

”Ucapkanlah salam kepada dirimu sendiri. ltu bukan bayangan, itu adalah dirimu yang sesungguhnya, wahai Retna Anjani”, kata Hawa.

Retna Anjani membanding-banding dirinya, dengan tubuh yang ada di depannya. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, ternyata ada bedanya. ”Mengapa payudara yang di depanku bersinar terang?”

”Oh Retna Anjani”, kata Hawa, ”Cahaya itu adalah warisan dari cinta sebening kaca, cinta yang sempurna, yang telah disimpan oleh Bundamu yang telah melahirkanmu. Dan engkau pun akan mewariskan cahaya itu, memberikan kehidupan kepada anak-anak manusia. Beribu bayi bergantung kepada cahaya dari payudara, karena kesaktian alam berkumpul dalam cahaya itu. Memberikan vitamin dan kesegeran (air susu), kepada setiap bayi yang dilahirkan. Dan engkau telah menghisap kesaktian ibumu sendiri dengan keikhlasan yang sempurna. Cinta ibumu, membuat iri semua dewi di Kahyangan. Karena mereka tak memiliki cahaya dari payudara. Yang mereka miliki adalah keagungan nilai dari payudara, yang tidak bisa memberikan susu kepada bayi-bayi. Kalau pun bidadari diturunkan ke dunia, matilah setiap bayi, karena tak mampu memberikan susu. Berbahagialah engkau, wahai Retna Anjani, sebagai manusia yang berharkat bidadari.”

”Bisakah aku bertemu ibuku di payudara yang bercahaya?”

”Bisa, wahai Retna Anjani, mengapa tak kau panggil kalau rindu pada ibu?”

”Karena aku tak mampu, tak sempat mengungkapkan maaf dan terima kasih.
Bahwa aku telah dilahirkan, pernah dikandung dan telah dibesarkan. Tragedi Cupu Manik Hayuningrat, menyebabkan aku tak sempat mengungkapkan terimakasih dan sujudku kepada bundaku.”

”Wahai ratu, panggillah bundamu”, kata Hawa.

Maka dipanggil bundanya. Susu yang bening dan bercahaya itu, seperti alam yang di dalamnya ada bundanya. Dewi Windradi tersenyum.

”Peluklah aku, anakku.”

Maka dengan tangisan yang menjerit, dipeluknya ibunya. Namun yang ada hanya bayangan sinar saja. Ternyata Retna Anjani meninggalkan tubuhnya sendiri, kembali kepada dirinya yang sejati.

Retna Anjani berjalan dan berjalan semakin jauh, di jagat dirinya yang sungguhnya. Maka sampailah kembali kepada dirinya yang sedang bertapa.

Ternyata perjalanan Retna Anjani di dalam jagad dirinya yang sesungguhnya, terlihat sebagai cahaya yang gemilang. Maka cahaya gilang gemilang ini adalah cahaya yang mengeluarkan kasih sayang, cahaya yang menebarkan serta merangsang kerinduan semua alam yang menebarkan rasa kasihan yang tinggi. Rasa kasihan yang tinggi ini, sampai ke Marcapada, menembus perbatasan Sela Manangkep, Suralaya dan terus sampai ke Kahyangan.

Para dewa gempar! Cahaya apa ini?

Dan sebagaimana biasa, Batara Narada berdialog dengan adiknya, Batara Guru.
”Dinda Batara Guru, engkau mengerti apa dan bagaimana cahaya ini. Sepertinya cahaya ini bukan milik nirwana, datang dari luar nirwana. Tapi mengapa memberikan benderang yang lebih gemilang dari cahaya yang ada di nirwana?”

”Aku pun tak melihat cahaya ini datang dari puncak nirwana.”

”Wahai Dindaku, ikutilah cahaya itu, darimana datangnya.”

Batara Guru mengikuti cahaya itu yang ternyata sampai ke bumi, yang kemudian sampailah kepada sumbemya, Retna Anjani. Maka terharulah Batara Guru. Cinta yang sempurna yang ada dalam bathin Batara Guru, hampir dikalahkan oleh pesona cinta yang datang dari Retna Anjani.

Proses kembalinya suatu cinta kepada sumbernya.

”Retna Anjani”, sabda Batara Guru, ”Keangkuhanku yang menyebabkan lelaki di lahirkan, goyah dan hampir kalah oleh cahaya yang datang dari dirimu. Kukatakan, engkau kucintai dan engkau kumiliki.”

Batara Guru, muncul kecintaan yang mendalam, melampaui keindahan nirwana.

Dan bersabda Batara Guru :
”Terimalah cintaku ini, cahaya yang sebenarnya belum saatnya ada di bumi. Namun cahaya yang keluar dari dirimu ’mempercepat proses’ untuk segera cahaya ini hadir di muka bumi ini. Dan terimalah bagian dari diriku ini, dan berubah ujud menjadi ’ron jati malela’, daun jati malela.”

Retna Anjani, dalam ”tapa Nyantuka-nya”, memakan makanan apa saja yang mendekati dirinya. Buah yang mengambang, daun yang mengambang. Dan minumnya adalah uap-uap udara, embun pagi. Ron jati malela mengambang, dan masuk ke dalam mulutnya.

Begitu di telan oleh Retna Anjani, dirinya merasakan keindahan yang mempesona. Sebagaimana yang dirasakan oleh Dewi Sukesih sewaktu melayang-layang di puncak kenikmatan cinta dan puncak kebahagiaan di perbatasan kahyangan. Cinta, kerinduan, kerinduan yang tadi memperkenalkan diri, menemukan siapa yang dirindukan.

”Izinkanlah wahai Batara Guru, ternyata engkau kurindukan. Bayanganmu telah lama hadir dalam jiwa ini. Saat aku kecil, bayanganmu seringkali hadir di telaga hatiku. Dan engkau menjadi kenyataan di telaga Sumala ini.”

Sabda Batara Guru :
”Engkau akan mengandung anak kita. Anak kita, bukan lahir dari syahwat. Diukir bukan dari cinta kerinduan, bukan dari ’hawa’, bukan cinta dari jatidirimu sendiri. Tapi perpaduan Hayuningrat yang sudah engkau sucikan di Sumala, bersekutu dengan cahaya yang kubawa dari kahyangan.”

”Telaga Sumala, telaga kehidupan yang kotor, yang cemar. Kini suci kembali, kesucian yang datang dari dirimu dan yang datang dari cahaya permata surgawi. Maka anak kita, menjelma dari kekuatan keduanya.”

Tatkala sang bayi lahir, Batara Guru datang lagi dari nirwana, menaiki Lembu Andhini. Begitu Lembu Andhini melihat Retna Anjani dan bayinya, Lembu Andhini lari kembali ke nirwana, dan mendobrak Sela Menangkep!

Batara Guru terkejut!
”Wahai Andhini. Engkau kurang ajar! Mengapa tanpa izinku engkau kembali ke nirwana? dan engkau menghancurkan Sela Menangkep!”

Maka terdengarlah sabda Batara Narada :
”Dindaku, Andhini adalah kesempurnaan cinta yang tidak pernah berkata-kata, biarlah aku mewakili Andini. Tahukah engkau? Andhini merasa, bahwa Retna Anjani secepatnya dibawa sebagai penghuni nirwana. Dan Andhini kecewa, dan berontak. Mengapa anak sesuci dan seagung itu harus lahir sebagai kera. Andhini tak mampu membendung kemarahan, dari kenyataan seperti ini, kekaguman yang sangat kepada pribadi sang bayi, dikecewakan oleh wajah kera.”

Batara Guru memahami itu semua, dan menghampiri Retna Anjani.
”Isteriku, penghuni nirwana, termasuk tungganganku Lembu Andhini, merindukan kehadiranmu. Karena penderitaamu sudah pindah pada bayimu. Anakmu akan menanggung semua deritamu dalam pertapaan yang panjang. Engkau usailah! Bangunlah wahai isteriku dari tapamu yang panjang. Dosa-dosamu, karena ambisi memiliki Cupu Manik Hayuningrat. Di bawa oleh anakmu, karena dia mampu menghabiskan dan menghilangkan semua dosa.”

”Wahai isteriku, setiap anak yang lahir membawa dosa orang-tuanya dan mampu membuangnya. Namun, karena anak kebanyakan lahir dari dosa, bagaimana bisa membuangnya? Anakmu lahir dari kesucian hatimu, mampu membawa, membuang dan sekaligus melenyapkan dosa, tanpa bekas.”

”Manusia, sekali berdosa, maka dosa itu akan dibawa oleh mereka yang mencinta. Sekali berdosa, maka akan disebarkan oleh yang kau cinta. Sekali berdosa akan diturunkan kepada anak-cucumu. Maka dosa pun bertambah panjang. Hanya Hayuningrat yang mampu mengakhiri.”

”Anak kita, bayimu Hanoman. Mampu melenyapkan dosa turunan, dosa yang dibawa oleh yang dicintainya. Pangruwating Diyu, tak mampu mengakhiri dosa. Hanya memperkecil dosa. Demikianlah wahai isteriku”, sabda Batara Guru.

”Hanoman, anak kita itu. Berilah nama sesuatu yang agung, hatinya seagung gunung yang bening. Kesucian hatinya melampaui, keagungan gunung yang agung. Berilah nama Giri Suci. Keikhlasannya sebening air Sumala, air keruh yang menjadi sebening air surgawi.”

”Ia memiliki kewibawaan. Wibawa dalam jiwanya mampu mengalahkan kewibawaan samudera.

Katakanlah namanya, Jaladri Prawat.”

”Budinya lebih terang dari semua mentari, lebih cemerlang dari semua cahaya cakrawala. Tutur katanya, selembut cahaya yang tak terlihat. Berilah sebuah nama, Surya Sasangka.”

”Rasa juangnya sangat tinggi, tak pernah menyerah kalah, tak mau menyerah, tak mau mengakui akan segala penderitaannya. Penderitaan adalah pengakuan. Anak kita tak pernah mengakui akan rasa kekalahan. Sekali menentukan sikap, seperti angin prahara yang tak mampu dibendung oleh apapun juga. Sebutlah Anita Tanu.”

”Dan apabila saatnya tiba, anak kita harus kembali kepada alam, bergaul dengan penghuni hutan ini. Engkau harus kembali kepada kesempurnaan Hayuningrat, yang sudah menunggu di kahyangan.”


Para pembaca yang budiman demikianlah kisah cerita mengenai Realisasi dari Pangruwating Diyu serta Sejarah Cupu Manik ASTAGINA, yang kami sarikan kembali dari beberapa sumber dan kami sajikan menjadi rangkaian ceritera bersambung.

Semoga kita semua mampu menangkap intisari dan hakikat dari Ajaran Adiluhung SASTRA JENDRA HAYUNINGRAT, serta mampu mengimplementasikannya dalam setiap langkah kehidupan kita. Om Awighnamastu dumogi bermanfaat.


Ksamaswamam,

Astono Chandra Dana

No comments:

Post a Comment