Wednesday, July 7, 2010

"Realisasi PANGRUWATING DIYU" dan Sejarah ” CUPU MANIK ASTAGINA ” (Bagian 5)

Disarikan kembali oleh : Pinandita Astono Chandra Dana


Dan manakala sang Dewi menerima Cupu Manik Hayuningrat.
Batara Surya berkata :
”Wahai Dindaku menikahlah engkau dengan seorang lelaki di bumi. Engkau pun, akan punya anak tiga. Menikahlah dengan seorang lelaki Lelanang Jagad, Mandra Guna, Ksatria yang sakti, yang kini sedang bertapa. Namanya Resi Gotama. Engkau menikahlah dengan ksatria tersebut. Hiduplah sebagaimana seorang isteri, sebagaimana wanita yang dicintai oleh suami.

Dan manakala suamimu meminta tubuhmu, berikanlah. Manakala benih suamimu hadir dalam rahimmu, terimalah sebagai anakmu yang akan lahir di muka bumi. Namun aku minta, anakmu yang akan hadir di perutmu, isilah dengan Hayuningrat.

Suamimu Resi Gotama, biarkanlah, lepaskanlah dari Hayuningrat, karena sang Resi bertapa bukan mencari nilai. Sudah seratus tahun ksatria ini bertapa mohon pada sang Dewa agar diutus seorang isteri, bidadari dari Kahyangan. Maka hadirlah sebagai bidadari dari Kahyangan. Jangan berikan Hayuningrat pada suamimu karena sang Resi khusuk, berdoa, mohon pada sang Hyang Widhi, dalam tapa seratus tahun, untuk kepentingan syahwatnya, akan kerinduan kecantikan wanita surga.

Tugasmu hanya satu, ruwatlah suamimu! ’angruwating Diyu’, keangkuhan lelakinya, dalam bertapa ruwatlah oleh engkau, wahai Dindaku”, demikian Batara Surya.

Sang Dewi pun berpamitan pada suaminya, Batara Surya, kepada para dewa yang berada di Nirwana. Turun dengan segala keindahan kecantikan. Seluruh kecantikan wanita yang dilahirkan di bumi, cahayanya di ambil alih ke dalam wajah rupawan dan keagungan dari Dewi Windradi ini.

Hari terakhir dari seratus tahun tapanya Resi Gotama. Pada hari jum’at jam l6.00, sore hari, terdengarlah sabda dari Batara Narada :

”Anakku Resi Gotama, tapamu di terima oleh kami. Terimalah persembahan kami, ini, telah datang dari Nirwana, Dewi Windradi.”

Selama seratus tahun, satu abad! Sang Resi tak pernah membuka matanya, namun saat itu, manakala matanya dibuka. Bersimpuhlah seorang wanita cantik di hadapannya.

”Sujud simpuhku, wahai Dewa Agung di Nirwana. Engkau mendengar jeritan kerinduan hatiku pada Bidadari Surga. Engkau memberikan penghormatan kepada kami wahai dewa-dewa Agung. Puji syukur untuk-Mu.” Maka bersujudlah Resi Gotama.

Begitu sang Resi bangkit dari sujudnya :

”Selamat datang wahai isteriku.”

”Tidak perlu mengucapkan selamat datang”, jawab sang Dewi, ”Karena aku hadir lebih dulu. Dari dulu pun aku datang ke hadapanmu. Aku datang, terundang keyakinanmu. Engkau, suamiku dan aku, isterimu. Dekaplah aku, wahai suamiku.”

Menikahlah Dewi Windradi dengan Resi Gotama, Tatkala sang Dewi dipeluk oleh Resi Gotama, maka munculah cahaya yang indah keluar memancar dari dalam diri kedua orang ini. Dan cahaya-cahaya ini, cahaya yang berasal dari Cupu Manik Hayuningrat, menggulirkan anak-anak manusia, dalam perut sang Dewi, walaupun belum bersenggama dengan suaminya. Tiga anak sekaligus hadir dalam rahim sang Dewi, dan langsung diberi nama oleh sang ayah, Batara Surya, di surgawi.

”Wahai Dindaku, anak kita telah hadir berilah nama Retna Anjani, Guarsa dan Guarsi.”

Kemudian Lahirnya Guarsa (Subali), Guarsi (Sugriwa), Dan Retna Anjani.

Hayuningrat, cahayanya menggelora. Cinta kasih dan syahwat sang Resi tertolak oleh cahaya Hayuningrat. Tetapi cinta yang dibawa dari surga, cinta kepada Batara Surya diterima oleh jagad bathin sang Dewi. Maka dalam rahimmya menetes benih-benih anak manusia.

Sang Dewi pun mengandung, disinari oleh cahaya Hayuningrat. Namun sang Resi merasa itu semua adalah anak kandungnya. Cinta pun menggelora, mengiringi dalam membesarkan ketiga anaknya. Perempuan satu, laki-laki dua. Yang paling besar Guarsa, kedua Guarsi dan Retna Anjani sebagai anak bungsu.

Dan manakala saat bersenggama dengan suaminya, sang Dewi pun memberikan tubuhnya. Yang berarti, tubuh Dewi Windradi yang sedang di penjara bawah tanah, dibawah Istananya sendiri. Pindah tempat ke peraduan di ranjang sang Resi, dan setelah selesai dengan suaminya maka tubuh sang Dewi pun, raganya, kembali ke penjara. Sang Ayah pun tetap melihat bahwa anaknya masih ada di penjara, di bawah istana.

Meskipun sang Dewi memberikan tubuhnya pada suaminya saat bersenggama namun tubuh Atma sang Dewi berkumpul kembali di Nirwana dengan suami sejatinya, Batara Surya. Atau masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, karena dalam cupu manik ini ada alam raya dan isinya, termasuk alam Nirwana bersama para Batara dan para Dewa.

Demikianlah Dewi Windradi menjalani hidupnya, menjadi isteri yang dicintai oleh suaminya Resi Gotama, dan memberikan tubuh aslinya (tubuh yang di lahirkan) manakala kewajiban sebagai isteri memanggilnya dalam persenggamaan dengan sang Resi. Dan manakala sang Dewi merindukan suami sejatinya, Batara Surya, Sang Dewi masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, menjelajahi alam raya, bersua dengan para dewa termasuk suaminya. Hingga anak-anaknya dewasa. Hingga suatu saat, Dewi Windradi merindukan suami sejatinya, Batara Surya.

Namun manakala masuk ke dalam Cupu Manik Hayuningrat, Cupu Manik terkunci dari dalam! Kerinduan yang tak tertahankan kepada Batara Surya, tak mampu diekspresikan karena Cupu Manik rapat terkunci dari dalam. Maka sang Dewi pun mengangkasa, melalui jalur yang jauh. Di puncak kegelisahannya, sang Dewi menggenggam Cupu Manik Hayuningrat ini, di bawa ke taman. Padahal selama ini tak ada yang tahu kalau sang Dewi memiliki Cupu Manik Hayuningrat. Karena Cupu Manik Hayuningrat ini oleh sang Dewi disimpan di jagad bathinnya.

Namun saat itu, saat dilanda kegelisahan karena sang Dewi rindu kepada Batara Surya, Cupu Manik Hayuningrat dikeluarkannya dari jagad bathin, digenggam dan dibawa ke taman. Dan tanpa dikehendakinya, anak perempuannya, Retna Anjani yang sedang bermain-main di taman. Melihat keindahan cahaya yang sedang digenggam oleh Ibunya.

”Apakah itu, Ibu?”

”Ini adalah benda pusaka warisan Dewa.”

”Pinjamilah aku, Ibu.”

”Jangan anakku, ini milik Sang Dewi, bukan milik ibu.”

”Tapi berikanlah padaku, ibu”, Retna Anjani mulai merajuk.

”Jangan anakku.”

Retna Anjani adalah anak yang sedang lucu-lucunya. Maka dengan segala kelucuan dan kamanjaan rengekan seorang anak, Retna Anjani merebut pusaka dari tangan Ibunya. Dewi Windradi tak mampu melepaskan diri dari rasa kasih sayang seorang Ibu, kelucuan sang anak melonggarkan tangan dalam menggenggam Cupu Manik Hayuningrat.

Bagi seorang Ibu yang sudah berputra, dapat merasakan hal ini. Kelucuan dan rengekan anak ternyata menggoyahkan apa saja. Keangkuhan, kebanggaan seorang ayah dan ibu akan goyah oleh lucunya sang anak. Termasuk hal prinsip yang sedang digenggam dengan kokoh.

Pun demikian yang terjadi pada Dewi Windradi. Cupu Manik Hayuningrat lepas dari genggaman tangannya, karena kalah oleh rayuan lucu dari sang anak, Retna Anjani. Cupu Manik Hayuningrat dibawa bermain-main oleh Retna Anjani. Dan tanpa sengaja, terbukalah Cupu Manik Hayuningrat, sang anak pun masuk ke dalamnya (tersedot)
Retna Anjani mengangkasa, langit demi langit, alam dami alam dilaluinya hingga sampai ”Sela Menangkep” di Kahyangan dan bertemu dengan para Dewa.

Maka terdengarlah sabda dari Hing Murbeng Agung :
”Wahai para Dewa ! jangan engkau terpesona oleh kelucuan anak ini. Hai para Dewa ! betapa engkau melihat, betapa indah anak ini lebih indah daripada kenikmatan Nirwana dan cepat kembalikan ke bumi. Belum saatnya anak ini menikmati, akan merusak keindahan ”angkasa Nirwana”. Jangan biarkan anak ini menggagalkan keindahan Nirwana. Karena keindahan lucu anak-anak hanya milik mereka, manusia bumi. Tidak kuberikan kepadamu, wahai para Dewa.”

Retna Anjani pun turun kembali ke bumi dan keluar dari Cupu Manik Hayuningrat. Maka dimain-mainkan kembali Cupu Manik ini. Tatkala Retna Anjani tengah memainkan Cupu Manik ini datanglah kakak-kakaknya Guarsa dan Guarsi.

”Hai! Apa itu?”

Terjadilah perebutan diantara ketiganya. Masing-masing ingin memiliki, tidak ada yang mau mengalah, sampai salah seorang mengadu kepada ayahnya.

Sang Ayah, Resi Gotama, juga merasa aneh terhadap benda yang diperebutkan anak-anaknya. Maka ia pun bertanya kepada isterinya :

”Dindaku, benda apakah itu? Jangankan anak-anak kita, aku pun terpesona oleh benda itu.”

Sang isteri, Dewi Windradi tidak berkata-kata. Diam seribu bahasa.

”Wahai isteriku, berkatalah, jangan bungkam seperti itu. Benda apakah ini?”

”Ayah”, tiba-tiba Retna Anjani berkata pada ayahnya, ”Tadi aku telah pergi ke Nirwana. Aku bertemu dengan Dewa yang bernama. Batara Surya, katanya dia suami Ibu.”

Resi Gotama adalah seorang yang sangat sakti dan seorang yang teguh dalam kemauan. Cepat menangkap apa makna dari semua ini. Maka muncullah kecemburuan, merasa dikhianati, merasa dihancurkan sendi-sendi kehidupannya sebagai suami. Di puncak emosinya sang Resi melemparkan Cupu Manik Hayuningrat.


Bersambung.........

No comments:

Post a Comment