Saturday, April 18, 2009

TOLERANSI DAN PENCERAHAN DALAM HINDUISME

Oleh :
I W Sudarma (Shri Danu D.P)

Oṁ asato mā sad gamaya
tāmaso mā jyotir gamaya
mṛtyor mā amṛtam gamaya

(Ya Tuhan Yang Maha Agung, pimpinanlah hamba dari yang tidak benar menuju yang benar, dari kegelapan menuju cahaya yang terang, dari kematian menuju ke abadian) Bṛhadāranyaka ūpaniṣad I.3.28

Oṁ Swastyastu

A. Pendahuluan

Kajian tentang toleransi dimulai dari kajian tentang adanya perbedaan, khususnya ajaran tentang perbedaan tersebut menurut teologi Hindu dan hal ini perlu dicermati. Bila adanya perbedaan yang merupakan kenyataan tidak dipahami oleh sebagian besar umat dan masyarakat, maka setiap perbedaan baik sikap dan perbedaan pendapat termasuk latar belakang budaya dapat menimbulkan friksi dan bahkan mengarah kepada konflik baik terbuka maupun tertutup. Menyadari adanya perbedaan dan memahami perbedaan tersebut sebagai rakhmat-Nya maka kehidupan akan berlangsung harmonis, tumbuh saling pengertian dan toleransi yang muni dan jujur.

Dalam masyarakat Hindu, khususnya tentang adanya perbedaan rupanya sudah dipahami namun tidak semua memahaminya dengan baik. Di Bali ada istilah "rwabhineda" (dua hal yang berbeda), "jele melah wenang sambat" (baik buruk memang patut dibicarakan) , "peteng lemah anak mula len" (saat siang dan malam memang berbeda), 'don sente don plendo, ada kene ada keto" (ada begini ada begitu), "telebingkah batan biu, gumi linggah ajak liu" (bumi ini luas, penghuninya banyak orang, pendapatnyapun berbeda-beda) dan sebagainya, menunjukkan bahwa perbedaan itu disadari memang ada, dan harus dicermati, sehingga menumbuhkan kearifan di kalangan masyarakat.

Membicarakan perbedaan dalam Hindu (dalam kajian filosofis), maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tekstual dan kontekstual, untuk menumbuhkan pengertian yang mendalam tentang perbedaan itu. Dengan pengertian yang mendalam tentang hakekat dan makna dari perbedaan, menumbuhkan kesadaran dan kearifan yang bermuara pada perubahan prilaku. Perbedaan adalah realitas sosial, justru dengan adanya perbedaan timbul usaha untuk mewadahi dan menyatukan perbedaan itu, dalam skala kecil pada kehidupan rumah tangga, dan dalam skala besar adalah dalam kaitan menumbuhkembangkan dan memupuk paham kebangsaan (nasionalisme) melalui Sila Persatuan Indonesia dalam Pancasila. Perbedaan suku bangsa, agama, ras, golongan, status sosial dan sebagainya justru di arahkan untuk memupuk dan mengembangkan rasa persaudaraan dalam kehidupan berbangsa, keinginan untuk bersatu padu dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks pembinaan dan pengembangan umat Hindu di Indonesia tumbuh pula pemahaman bahwa memang dalam frame budaya, nampak benar terjadi perbedaan itu, namun bila kita memahami teologi dan ajaran agama Hindu secara komprehensif, maka kita patut berbangga, karena justru ajaran agamanya yang sama, berkembang di berbagai daerah di Indonesia membawa warna-warna tersendiri yang menampakkan perbedaan (terutama dalam latar belakang budaya daerah yang) yang bila tidak dipahami dan ditemukan persamaannya (yang mendasar nampak dalam teologi Hindu di Indonesia) dapat mengarahkan pada adanya perpecahan di antara umat Hindu di Indonesia.

B. Sumber ajaran Hindu tentang perbedaan

Sumber tertinggi ajaran agama Hindu adalah kitab suci Veda yang merupakan sabda atau wahyu Tuhan Yang Maha Esa. Kitab suci Veda (yang tergolong śruti atau sabda Tuhan Yang Maha Esa) terdiri dari kitab-kitab Saṁhitā , Brāhmana, Āraṇyaka dan Ūpaniṣad. Di dalam kitab suci Veda (Saṁhitā /Catur Veda) dapat dijumpai beberapa mantra yang menunjukkan adanya perbedaan yang harus dicermati oleh umat Hindu. Mantra suci tersebut antara lain sebagai berikut: Dvā suparnā sayujyā sakhā yā samā nam vṛksam pari sasvajā te tayor anyām pippalam svvattyā naūnannanyo abhi cā karīti. Ṛgveda III.62.10, juga dalam Mundhaka Ūpaniṣad III.1 - (Dua ekor burung yang selalu berkeadaan sama menjadi satu, yang tinggal pada cabang sebuah pohon (pippala). Salah satu dari burung tersebut menikmati buah dari pohon itu, sedang yang lain yang bercahaya kemilauan tidak manikmati pohon itu).

Dari terjemahan kutipan mantra Veda tersebut di atas, kita dapat memahami penggambaran Ātman (Brahman/Paramātma) yang hanya melihat tidak menikmati buah dari cabang pohon (pippala) itu, dengan ātmā (roh) yang terbelenggu oleh hukum karma, mengalami kenikmatan memakan buah-buahn dari cabang pohon tersebut, yang sesungguhnya adalah merupakan penggambaran alam materi (duniawi). Jadi benih dari ajaran Saṁkhyā yang menunjukkan kekekalan jiwa yang abadi (Paramātman) dengaan jiwa (ātma) yang terbelenggu oleh hukum perbuatan (jerat māyā ) atau alam keduniawian sudah nampak dalam ajaran suci Veda. Seserorang diharapkan untuk meninggalkan cabang pohon yang memberi buah kenikmatan, untuk selanjutnya menyatukan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Teori tentang monodualistik telah muncul di dalam ajaran suci Veda yang selanjutnya banyak contoh yang menunjukkan perbedaan tersebut antara lain gelap dan terang, salah dan benar, yang tidak kekal dan yang abadi dan sebagainya, di antaranya kami petikkan sebagai berikut: Udvayam tamasas pari jyotir pasyanta ūttaram, devam devatrā sūryam aganma jyotir uttamaṁ. Ṛgveda I.50.10 - (Nampak cahaya gemerlapan melambung di balik kegelapan, kami mendekat maju menuju Ia yang bercahaya gemerlapan, sangat suci. Deva dari seluruh devatā , cahaya Kebenaran, yang juga bersthana di dalam hati dan pikiran setiap mahluk).

Lebih jauh permohonan untuk menuju yang benar menghindarkan diri dari yang tidak benar, menuju cahaya yang terang dan menghindarkan diri dari kegelapan, menuju keabadian dan menghindarkan diri dari ketidak kekalan terungkap jelas pada mantra Bṛhadāranyaka Ūpaniṣad (I.3.28) pada manggala (ugravacana/ kutipan) dari tulisan ini. Menuju yang benar, cahaya yang terang dan keabadiaan adalah proses untuk maju seperti diamanatkan dalam berbagai ajaran Tattwa yang jelas nantinya akan terlihat dalam pandangan Saṁkhyā , yang menyatakan bahwa terdapat dua unsur yang abadi, yakni Puruṣa (kesadaran sejati) dan Prakṛti (pradhana/unsur materi) yang menjadi unsur utama segala sesuatu di alam semesta ini. Dari Prakṛti tersebut muncul unsur (element) yang dikenal dengan triguna (tiga karakter utama) yang terdiri dari: śāttvam (kebenaran), rājas (aktivitas) dan tāmas (kegelapan) yang membentuk kerekater setiap mahluk.

Di dalam kitab Bhāgavata Purāṇa (XII.7.11) diuraikan sepintas tentang teori penciptaan ke dalam beberapa topik antara lain evolusi Mahat (prinsip dasar dari kecerdasan kosmik), dari bergejolak dan terganggunya keseimbangan dari Triguóa yang belum termanifes (Prakṛti, unsur materi/bahan yang permulaan), memimpin evolusi Triguna selanjutnya (tipe-tipe Vaikārika atau Śāttvika, Rājasa dan Tāmasa, tergantung dari dominasi masing-masing guna), evolusi berlanjut pada unsur-unsur alam (bhūta), alat indriya, dan obyeknya (seperti unsur yang kasar dan devatā yang bersemayam pada masing-masing organ indriya. Lebih jauh tentang penciptaan ini digambarkan dalam kitab Agni Purāṇa (17.1-16), sebagai berikut: Agni bersabda:

a. Aku akan menjelaskan sekarang penciptaan alam semesta, yang merupakan dari krida (līla) Sang Hyang Viṣṇu (dalam Saṁkhyā disebut Brahmā ). Beliaulah yang menciptakan sorga dan lain-lain. Pada permulaan ciptaan dan dilengkapi dengan sifat-sifat dan tanpa sifat-sifat (1).

b. Brahmā , yang tidak menampakan diri, sesungguhnya yang ada. Saat itu tidak ada langit, siang atau malam, dan lain-lain. Sang Hyang Viṣṇu masuk ke-dalam Prakṛti (unsur materi) dan ke dalam Puruṣa (unsur kesadaran) dan menggerakkannya (2).

c. Pada saat penciptaan yang pertama kali terpencar adalah intelek (kecerdasan budhi/mahat) . Kemudian terwujudlah ego (ahaṁkara), selanjutnya disusul pertama dari keadaan natural (Vaikārika), kilauan cahaya (taijasa) unsur-unsur alam, dan sebagainya dan kegelapan (tāmasa/ yang menciptakan kebodohan (3).

d. Kemudian meluaplah ether (ākāsa) yang merupakan unsur dasar suara (sabda) dari ego (ahaṁkara). Kemudian angin (vāyu) merupakan unsur dasar sentuhan (sparsa) dan api (teja) sebagai unsur dasar warna (rūpa) menjadi ada dari padanya (4).

e. Air (āpah) sebagai unsur dasar rasa (rāsa/menjadi ada) dari padanya. Tanah (pṛthivī) sebagai unsur bau (gandha). Dari kegelapan lahirlah ego, indrīya (menjadi ada) yang nampak berkilauan (5).

f. Evolusi selanjutnya adalah terciptanya 10 kahyangan dan pikiran, sebelas indriya selanjutnya munculah Sang Hyang Svayambhū(yang ada dengan sendirinya), yakni Sang Hyang Brahmā yang berkeinginan menciptakan berbagai tipe mahluk hidup (6).

g. Sang Hyang brahmā menciptakan air yang pertama. Air berhubungan dengan (disebut) sebagai nārāh, karena hal itu merupakan ciptaan spirit yang Tertinggi (7).

h. Dari pergerakkannya yang pertama dari semuanya itu, karenanya Ia disebut Nārāyana. Kemudian tergeletak (mengambang) telur di atas air yang warnanya keemasan (8).

i. Dari pada itu, Sang Hyang Brahmā lahir dengan keinginannya sendiri, oleh karenanya kita mengenal sebagai yang lahir dengan sendirinya (Svayambhū). Hidup (didalamnya) sepanjang tahun, karenanya disebut Hiraṇyagarbha, kemudian menjadikan telur itu dua bagian, yaitu menjadi sorga dan bumi. Di antara kedua bagian itu, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan langit (9-10).

j. Sepuluh penjuru menyangga bumi yang mengambang di atas air. Kemudian Sang Hyang Prajāpati (Brahmā yang merupakan pencipta mahluk hidup dan alam semesta) berkeinginan mencipta, menciptakan waktu, pikiran, perkataan, keinginan, kemarahan, keterikatan dan yang lain-lain. Dari cahaya Ia menciptakan petir dan mendung, bianglala, dan burung-burung. Ia pertama menciptakan Parjanya (Indra, dewa hujan). Kemudian menciptakan Ṛgveda (Rcah), Yajurveda (Yajumsi), dan Sāmaveda (Sāmāni) untuk menyelesaikan Yajña-Nya (11-13).

k. Mereka yang ingin menyelesaikan (yajña), memuja para devatā dengan (merapalkan) mantra-mantra tersebut. Mahluk hidup yang tinggi dan rendah diciptakan-Nya. Ia menciptakan Sanatkumāra dan Rudra, yang lahir dari kemarahan-Nya (14).

l. Kemudian Ia menciptakan para Rsi Marīci, Atrī, Anggirasa, Pulastya, Pulaha, Kratu, Vasistha, yang diyakini sebagai putra-putra yang lahir dari pikiran Sang Hyang Brahmā (15).

m. Oh, Yang Mulia! Para ṛsi tersebut melahirkan (banyak) mahluk hidup, membagi diri-Nya atas dua bagian, separo menjadi laki-laki dan perempuan saparo lagi menjadi perempuan. Selanjutnya Brahmā melahirkan anak-anak-Nya melalui separo bagiannya yakni bagian yang perempuan (16/Ganggadharan, Vol.27, Part I, 1984: 39-41).

Pada bagian lain, kitab Agni Purāṇa (20.9.1-8) menjelaskan lebih terperinci proses penciptaan alam semesta yang digambarkan sebagai berikut:

a. Ciptaan pertama adalah intelek atau kecerdasan budi (mahat) dari Brahmā . Ciptaan yang kedua adalah unsur materi yang sangat halus (tan mātra) yang dikenal dengan nama Bhūtasarga (penciptaan elemen alam semesta/pañca maha bhūta (1).

b. Ciptaan yang ketiga adalah evolusi (vaikārikasarga) yakni penciptaan organ indriya (aindrīyasarga) . Ciptaan tersebut adalah ciptaan pertama (prakṛtasarga) yang ke luar dari intelek (kecerdasan budi) (2).

c. Ciptaan yang keempat adalah ciptaan dasar/utama (mukhyasarga) . Sesuatu yang tidak bergerak dikenal sebagai dasar (penciptaan) . Penciptaan kelima disebut penciptaan kualitas yang lebih rendah (tiryaksrota) yang dinamakan sebagai ciptaan mahluk di bawah manusia (seperti binatang, burung-burung, dan lain-lain/3) .

d. Ciptaan yang keenam adalah mahluk-mahluk yang lebih tinggi (urdhvasrota) dikenal sebagai ciptaan kahyangan. Penciptaan yang ketujuh disebut ciptaan menengah (arvāksrota), yakni terciptanya umat manusia (4).

e. Ciptaan yang kedelapan adalah Anugrahasarga (kasih sayang devatā ), disusun dari karakter (Śāttvika dan Tāmasika). Kelima ciptaan yang terakhir dikenal dengan Vaikṛtasarga (ciptaan subyek yang akan berubah). Ciptaan yang kesembilan disebut Kaumārsarga (penciptaan Sanatkumāra, dan lain-lain). demikianlah sembilan ciptaan sang Hyang Brahmā yang merupakan dasar terciptanya alam semesta (5-6).

f. Bhṛgu dan lain-lain mengawini Khyāti dan putri-putri yang dari Daksa. Ciptaan terdiri dari tiga jenis disebut orang, yaitu yang selalu (biasa) berlangsung (nitya), penciptaan yang menimbulkan ciptaan yang lain (naimittika) dan yang berlangsung setiap hari (dainandinī). Ciptaan yang sedang berlangsung ketika masa peleburan disebut Dainandinī. Penciptaan yang selalu berlangsung (tiada hentinya) disebut nitya (7-8).

Teori penciptaan alam semesta (sarga) yang dikenal dengan sembilan ciptaan Sang Hyang Brahmā diuraikan pula secara sistematis dan terinci dalam kitab Brahmānda Purāṇa, yang dapat diringkas (direkapitulasi) , sebagai berikut:

a. Ciptaan pertama:

(1). Ciptaan Mahat

(2). Ciptaan Tanmātra (di sini disebut juga Bhūtasarga)

(3). Vaikārika (ciptaan Aindrīyasarga) Seluruh ciptaan di atas adalah ciptaan Prakṛta (dari kata Prakṛti), sebagai awal ciptaan.

b. Penciptaan yang kedua:

(4). Mukhyasarga (ciptaan yang tidak bergerak)

(5). Tiryaksrota (ciptaan mahluk rendahan dan binatang)

(6). Urdhvasrota (ciptaan berupa dewa-dewa dan mahluk-mahluk sorga).

(7). Arvāksrota (ciptaan umat manusia)

(8). Anugrahasrga (baik Śāttvika maupun Tāmasika) Kelimanya (4-8) tersebut di atas disebut Vaikṛta (ciptaan kedua) dan fungsi mereka tanpa kesadaran atau bagian depan (sebelum) pengetahuan (a-budhi-pūrvaka) .

c. Penciptaan (setelah) kedua (?)

(9). Kaumārasarga (penciptaan putra-putra yang lahir dari pikiran). Ketika Sanatkumara dan yang lain-lain menjadi seorang Yogi dan tidak melahirkan putra-putra, sang Hyang Brahmā (I.1.5.70-76) menciptakan putra-putra yang lahir dari pikiran-Nya kembali, maka lahirlah: Bhṛgu, Anggirasa, Marīci, Pulastya, Pulaha, Kratu, Daksa, Atrī dan Vasistha dari berbagai bagian badan-Nya (Tagare, Vol.22, Part I, 1993: XXXIV).

G.V. Tagare dalam terjemahan kitab Vāyu Purāṇa, pada bagian kata pengantarnya (XXIII) menyatakan bahwa tentang penciptaan alam semesta (Sarga) bahwa di dalam kitab-kitab Purāṇa ditemukan tiga teori tentang penciptaan alam semesta, yakni (1). Teori Saṁkhyā -Vedānta , (2). Teori Purāṇa dan (3). Teori Saṁkhyā . Berikut dijelaskan ketiga teori tersebut:

a. Teori Saṁkhyā -Vedānta . Penciptaan mulai dengan prinsip dasar yang disebut Mahat dan berakhir dengan Visesa, yakni perbedaan antara lima unsur yang sangat halus dan yang kasar (kasat mata) yang disebut Pañca Maha bhūta dan Pañca Tan Mātra. Sumber alam semesta adalah Brahman yang abadi, tanpa awal dan tanpa akhir, tidak dilahirkan, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Pada awalnya adalah kegelapan dan Ia yang meresapi seluruh alam semesta yang diselubungi dalam kegelapan (Ia yang tidak termanifest) , saat itu Guna dalam keadaan seimbang. Brahman juga disebut Ātman. Pada awal penciptaan Kśetrajña (Devā ta Tertinggi) memimpin Pradhā na, menggerakkan Guna dan prinsip dasar Mahat berkembang. Ketika guna Śāttva menjadi sangat dominan di dalam Mahat, unsur spirit yang sangat halus pada jasmani berkembang dan dipimpin oleh Kśetrajña. Kitab-kitab Purāṇa memberikan etimologi yang populer dari sinonim Brahman, Kśetrajña, dan lain-lain, semacam Samanvaya dan perbedaan istilah dan teori. Ketika Mahat didorong (oleh keinginan Tuhan Yang Maha Esa), terciptalah alam semesta yang besar, Saṅkalpa (kekuatan pikiran) dan Adhyavasāya (kebulatan/tekad) dalam 2 tendensi (Vṛtti-dvayam/ I.1.4,16). Teori sintese Saṁkhyā -Vedānta tentang penciptaan ini dapat dijumpai dalam beberapa Purāṇa, antara lain: Agni Purāṇa XVII.2-26, Brahmānda Purāṇa I.1.3.6, dan Kūrma Purāṇa I.2.3.

b. Teori Purāṇa. Kśetrajña disebut Brahmā yang bangkit dari telur kosmos. Ia adalah mahluk yang pertama mengambil wujud (yang berwujud pertama kali). Ia pencipta dari seluruh Pañca Maha Bhūta (baik unsur material maupun mahluk hidup). Hiraṇyagarbha (Brahmā ) dalam empat wajahadalah Kśetrajña, baik pada saat penciptaan maupun pada saat Pralaya (penghancuran) alam semesta. Telur kosmos terdiri dari 7 dunia, bumi dengan tujuh benua, samudra-samudra dan segala sesuatunya termasuk matahari, bulan, bintang-bintang, Loka (Saptaloka) dan Aloka (Saptapatala) . Dari luar telur kosmos ini dilapisi oleh tujuh lapisan (I.1.1.44-45) . Empat yang pertama terdiri dari 4 elemen, yaitu: air, api, angin dan ether (ākāsa), masing-masing selubung 10 kali lebih besar dibandingkan selubung yang pertama (sebelumnya/ yang ditengahnya) dan tiga selubung lainnya terdiri dari Bhūta di, Mahat dan Pradhāna yang tidak termanifest. Avyakta (yang tidak termanifest) disebut Ksetra dan Brahmā disebut Kśetrajña. Prākṛta-sarga dipimpin oleh Brahmā . Penciptaan berlangsung tanpa pra-rencana (abuddhipūrvaka) seperti halnya kerdipan cahaya (I.1.4.68.-78) .

c. Teori Saṁkhyā . Teori Vedānta , Saṁkhyā dan Purāṇadipadukan dalam teori ini. Analisis yang terang ditunjukkan bahwa Prākṛta Sarga adalah penciptaan dari Prakṛti. Teori Saṁkhyā yang teistik dapat lebih dijelaskan secara lebih ekplisit dinyatakan dalam uraian (II.5.104) sebagai berikut: "Sebelum penciptaan alam semesta adalah kondisi laya (keseimbangan) dari semua Guna. dalam wujudnya yang Avyakta (tidak termanifestasi) , secara potensial terbentang seperti minyak susu (ghee) di dalam susu. Tuhan Yang Maha Agung, dengan kekuatan Yoga-Nya, menciptakan ketidakseimbangan dari Tri Guna dan terciptalah Tiga Devāta Utama (Tri Mūrti), Brahmā (dari Rājas), Api atau Rudra (dari Tāmas) dan Viṣṇu (dari Śāttva). Sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa yang membagi diri-Nya ke dalam 3 fungsi utama itu".

Dari kutipan di atas, maka jelaslah bagi kita teori evolusi yang tercantum dalam kitab-kitab Purāṇa rupanya merupakan perpaduan antara teori penciptaan alam semesta menurut kitab suci Veda (Brāhmana dan Ūpaniṣad/Vedānta ) dan sistem filsafat Hindu Saṁkhyā. Menurut sudut pandang teori penciptaan tersebut di atas, maka muncullah keanekaragaman di alam semesta dan keanekaragaman itu mesti dicermati, sehingga mandapat menemukan jati dirinya.

C. Perbedaan sebagai karunia

Swami Sivānanda dalam bukunya All About Hinduism (telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Intisari Agama Hindu oleh Tim Penterjemah Yayasan Sanatana Dharmasrama Surabaya, menyatakan: "Hinduisme sangatlah universal, bebas, toleran dan luwes. Inilah gambaran indah tentang Hinduisme. Seorang asing merasa terpesona dengan keheranan apabila ia mendengar tentang sekta-sekta dan keyakinan yang berbeda-beda dalam Hinduisme; tetapi perbedaan-perbedaan ini sesungguhnya merupakan suatu hiasan bagi Hinduisme dan mereka tentu saja tidak menekankannya pada kekurangan-kekurang annya. Mereka merupakan berbagai tipe pemikiran dan tempramen, sehingga menjadi bermacam-macam keyakinan pula. Hal ini adalah wajar. Hal ini merupakan ajaran yang utama dari Hinduisme, karena dalam Hinduisme tersedia tempat bagi semua tipe roh dari yang tertinggi sampai terendah, demi untuk pertumbuhan serta evolusi mereka" (1993: 133).

Berdasarkan uraian tersebut jelas bagi kita bahwa diturunkannya berbagai ajaran mulai dari kitab suci Veda, Itihāsa, Purāṇa, Dharmasāstra, Āgama dan Darsana yang oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia dirangkum dalam 3 kerangka agama Hindu, yaitu: Sraddhā, Tata susīla dan Ācāra (1990) memberi tuntunan kepada umat Hindu untuk memilih jalan yang sesuai dengan tingkat pemahamannya terhadap ajaran agama Hindu, karena semua ajaran dan jalan untuk merealisasikan ajaran itu adalah karuni-Nya yang patut dihargai oleh setiap umat Hindu.


D. Vedānta , Saṁkhyā, dan Yoga sebagai sarana pencerahan dalam Hinduisme

Bila kita ingin memahami pemahaman umat Hindu di Indonesia tentang pengaruh Sad Darsana, maka dari 6 sistem filsafat Hindu (Sad Darsana) yang sangat berpengaruh di Indonesia adalah sistem filsafat Vedānta , Saṁkhyā dan Yoga. Tentang pengaruh filsafat Vedānta , kami kutipkan pengalaman Bung Karno pada masa kanak-kanak yang telah mendapat pencerahan jiwa, khususnya yang ditanamkan sejak dini oleh orang tuanya. Perhatikanlah petikan berikut: "Seperti pagi itu aku memanjat pohon jambu di pekarangan rumah kami dan aku menjatuhkan sarang burung. Ayah menjadi pucat karena marah, "Kalau tidak salah aku sudah mengatakan padamu supaya menyayangi binatang", ia menghardik. Aku bergoncang ketakutan. "ya Pak". "Engkau dapat menerangkan arti kata-kata: "Tat Twam Asi,. Tat Twam Asi?" "Artinya dia adalah aku dan aku adalah dia; engkau adalah aku dan aku adalah engkau". "Dan apakah yang kuajarkan kepadamu bahwa ini mempunyai arti yang penting?". "Ya Pak. Maksudnya adalah Tuhan berada dalam kita semua", kataku dengan patuh. Dia memandang marah kepada pesakitannya yang masih berumur 7 tahun. "Bukankah engkau sudah ditunjuki untuk melindungi makhluk Tuhan?" "Ya Pak". "Engkau dapat mengatakan apa burung dan telor itu?" "Ciptaan Tuhan", jawabku dengan gemetar. "Tapi dia jatuh karena tidak disengaja, tidak saya sengaja". Sekalipun dengan permintaan maaf demikian bapakku tetap memukul pantatku dengan rotan. Aku seorang yang baik, akan tetapi bapak menghendaki disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti". (h.61).

Advaita dengan Tat Twam Asi yang diungkapkan BK di atas merupakan salah satu dari tiga aliran pemikiran metafisika dari sistem filsafat Vedānta , yang terdiri dari: Dvaita, Visisthā dvaita dan Advaita yang kesemuanya menapak jalan yang menuju kebenaran terakhir, yaitu Para Brahman. Mereka merupakan anak-anak tangga pada tangganya Yoga yang sama sekali saling tidak bertentangan dan bahkan sebaliknya saling memuji satu sama lainnya. Tahapan ini disusun secara selaras dalam rangkaian pengalaman spiritual berjenjang yang dimulai dengan Dvaita (dualistis), Visisthā dvaita (monistis terbatas), Advaita (kesatuan) murni, yang semuanya ini akhirnya memuncak pada Advaita Vedāntis perwujudan dari yang mutlak atau Trigunā tītā Ananta Brahman transendental. Madhva mengatakan: "Manusia adalah pelayan Tuhan" dan menegakkan ajaran Dvaita-nya. Rāmānuja berkata: "Manusia adalah cahaya dan percikan Tuhan" dan menegakkan filsafat Visisthā dvaita-nya. Saṅkara mengatakan" manusia identik dengan Brahman atau Roh Abadi" dan menegakkan filsafat Kevala Advaita-nya. Seorang Dvaitin (pengikut Dvaita) ingin melayani Tuhan, sebagai seorang pelayan dan menginginkan bermain-main dengan Tuhan serta ingin mencicipi gula-gula kemanisan-Nya. Seorang Visisthā dvaitin (pengikut Visisthā dvaita) ingin menjadi seperti Tuhan, Nārāyana dan menikmati ke-Illahian dan tidak ingin menggabungkan dirinya atau menjadi sama dengan Tuhan tetapi ingin tetap sebagai sebuah percikkan Tuhan. Seorang Jñāni menggabungkan dirinya dalam Brahman dan menginginkan dirinya menjadi sama dengan Brahman dan ingin menjadi gula-gula atau kemanisan itu sendiri. Manusia memiliki tempramen dan kemampuan yang berbeda-beda sehingga diperlukan aliran filsafat yang berbeda-beda pula, tetapi anak tangga tertinggi adalah filsafat Advaita, seorang dualis (Dvaitin) atau monistis terbatas (Visisthā dvaitin) akhirnya akan menjadi seorang Kevala Advaitin (Maswinara, Sistem Filsafat Hindu, 1998: 64). Berpijak pada ajaran Advaita di atas, BK senantiasa ingin mengembangkan kasih sayang serta kesejahtraan semua mahluk (sarwa pranihitankarah) .

Demikian pula, tatkala menjalani masa belajarnya (dalam mempelajari ajaran agama) ia bertemu dan sering berdiskusi soal-soal agama dengan romo Van Lith, seorang pastor Katolik. Sukarno tidak bisa menerima gambaran Tuhan menurut agama Katolik. Bagi Sukarno, Tuhan memiliki kebesaran yang tidak terbatas. Namun mengapa Van Lith membatasi kekuasaan Tuhan hanya pada yang baik? Mengapa ia tidak mau mengakui bahwa kejahatan pun datangnya dari Tuhan? Van Lith marah dan berkata, "Kamu ini orang berdosa, berani menjelekkan Tuhan". Sukarno tertawa seraya menjawab. "Percayalah bahwa Tuhan akan memaafkan saya". Dalam kasus ini penolakkan Sukarno atas keterangan Van lith, yang mungkin dikiranya bahwa ia menolaknya berdasarkan ajaran Islam, ternyata lebih didasarkan atas latar belakang Monisme Hindu.

Dalam hal ini, Monisme, memandang bahwa segala realitas itu tunggal. Jadi, kendatipun Bung Karno dalam pidato-pidatonya banyak mengutip dalil-dalil dari Al-Qur'an maupun Injil, tetapi ia memahaminya dalam pengertian dasar Monisme tersebut.(h. 62). Bung Karno, berangkat dari pemahaman makna kasih kepada semua mahluk ala Monisme Hindu, memahami ayat Injil tersebut dalam makna Tat Twam Asi. "Rasa kesatuan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta ini, segala yang kumelip di alam semesta ini, rasa kesatuan itu dinamakan Advaita. Advaita itu artinya "Tidak ada dua". Seluruh realitas itu satu. Karena itu, dalam Monisme seluruh alam ini dipandang sebagai emanasi (mengalir) dari Brahman (zat Tuhan). Ibarat bunga-bunga api terpecik dari bara api yang besar, atau sungai-sungai mengalir ke samudra awal. Jadi dengan begitu segenap realitas, entah itu baik atau jahat, sumbernya harus dari realitas awal yang satu itu. "Ia yang mengira dirinya sebagai pembunuh, dan ia yang percaya dirinya dapat dibunuh, demikian Bhagavadgītā, "kedua-duanya dungu, sebab ia tidak pernah membunuh dan dibunuh". Apabila inti manusia (Ātman) adalah Brahman sendiri, sebagai pengatur dan penggaris kodrat, maka dosa yang lahir dari kesadaran dan kemauan menjadi nisbi. Orang berbuat jahat karena mereka dikuasai: "avidya" (ketidaktahuan) . Itulah "Ahaṁkara", "egoisme" atau keakuan yang lepas dari hekakat kenyataan yang satu. Pada hal yang lain sebenarnya bukan lain". "Tat Twam Asi", aku adalah dia, dia adalah aku' (h.63)

Pandangan keagamaan BK juga kuat berciri mistik yang digambarkan seperti Bhima mencari Tīrtha Pawitra, yang nyatanya dicari di dalam dirinya sendiri. Seperti kata sebuah Hadits yang sangat akrab di telinga kaum Sufi. "Barang siapa mengenal dirinya sendiri, niscaya akan mengenal Tuhannya". Pengalaman mistis ini, dalam penghayatan yang tidak selalu persis sama, diekresikan dalam ungkapan: Manunggaling Kawula-Gusti di Jawa, Kṛṣṇārjuna Samvada di India, atau Cognito Dei experimentalis menurut St.Thomas Aquinas (h.117).

Kutipan Bhagavadgītā (X.36) Vibhuti Yoga merupakan Tauhid Bung Karno, yang dapat dipahami melalui jalan Jñāna, Rāja, dan Vibhuti Yoga Bung Karno terang-terangan menolak gambaran Tuhan sebagai pribadi seperti lazimnya teologi Kristen maupun Islam. Selanjutnya ia mengulang-ulang tentang kembali Bhagavagītā tentang ketidakterbatasan- Nya (h.125). Bung Karno menegaskan dirinya seorang yang phanteistis monoteis (h.126), yang melintas batas berbagai agama, membuktikan bahwa ia menempuh jalan para Sufi (h.134). Apa yang telah dialami dan diwacanakan Bung Karno sesungguhnya sangat relevan dengan pengamalan ajaran agama dewasa ini. Pluralisme agama di Indonesia merupakan satu realitas yang merupakan taman bunga yang indah yang menyuburkan dan mempererat ikatan persatuan dan kesatuan bangsa. Bila ajaran agama sudah menembus grass root dan agama telah berhasil mengubah prilaku umatnya, tentunya kehidupan beragama seperti yang dirindukan BK di atas akan dapat diwujudkan. Inilah tugas utama elite agama dan elite masyarakat yakni menanamkan dan menumbuh kembangkan ajaran agama pada hati nurani umatnya, menurut hemat kami sangat mendesak dilaksanakan dewasa ini. Ada sinyalemen yang menyatakan dewasa ini agama sebatas verbal yang memerlukan reformasi internal. Seperti telah diungkapkan di atas, sesungguhnya Darsana yang mempengaruhi kehidupan keagamaan umat Hindu di Indonesia, selain ajaran Vedānta adalah ajaran Saṁkhyā dan Yoga. Filsafat Saṁkhyā dengan konsepsi Rwabhineda-nya (Puruṣa dan Prakṛti) diaplikasikan dalam ajaran Yoga dengan menekankan bahwa Tuhan Yang Maha Esa sebagai sumber kedua ajaran tersebut. Realitas mutlak sumber dari ajaran filsafat Saṁkhyā , oleh karena itu sistem filsafat Yoga dikenal pula dengan nama Saīśvara Saṁkhyā. Dengan filsafat Yoga, umat Hindu mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan pemahaman ajaran dari sistem filsafat Vedānta , Saṁkhyā dan Yoga yang diungkapkan dalam berbagai teks berbahasa Jawa Kuno, utamanya dalam lontar-lontar Tattwa seperti Wṛhaspati Tattwa, Bhuwanakosa, Tattwajñāna, dan lain-lain serta pegangan moralitas dan etik dalam kitab Sarasamuccaya, Slokāntara dan lain-lain, umat Hindu Indonesia memperoleh pencerahan dalam bidang agama. Pencerahan tersebut akan menjadi lebih sempurna bila diperkaya dengan berbagai ajaran yang termuat di dalam kitab suci Veda dan susastra Hindu lainnya, yang sebelumnya tidak pernah sampai ke Indonesia, seperti kitab Bhagavadgītā , kitab-kitab Upaniṣad, Āgama (pegangan dari berbagai Samprdaya) dan kitab-kitab Darsana. Dengan demikian ajaran yang terkandung kitab-kitab Tattwa di Indonesia dapat ditemukan benang merahnya di dalam Veda dan susastra Hindu lainnya. Pembacaan teks tanpa Sadhana, yakni latihan rohani, maka pencerahan diri akan sulit dapat diwujudkan.

E. Simpulan

1. Agama Hindu sebagai agama yang sangat tua ajarannya sangat universal dan relevan sepanjang masa.

2. Ajaran yang universal itu diturunkan untuk berbagai karakter umat manusia, sesuai dengan kemampuannya untuk memahami agama yang mereka anut.

3. Agama Hindu merangkum, mengakomodasikan semua pemikiran umat manusia, yang berbeda-beda, dari yang paling sederhana sampai yang tinggi, untuk diarahkan dalam satu evolusi menuju kesempurnaan, bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.

4. Perlu menumbuhkan penghargaaan (toleransi) yang tinggi terhadap perbedaan terutama intern sesama umat Hindu maupun umat beragama lain untuk menumbuhkan kerukunan hidup dalam masyarakat.

5. Melalui ajaran yang terkandung dalam sistem filsafat Hindu, khususnya Vedānta , Saṁkhyā dan Yoga serta ajaran yang terkandung dalam kitab-kitab Tattwa di Indonesia, umat Hindu Indonesia memperoleh pencerahan spiritual.

6. Ajaran yang demikian luhurnya, tidak akan memberi makna bila tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya melalui berbagai Sadhana yang dapat mengubah prilaku umat manusia, dengan demikia ajaran agama benar-benar menjadi landasan moral, etik dan spiritual dalam berperilaku.

F. Penutup

Demikian tulisan singkat ini semoga dapat dijadikan bahan pemikiran untuk mengkaji lebih jauh tentang hakekat perbedaan sebagai proses menuju Tuhan Yang Maha Esa.

Oṁ Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Oṁ

No comments:

Post a Comment

Post a Comment