Monday, September 28, 2009

Tuhan adalah hakikat kehidupan [ God is the esssence of life ]

Apa perlunya menumpuk harta secara berlebih-lebihan lebih baik manusia mengendalikan keinginnya dan merasa puas dengan penghasilan yang kecil. Di dunia yang bersifat dualitas ini, tiada kebahagiaan mutlak atau kesengsaraan mutlak.

Salam Kasih

Sejak zaman dahulu kitab-kitab upanishad telah memberikan ajaran yang suci kepada manusia. Ini membuktikan kekayaan budaya pusaka bhaarat. Amanat upanishad itu bersifat kekal dan abadi. Mereka menyatakan,

‘’Raso vai saha’’.- ‘Tuhan adalah hakikat segala sesuatu’.


Sebagaimana gula ada dalam setiap tetes sirup, mentega terkandung dalam setiap tetes susu, demikian pula tuhan meliputi setiap atom dan sel ciptaan ini. Meskipun demikian, tidak semua manusia dapat memahami adanya tuhan dan asas yang suci ini. Tidak banyak orang yang dapat memahami misteri tuhan yang meliputi segala sesuatu dari mikrokosmos hingga makrokosmos.

Kitab-kitab upanishad mengungkapkan berbagai rahasia. Jika tidak demikian, hal itu tetap tidak akan di ketahui oleh manusia. Sebagaimana manusia dapat merasakan manisnya tebu, pedasnya cabai, asamnya jeruk nipis, dan harumnya bunga, adanya tuhan dapat dihayati dalam segenap ciptaan. Tidak ada ilmuwan atau insinyur yang dapat memahami prinsip keberadaan tuhan sebagai kesadaran dalam segala sesuatu. Semua ini merupakan bukti langsung akan adanya tuhan. Manusia harus berusaha menyadari prinsip ini.

Engkau merasa diliputi kegembiraan yang meluap-luap bila melihat sungai yang mengalir deras, danau yang penuh air,atau tanaman yang tumbuh subur di ladang. Semua itu merupakan bukti langsung adanya tuhan. Meskipun demikian, manusia tidak mampu memahami hal ini.

Sejak lahir hingga ajal tiba, manusia memperoleh berbagai pengalaman. Namun, ia terkelabui oleh perasaan bahwa ia adalah pelaku dan penyebab segala hal yang dialaminya. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak memahami sifatnya sendiri yang sejati, dapat memahami prinsip tuhan yang bersifat adikodrati

Segala hal yang dilihat, didengar, dialami, dan dinikmati seseorang menunjukkan adanya tuhan. Manusia harus berusaha sekuat tenaga memahami asas ketuhanan. Kini manusia menyelidiki segala seseuatu kecuali asas ketuhanan. Ia menggunakan waktu, berapa pun lamanya untuk memahami hal-hal seperti komputer, televisi, telepon, dan sebagainya, tetapi tidak dapat meluangkan waktu untuk mengetahui tuhan.

Upanishad menyatakan, ‘’ketahuilah dirimu sendiri’’. Jika engkau tidak tahu siapa engkau, bagaimana engkau bisa mengetahui yang lain manusia bertanya
kepada orang lain,’’siapakah anda’’. Tetapi tidak bertanya kepadanya dirinya
sendiri, ‘’siapakah aku’’. Manusia modern berusaha mmengetahui apa yang sedang terjadi di dunia. Ia dapat menceritakan secara rinci apa yang terjadi di amerika, inggris, pakistan, dan sebagainya, tetapi ia tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam dirinya sendiri. Jika ada orang yang bertanya kepadanya, ‘’siapakah anda’’. Ia memperkenalkan dirinya dengan menyebutkan nama, pekerjaan, dan tempat tinggalnya. Orang yang menyamakan dirinya dengan badan memberikan jawaban semacam itu. Meskipun
demikian, jawaban semacam itu bersifat dangkal dan tidak membuktikan kenyataan
yang sejati.

Bhagawadgita menyatakan: ‘’Kshetra-jnam caa’pi maam viddhi’’. ‘Akulah [kesadaran] yang mengetahui dalam segala sesuatu’.

Engkau adalah kshetrajna ‘yang mengetahui’, bukan kshetra ‘tubuh’. Engkau menyebutkan nama, usia, pekerjaan, dan tempat asalmu jika memperkenalkan diri. Meskipun demikian, semua ini hanya berkaitan dengan badan, bukan penghuninya. Ini seperti memberikan nama dan alamat rumah dengan mengabaikan orang yang tinggal di dalamnya. Tubuh itu dapat diibaratkan dengan rumah dan engkau adalah penghuninya. Engkau tidak melakukan usaha apa-apa untuk memahami kebenaran ini. Bila ada yang menanyakan identitasmu, engkau harus berkata dengan penuh keyakinan, ‘’saya adalah atma’’. Inilah jawaban yang benar.

Apa yang dimaksud dengan kata atma, atau kshetrajna yang dimaksud yaitu
kesadaran [ caitanya ]. Weda menyebutnya sebagai aham ‘aku’. Asas aku ini
dimiliki oleh semua makhluk. Seandainya aku bertanya, ‘’siapakah ramayya’’
orang yang mempunyai nama itu akan berdiri dan berkata, ‘’saya’’. Entah ia
ramayya, krishnayya, govinda, atau siapa saja, setiap orang menyebut dirinya
sendiri, ‘’saya’’. Ini berarti setiap orang menyamakan prinsip ‘’saya’’ [ atau
rasa keakuan ] ini dengan nama yang diberikan kepada badannya. Orang
mengatakan, ‘’saya raama’’, ‘’saya krishna’’, ‘’saya govinda’’. Raama, krishna,
govinda kedengarannya berbeda, tetapi asas ‘’aku’’ [ atau rasa keakuan ] itu
sama dalam mereka semua. Ini menunjukan diri sejati setiap individu. Engkau bukan
tubuh, engkau adalah diri sejati yang bersemayam di dalamnya. Upanishad
melenyapkan keraguan manusia dengan memberikan amanat semacam itu.

Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang tidak dapat dilihat atau dipahami.
Orang-orang barat menyebut kemampuan adikodrati ini sebagai neotics. Ini dapat
dipahami sebagai kesadaran yang meliputi setiap makhluk dari kepala sampai
kaki. Kesadaran ini mempunyai kekuatan magnetis dan tidak dapat diciptakann
atau dimusnahkan.

Kesadaran tidak mempunyai kelahiran atau Kematian. Kesadaran tiada awal atau Akhirnya. Ia ada dalam segala makhluk Sebagai saksi abadi.


Ilmuwan besar, Newton, menyatakan kebenaran yang sama. Ialah orang yang menemukan bahwa bumi mengandung kekuatan magnetis. Daya tarik magnetis ini tidak terbatas di suatu tempat tertentu, melainkan ada di seluruh bumi.

Einstein menyatakan bahwa materi, terpisah dari segala bentuk energi lainnya seperti misalnya energi magnetis, dapat diubah menjadi energi listrik, yang pada gilirannya dapat diubah menjadi energi cahaya dan energi panas. Dengan cara ini, kita dapat mengubah bentuk energi, tetapi tidak seorang pun dapat menciptakan atau memusnahkannya.

Tidak seorang pun dapat memahami prinsip ketuhanan. Bagaimana manusia dapat menjelaskan proses lahirnya seekor burung siapa yang telah meletakkannya di
dalam telur dan bagaimana bayi burung itu tahu cara memecah telur lalu
keluar sebatang pohon yang sangat besar beserta segenap cabang dan buahnya terkandung dalam sebutir benih yang kecil sekali. Bagaimana hal ini dapat dipahami semua ini menunjukkan adanya tuhan. Brahman ‘’tuhan yang mahabesar’’ itu Lebih
halus daripada yang terhalus, dan lebih Luas daripada yang terluas. Belliau adalah
Saksi abadi dan meliputi seluruh alam Semesta dalam bentuk atma, benih segala
Ciptaan.

Tidak seorang pun dapat menjelaskan proses keluarnya seekor burungdari telur dan pohon yang tumbuh dari sebutir biji yang kecil sekali. Mungkin engkau menafsirkannya sesuai dengan imajinasimu, tetapi interpretasi ini tidak benar.

Setetes air mengingatkan orang pada sungai gangga. Mungkin orang berpikir bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara setetes air dengan sungai gangga, tetapi perbedaan itu hanya terletak pada kuantitasnya. Tetes-tetes air hujan terkumpul membentuk aliran air. Aliran air yang banyak membentuk sungai. Akhirnya semua sungai menyatu dalam lautan. Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa lautan itu tidak lain adalah kumpulan tetesan air. Tuhan bersemayam baik ddalam tetesan air maupun dalam samudra yang amat luas.

Sepercik api berkembang menjadi kebakaran yang besar. Dalam ciptaan ini kita melihat sesuatu yang tidak mencolok mata kemudian berubah menjadi luar biasa besar. Kita dapat memahami adanya tuhan dalam segala perubahan yang terjadi di dunia. Bila engkau inggin melihat tuhan, engkau dapat melihat beliau dalam segala objek di alam semesta ini.

Pashyannapi cha na pashyati muudho. ‘Orang yang melihat, tetapi tidak melihat [mengerti] adalah orang yang bodoh’.

Sepanjang waktu engkau melihat tuhan, namun, engkau merasa belum melihat beliau. Adakah yang lebih bodoh daripada ini siapa yang bertanggung jawab atas
kelahiran dan pertumbuhan manusia engkau mengira hal itu disebabkan oleh makanan, tetapi siapa yang telah menciptakan makanan jikakau selidiki terus seperti
ini, akhirnya engkau akan menyadari landasan utamanya.

Panas sinar matahari mengubah air laut menjadi uap yang membentuk awan. Ketika tertiup angin, awan itu mulai tercurah sebagai hujan. Tetesan air hujan terkumpul membentuk aliran air. Aliran ini membentuk sungai yang akhirnya menyatu dengan lautan. Dengan demikian kita lihat bahwa sungai-sungai yang timbul dari lautan, akhirnya menyatu kembali di dalamnya. Inilah yang dikatakan oleh wedanta, ‘’wajarlah jika manusia kembali ke tempat asalnya’’.

Manusia tidak berusaha memahami kebenaran ini. Manusia tidak mengetahui tempat asalnya maupuntempat ttujuannya. Apa yang akan terjadi dengan sepucuk surat yang tidak mempunyai alamat pengirim ataupun alamat tujuan surat itu akan
dimasukkan ke tempat khusus untuk surat-surat yang tidak dapat disampaikan. [Seandainya manusia itu diibaratkan dengan surat ], ia harus tahu alamat
pengirimnya, atau setidak-tidaknya alamat tujuannya. Namun, kini manusia tidak
mengetahui kedua-duanya. Bagaimana nasib orang semacam itu ia terperangkap dalam lingkaran kelahiran dan kematian.

Punarapi jananam punarapi maranam - ‘Lahir dan mati berkali-kali’.

Inikah yang seharusnya dilakukan manusia manusia sudah lahir dan mati
entah berapa kali, tetapi ia tidak mengetahui tempat asal ataupun tempat
tujuannya. Orang semacam itu dapat diibaratkan dsengan pencuri. Mengapa
demikian ini sebuah contoh. Seorang pencuri menjalani hukuman penjara selama tiga bulan. Setelah masa tiga bulan itu berlalu, pimpinan penjara memberitahu agar ia mengemasi barangnya dan bersiap-siap karena besok ia akan dibebaskan. Pencuri itu menjawab, ‘’ pak, mengapa saya harus membawa barang-barang saya biarlah disini saja, toh saya akan segera kembali ke sini lagi’’. Ini berarti ia tidak mau membuang kebiasaannya mencuri.

[ Keadaan ] manusia modern dapat dikatakan sama seperti ini. Ia tidak mengetahui tempat yang harus ditujunya, tetapi ia tahu bahwa ia akan lahir lagi. Ia tidak menyadari betapa berharganya lahir sebagai manusia.

Atma merupakan tempat asal manusia dan juga tempat tujuannya. Setelah mencapai kelahiran sebagai manusia, ia harus mengetahui kebenaran ini.

Yato vaacho nivartante, Apraapya manasaa saha.- ‘Perkataan dan pikiran tidak mampu memahami tuhan.

Manusia dapat mencapai tuhan dengan melakukan berbagai perbuatan yang berpahala. Perbuatan jahat akan menjerumuskannya ke neraka. Manusia harus melakukan perbuatan yang baik dan berkata dengan penuh keyakinan bahwa ia akan menuju surga. Orang semacam itu disayangi tuhan. Tuhan mengasihi orang yang memiliki keyakinan. Jika engkau tidak yakin bahwa sipolan adalah ibumu, engkau tidak dapat mencintainya.

Dimana ada keyakinan, disitu terdapat Kasih.
Dimana ada kasih, disitu terdapat Kedamaian.
Dimana ada kedamaian, disitu terdapat Kebenaran.
Dimana ada kebenaran, disitu terdapat Kebahagiaan.
Dimana ada kebahagiaan, di situlah tuhan Berada.

Orang yang tidak memiliki keyakinan tidak akan pernah dapat memahami tuhan.

Yad bhaavan tad bhavati. - ‘Sebagaimana pikirannya, maka demikianlah Hasilnya’.

Bagaimana orang yang tidak memiliki keyakinan pada dirinya sendiri dapat mempercayai orang lain apa gunanya hidup seseorang, jika ia tidak dapat mempercayai siapa pun. Karena itu, yang pertama dan terpenting, tingkatkan kepercayaan pada dirimu sendiri. Bila engkau mempunyai kepercayaan pada diri sendiri, engkau akan mencintai masyarakat. Orang yang mencintai masyarakat akan dikasihi tuhan. Jika engkau tidak mencintai masyarakat, bagaimana engkau dapat berharap masyarakat akan mencintai engkau.

Bangunlah rumah gadang kehidupanmu pada fondasi yang kuat yaitu kepercayaan pada diri sendiri. Pada fondasi kepercayaan pada diri sendiri, engkau dapat mendirikan dinding kepuasan batin. Pada dinding kepuasan batin, engkau dapat memasang atap pengorbanan diri. Hanya setelah itulah engkau dapat menempuh hidup dengan kesadaran diri sejati.

Diri sejati adalah atma. Orang yang tidak memiliki kepercayaan pada diri sendiri itu seperti thomas si peragu. Ia tidak dapat mencapai apa pun dalam hidupnya. Engkau harus meningkatkan keyakinan yang teguh. Di dunia modern ini orang-orang telah kehilangan mata keyakinan. Orang yang tidak memiliki keyakinan dapat diibaratkan dengan orang yang buta.

Kini manusia mempercayai segala hal yang dibacanya di surat-surat kabar. Semua berita itu hanya gangguan belaka. Setiap orang menulis sesuai dengan perasaannya. Engkau harus mendengarkan berita yang timbul dari lubuk hatimu dan memupuk hubungan dari hati ke hati dengan tuhan. Dalam surat kabar ada hal-hal yang baik maupun buruk. Akan tetapi, sebagian besar berita itu hanya ibarat angin lalu. Banyak orang terpengaruh oleh berita-berita semacam itu yang menghancurkman hidupnya.

Janganlah engkau mencemari hatimu dengan memperhatikan hal-hal yang tidak suci. Di mana pun engkau berada, keselamatanmu akan terjamin, jika kau jaga agar hatimu selalu murni.

Sebagaimana telah kukatakan kepadamu pada awalmu wacana ini, manusia tidak memerlukan harta yang sangat banyak untuk menyambung hidupnya. Jika aneka keinginan dikendalikan, bahkan penghasilan kecil pun sudah cukup untuk menempuh hidup bahagia. Akan tetapi, kini manusia tidak berusaha mengendalikan indranya. Agar bahagia, engkau harus menggunakan indramu dengan sepatutnya.

Untuk apa engkau dianugerahi mata apakah untuk melihat apa saja dan
segala-galanya tidak. Mata dianugerahkan agar enngkau memperoleh penampakan tuhan. Tahukah engkau mengapa engkau dianugerahi kaki apakah untuk keluyuran
kian kemari tidak. Kaki itu dimaksudkan untuk berjalan mengelilingi tempat suci. [Di india orang mempunyai kebiasaan berjalan mengelilingi tempat-tempat suci menurut arah jarum jam agar dapat memperoleh manfaat maksimal dari pancaran atau radiasinya]. Tahukah engkau mengapa tuhan menganugerahi telinga apakah untuk mendengarkan gosip yang tidak berguna tidak. Telinga itu dimaksudkan untuk
mendengarkan kisah kemuliaan tuhan.

‘’Kini orang-orang bersedia mendengarkan gosip yang tidak berguna, tetapi bila kisah
suci tuhan dituturkan, telinga mereka tersumbat. Orang-orang tidak pernah bosan
nonton bioskop,tetapi merasa sulit sekali memusatkan pandangannya semenit saja
pada wujud tuhan yang indah’’.

Perlulah manusia mengerti mengapa tuhan menganugerahinya anggota badan. Ia harus menggunakan indranya dengan baik. Inilah saadhanaa yang dilakukan dan disebarluaskan oleh buddha.

Pada mulanya buddha mempelajari berbagai kitab suci, menemui banyak orang-orang yang berjiwa mulia [mahatma], dan mendengarkan wejangan mereka. Namun, semua kegiatan itu tidak memberikan kebahagiaan yang didambakannya. Kemudian beliau menghentikan semua latihan itu dan mulai menyelidiki apakah beliau menggunakan indranya dengan baik. Beliau sadar bahwa semua latihan spiritual akan sia-sia saja, jika manusia tidak menggunakan indranya dengan sepatutnya.

Pertama-tama beliau meningkatkan samyak drishti ‘pandangan yang baik dan suci’. Ini membuka jalan ke arah samyak bhaavam I ‘perasaan yang baik dan suci’, samyak vaak ‘perkataan yang baik dan suci’, samyak karma ‘perbuatan yang baik dan suci’,dan samyak jiivitam ‘kehidupan yang baik dan suci’. Latihan spiritual yang sejati terletak pada pengendalian indra. Inilah ajaran utama buddha.

Di shirdi ada seorang bakta bernama Chandubai patel. Mahalsapati, chandolkar, dan chandubai patel, termasuk dalam kelompok yang sama. Chandubai patel adalah bakta yang baik sekali, ia juga kaya raya. Suatu kali ada seorang pengusaha yang datang untuk menemuinya. Pada waktu itu chandubai patel sedang berdoadi ruang puja. Pengusaha itu harus menunggu lama untuk menemuinya. Ketika akhirnya chandubai patel keluar dari ruang puja, usahawan itu bertanya kepadanya, ‘’patel, anda mempunyai segala kesenangan dan kemudahan. Anda sehat, kaya, dan diberkati dengan anak-anak yang baik. Anda tidak kekurangan apa-apa. Jadi, mengapa anda berdoa kepada tuhan’’ chandubai patel menjawab, ‘’saya berdoa kepada tuhan bukan untuk kesehatan, kekayaan, dan harta. Mengapa saya harus berdoa memohon hal-hal yang telah saya miliki saya bukan orang yang bodoh untuk melakukan hal itu. Saya berdoa kepada tuhan memohon hal yang tidak saya miliki’’. Karena heran mendengar jawaban ini, usahawan itu bertanya, ‘’adakah sesuatu yang tidak anda miliki’’ chandubai berkata, ‘’saya memiliki segala kesenangan dan kemudahan, tetapi saya tidak memiliki kedamaian hati dan kebahagiaan jiwa. Tuhan adalah perwujudan kedamaian. Hanyan beliaulah yang dapat menganugerahkan kedamaian. Karena itu, saya berdoa kepada tuhan agar dianugerahi kedamaian dan kebahagiaan jiwa’’.

Kejadian ini menyadarkan usahawan tersebut. Manusia harus berdoa kepada tuhan agar di anugerahi sesuatu yang tidak di milikinya. Ia mempunyai segala sesuatu kecuali kedamaian dan kebahagiaan jiwa. Ia dapat mencapai apa saja dalam hidupnya, tetapi hanya tuhanlah yang dapat menganugerahinya kedamaian dan kekebahagiaan jiwa. Usahawan tersebut mengakui kebenaran ini.

Sekedar mengulag-ulang nama tuhan tidaklah cukup. Engkau harus ikut serta dalam pekerjaan beliau. Suatu kali vibhiishana bertanya kepada hanumaan, ‘’saya mengasihi sri raama dengan sepenuh hati dan mengidungkan nama beliau selama 24 jam sehari. Mengapa sejauh ini beliau belum melimpahkan rahmat beliau kepada saya’’. Hanumaan menjawab, ‘’oh orang yang bodoh, tidak diragukan lagi anda mengidungkan nama raama, tetapi apakah anda ikut serta dalam pekerjaan beliau sudah hampir sepuluh bulan sejak siitaa dibawa ke langka. Adakah usaha yang anda lakukan untuk membebaskannya’’. Mendengar nasihat hanumaan, vibhiishana menemui raama dan mempersembahkan diri untuk mengabdi beliau. Selain mengulang-ulang nama tuhan, engkau harus ikut serta dalam kegiatan pelayanan.

Chandubai patel sebagai bakta baba yang penuh sdemangat, sering berkunjung ke shirdi. Ia biasa membagikan makanan kepada orang banyak dengan perasaan bahwa baba ada di dalam semuanya.

Iishvara sarva bhuutanam - ‘Tuhan bersemayam dalam segala makhluk’
ia bahkan biasa membagikan makanan kepada anjing-anjing. Tuhan ada sekalipun dalam seekor anjing. Orang yang memiliki pandangan batin akan melihat tuhan biarpun di dalam seekor anjing. Melihat anjing hanya sebagai anjing merupakan maya. Melihat tuhan di dalam anjing merupakan moksa. Chandubai patel dapat melihat baba dalam segala makhluk. Sedemikianlah keyakinan dan baktinya kepada baba.

Nana juga bakta baba yang sangat baik. Ia menganggap baba sebagai hidupnya sendiri. Namun, ia memiliki tanggung jawab tertentu dalam keluarganya. Shirdi baba telah memberitahu nana agar ia tetap tinggal bersama keluarganya dan melaksanakan kewajiban serta tanggung jawabnya.

Pada suatu hari menantu perempuannya yang hamil tua merasa sakit hendak bersalin. Nana berdoa dengan sepenuh hati kepada baba mohon perlindungan bagi menantunya. Ia tidak dapat meninggalkan wanita itu dan pergi ke shirdi karena ia adalah satu-satunya pria dalam keluarganya. Ia berdoa, ‘’baba, swamilah satu-satunya perlindungan kami’’. Baba mendengar doanya. Beliau segera memanggil salah satu bakta beliau, memberinya vibhuti, dan memberitahu agar ia pergi serta menyerahkan abu suci itu kepada nana.

Secara normal akan diperlakukan waktu setengah hari untuk mencapai desa tempat tinggal nana. Akan tetapi, dengan kehendak beliau yang bersifat ketuhanan, baba membuat hal itu berlangsung dengan cepat. Ketika orang itu tiba didesa nana, sebuah tongga ‘andong atau kereta yang ditarik kuda’ sudah menantinya. Dengan tongga itu ia pergi kt rumah nana.

Ia memberitahu nana, ‘’baba mengutus saya ke sini’’. Beliau memberikan prashadam ‘makanan yang sudah diberkati’ ini untuk menantu perempuan anda’’. Bukan main senangnya nana. Segera dimasukkannya prashadam abu suci itu ke dalam air minum dan diberikannya kepada menantu perempuannya. Dalam waktu semenit wanita itu melahirkan bayi laki-laki.

Ketika nana keluar untuk melihat, ternyata tongga dan kusirnya sudah tidak ada. Ia pergi mencarinya diseluruh desa, tetapi tidak dapat menemukannya. Kemudian ia sadar bahwa ini merupakan permainan baba. Dinamainya cucu lelakinya itu ‘baba’. Baba melakonkan berbagai drama semacam itu untuk menyelamatkan bakta beliau. Baba adalah aktor terbaik dalam setiap drama.

Cara-cara tuhan itu misterius. Pada suatu hari ketika kasturi, lokhanatham, dan surayya berada disamping-ku, tiba-tiba aku meninggalkan tubuh-ku.

Mereka adalah bakta yang penuh semangat dan percaya sepenuhnya kepada-ku. Setiap hari
mereka biasa menyertai aku hingga aku beristirahat pada malam hari. Ketika aku
meninggalkan raga, mereka mulai menitikkan air mata. Lokanatham bersujud
dikaki-ku dan mulai menangis sedih. Namun, kasturi mengerti bahwa aku sedang
pergi kesuatu tempat untuk menanggapi doa seorang bakta. Karena itu, ia
membesarkan hati mereka dengan berkata,’jangan menangis. Bahkan kalian harus
senang dengan kejadian ini. Pasti ada orang yang menangis [mohon pertolongan]
entah dimana.swami telah pergi untuk menghapus air mata bakta beliau.’

Setelah dua jam, aku kembali ketubuh-ku. Kemudian kasturi mohon kepada-ku, ‘swami, kami tidak berhak mencegah swami pergi menyelamatkan bakta swami. Tetapi, jika swami pergi, tolong jangan tinggalkan badan swami seperti ini. Sebenarnya swami tidak perlu meninggalkan badan swami dan pergi. Swami dapat tetap disini menyelamatkan bakta swami di seluruh dunia. ‘hari itu aku berjanji kepada kasturi dan surayya bahwa aku akan berbuat sesuai dengan permohonan mereka. Kukatakan kepada mereka bahwa jika diperlukan mungkin aku akan pergi meninggalkan tubuh-ku, tetapi akan tetap ada kehidupan dalam badan-ku. Aku akan menepati janji-ku hingga hari ini. Peristiwa misterius semacam itu sering berlangsung.

Diketiga loka ini kisah [permainan] tuhanlah yang paling menakjubkan dan suci.
Kisah itu bagaikan sabit yang memotong tanaman merambat perbudakan [pada aneka
keinginan dan kelekatan] duniawi.

Tidak mungkinlah melukiskan kemuliaan tuhan.

Weda menyatakan bahwa tuhan ada dalam bentuk hakikat [rasa] di dalam setiap makhluk. Tanpa hakikat tuhan atau rasa ini, manusia menjadi lemah niirasa. Orang yang menyadari ketuhanan yang laten di dalam dirinya, tidak memerlukan pertolongan siapapun. Orang yang tidak memiliki keyakinan ini menginginkan pertolongan orang lain. Tidak ada gunanya menolong orang semacam itu. Itu ibarat menghias mayat.

Engkau harus memiliki kepercayaan yang teguh kepada tuhan. Karena keyakinan semacam itulah, maka savitri dapat menghidupkan kembali suaminya yang telah meninggal, chandramatii dapat memadamkan kebakaran hutan, siita dapat keluar dari kobaran api tanpa terluka, dan damayantii dapat mengubah pemburu yang jahat menjadi abu. Semua wanita yang setia kepada suaminya dan berbudi luhur ini adalah putri bhaarat.

Sejak jaman dahulu bhaarat telah menjadi guru bagi seluruh dunia.setelah lahir dan dibesarkan di negeri sesuci itu, sungguh memalukan, jika bhaaratiiya ‘para putra bhaarat’ tidak mengetahui dan tidak mengikuti kebudayaan mereka yang mulia.

Kini kelakuan sejumlah putra bhaarat bertentangan dengan kebudayaan mereka. Mereka bertingkah laku seperti unggas dan hewan. Bagaimana orang semacam itu dapat mencapai tuhan. Kini kelakuan manusia lebih buruk daripada kelakuan binatang dan iblis.

Dalam ceramah sebelum ini, srinivas menyebut nama mahishaasura mardhini ‘yang menghabisi iblis mahishaasura’. Kini kita menjumpai banyak manishaasura ‘iblis dalam wujud manusia’. Manishi ‘manusia’bertingkah laku seperti asura ‘iblis’. Mahishaasura mardhini adalah orang yang membinasakan sifat-sifat iblis dalam dirinya sendiri dan berusaha meningkaatkan sifat-sifat ketuhanan.

Salam kasih Kalian tidak mengerti betapa sucinya sejarah bhaarat.
Kalau kalian tidak tahu, bertanyalah kepada-ku, akan kujelaskan, tidak hanya
artinya yang akan kujelaskan, tetapi aku juga akan menolong kalian. Namun,
tidak seorang pun bersedia mengajukan pertanyaan. Para mahasiswa membaca
seperti mesin, tanpa dipikirkan, dan mereka mempelajari berbagai hal dengan
menghafal. Mereka yang disebut sebagai orang terpelajar pun melakukan hal yang
sama. Apa gunanya memperoleh berbagai gelar, jika engkau tidak mampu memahami
hal-hal yang sederhana, mereka tidak berusaha mengetahui sifat-sifat ketuhanan
yang merupakan pembawaannya. Hanya orang yang memahami ketuhanannya dan
bertindak sesuai dengan pengertian itu dapat disebut manusia sejati. Buanglah
sifat-sifat kebinatangan dan sifat iblis dari dalam dirimu. Tingkatkan
kemurnian dan sifat ketuhanan. Kasih adalah dasar semua keutamaan ini.


Disarikan dari wacana Bhagawan Shri Sathya Sai Baba pada hari ke-5 perayaan dasara di Pendapa Sai Kulwant, Prashanti Nilayam, 24 oktober 2001.

Jay Shri Ram


Shri Danu

No comments:

Post a Comment