Tuesday, March 10, 2009

SAMKHYA, NONTEISTIS DUALISME

Petikan dari sebagai tulisan tentang: Sistem Filsafat Hindu;
by: I Wayan Sudarma- Bekasi @2007

Kata Samkhya berarti “pemantulan”, yaitu : pemantulan filsafati. Oleh karena itu maka aliran ini mengemukakan, bahwa orang dapat merealisasikan kenyataan terakhir dari filsafat ini dengan pengetahuan. Filsafat Samkhya dikatakan sebagai aliran filsafat tertua di India dimana sistimatikanya dirumuskan oleh filsuf Kapila
(berbeda dengan Devahutiputra-Kapila yang ada dalam sistim filsafat Samkhya dalam Srimad-Bhagavatam yang bersifat teistis).
Karya pertama Samkhya yang nonteistis adalah Samkhya-Sutra yang dikarang oleh
Kapila bukan karangannya yang otentik. Samkhya-Karika tulisan dari Isvarakrshna
merupakan tulisan tentang Samkhya yang terawal.

Diantaranya yang lain ada kometar atau bhasya dari Gaudapada, Tattva-Kaumudi dari
Vacaspati Misra, Samkhya-Pravacanbhasya dari Vijnanabhiksu dan Matharavrtti dari Mathara. Kapila dan Isvarakrshna menekankan topik-topik yang tradisional sedangkan komentator Samkhya yang lainnya menekankan masalah teori sebab akibat, konsep prakrti dan purusa, evolusi alam semesta, konsep pembebasan dan teori pengetahuan. Ciri khusus dari Samkhya adalah penggabungan dari filsafat Nyaya dan Vaisesika tentang realitas, dengan perkecualian Isvara (Tuhan) yang tidak ada dalam sistim ini, tapi dimasukkan dalam prinsip-prinsip dasar : purusa dan prakrti.

Dunia ini tidak diciptakan oleh Tuhan Pencipta, tapi hasil dari interaksi antara sejumlah rohani-rohani yang tidak terbatas dengan prakrti yang super aktif yang merupakan potensi alam, seperti yang dikatakan Plato sebagai “the receptacle and nurse of all generation”. Dengan demikian Samkhya adalah filsafat dualisme.

Seperti komentar dari Richard Garbe dalam tulisannya “Philosophy of Acient India” dikutip oleh Sarvepalli Radhakrishnan, mengatakan bahwa : “In Kapila’s doctrine, for the first time in the history of the world, the complete independence and freedom of human mind, its full confidence in its own powers, were exhibited”. Ini dianggap sebagai suatu sistim pemikiran filsafat India yang sangat penting.

Samkhya artinya jumlah. Maksudnya adalah bahwa filsafat Samkhya menjabarkan prinsip-prinsip alam semesta ini ada 25 buah jumlahnya, yang terdiri dari hal-hal yang
rohani, kejiwaan dan kebadanan.

Pemikran Samkhya menekankan:

1. Dualitas, bahwa ada dua realitas yaitu realitas rohani (Purusa) dan realitas Jasmani (Prakrti).

2. Pluralitas Roh yaitu bahwa Roh Murni mengalir menjadi Roh individu yang banyak sekali jumlahnya. Roh individu ini bersifat empiris.


1. REALITAS YANG DUALISTIS.

a. PURUSA AZAS ROHANI

Purusa merupakan subyek dari pengetahuan dan 24 unsur lainnya merupakan prinsip-prinsip alam yang merupakan obyek pengetahuan. Purusa adalah roh, ia bukan merupakan hasil atau produk. Ia adalah subyek atau saksi yang bersifat : asanga artinya tak
terikat, merupakan kesadaran yang meresapi segala sesuatu dan abadi, tanpa awal (anadi) dan tanpa akhir (ananta) serta nyata (Sat). Purusa tunggal, statis dan tidak berubah. Oleh karena Purusa adalah kesadaran maka Purusa adalah yang mengetahui dan Prakrti adalah yang tidak sadar, yang diketahui. Purusa tidak semata-mata sebuah substansi yang sifat sadar, tapi merupakan suatu kesadaran murni yang menerangi dirinya sendiri, tidak berubah, tidak disebabkan, meliputi segalanya, realitas
yang kekal.

Apapun yang diciptakan, berubah, mati, hancur adalah prakrti dengan segenap evolusinya tapi bukan sang diri. Adalah sangat bodoh kalau kita menganggap bahwa sang diri adalah badan, indra-indra, pikiran atau intelek dimana karena kebodohan ini purusa bingung dan menganggap dirinya adalah obyek dari dunia ini. Dengan
demikian ia akan terikat dalam arus perubahan dan merasakan dirinya sebagai
yang menderita dan menikmati.

Samkhya membuat lima argumentasi untuk membuktikan adanya purusa sebagai berikut :

(1) Kumpulan dari segala sesuatu yang ada di dunia ini ada tujuannya yaitu demi sesuatu yang lain diluar dirinya. Artinya bahwa semua obyek-obyek yang ada di dunia ini dimaksudkan adalah untuk dimanfaatkan oleh seseorang atau sesuatu di luar dirinya
sendiri. Dicontohkan dengan “Tempat Tidur” dimana tempat tidur ini terdiri dari bagian-bagian yang membentuknya, yang berbeda satu dengan yang lainnya. Tempat tidur ini dibuat bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain yang akan tidur di atasnya.
Begitu pula “Dunia ini” terbentuk dari lima unsur-unsur kasar yang memiliki tujuan lain diluar dirinya yaitu sesuatu yang lain yang berbeda dengan obyek-obyek itu sendiri, karena obyek-obyek itu tidak dapat menikmati keberadaannya sendiri, ataupun obyek material yang satu tidak akan dapat menikmati obyek material yang lain. Maka dari itu harus ada penikmat dari obyek itu yang sadar yaitu Sang Pribadi (Roh) yang dikenal sebagai Purusa.

(2) Semua obyek yang dikenal memiliki unsur tiga Guna (sattvam, Rajas, Tamas).
Prakrti berpotensi atau memiliki esensi yang cenderung menderita atau bahagia
maka itu tak mungkin ia menjadi penikmat dari dirinya sendiri. Harus ada Subyek
yang mengenal, yang mengatasi realitas yaitu suatu Roh yang bebas dari tiga Guna itu. Itulah Purusa.

(3) Obyek-obyek yang ada di dunia ini termasuk pikiran, panca indra dan intelek adalah sesuatu yang tidak sadar. Mereka itu semua tidak akan dapat berfungsi tanpa pengarahan dari sesuatu yang memiliki kecerdasan untuk mencapai sesuatu tujuan. Harus ada sesuatu yang memiliki kekuatan, suatu kesadaran murni yang mampu mengkoordirnir semua pengalaman-pengalaman yang ada. Sesuatu itu adalah Purusa.

(4) Prakrti yang merupakan sesuatu yang dinamis yang dapat menghasilkan sesuatu berupa produk-produk tetapi produk-produk itu tidak memiliki kecerdasan. Mereka itu
semua tidak akan mempunyai makna apapun kalau tidak ada suatu kekuatan kecerdasan yang menikmatiu atau memanfaatkannya maka dari itu harus ada sesuatu yang dapat mengalami peroduk-produk dari Prakrti itu yang memilki kecerdasan ia itu adalah Purusa.

(5) Hidup ini mempunyai tujuan, tujuan itu adalah Pembebasan (Moksa) dari penderitaan. Harus ada sesuatu yang berusaha menuju kepada pembebasan itu yang mengimplikasikan sesuatu yang memiliki kwalitas yeng berbeda dengan Prakrti. Oleh karena bila hal itu adalah prakrti maka apapun yang dicapai oleh prakrti akan membawa pada penderitaan itu sendiri. Bila tidak ada sesuatu yang berbeda dengan prakrti yang tidak dihasilkan oleh proses evolusi, bagaimana mungkin pembebasan itu dapat dicapai? Lagipula bila yang ada cuma prakrti maka konsep tentang pembebasan itu sendiri dan keinginan untuk bebas yang ada pada setiap manusia separate apa yang
dikatakan oleh para resi dan kitab-kitab suci adalah seuatu yang tidak bermakna. Maka dari itu harus ada sesuatu yang bukan prakrti, suatu prinsip kesadaran yang strives mencapai pembebasa itu. Sesuatu itu adalah Purusa.

Kalau begitu apa hekekat dari pribadi atau subyek yang berkesadaran itu ? Yang pasti ia bukan badan, ia bukanlah produk dari unsur-unsur. Ia juga bukan seperti halnya
indra-indra yang sekedar merupakan alat-alat saja yang pada hakekatnya bukan si
pemakai alat. Purusa bukanlah Buddhi, karena buddhi pun tidak memiliki kesadaran. Pribadi itu adalah Roh Murni yang berbeda dengan badan atau Prakrti. Hakekat Purusa adalah tidak berubah, tidak bergerak, tidak berpindah.

S. Radhakrishnan dalam (menyimpulkan bahwa Purusa yang dimaksud oleh Samkhya adalah : Seperti halnya konsep Atman dalam Upanisad yang mengatakan bahwa Purusa itu adalah
tanpa permulaan tanpa akhir, tanpa kwalitas, halus sekali, omnipresent, abadi,
mengatasi indra-indra, mengatur pikiran, melebihi kecerdasan, di luar ruang dan
waktu serta kausalitas. Ia tidak diciptakan, tidak menciptakan abadi dan sempurna.

b. PRAKRTI AZAS JASMANI

Prakrti dari kata Pra yang artinya sebelum dan Kri yang artinya membuat. Prakrti artinya sebelum membuat, sebelum penciptaan. Ia merupakan prinsip awal dari segala sesuatu.
Prinsip mula-mula yang berkembang dan menghasilkan sesuatu yang lain. Ia juga
tanpa awal (anadi) dan tanpa akhir (ananta) dan nyata (Sat). Prakrti adalah azas jasmani dari alam semesta yang sangat luas, kompleks dan terdiri dari unsur-unsur yang selalu berubah. Ia adalah basis dasar dari alam semesta yang empiris ini.

Sistim filsafat Samkhya menunjukkan bahwa keseluruhan dari dunia ini, termasuk badan, pikiran dan indra-indra ditentukan dan dibatasi serta dibentuk oleh akibat-akibat tertentu. Prakrti atau asas bendani adalah sebab pertama alam semesta, yang terdiri dari unsure-unsur kebendaan dan kejiwaan atau psikologis. Berbagai aliran
filsafat seperti Carvaka, Buddhisme, Jainisme, Nyaya dan Vaisesika berpendapat
bahwa atom tanah, atom air, atom api, dan atom udara adalah penyebab materiil
dari dunia ini, sedangkan menurut Samkhya atom-atom tidak dapat menghasilkan
benda-benda alam yang sangat halus seperti pikiran, intelek dan keakuan yang
palsu. Oleh karena itu kita harus mencari penyebab dari benda-benda kasar dan
aspek-aspek terkecil yang membentuknya, dan jika kita memeriksa kejadian dalam
alam ini, maka dalam kenyataannya penyebab lebih halus atau lebih kecil dari
akibatnya, bagaimana mungkin penyebab itu melingkupi akibatnya yang lebih besar?

Sebutir benih pohon beringin, apapun kandungan kwalitas yang ada pada benih
itu akan kita temukan di dalam pohon beringin yang besar itu. Penyebab terakhir
dari dunia ini harus juga mengandung unsur-unsur potensial yang tidak disebabkan, kekal dan mampu meliputi, dan lebih halus daripada pikiran, intelek dan pada saat yang sama mengandung sifat-sifat yang kekal dari obyek-obyek seperti pikiran, panca indra dan intelek. Penyebab yang terakhir inilah yang disebut prakrti.

Keberadaan Prakrti dijelaskan dalam kitab Samkhya Karika sebagai berikut :
(1) Benda-benda individual sifatnya terbatas. Apapun yang sifatnya terbatas tergantung pada sesuatu yang sifatnya eksternal diluar dirinya yang membatasi dirinya. Sebagai suatu yang sifatnya terbatas tidak dapat menjadi sumber dari Alam
Semesta. Yang eksternal yang tak terbatas yang merupakan sumber alam semesta itu disebut Prakrti.

(2) Semua benda-benda individual memiliki kesamaan sifat-sifat tertentu. Kesamaan
sifat-sifat itu menunjukkan bahwa ada sumber bersama dari mana sifat-sifat itu
berasal. Sumber bersama itu adalah Prakrti.

(3) Ada suatu deretan penyebab-penyebab yang mengakibatkan benda-benda ini
berkembang. Dalam suatu proses perkembangan ada banyak penyebab pada setiap
tingkatan dari proses pengembangan itu. Penyebab yang satu disebabkan oleh
penyebab yang lainnya dan demikian seterusnya. Dari sekian banyak penyebab-penyebab
ada suatu penyebab yang tidak disebabkan oleh penyebab yang lain. Penyebab
yang tidak disebabkan itu adalah Prakrti.

(4) Akibat berbeda dari penyebab. Dunia yang terbatas yang statusnya terkondisikan hanyalah akibat-akibat yang tidak mungkin menyebabkan dirinya sendiri. Penyebabnya adalah Prakrti.

(5) Alam semesta berwujud satu kesatuan. Kesatuan dari alam semesta itu dapat terjadi
karena ada penyebab yang menyatukannya. Penyebab yang menyatukannya itu adalah
Prakrti.

Jadi dengan demikian Dunia adalah perubahan dari prakrti yang merupakan penyebabnya.


TRI GUNA

Tri Guna adalah tiga kekuatan yang mempengaruhi perkembangan prakrti, terdiri dari kekuatan Sattva, Rajas dan Tamas. Sattva adalah kekuatan yang berpotensi untuk memanifestasikan (prakasa) yang dapat menghasilkan kenikmatan, Rajas adalah kekuatan yang berpotensi untuk beraktivitas (pravrtti) yang dapat menghasilkan kesengsaraan dan Tamas adalah kekuatan yang berpotensi untuk pengendalian (niyama) yang dapat menghasilkan kemalasan. Sattva adalah hakekat segala sesuatu yang memiliki
sifat-sifat terang dan menerangi. Unsur inilah yang menimbulkan segala hal yang
baik dan yang menyenangkan. Rajas adalah sumber aktivitas dan pengluasan dan
oleh karenanya menjadi sumber kesusahan dan penderitaan. Tamas adalah kekutan
yang menentang segala aktivitas, sehingga menimbulkan segala keadaan yang apatis (dingin) atau yang acuh tak acuh, kemalasan dan ketidaktahuan.

Ketiga guna ini tak dapat dipisahkan satu sama lainnya karena masing-masing saling
mensuport yang lain sebagai satu kesatuan. Ibaratkan “lampu minyak” yang terdiri dari unsur nyala, unsur minyak dan unsur lampunya, yang secara sendiri-sendiri tidak akan dapat berfungsi. Dalam kaitan dengan konsep penciptaan, pemeliharaan dan peniadaan, sattva adalah penciptaan, rajas adalah pemeliharaan dan tamas adalah peniadaan.

Prakrti dicirikan oleh adanya tiga guna di atas. Kata guna artinya adalah kwalitas atau sifat dari prakrti, tetapi tidak sekedar aspek permukaan dari alam materiil ini, tapi hakekat intrinsic dari prakrti. Guna-guna itu ibaratkan tiga utas tali yang diikal atau distranding menjadi satu tali yang mengikat roh dengan dunia ini. Bila tiga utas tali itu dipisahkan maka kita tidak melihat tali itu lagi.

Guna-guna itu selalu berubah dalam dirinya sendiri walaupun dalam keadaan keseimbangan, cuma saja ia tidak menghasilkan apapun sepanjang keseimbangan tidak terganggu. Bila keseimbangan terganggu maka guna-guna dalam situasi gunaksobha, dimana masing-masing guna beraksi satu sama lainnya yang disebabkan karena salah satu guna secara dominan tampil walaupun tidak meniadakan guna-guna lainnya. Dalam benda-benda material yang diam atau yang tidak bergerak maka yang dominan adalah Tamas Guna dibandingkan dengan dua guna lainnya. Dalam sesuatu yang bergerak maka Rajas Guna dominan dari pada dua guna lainnya. Demikianlah guna-guna itu bekerja bersama sama dalam membentuk alam semesta ini.

Guna-guna itu dapat dimengerti dari fakta berupa cirri-ciri dari dunia materiil ini, baik secara eksternal maupun secara internal, baik itu berupa unsure fisik atau pikiran, yang semuanya itu memiliki kemampuan dalam mengahasilkan kesenangan, penderitaan atau seimbang tidak kuduanya. Suatu obyek yang sama barangkali menyenangkan seseorang tapi menyakiti bagi yang lainnya atau sama sekali tidak keduanya itu.

Seorang wanita yang cantik akan sangat menarik bagi pacarnya, tapi akan menyakitkan wanita lainnya yang juga tertarik kepada laki-laki pacar wanita cantik itu, dan tidak ada apa-apanya bagi orang lain yang tidak terlibat. Kecantikan dari wanita itu menunjukkan adanya hubungan dengan orang-orang lainnya disekitarnya, yang muncul dari
guna-guna yang ada pada dunia ini. Dari contoh ini kita akan dibantu dalam memahami bagaimana asal usul dari semua fenomena prakrti yang memiliki cirri-ciri yang dapat kita temukan pada obyek-obyek dunia ini.

Prakrti dan produk-produk yang dihasilkannya membutuhkan guna-guna tersebut karena, prakrti dan produknya tidak mempunyai kekuatan untuk membedakan dirinya dengan Purusa. Mereka adalah Obyek sedangkan Purusa adalah Subyek. .

Filsafat Samkhya menyatakan bahwa keseluruhan alan semesta ini berkembang dari guna, dimana dalam keadaan ketiga guna itu seimbang alami disebut prakrti dan dalam keadaan
tidak seimbang disebut sebagai vikrti, yaitu keadaan yang heterogen. Tiga guna ini oleh filsuf Samkhya yang beraliran nonteistik dinyatakan sebagai penyebab terakhir dari semua penciptaan ini. Sattva tidak berbobot dan bercahaya (laghu); rajas adalah
gerak dan aktivitas (calam); dan tamas adalah berat dan gelap, lesu atau menutupi (guru dan avarana).

Guna itu tidak berbentuk dan selalu ada (omnipresent) yang dalam keadaan seimbang menyerahkan sifat-sifatnya kedalam yang satu dengan yang lainnya. Dalam keadaan tidak
seimbang, rajas dikatakan sebagai pusat dari sattva dan tamas, yang menghasilkan
penciptaan karena memanifestasikan dirinya di dalam suatu aktifitas.

Aktifitas tergantung dari gerakan, kekuatan dalam aktifitas adalah hakekat dari rajas
dan sattva serta tamas tergantung dari rajas dalam memanifestasikan dirinya dengan demikian rajas menghasilkan pasangan-pasangan yang berlawanan. Sebaliknya rajas juga
tergantung dari sattva dan tamas, karena aktifitas tidak akan terjadi tanpa adanya obyek atau media lewat mana ia beraktifitas. Dalam keadaan memanifestasikan diri, salah satu guna mendominasi dua guna lainnya, tetapi tidak pernah terjadi secara sepenuhnya terpisah atau absen satu sama lainnya karena secara berkesinambungan mereka bereaksi antara yang satu dengan yang lainnya. Dengan pengaruh rajas maka kekuatan sattvika terjadi dengan kecepatan yang tinggi dan unit kekuatan itu terpecah menjadi bagian-bagian.

Dalam tahapan tertentu barangkali percepatan berkurang dan mereka mulai mendekat dan semakin dekat satu sama lainnya. Kontraksi dari kekuatan sattvika maka akan terbentuk
tamas, dan dalam waktu yang bersamaan dorongan dari kekuatan aktif (rajas) juga
terjadi pada tamas dan dalam kontraksi itu terjadilah ekspansi yang cepat. Dengan demikian guna-guna itu secara terus menerus merubah keunggulan mereka mengatasi yang lainnya. Keunggulan sattva dari tamas dan sebaliknya, keunggulan tamas dari sattva terjadi secara bersamaan dalam proses tersebut, dan pergantian seperti itu terjadi setiap saat.

Sattva dan tamas dalam penampakannya merupakan perlawanan antara yang satu dengan yang lainnya, karena yang satu merupakan terang dan tidak berbobot sedangkan yang lain merupakan gelap dan berat. Tapi pasangan ini bekerja secara bersama-sama dalam penciptaan dan peleburan seperti halnya benda-benda bergerak dari yang halus menuju yang kasar dan sebaliknya dari yang kasar menuju yang halus. Ekspansi kekuatan energi
yang tertimbun dalam bentuk-bentuk yang halus, dari mana ia memanifestasikan diri dalam bentuk keseimbangan yang baru. Keseimbangan yang sifatnya relatif ini merupakan suatu tahapan tertentu dari proses evolusi itu sendiri. Memang klihatan pada awalnya ada suatu konflik yang berkesinambungan antara guna-guna itu, tapi sesungguhnya ada suatu kerjasama yang sempurna selama proses penciptaan oleh karena lewat interaksi yang berkesinambungan itulah aliran kosmis dan kehidupan individual
terus berlangsung.

Guna-guna itu mememiliki peranan yang sama dalam tubuh dan pikiran manusia seperti halnya yang terjadi pada alam semesta secara keseluruhan. Penampakan fisik individual semata-mata merupakan manifestasi dari guna-guna itu yang telah dibawa oleh kesadaran. Keinginan-keinginan yang ada dalam kesadaran menyebabkan prakrti menghasilkan gangguan-gangguan pada keseimbangan dari prakrti, yang menyebabkan guna-guna itu berinteraksi satu sama lain dan memanifestasikan alam semesta ini.

Guna-guna itu selalu berubah satu sama lainnya dalam dua cara yaitu : pertama, vrupaparinama yang artinya berubah menjadi suatu keadaan yang heterogen dan kedua, svarupaparinama yaitu perubahan menjadi suatu keadaan yang homogen. Virupaparinama terjadi ketika salah satu dari guna mendominasi dua yang lainnya dan mulai terjadi proses penciptaan objek-objek khusus. Jenis transformasi ini satu sama lain dari
guna-guna itu bertanggung jawab atas penciptaan dunia ini. Svarupaparinama adalah
trasformasi dari guna-guna itu dimana keadaan guna-guna itu berubah secara
internal tanpa mengganggu satu dengan yang lainnya. Dalam keadaan ini guna-guna itu tidak mengahasilkan sesuatu karena mereka tidak berlawanan ataupun bekerjasama satu
sama lainnya. Perubahan seperti ini terjadi dalam keadaan prakrti seimbang.

Dalam menguraikan proses dari involusi Samkhya menyatakan bahwa semua unsure-unsur kasar terurai menjadi unsure-unsur halus dan secara final mereka akan kembali kepada aslinya yaitu sattva, rajas dan tamas. Akhirnya triguna ini sampai pada suatu keseimbangan sempurna yang disebut prakrti, dimana tidak ada lagi tamas yang berat, tidak lagi ada sattva yang tidak berbobot dan tidak ada lagi aktivitas dari rajas karena guna-guna tidak lagi tidak lagi merupakan eksistensi yang terpisah dimana salah satu lebih mengungguli yang lainnya. Keadaan prakrti seperti ini tidak dapat dimengerti dengan persepsi manusia biasa tapi ia tidak pula dapat dimengerti dengan penyimpulan. Kita hanya dapat membayangkan keadaan dimana semua alam ini dalam keadaan seimbang tidak ada penyimpangan, tidak ada gerak, tidak ada berat, tidak ada cahaya, tidak ada gelap, tidak ada kekuatan-kekuatan yang berlawanan, dimana imajinasi itu sendiri yang merupakan produk dari pikiran menghilang. Filsafat Samkhya menyatakan bahwa keadaan keseimbangan ini sebagai yang tidak disebabkan, yang tidak dimanifestasikan, kekal, meliputi segalanya, bebas dari akibat dari suatu
aktivitas-aktivitas, tiada duanya, bebas dan tanpa bagian-bagian.


EVOLUSI DAN INVOLUSI ALAM SEMESTA.

a. Evolusi

Menyamakan Purusa dengan Prakrti akan menyebabkan adanya kelahiran dan kematian. Inilah sifat Aviveka, tidak mampu membedakan tidak bijaksana, tidak
berpengetahuan atau bodoh. Apabila kita dapat membedakan antara purusa dengan prakrti dapat memberikan kebebasan atau mukti. Prakrti adalah substansi yang fundamental, yang mendasar dari mana Dunia berkembang. Dalam keadaan keseimbangan (samyavastha), maka tidak ada gerakan. Keadaan istirahat seperti ini merupakan keadaan yang hakiki dari Prakrti.

Menurut Samkhya seluruh alam ini terbentuk sebagai akibat dari interaksi prakrti
dengan purusa. Interaksi ini tidak seperti halnya hubungan antara laki dan
perempuan dalam dunia materiil, tapi hubungan sebagai akibat pengaruh purusa pada prakrti, seperti halnya badan manusia bergerak karena adanya pikiran. Evolusi tidak akan terjadi hanya adanya sang diri atau purusa, yang pada dasarnya tidak aktif,
ataukah hanya adanya prakrti, karena ia tidak sadar. Aktivitas prakrti harus
diarahkan oleh purusa yang cerdas.

Kerja sama antara keduanya, purusa dan prakrti, barulah memungkinkan terjadi evolusi. Walaupun tidak ada aktivitas tetapi ia memiliki kecenderungan untuk beraktifitas. Aktivitas terjadi pada saat tri guna dalam keadaan tidak seimbang yang mempengaruhi prakrti. Prakrtilah yang merupakan pelaku dan merupakan sumber
segala yang ada di alam semesta ini termasuk diri kita sebagai manusia. Badan
adalah milik dari ahamkara, lewat manas (pikiran) ia membuat kegiatan lewat
organ-organ kegiatan (karmendrya). Ahamkara bersama sama dengan tri guna yang berpengaruh dominan terhadap badan, menentukan karakter keperibadian seseorang.

Filsafat Samkhya adalah Nir Isvara Samkhya artinya Samkhya tanpa Isvara. Ajaran Samkhya tidak mempercayai adanya Tuhan. Penciptaan berasal dari Prakrti yang ada dengan sendirinya dan tak ada sangkut pautnya dengan Purusa. Jadi tak perlu adanya pencipta yang cerdas. Prakrti merupakan sumber dari alam semesta (pradana = pokok) karena semua akibat ditemukan padanya. Prakrti merupakan penyebab dari semua
akibat, meresapi segalanya, tak dapat digerakkan dan cuma satu adanya.

Prakrti hanya tergantung pada tri guna. Tri gunalah yang membentuk substansi
prakrti. Disamping itu prakrti juga berkembang dibawah pengaruh Purusa. Lewat
interaksi antara purusa dan prakrti terjadi gangguan keseimbangan pada guna yang
merupakan tahap awal dari manifestasi itu. Pada saat pertemuan antara Purusa dan
Prakrti terjadi ketidak seimbangan tri guna, sehingga menimbulkan evolusi
pengembangan dan penyusutan.

Perwujudan produk awal dari evolusi adalah Mahat (Kecerdasan Utama). Mahat merupakan benih alam semesta, dimana bersatunya purusa dengan prakrti. Sebagaimana kita ketahui bahwa prakrti merupakan substansi material yang tidak sadar, namun menjadi sadar dan sadar akan dirinya sadar sebagai akibat mendapat penerangan dari purusa yang memancarkan cahaya dan melihat dirinya sendiri. Proses melihat ini merupakan
awal terciptanya alam semesta. Rekan pendamping dari mahat yang merupakan unsur
psikologisnya disebut Buddhi. Buddhi merupakan azas kejiwaan dan Mahat adalah
azas kosmis.

Azas Kejiwaan (buddhi) merupakan unsure halus dari manusia yang mempunyai kemampuan untuk tahu keseluruhan personalitas yang murni. Buddhi merupakan hasil yang langsung dan segera dari prakrti yang merupakan hasil dari pengarahan purusa sehingga buddhi merupakan hasil evolusi yang paling dekat dengan purusa. Buddhi dimanifestasikan dari unsur sattvika dari prakrti yang pada hakekatnya, tanpa bobot, jelas dan terang sehingga dipengaruhi lebih cepat oleh kekuatan aktif dari penciptaan, bila dibandingkan dengan tamas yang pada hakekatnya berat dan tidak jelas atau gelap.

Oleh karena sifat sattvika dari buddhi cahaya dari sang diri memantul ke dalam intelek seperti halnya obyek-obyek eksternal dipantulkan oleh permukaan yang
jernih dari sebuah cermin. Sang diri melihat pantulannya di dalam cermin buddhi dan menganggap dirinya sama dengan bayangan di cermin itu sehingga lupa dengan hakekat dirinya yang benar. Perasaan keakuan dipancarkan oleh buddhi, dimana buddhi mulai tidak sadar yang merupakan prinsip ketidak sadaran selanjutnya.

Menurut filsafat Samkhya, buddhi memiliki delapan sifat-sifat :
Kebajikan (dharma) – Pengetahuan (jnana) – Ketidakterikatan (vairagya) – Kesempurnaan (aisvarya) – Ketidakbajikan (adharma) – Kebodohan (ajnana) – Keterikatan (avairagya) – Ketidaksempurnaan (anaisvarya).
Empat pertama merupakan bentuk sattvika daro buddhi dan empat yang terakhir merupakan
bentuk penguasaan dari kebodohan atau tamas.

Semua sifat-sifat di atas kecuali pengetahuan, mengikat prakrti dan melibatkan sang diri ke dalam buddhi, sehingga mengikatnya dengan kepentingan-kepentingan yang
bersifat duniawi yang menyengsarakan. Sang diri yang murni keliru mengidentifikasi kan dirinya sebagai buddhi sehingga ia mengira bahwa apa yang dialami oleh buddhi merupakan pengalamannya sendiri. Tetapi dengan mempergunakan delapan sifat dari buddhi, pengetahuan (jnana), memantulah pengetahuan murni yang sudah disaring dengan
baik ke dalam purusa lewat cerminnya sehingga purusa menjadi sadar akan kekeliruan tentang dirinya yang menidentifikasikan dirinya sama dengan obyek-obyek dari buddhi dan mengenal hakekatnya yang transenden penuh dengan kemurnian. Dengan demikian buddhi yeng berfungsi sebagai decision maker berada paling dekat dengan sang diri dan berfungsi langsung sebagai sang diri yang memungkinkannya membedakan antara dirinya sendiri dengan prakrti dan dengan demikian mencapai tingkat kesadaran akan hakekat kebebasannya.

Buddhi merupakan tempat dimana kecakapan mental, pertimbangan dan keputusan-keputusan dibuat, baik keputusan moril maupun intelektual. Buddhi menimbulkan ahamkara yang merupakan azas ke akuan, yang menyebabkan segala sesuatu memiliki latar belakang kepribadiannya sendiri.

Ahamkara muncul dari mahat atau buddhi, merupakan peralatan duniawi dari keindividuan yang menghasilkan batas materiil dari keakuan. Kekeliruan identitas ini memisahkan seseorang dengan orang lainnya dimana focus pikirannya pada materi dan berfikir bahwa “ Aku adalah badan ini, ini adalah milikku dan ini adalah untukku”.

Ada tiga jenis ahamkara yaitu, ahamkara sattvika, ahamkara rajas dan ahamkara tamas yang tergantung dari triguna yang mana yang mendominasi ahamkara itu. Sebelas indra muncul dari ahamkara sattvika, yang terdiri dari lima indra persepsi (mendengar, menyentuh, melihat, mencicipi/merasa, mencium), lima indra pelaksana (action) (verbalization, apprehension, locomotion, excretion, dan procreation) dan satu indra pengatur atau pusat dari indra yaitu pikiran (manas).

Ahamkara tamas menghasilkan lima unsur halus (panca tanmatra) yang merupakan sari-sari yang diterima oleh panca indra persepsi kita (sari suara, sari sentuhan, sari warna, sari rasa, dan sari bau). Fungsi dari ahamkara tamas ini adalah untuk
memotivasi dua guna lainnya yang menyebabkan penciptaan berlangsung melalui dua
aspeknya yaitu : Unsur-unsur indra dan lima unsur halus atau tanmatra, namun
pendapat para komentatornya yang beragam.

Penjelasan ini dapat kita temukan pada Samkhya-Karika yang merupakan sebagian besar tulisan dari filsafat Samkhya. Semua para sarjana setuju bahwa hidung, lidah, mata, kulit dan telinga adalah organ-organ fisik yang merupakan pembungkus dari indra pengenalan (cognitive senses). Begitu pula mulut, lengan, kaki, excretion dan reproduksi yang sesuai dengan lima indra pelaksana atau lima indra penggerak (verbalization, apprehension, locomotion, excretion dan procreation). Organ-organ fisik ini bukanlah indra tetapi unsure fisik yang diberikan kekuatan dari indra.

Dengan demikian indra tidak dapat diketahui lewat persepsi tapi hanya dapat dikenal lewat penyimpulan dari aktivitas organ-organ fisik yang diberikan kekuatan oleh indra itu.

Ahamkara menghasilkan Manas (pikiran), yang merupakan pusat dari indra. Pikiran mengkoordinir rangsangan-rangsangan dari indra, mengaturnya sedemikian rupa sehingga terjadi petunjuk-petunjuk yang kemudian diteruskan kepada Ahamkara dan Buddhi. Pikiran adalah boss dari semua indra eksternal, artinya bahwa tanpa pengaturan dan
pengarahan dari pikiran indra eksternal itu tidak berfungsi. Pikiran adalah
merupakan indra yang sangat halus dan memiliki banyak aspek sehingga dapat berhubungan dengan beberapa indra pada waktu yang bersamaan. Menurut filsafat Samkhya
pikiran bukanlah sebuah atom dan tidak kekal. Pikiran merupakan hasil dari prakrti, dengan demikian ia merupakan hasil ciptaan sehingga pada suatu saat ia akan musnah.
Indra cognitive kontek langsung dengan obyek-obyek dan meneruskan pengetahuannya kepada pikiran yang kemudian data-data itu diinterpretasikan sebagai persepsi yang
dibutuhkan atau tidak dibutuhkan.

Selanjutnya ahamkara menghubungkan dirinya
dengan obyek-obyek persepsi itu dan mengidentifikasi dirinya sebagai yang
menginginkannya atau yang tidak menginginkannya. Intelek atau buddhi memutuskan
bagaimana caranya menghadapi atau menyikapi obyek-obyek eksternal itu. Buddhi,
Ahamkara dan Manas secara bersama-sama disebut sebagai peralatan batin (Antah
Karana) atau juga disebut sebagai indra internal.

Pengembangan Panca Indra Persepsi (Panca Buddhendriya atau Panca Jnanendriya) yang terdiri dari penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa dan peraba. Panca indra
persepsi pengelihatan dapat menangkap kesan warna, apakah warna itu merah ataukan
biru dan sebagainya. Panca indra persepsi pendengaran menangkap kesan dari suara apakah suara itu suara ledakan atau suara berupa nyanyian yang mendayau-dayau,
sedangkan kesan bau yang ditangkap apakah busuk atau wangi dilakukan oleh panca
indra persepsi penciuman. Panca indra persepsi perasa menangkap kesan pedas ataukah pahit, manis, sedangkan kesan halus dan lembut seperti sutra, keras, kasar ditangkap
oleh panca indra persepsi peraba. Panca indra persepsi ini merupakan alat bantu
kejiwaan dari badan halus (Antah karana).

Pengembangan Lima Organ Penggerak Indra (Panca Karmendriya) yang terdiri dari Daya untuk Berbicara, Daya untuk Memegang, Daya untuk Berjalan, Daya untuk Membuang Kotoran dan Daya untuk Mengeluarkan Benih (sperma dan ovum). Panca indra penggerak ini mempunyai kepampuan melakukan aktifitas merupa gerakan sehingga manusia dapat berbicara, dapat memegang sesuatu, melakukan aktifitas berjalan, berak maupun
mengeluarkan air mani ataupun ovum. Ia juga merupakan alat bantu kejiwaan dari
badan halus (Antah karana) Kesepuluh Indra ini tak dapat dilihat, semuanya berada di dalam alat masing-masing. Hal-hal yang bisa kita lihat hanyalah alat-alatnya saja. Lewat perantaraan alat-alat yang tampak tadi itulah kita dapat mengamati dan mengenal
obyek-obyek diluar diri kita.

Kelima unsur indra ini dapat diketahui lewat penyimpulan, yang berkembang setelah sepuluh indra ada dan kelima unsure ini merupakan penyebab munculnya unsure-unsur kasar yang diturunkan secara gradual dalam suatu proses tahap demi tahap. Pertama yang berkembang adalah tanmatra yang merupakan hakekat dari bunyi (sabda) dan berikutnya adalah ether (akasa)dan unsure ruang. Maka dari itu unsur ruang mengandung sifat bunyi yang dapat ditangkap melalui telinga. Unsur udara yang diturunkan dari hakekat sentuhan (sparsa tanmatra) yang berkombinasi dengan bunyi.

Maka dari itu unsur udara mengandung sifat bunyi dan sentuhan, walaupun sentuhan merupakan sifat yang khusus dari udara yang dapat ditangkap atau dirasakan melalui kulit. Unsur api diturunkan dari hakekat warna (rupa tanmatra). Ia mengkombinasikan sifat suara, sentuhan dan warna alatnya yang khusus adalah pengelihatan, yang dapat ditangkap dengan mata. Unsur air diturunkan dari hakekat kecapan atau rasa (rasa tanmatra). Ketiga ciri yang terdahulu yaitu suara, sentuhan dan warna ditemukan di dalamnya termasuk juga sifatnya yang khusus yaitu kecapan atau rasa yang dapat ditangkap dengan lidah. Hakekat dari penciuman (gandha tanmatra) menghasilkan unsur tanah yang peralatan khususnya adalah bau yang dapat ditangkap oleh lubang hidung. Unsur terbesar ini mengandung keempat sifat sebelumnya.

Semua ini masuk tahapan kedua yaitu pembentukan lima unsur-unsur kasar (Panca Maha Buta) yang timbul dari kombinasi lima unsur – unsur halus dan mempunyai sifatnya
sendiri-sendiri sebagai berikut :

1. Unsur suara menimbulkan ether atau ruang (akasa) dengan sifat suara
2. Unsur suara+raba menimbulkan udara (vayu)dengan sifat raba
3. Unsur suara+raba+warna menimbulkan api (tejah) dengan sifat warna
4. Unsur suara+raba+warna+rasa menimbulkan air (apah) dengan sifat rasa
5. Unsur suara+raba+warna+rasa+bau menimbulkan tanah (prthivi) dengan sifat bau.

Dari lima unsur kasar inilah alam semesta beserta isinya (jagat) berkembang, seperti bumi, gunung-gunung, sungai, pepohonan dan mahluk hidup lainnya. Dengan demikian dapat pula dikatakan bahwa alam semesta beserta isinya merupakan perubahan secara evolusi dari Prakrti. Unsur-unsur kasar yang ada pada suatu pohon akan selamanya ada di dalam pohon itu. Tetapi kalau pohon itu mati maka unsur-unsur kasar yang membentuknya akan terurai kembali ke unsur-unsur yang membentuknya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa proses evolusi berjalan dalam duapuluh empat langkah, yang bermula dari akar penyebab yaitu prakrti dan berakhir pada unsur tanah yang merupakan unsur yang terkasar. Proses ini dapat dibagi menjadi dua proses besar yaitu :
Katagori pertama, perkembangan prakrti menjadi buddhi, ahamkara, dan sebelas
unsur-unsur indra,
katagori kedua, evolusi dari lima unsur halus dan lima unsur kasar.

Katagori pertama dapat dibagi menjadi dua yaitu pembentukan indra-indra internal atau indra yang halus (antahkarana) dan pembentukan indra-indra eksternal (bahyakarana). Katagori kedua juga dibagi menjadi dua bagian yaitu sifat-sifat yang tidak spesifik, tidak khusus seperti sifat dari lima unsure-unsur halus yang tidak bisa dikenal dan dinikmati oleh manusia biasa dan sifat spesifik, khusus (visesa) yaitu sifat lima unsure kasar yang memiliki sifat-sifat khusus yang dapat dinikmati,
menyakitkan atau membuai. Manifestasi khusus ini dapat diuraikan menjadi dua
yaitu unsur-unsur kasar eksternal dan tiga jenis badan (badan fisik, badan halus dan badan penyebab).

b. Involusi (Pengkerutan).

Pada suatu saat nanti alam semesta yang telah terbentuk ini akan dilebur kembali atau mengalami pralaya, maka apa yang telah terbentuk itu akan dilebur kembali dengan gerakan yang berlawanan dengan tahapan-tahapan gerak pada waktu pengembangannya dan terakhir ia akan lebur kedalam Prakrti. Itulah proses penyusutan atau penguncupan yang tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir.

MANUSIA DAN INKARNASI
Sebagaimana alam semesta maka manusia juga terbentuk dari unsur Purusa dan Prakrti. Prakrti kemudian berkembang menjadi unsur-unsur halus atau unsur-unsur kejiwaan yang akan menjadi Badan Halus (Linga Sarira atau Suksma Sarira)dan unsur-unsur kasar yang akan menjadi Badan Kasar (Sthula Sarira). Badan Halus (Linga Sarira/Suksma Sarira)
Seluruh organ-organ atau peralatan yang merupakan Peralatan Batin (Antah Karana) dengan alat-alat bantunya berupa lima indra persepsi (Panca Buddhendriya atau Panca Jnanendriya), lima indra penggerak (Panca Karmendriya) dan lima unsur halus yang dinamakan Panca Tan Matra. Semuanya ini bersifat fisik. Merupakan syarat mutlak bagi
purusa untuk mendapatkan pengalaman. Tubuh ini tidak akan terpisah dari seseorang, juga ketika ia mati. Tubuh ini hanya dapat dipisahkan dari manusia jika ia telah
mendapatkan kelepasan yang sempurna. (Harun, Hal.68).

Badan Halus ini tidak berpisah dari seseorang pada saat orang itu meninggal dunia. Badan Kasar (Sthula Sarira) Badan kasar ini dibentuk oleh lima unsur alam
(ruang-uadara-api-air-tanah) yang disebut Panca Maha Bhuta yang setiap saat mengalami perubahan dan akan hancur pada saat seseorang meninggal dunia. Badan
manusia ini akan terurai menjadi lima unsur alam itu. Sang Diri atau Sang Pribadi (Purusa) Menurut Samkhya pribadi yang sesungguhnya (The True Self) yang menjadi saksi dan pengamat (Drsta), penengah (Madhyastha) dan netral (Udasana).

Manusia yang merupakan perpaduan antara Purusa Dan Prakrti diibaratkan sebagai bekerjasamanya dua orang yang akan menuju ke suatu tempat yang sama. Orang yang pertama adalah lumpuh (Purusa) yang tak mampu berjalan, sedangkan orang yang lainnya adalah buta (prakrti) yang tidak dapat melihat. Kedua orang ini sepakat untuk bekerja sama agar dapat sampai ke tujuan yang sama itu dengan menggendong orang yang lumpuh oleh yang buta. Dengan digendong oleh Prakrti yang dapat berjalan maka Purusa
dapat sampai ke tujuan itu, sedangkan Prakrti walaupun tidak dapat melihat, ia
dibantu oleh Purusa untuk menuju ke tujuan itu juga. Setelah sampai di tempat
tujuan mereka akan berpisah, Prakrti dibebaskan oleh Purusa (Sang Diri) sehingga ia berhenti melakukan aktifitas atau berbuat dan Sang Diri mencari kebahagiaan terakhir.

Kebebasan Sang Diri yang sesungguhnya ( Purusa) dimaksudkan adalah bahwa ia tidak dilahirkan kembali (Moksa) yang berarti pula bebas dari 3 macam penderitaan :
1. Adhyatmika : demam atau penyakit-penyakit lainnya.
2. Adhidaivika : bencana alam
3. Adhibhautika : penyakit bawaan, gigitan ular atau kalajengking. (


Konsep Pembebasan

Menurut filsafat Samkhya, alam semesta penuh dengan kesengsaraan dan penderitaan, walaupun apa yang dipikirkan sebagai kebahagiaan bercampur dengan kedukaan karena semua kebahagiaan itu berakhir dengan kekecewaan yang merupakan dasar dari kesengsaraan. Inilah kecenderungan yang hakiki dari semua mahluk hidup yang ingin melepaskan diri dari kesakitan dan kesengsaraan, namun Samkhya menyatakan bahwa semuanya itu akan dapat dicapai lewat pengetahuan yang benar tentang realitas.

Keseluruhan dari dunia eksternal dan fenomena internal berasal dari prakrti, tetapi kesadaran murni, purusa bebas dari pembatasan ruang, waktu dan sebab akibat. Semua aktivitas, perubahan, pemikiran, perasaan, kesakitan dan kebahagiaan menjadi milik dari organisme badan, pikiran dan bukan milik dari sang pribadi (the self). Sang diri adalah murni dan selamanya diterangi dengan kesadaran dan mengatasi keseluruhan fenomena dunia, termasuk badan dan pikiran yang kompleks ini. Sang diri memiliki sebuah badan, tetapi sang diri bukanlah badan ini. Seperti juga sang diri memiliki sebuah pikiran, ego dan intelek tetapi sang diri sangat berbeda dengan semuanya itu.
Kesenangan dan kesakitan, kebajikan dan kriminal, berjasa atau tidak berjasa bukan
merupakan ciri dari sang diri murni tetapi cirri dari intelak yang terlibat dengan sesuatu yang ada disekelilingnya. Semua pengalaman tentang alam fenomena diterima oleh purusa disebabkan oleh karena kesalahan mengidentifikasi dirinya dengan pikiran,
intelek dan ego. Intelek bertanggung jawab pada semua pengalaman-pengalaman itu, namun ketika purusa salah menidentifikasi dirinya sama dengan intelek maka ia berfikir bahwa pengalaman-pengalaman itu seperti apa yang dilakukan oleh intelek, walaupun purusa pada hakekatnya selalu dan selamanya mengatasi evolusi prakrti.

Manifestasi alam semesta kedalam duapuluh tiga evolusi dari prakrti tidak
dimaksudkan untuk menciptakan perbudakan bagi purusa tetapi membantu purusa merealisasikan bahwa ia sama sekali berbeda dari prakrti. Walaupun kelihatannya bahwa
obyek-obyek eksternal diperuntukkan bagi kenikmatan fisik, mental dan internal
namun bukan itu maksudnya karena pikiran, ego dan intelek tidak berfungsi untuk
dirinya sendiri, keberadaannya adalah untuk memberikan pengalaman-pengalaman
kepada purusa. Perasaan sakit dan menderita dialami karena purusa salah
mengidentifikasi dirinya dengan rajas dan tamas, melupakan kapasitasnya menyelami identitasnya yang palsu. Juga purusa keliru mempergunakan manifestasi sattvika dari prakrti sebagai alat-alat yang baik dan efisien dalam membedakan sang diri dengan yang bukan sang diri. Dominasi dari rajas dan tamas dalam pikiran dan ego serta intelek tidak mengijinkan alat-alat itu menyaring dengan baik pengalaman-pengalaman eksternal, sehingga purusa menerima pengalaman yang tidak tersaring dan terkontaminasi serta tidak tahu bahwa penderitaan, sakit dan kesengsaraan itu, merupakan refleksi dari intelek.

Samkhya berpendapat bahwa prakrti adalah seperti seorang ibu yang penuh dengan cinta kasih yang melengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan purusa untuk mengerti hakekat dirinya yang berbeda dengan prakrti baik prakrti yang dalam keadaan termanifestasi- kan maupun yang tidak termanifestasikan. Prakrti memanifestasikan dirinya bukan karena belas kasihnya kepada purusa, tetapi seperti halnya air susu seorang ibu yang dihasilkan bukanlah untuk belas kasihnya kepada bayinya. Walaupun dikontaminasikan
sedemikian rupa, susu ibu selalu menyehatkan sang bayi, seperti juga halnya evolusi
prakrti akan menyehatkan purusa jika tidak dikontaminasi oleh dominasi rajas dan tamas, identifikasi yang salah, kegiatan untuk diri sendiri, kepemilikan, atau tidak
mempunyai kemampuan membedakan.

Baik prakrti maupun purusa adalah tidak terbatas dan kekal, dan ketika prakrti dalam keadaan tidak termanifestasikan bercampur dengan purusa dan purusa bersemangat untuk merealisasikan hakekat dirinya yang sesungguhnya. Semangat purusa seperti itu memungkinkannya untuk berada lebih dekat kepada prakrti. Perhatiannya kepada prakrti seperti itu memberikan inspirasi kepada kekuatan yang tersembunyi dari prakrti untuk berfungsi, yang berarti purusa telah memulai manifestasi alam semesta dan prakrti membantu purusa dalam merealisasikan dirinya yang berbeda dengan prakrti itu
sendiri. Ketika melewati kebodohan purusa lupa akan tujuannya mendekati prakrti,
yaitu membedakan dirinya dengan prinsip-prinsip yang tidak sadar, malahan ia
mengikatkan diri dengannya. Ketika ia sadar akan tujuannya dan membedakan dirinya dengan manifestasi dunia ini serta dengan penyebab dunia ini, ia sadar akan hakekatnya yang sesungguhnya dan mencapai pembebasan. Seperti halnya seorang tukang masak yang meneruskan memasak sampai masakannya matang dan berhenti setelah siap
semua, purusa juga demikian terus mengalir dalam arus kehidupan sampai tujuannya tercapai.

Pada saat tujuan tertinggi dari hidup yaitu kesadaran (realization) dicapai maka ia berhenti mengalir dalam arus kehidupan ini. Seperti juga halnya seorang penari yang tampil untuk menghibur yang penonton akan terus menari sampai penontonnya dipuaskan. Pada saat tarian itu telah memenuhi kepuasan penontonnya yang durasinya tergantung dari penonton itu sendiri maka penari menghentikan tariannya. Hal seperti itu juga terjadi pada tarian dari prakrti yang akan terus menari sampai fungsinya untuk membantu membedakan tercapai. Setelah ia memenuhi tugasnya maka prakrti menarik dirinya kembali kedalam keadaan tidak termanifestasikan. Tujuan dari manifestasi prakrti adalah menunjukkan dirinya kepada purusa sehingga purusa menyadari bahwa dirinya berbeda dengan prakrti. Pada saat purusa sadar bahwa ia bukanlah obyek-obyek
eksternal, maka keseluruhan dari manifestasi itu akan ditarik kembali.

Pada kenyataannya kesadaran murni, purusa adalah sesuatu yang tidak terikat, bebas karena ia tidak pernah benar-benar terikat. Konsep tentang keterikatan dan pembebasan, kesakitan dan penderitaan adalah sebagai akibat dari kebodohan atau salah mengerti. Prakrti mengikat dirinya dengan tali dari manifestasinya sendiri dan ketika purusa mengenal prakrti sebagai yang berbeda dengan dirinya maka prakrti
membebaskan dirinya. Sebagaimana telah kita ketahui bahwa ada delapan sifat dari mahat atau buddhi yang merupakan evolusi utama dari prakrti, yaitu :
keterikatan dan ketidakterikatan, kriminal dan kebajikan, perbuatan baik dan buruk, kebodohan dan berpengetahuan. Prakrti mengurung atau mengikat dirinya sendiri dengan tujuh sifat yang pertama dan membebaskan dirinya dengan sifat yang kedelapan yaitu pencerahan pengetahuan. Sehingga dengan demikian keterikatan dan pembebasan adalah dua konsep dari intelek.

Dengan melaksanakan yoga pembedaan atau diskriminasi dengan mengulangi pernyataan bahwa tidak sama dengan badan, indra, pikiran. Bahwa saya bukanlah yang mengalami, saya bukanlah yang berbuat, bagaimanapun hal itu terjadi semuanya ada dalam prakrti, sehingga seseorang harus mengasah inteleknya dan menjadi lebih sadar akan hakekat dirinya yang sesungguhnya. Pengetahuan ini atau pengertian ini membawa kita kepada pembebasan dari kebingungan dan identifikasi yang keliru serta kita akan memiliki
pengetahuan tentang hakekat diri kita yang sesungguhnya. Setelah kita mengetahui diri
kita yang sesungguhnya maka semua kekhawatiran menjadi lenyap. Orang akan lepas dari
kelahiran kembali jika ia berhasil mengetahui, bahwa purusa berbeda dengan prakrti. Dengan demikian ia tidak akan hidup lagi dalam ketidaktahuan. Jika seseorang mendapat kelepasan, purusa akan menjadi “tidak berteman”, artinya : purusa akan dilepaskan dari pada prakrti. Ia akan melihat dirinya sendiri saja. . Sang diri tidak begitu tertarik lagi melihat prakrti dan prakrti sendiri tidak tertarik lagi untuk memperlihatkan dirinya karena ia telah terlihat dan tujuannya telah tercapai. Prakrti dan purusa dua-duanya tidak terbatas dan meliputi segalanya serta kekal bersama, seperti halnya dua sisi mata uang dimana ketika tujuannya tercapai maka proses memanifestasikan diri berakhir.

Dalam filsafat Samkhya ada dua macam pembebasan yaitu :
jivanmukti dan videha mukti atau videhakaivalya.
Jivanmukti adalah pembebasan yang dicapai dalam kehidupan ini. Dalam pembebasan ini seseorang meneruskan eksistensinya sebagai manusia yang telah sampai pada tataran pembebasan. Ia hidup di dunia ini dan menikmati obyek-obyek indrawi sampai ia melepaskan badannya. Ia meneruskan perjalanannya dalam kehidupan dunia ini seperti sebuah kipas angin yang terus saja berputar dengan kecepatan sebelumnya untuk beberapa waktu sampai switchnya di offkan. Ketika semua samskara, yang merupakan impresi atau kesan-kesan dari perbuatan-perbuatan masa lalu berakhir, maka ia melepaskan badannya dan dikatakan bahwa ia memasuki videha mukti yaitu pembebasan
setelah mati.

2 comments: